Jumat, 07 Juni 2013

The Grey

Once more into the Fray
Into the last good fight I'll ever know
Live and die on this day
Live and die on this day

Sesungguhnya, ada perbedaan besar antara ‘abadi’ dan ‘kekal’...

...begini, meja di ruang tamu anda itu ‘abadi’. Dia tidak bisa dibunuh, tetapi suatu saat bisa musnah entah karena dimakan rayap atau bencana alam, anda tentu saja bisa memesan meja baru lainnya. Maka, meja ruang tamu anda bersifat ‘abadi’ dan bukan ‘kekal’. Yang ‘kekal’ adalah ide mengenai meja itu sendiri, dia akan terus hidup dan hadir di tataran entropi, tidak bisa dihancurkan atau dimusnahkan, dia akan terus berevolusi dengan logika perpetuasinya sendiri: meja dengan empat kaki, tiga kaki, dua kaki, satu kaki, atau tanpa kaki sekalipun. Namun kebenaran yang tak terbantahkan adalah bahwa dia tetap sebuah meja, meski hadir dalam begitu banyak paradigma; sebuah kekekalan yang utuh.

Pada akhirnya, keabadian hanya sanggup menawarkan repetisi, sementara kekekalan menciptakan makna.

Selasa, 04 Juni 2013

#Imaginarium 07.


Andaikan manusia hidup selamanya...

Secara unik, warga di tiap kota terbagi menjadi dua: Kelompok Belakangan, dan Kelompok Sekarang.

Kelompok Belakangan bersikukuh untuk tidak perlu buru-buru kuliah di universitas, belajar bahasa asing, membaca karya Voltaire atau Newton, meniti karir, jatuh cinta, berkeluarga. Untuk semua itu, waktu tak terbatas. Sepanjang waktu abadi, segala sesuatu bisa dipenuhi. Semua bisa menunggu. Bukankah tindakan yang terburu-buru bisa berbuah kesalahan? Siapa mampu membantah logika mereka? Kelompok Belakangan bisa dijumpai di setiap toko atau sudut jalan. Mereka berjalan santai dengan busana longgar, menikmati artikel dalam majalah manapun yang sedang terbuka, menata ulang perabotan rumah, nimbrung dari satu percakapan ke percakapan lainnya seperti daun jatuh dari pohon. Kelompok belakangan menikmati kopi di kafe-kafe sembari berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.

Kelompok Sekarang beranggapan bahwa dengan kehidupan yang abadi mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Ada tumpukan karir yang jumlahnya tak terhingga, menikah dalam kali kesekian yang tak terbayangkan, dan pandangan politik terus berganti. Setiap orang dapat menjadi penasehat hukum, tukang ukir, penulis, akuntan, pelukis, ahli fisika, petani. Kelompok Sekarang secara teratur membaca buku-buku terbaru, belajar tata cara perdagangan baru, bahasa-bahasa baru. Demi mengecap sari kehidupan yang tak terbatas itu, mereka bangun lebih pagi dan tak pernah bergerak lamban. Siapa meragukan logika semacam ini? Kelompok Sekarang gampang dikenali: merekalah pemilik kedai-kedai kopi, professor di kampus, dokter dan perawat, politikus, orang-orang yang tak henti-hentinya menggoyangkan kaki saat duduk bersandar. Mereka bergerak dalam rangkaian kehidupan dan berusaha untuk tidak kehilangan setiap hal. Ketika dua orang dari Kelompok Sekarang bertemu di pilar bersegi enam di pancuran piazza kota, mereka saling berkisah tentang kehidupan mereka, saling bertukar informasi dan melirik jam tangan mereka. ketika dua orang dari Kelompok Belakangan bertemu di lokasi yang sama, mereka merenungkan masa depan dengan mata mengikuti gerak air yang membentuk lingkaran.

Kelompok Sekarang dan Kelompok Belakangan memiliki satu kesamaan. Dengan kehidupan yang tak terbatas, mereka memiliki sanak saudara dalam jumlah yang tak terbatas pula. Kakek nenek tidak pernah mati, tidak juga dengan para buyut, bibi buyut, paman buyut, buyut dari bibi buyut... demikian seterusnya, dari semua generasi, semuanya hidup dan menawarkan nasihat-nasihat. Anak lelaki tidak pernah bisa lari dari bayang-bayang sang ayah. Tida juga anak perempuan dari sang ibu. Tak pernah ada yang betul-betul bisa mandiri.

Ketika orang mulai berbisnis, ia merasa harus berbicara lebih dahulu dengan orangtua, kakek nenek, dan leluhur mereka yang jumlahnya tak terhingga, untuk belajar dari kesalahan mereka. Sebab tak ada urusan yang benar-benar baru. Semua hal telah dilakukan oleh mereka yang ada dalam silsilah keluarga. Sesungguhnya segala sesuatu telah tercapai. Tetapi, sungguh mahal imbalannya. Di dunia seperti ini, penggandaan atas pencapaian-pencapaian terbagi oleh ambisi-ambisi yang makin lama makin kendor.

Ketika seorang anak perempuan meminta bimbingan ibunya, ia tidak bisa mendapatkannya secara langsung. Ibu si anak harus bertanya pada ibunya sendiri yang herus bertanya lagi pada ibunya. Demikian seterusnya. Anak-anak tak pernah mampu membuat keputusan sendiri dan terpaksa harus berpaling pada orangtua yang juga tak mampu memberi nasihat yang meyakinkan. Orangtua bukanlah sumber kepastian. Ada jutaan sumber lainnya.

Ketika setiap tindakan harus dikaji ulang berjuta kali, maka hidup menjadi bersifat sementara. Jembatan-jembatan yang dibangun kokoh yang telah membentang separuh lebar sungai, mendadak terhenti pengerjannya. Bangunan-bangunan didirikan hingga sembilan lantai, tetapi tak ada atap yang memayunginya. Pedagang yang menyediakan jamur, telur, rempah-rempah, atau daging asap mengganti dagangannya sesuai dengan perubahan pikiran, berdasarkan tiap nasihat yang didapat. Kalimat-kalimat menggantung tak terselesaikan. Pertunangan putus sehari sebelum perkawinan. Dan di jalanan, orang-orang terus menerus menengok ke belakang, menatap tajam dengan curiga, melihat siapa yang mengawasi.

Inilah harga yang harus dibayar demi keabadian. Tak ada seorangpun menjadi manusia yang utuh. Tiada seorangpun yang merdeka. Seiring waktu, orang berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan agar dapat menempuh kehidupan miliknya sendiri adalah dengan kematian. Dengan maut, lelaki maupun perempuan, akan terbebas dari beban masa silam. Betapa jiwa-jiwa yang resah ini akhirnya memutuskan untuk menenggelamkan diri di palung lautan, atau melempar diri dari puncak topaz, membuat kerabat terkasih mencari-cari. Begitulah, yang fana pun menaklukkan yang abadi. Jutaan musim panas menyerah pada ketiadaan matahari. Jutaan butiran hujan menyerah pada ketiadaan awan mendung. Jutaan nasihat dan teguran menyerah pada keheningan.