Yeah, I know, right? Have a nice day y'all!
Senin, 29 April 2013
Kamis, 25 April 2013
Debunking Paradox: Unstoppable Force VS Immovable Object
What happens if an
immovable object meets an unstoppable force?
Of course, relativity
tells us that there is no such thing as an immovable object. Here’s why: if you
pick any supposedly immovable object, or just something like your house, or the
earth, I can make it move. All I need to do is start to move relative to it. For
example; I might ride a rocket, and suddenly from my perspective, I’m not
moving and the earth sails by outside. The laws of physics make no preference for
inertial frame of reference (principle of relativity: there is no absolute or “preffered”
inertial frame of reference), so from my perspective here, I do not stir, and
yet it’s clear: the immovable object moves!
So because of
relativity, “immovable object” cannot be. But what I think people normally mean
by “immovable object” is something that if it’s not moving, you can’t make it
start moving by pushing on it. So, not an immovable object, but an
un-acceleratable one.
Using newton’s second
law, we know that an object’s acceleration is equal to the total force on it
divided by its mass (though you’ve probably seen this as F=Ma). So an
un-acceleratable object would be an object with infinite mass; an object so
massive that no matter how big the total force is, when you divided F by M you
always get zero. Of course, as I have said, not being able to accelerate an
object does not necessarily mean that the object isn’t moving—it just means that
you can’t directly change its speed—if it’s not moving, then it will stay not
moving. If it’s moving at 100 miles per hour, then it will stay moving at 100
miles per hour.
So, what about an
unstoppable force? Well, all the fundamental forces in nature are actually caused
by particles (like photons, bosons, gluons, or gravitons) that interact with an
object and changes its momentum—the only way to NOT be affected by a force is
not to interact with it at all (like how electrons don’t interact with gluons
so they aren’t subject to the strong nuclear force). Even light itself is an
unstoppable force—every photons that hits your body changes you momentum a tiny
little bit, and there is nothing you can do about it other than avoid light
altogether or become transparent. So, all forces is already unstoppable.
But my impression is
that the phrase “unstoppable force” isn’t literally meant to imply anything about
forces like electromagnetism or gravity, but rather, something that you cannot
stop from barreling down on you. That is, an object whose velocity cannot be
changed by pushing on it.
So, if by an “unstoppable
force” we mean an object moving at a speed that can never be changed, then that
means the object cannot be accelerated. But wait a second, this sounds
familiar! Recalling what we learned earlier, an unstoppable force must be an
un-acceleratable object! And that means that an “unstoppable force” and an “immovable
object” are really just the same, viewed from different reference frames!
Now, since infinite
mass require infinite energy, I don’t know of anything in the universe that
behaves like this, not the least because it would be automatically be a black
hole so big that everything in the universe would already inside of it. But what
if we ignored gravity and imagine there WERE an un-acceleratable object? Well,
first it would be a source of infinite free power and would allow us to live in
100% happy utopian society and break the second law of thermodynamics and
probably create portals and time travel too (you can do a lot with infinite
energy).
But more importantly,
if two of this infinitely massive un-acceleratable objects were moving towards
each other and collided, then since by definition it’s not possible for the
velocity of either of them to change, the only possiblity is that they must pass
right through each other with no effect on each other at all.
Sabtu, 20 April 2013
Story of the Loneliest Whale in the World...
This is a story about the loneliest whale in the world.
She isn’t like any
other baleen whale. Unlike all other whales, she doesn’t have friend. She
doesn’t have a family. She doesn’t belong to any tribe, pack or gang. She
doesn’t have a lover. She never had one. Her songs come... in groups of two to
six calls, lasting for five to six seconds each. But her voice is unlike any
other baleen whale. It is unique—while the rest of her kind communicate between
12 and 25hz, she sings at 52hz. You see, that’s precicely the problem. No other
whales can hear her. Every one of her desperate calls to communicate remains
unanswered. And, with every lonely song, she became sadder and sadder, her notes
going deeper into despair as the years go by.
Just imagine, a
massive creature, floating alone and singing—too big to connect with any being
it passes, feeling paradoxically small in the vast streches of empty, open
ocean...
Kamis, 18 April 2013
Just a mindfuck. Move along, move along...
"God is Dead."
-Nietzche, 1883-
"Nietzche is Dead."
-God, 1900-
...
Well, shit... That didn't settle anything, right?
-Nietzche, 1883-
"Nietzche is Dead."
-God, 1900-
...
Well, shit... That didn't settle anything, right?
Minggu, 07 April 2013
Kereta Di Akhir Musim Panas
“Tidak seharusnya
kamu makan biskuit di tengah malam begini... Lihat, mimpi-mimpimu hancur
menjadi remah-remah.”
“Kalau begitu, mari,
kita beli tiket kereta malam, kita pergi melakukan perjalanan, melintasi
lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela... Ah, dan coba
lihat disana, kuburan paus-paus sudah dekat!”
Pagi
yang muram. Suratmu datang terlambat. Telat lima hari, tepatnya. Dan rasa-rasanya,
aku bisa menebak apa yang kau akan katakan: “Kamu sudah
tahu jawabannya, kan?” Hmm... Ya, kau
pasti akan bilang begitu.
“Huff, panas sekali
disini.”
“Ah, kau sudah terima
kado dariku?”
Dalam
suratmu kau bilang: “Aku mengirimimu piano, lho.” Piano yang sangat kusukai, dulu sekali,
waktu aku masih kecil... Waktu itu pertama kalinya aku memasuki kamarmu. Ada
mainan piano merah itu yang tak henti membuat suara Ting-Tong-Ting-Tong menjengkelkan setiap kali kau tekan
tutsnya. Yang entah kenapa mengingatkanku akan kuburan paus-paus...
“Syukurlah, kamu
sudah pulang...”
“Ya, dan kamu sudah
bisa tenang.”
Kau
terdiam sejenak. Entah apa yang kau pikirkan,
“Kamu tahu, aku
khawatir sekali,” katamu sambil mulai
mengenakan pakaian, sisa peluh menggelincir turun di lehermu yang putih.
“Tapi, ya sudahlah... lalu bagaimana pekerjaan barumu?”
“...”
Sungguh,
aku malas membicarakannya.
Ketika
musim panas berakhir, seluruh pinggiran tebing tepi laut akan dipenuhi oleh
bunga-bunga merah yang mekar. Dan tahukah kamu, apabila perahu-perahu para
pemburu paus kembali ke dermaga dengan bendera merah berkibar di anjungannya,
artinya mereka mendapat tangkapan!
...dan
kita akan berlari sampai kehabisan nafas, menuju dermaga itu, dan pantai menjadi
sepenuhnya merah oleh darah sang paus. Lalu kau dengar suara belulang mereka
berbunyi: Klotak-Klotak-Klotak... dan kemudian mentari yang tenggelam menjadikannya semakin merah
pula...
“...kamu capek yah?”
“Ya, begitulah.”
“Ah... mudah-mudahan
sekarang bisa berhasil. Syukurlah, musim panas juga sebentar lagi selesai.”
“...”
Ah,
topik itu lagi.
“Kamu suka pianonya?”
“Kenapa kau kirimkan?
Aku ingat ada waktu dimana kau sama sekali tidak mau meminjamkannya padaku
barang sebentar saja.”
Kau
tertawa terbahak-bahak, dan aku suka melihatnya. Aku suka melihat sudut bibirmu
membentuk senyum, juga puting lembut yang membayang di balik kemejamu yang
tipis, yang sengaja tidak kau kancingkan seluruhnya...
“Dulu kamu bilang
suaranya aneh sekali,”
“...kau tahu,
belakangan ini aku banyak memimpikanmu...”
Ah...
lansekap itu terlihat begitu sedih... dan suara Klotak-Klotak-Klotak
belulang paus menggema memenuhi senja...
sedihkah engkau, sayangku? Kalau iya, yuk, mari kita naik ke kereta malam, dan
larut dalam sebuah perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa
saksikan di luar jendela, lansekap yang tak akan mampu kita genggam... mari
kita pergi mengunjungi kuburan ikan-ikan pausmu itu.
“...aku baik-baik
saja, Terima kasih. Kamu pergi saja sendiri.”
“...”
Keesokan
harinya, aku menaiki kereta seorang diri. Kereta itu melaju dalam kekalutan
yang tenang... menuju teluk, melewati entah berapa banyak terowongan... dan di
tengah kegelapan yang pekat, bisa kurasakan suara belulang paus-paus itu, memanggilku dengan nyanyian sunyi dari balik makam-makam mereka...
...
...dan
sungguh, suara piano merah itu tak henti mengalun...
Memenuhi
kehampaan...
Memenuhi
mimpiku...
...di rahim takdir
secangkir mimpi dari langit yang koyak separuh
bingkai-bingkai masa lalu yang terlihat makin
rapuh
menggantung tanpa ada yang peduli
di tiang-tiang listrik kota... di persimpangan
mimpi-mimpi...
kau menjelma perempuan itu...
yang menaruh nasib terlalu dekat dengan
persimpangan
meski di sana, lampu kota memerah begitu cepat
dan kau tak pernah tahu
jika sebentar saja berjalan lambat
doa-doa baik akan dicegat
dirampas oleh mereka yang lebih dulu mampu
mengingat
dentang terdengar dari stasiun kereta
mengabarkan harapan yang baru saja turun
atau sekedar membawa rindu
yang tertukar dari stasiun ke stasiun
kau semakin menjelma perempuan itu...
meratapi kota dan orang-orang tergesa
yang tak lagi menjanjikan akhir bahagia
mereka yang lupa akan dongeng-dongeng hampir
sempurna
lalu, kau tak lagi bertanya
memilih menyerah pada nelangsa...
pada takdir dan kabar buruk...
yang mereka jejalkan ke kantung hidupmu
kini kau telah menjelma perempuan itu
lalu... pada dentang jam keberapa kau akan pulang
ke takdirmu?
Rabu, 03 April 2013
Melacurkan Seni...
“Kling,“ suara lemparan koin membentur aspal.
Siang itu, di tengah
deru asap kendaraan, seorang penari Jathilan bergerak luwes tak kenal canggung.
Persis seperti penari yang sudah sering tampil di layar kaca. Tatapan mata para
manusia urban hanya melihatnya selintas, dan mungkin, jika ada perhatian,
mereka akan memberi uang dan kemudian berlalu, sebab traffic-light sudah
berwarna hijau. Di atas tiang penyangga billboard, terpampang gambar kartun
manusia yang sedang membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangan untuk memberi
uang kepada manusia lain yang diberi tanda silang berwarna merah.
Setiap lampu berubah
merah, perempuan itu meninggalkan obrolan dan turun ke jalan, bernyanyi di zebra
cross di hadapan pengendara yang sedang berhenti. Dari tepi jalan, saya dengar
ia membawakan lagu Jawa yang mirip nyanyian sinden. Pada dirinya, dengan modal
pita suara, busana kebaya dan polesan bedak yang menutupi kerutan wajah—juga
alat musik marakas, kesenian Jawa itu mencukupi kebutuhan ekonominya.
Sesuai julukan awam,
ia menyebut pekerjannya sebagai “pengamen”. Selain mengamen, perempuan tersebut
rupanya juga tergabung ke dalam grup kesenian tayub yang punya skala
pertunjukan hingga ke luar kota. Beberapa kali, bersama grup tayubnya, ia
pernah mendapat orderan manggung, katanya, ia pernah tampil sampai ke Banyumas
dan Banjarnegara. Tak heran. Suaranya memang terdengar bagus seperti
sinden-sinden yang mengiringi pertunjukan wayang.
Setidaknya, inilah
sketsa seni di jalan-jalan—nasib seni yang kurang beruntung untuk mendapat
apresiasi—baik dari penonton maupun kritikus seni. Tentu desakan ekonomilah
yang membuat perempatan-perempatan besar di tangan mereka berubah jadi panggung
seni berskala menit. Panggung yang kita pun tak tahu pasti apakah ia jadi
tumpuan hidup utama tanpa kita mendekatinya lebih dekat.
Dari hasil wawancara pada sebuah zine punk
berjudul Seni Untuk Semua, seorang
penggiat acara musik indie menyebutkan, “Untuk acara tanpa sponsor, pokok persoalan paling klasik yang amat
sering menjadi kendala adalah uang. Kita tidak dapat menafikkan kalo peran uang
memang menjamin meriah atau suksesnya acara. Usaha yang paling signifikan untuk
mengatasi hal tersebut ialah dengan membuat benefit.“
Dari pernyataan
tersebut, dapat diketahui bahwa seni-seni pinggiran mencoba lepas dari agensi
sponsor atau pendukung dana, meskipun tanpa kehadiran uang, pertunjukan sulit
direalisasikan. Dalam seni-seni pinggiran, dikenal slogan Do It Yourself (DIY) yang menjadi
simbol resistensi atas kapitalisasi—dalam konteks ini, tentu saja berarti seni
yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri.
Kita hidup di dalam
zaman keindahan yang instan, dan kapitalisme tahu benar bagaimana meracik seni
cepat saji. Pertunjukan seni digelar di mana-mana. Setiap malam kita disuguhi
kemewahan seni dalam konser musik melalui layar kaca—dan begitu pula halnya di
perjalanan; di lampu merah, kita bertemu dengan bangsa sesama kita, menyanyikan
lagu yang mungkin juga pernah kita dengar di layar kaca.
Tidak ada perbedaan
antara kita dan mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita, seperti juga
para pembuat kebijakan yang punya mimpi tentang wajah kota yang asri, bersih,
dan tanpa sampah yang berserakan di jalan. Alasannya, jalan adalah citra suatu
kota, bahkan negara—dan citra diri yang baik adalah jalanan yang tertib,
teratur, dan bersih.
Obrolan tentang
fenomena jalanan lagi-lagi mesti kembali ke persoalan ekonomi. Manusia mungkin
akan terus-menerus berdatangan turun ke jalan selama tempat tersebut
menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih daripada harus bekerja di suatu
tempat dengan pendapatan yang tak sebesar di jalan. Di lain sisi, pemerintah bilang
bahwa mereka sedang mengusahakan dikeluarkannya peraturan daerah yang dapat
menekan maraknya jumlah orang jalanan. Solusi yang ditawarkan ketika itu—yang
barangkali sudah sedemikian akrab di telinga kita—antara lain melakukan
penertiban, memberi penyuluhan, dan keterampilan kepada mereka.
Akan tetapi, manusia
tak selesai sebatas angka. Bagaimana mungkin jika jalanan yang selama ini
menjadi ruang kerja mereka, yang menjanjikan keuntungan ekonomi lebih besar dan
lebih praktis, dapat berubah total hanya dengan dikeluarkannya satu kebijakan
sepihak? Maka, di tiap sudut jalanan kita bisa jumpai papan-papan besar
bertuliskan “Peduli Tidak Sama Dengan Memberi Uang” yang praktis mencoba
memutus sumber hidup mereka.
Jadi, siapa sih
sebetulnya sang pemilik jalan? Mengikuti istilah populer masa kini, jalanan
adalah frontier, garda depan tempat ia menjadi arena bertemunya segala
kepentingan; orang jualan, pengendara motor, pesepeda, papan iklan, tukang
tambal ban, petugas parkir, tukang becak, pedagang kaki lima, orang gila,
polantas, pejalan kaki, pemulung, demonstran, seniman, petugas ketertiban,
pencopet, penjahat, dan orang-orang jalanan yang kena desakan ekonomi hingga
mau tak mau menjadikan jalan sebagai tumpuan hidupnya. Jalan adalah milik
bersama yang membuatnya tidak hanya diisi oleh kepentingan pemerintah untuk
mendesain citra kota yang tertib, tetapi juga diisi oleh manusia yang punya
kepentingan untuk mencukupi kebutuhan perut.
Jalanan menjadi toko,
sirkuit, medan iklan, lahan parkir, dan panggung yang mementaskan kehidupan
yang sebenarnya—yang mungkin tak begitu dilirik oleh media, atau justru
sebaliknya, diekspos sedemikian rupa untuk menarik simpati penonton, sebab
simpati bernilai ekonomi dalam praktik kapitalisme. Mungkin saja penyanyi dan
penari yang saya temui itu telah berlatih sedari kecil. Dan hal tersebut bisa
menjadi refleksi yang lebih umum untuk melihat seperti apa wajah pertunjukan
seni di desa-desa sebelum terlempar ke panggung jalanan yang jauh dari
apresiasi penonton.
***
Selama ini, kritik
seni pertunjukan hampir selalu dibayangkan sebagai seni dalam konstruksi
masyarakat konsumsi. Maka tak jarang tema yang menjadi subjek pengamatan pun
akan selalu berkutat pada seni yang—dalam tanda kutip—formal, eksklusif dan mainstream.
Kesenian yang berlangsung di gedung pertunjukan atau di panggung yang telah
dipersiapkan oleh event-organizer adalah seni yang memberi kesan bahwa
pertunjukan menjadi hasil dari proses kreatif yang mesti diapresiasi dengan
mendesain panggung seindah mungkin. Akibatnya, di jalanan, di panggung
kehidupan marjinal, seni manusia yang menawarkan suara dan gerak sederhana,
yang tidak berbeda dengan seni pertunjukan yang berlangsung dalam gedung,
tereleminasi dari mata. Begitulah wacana menormalisasi mata kita ketika menatap
sesuatu sebagai seni.
Penelaahan mengenai formasi diskursif seni sendiri acapkali muncul dalam berbagai persepektif, baik eksistensialisme, strukturalisme, maupun post-strukturalisme—yang selanjutnya mungkin dapat mengidentifikasi
posisi perspektif kita ketika berwacana tentang seni. Lyotard dalam buku Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan,
mengemukakan perspektifnya berikut ini:
“Seniman, pemilik
galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa
saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun, kenyataan
yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan
tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna
untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma
seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’,
dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan
mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib
atau menghibur dirinya sendiri.”
Leon Trotsky, dalam
tulisannya mengenai Seni dan Politik
(Surat kepada Dewan Redaksi Partisan Review) menyatakan bahwa “Secara umum, seni adalah ekspresi dari
kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu,
untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas.“
Pramoedya Ananta Toer
juga pernah membicarakan seni, yang mungkin dapat kita tilik perspektifnya
lewat sebuah pasase di buku Anak Semua
Bangsa berikut ini:
“’Melayani
pesanan-pesanan hanya untuk menyambung hidup begini, dengan seni ini tak ada
bedanya aku dengan Maiko. Memalukan,’ kata seorang pelukis Perancis yang coba
membandingkan dirinya dengan pelacur bernama Maiko. ‘Coba, mendapat upah karena
menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri,
kan itu di dalam seni namanya pelacuran?’”
Namun, hari ini,
barangkali sebagian besar seni hidup melacur, dan pelacuran adalah tanda
ketabrak nasib. Seni menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat penghidupan,
menghidupi seninya, dan jika beruntung, beroleh ketenaran. Bisa saja motivator
atau pengamat akan berkomentar; “...selalu ada jalan selagi ada kemauan.” Ya,
benar, optimisme memang mutlak diperlukan, tetapi jangan lupa bahwa suara itu
terlontar dari atas podium, di depan lensa yang segalanya dapat diatur oleh
kamera—bukan di atas retakan trotoar di sela-sela deru kendaraan yang
melintasinya. Saya tidak tahu apakah kita juga mampu membayangkan bagaimana
wajah seni jika ia menjadi satu-satunya jalan untuk menyambung napas, mencukupi
kebutuhan ekonomi kita, dan bukan untuk tujuan memuaskan hasrat akan keindahan
seperti dalam diskursus-diskursus seni pada umumnya—akankah perspektif kita
tentang seni juga akan berbeda?
Dalam puisi yang
muram, dan barangkali juga karena geram, Rendra pernah mengajukan sebentuk kegundahan
yang “...membentur jidat penyair-penyair
salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak-adilan
terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian”. Tentu bait ini adalah metafor yang
mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita, bahwa tak semua seni diselubungi
keindahan. Kerapkali keindahan hanya tudung yang menyilaukan mata, sebab seni
mengeram dalam hangat selimut modal dan puluhan deret nama sponsor. Seni
menyangkut penghidupan banyak manusia—dan jika yang menyangkut napas banyak
orang, segala jalan mesti ditempuh, meski barangkali satu-satunya jalan adalah
dengan melacurkan seni itu sendiri.
Pada awalnya, seni
jalanan itu, yang barangkali saja tak sanggup mencuri perhatian kita karena
cara kita mengidentifikasi sesuatu sebagai seni telah distandardisasi oleh
media, adalah pantulan dari wajah kita, wajah masyarakat tempat kita menjadi
bagian darinya, wajah kompleksitas sosial yang membuat kita diam-diam mengamini
pelacuran seni.
Selasa, 02 April 2013
#Amrita 13.
Orang bilang,
kebahagiaan hanya bisa diperoleh dari sesuatu yang berwujud.
Tetapi malam ini, saya
mendengarkan anda bercerita dengan penuh semangat tentang kesibukan di kantor. Suara
anda sedikit serak dihantam kelelahan. Anda bilang hari
ini sangat hectic. Tidak sempat
makan. Tidak sempat menarik napas barang sejenak... Tapi saya senang mendengar
bagaimana menurut anda semua berjalan sesuai rencana (meskipun ada satu gimmick yang miss), saya senang acaranya
berjalan sukses.
Lima menit mendengar
anda bercerita.
Lima menit mendengar semangat
dalam cerita anda.
Lima menit mendengar euforia
dalam suara anda.
Lima menit mendengar
suara anda...
...sudah cukup untuk
membuat saya lupa akan rasa lelah saya sendiri. Sepertinya malam ini saya bisa
tidur nyenyak. Dan saya harap anda juga. Terima kasih.
Goodnight, sleep
tight, and have a great adventure in your dream.
Senin, 01 April 2013
#Imaginarium 06.
E=MC2
Ah... energi dan massa... E adalah energi, dan M adalah massa. Bukankah keduanya hanya merupakan wajah yang berbeda
dari dua hal yang sesungguhnya sama? Suatu objek dimungkinkan untuk memiliki massa karena pergerakan Quark. Pergerakan Quark adalah wujud induksi kalor dalam ruang kuantum komplementer. Dan sesungguhnya, apa itu induksi kalor kalau bukan energi? Maksud saya, tentu saja, sepanjang anda mengalikannya dengan faktor konversi C2—kecepatan
cahaya dikalikan dengan dirinya sendiri—dan anda akan menemukan relativitas absolut.
Sungguh, sebuah konsep yang profan tetapi juga bersahaja di saat yang sama. E=MC2... Massa relatif, yang didefinisikan sebagai rasio massa suatu objek terhadap kecepatannya. Massa relatif, yang selalu ekuivalen dengan total energi dibagi dengan C2. Dengan kata lain, seandainya satu objek bergerak dengan cepat, maka massa relatifnya akan menjadi lebih besar ketimbang massa diamnya, dan itu akan selalu sebanding terhadap massa yang diasosiasikan dengan energi kinetik dari objek tersebut.
Sungguh, sebuah konsep yang profan tetapi juga bersahaja di saat yang sama. E=MC2... Massa relatif, yang didefinisikan sebagai rasio massa suatu objek terhadap kecepatannya. Massa relatif, yang selalu ekuivalen dengan total energi dibagi dengan C2. Dengan kata lain, seandainya satu objek bergerak dengan cepat, maka massa relatifnya akan menjadi lebih besar ketimbang massa diamnya, dan itu akan selalu sebanding terhadap massa yang diasosiasikan dengan energi kinetik dari objek tersebut.
Tidakkah anda lihat makna yang tersimpan di
dalamnya? Seiring anda bergerak semakin cepat, maka semakin besar energi yang anda
kumpulkan, dan karena anda memiliki energi semakin banyak, maka massa anda menjadi
semakin bertambah. Nah, jika sekarang anda ingin bergerak lebih cepat lagi, anda
akan perlu mengakselerasi massa berlebih itu juga, maka semakin besar pula
energi yang anda butuhkan. Lakukan itu berulang-ulang, dan anda akan semakin mendekati kecepatan cahaya, dan mencapai massa infinit dimana anda tidak lagi mampu bergerak.
“The
faster you go, the heavier you get.”
Sungguh, jangan bebani hidup dengan bergerak terlalu cepat. Melambatlah sedikit, namun jangan terlalu lambat sehingga anda terlibas arus. Cukuplah sampai anda bisa menatap segala sesuatu dengan ketakjuban. Nikmati setiap momen dengan kebersahajaan yang lamat-lamat. Rayakan hidup. Anda tak akan pernah bisa menebak seberapa banyak keajaiban yang bisa tersimpan dalam sebutir partikel. Take things slow, enjoy your life, make every second count...
...karena anda tidak didesain untuk bergerak dalam kecepatan cahaya.
Langganan:
Postingan (Atom)
