Kamis, 25 April 2013

Debunking Paradox: Unstoppable Force VS Immovable Object


What happens if an immovable object meets an unstoppable force?

Of course, relativity tells us that there is no such thing as an immovable object. Here’s why: if you pick any supposedly immovable object, or just something like your house, or the earth, I can make it move. All I need to do is start to move relative to it. For example; I might ride a rocket, and suddenly from my perspective, I’m not moving and the earth sails by outside. The laws of physics make no preference for inertial frame of reference (principle of relativity: there is no absolute or “preffered” inertial frame of reference), so from my perspective here, I do not stir, and yet it’s clear: the immovable object moves!

So because of relativity, “immovable object” cannot be. But what I think people normally mean by “immovable object” is something that if it’s not moving, you can’t make it start moving by pushing on it. So, not an immovable object, but an un-acceleratable one.

Using newton’s second law, we know that an object’s acceleration is equal to the total force on it divided by its mass (though you’ve probably seen this as F=Ma). So an un-acceleratable object would be an object with infinite mass; an object so massive that no matter how big the total force is, when you divided F by M you always get zero. Of course, as I have said, not being able to accelerate an object does not necessarily mean that the object isn’t moving—it just means that you can’t directly change its speed—if it’s not moving, then it will stay not moving. If it’s moving at 100 miles per hour, then it will stay moving at 100 miles per hour.

So, what about an unstoppable force? Well, all the fundamental forces in nature are actually caused by particles (like photons, bosons, gluons, or gravitons) that interact with an object and changes its momentum—the only way to NOT be affected by a force is not to interact with it at all (like how electrons don’t interact with gluons so they aren’t subject to the strong nuclear force). Even light itself is an unstoppable force—every photons that hits your body changes you momentum a tiny little bit, and there is nothing you can do about it other than avoid light altogether or become transparent. So, all forces is already unstoppable.

But my impression is that the phrase “unstoppable force” isn’t literally meant to imply anything about forces like electromagnetism or gravity, but rather, something that you cannot stop from barreling down on you. That is, an object whose velocity cannot be changed by pushing on it.

So, if by an “unstoppable force” we mean an object moving at a speed that can never be changed, then that means the object cannot be accelerated. But wait a second, this sounds familiar! Recalling what we learned earlier, an unstoppable force must be an un-acceleratable object! And that means that an “unstoppable force” and an “immovable object” are really just the same, viewed from different reference frames!

Now, since infinite mass require infinite energy, I don’t know of anything in the universe that behaves like this, not the least because it would be automatically be a black hole so big that everything in the universe would already inside of it. But what if we ignored gravity and imagine there WERE an un-acceleratable object? Well, first it would be a source of infinite free power and would allow us to live in 100% happy utopian society and break the second law of thermodynamics and probably create portals and time travel too (you can do a lot with infinite energy).

But more importantly, if two of this infinitely massive un-acceleratable objects were moving towards each other and collided, then since by definition it’s not possible for the velocity of either of them to change, the only possiblity is that they must pass right through each other with no effect on each other at all.



Sabtu, 20 April 2013

Story of the Loneliest Whale in the World...




This is a story about the loneliest whale in the world.

She isn’t like any other baleen whale. Unlike all other whales, she doesn’t have friend. She doesn’t have a family. She doesn’t belong to any tribe, pack or gang. She doesn’t have a lover. She never had one. Her songs come... in groups of two to six calls, lasting for five to six seconds each. But her voice is unlike any other baleen whale. It is unique—while the rest of her kind communicate between 12 and 25hz, she sings at 52hz. You see, that’s precicely the problem. No other whales can hear her. Every one of her desperate calls to communicate remains unanswered. And, with every lonely song, she became sadder and sadder, her notes going deeper into despair as the years go by.

Just imagine, a massive creature, floating alone and singing—too big to connect with any being it passes, feeling paradoxically small in the vast streches of empty, open ocean...

Kamis, 18 April 2013

Just a mindfuck. Move along, move along...

"God is Dead."
-Nietzche, 1883-

"Nietzche is Dead."
-God, 1900-

...

Well, shit... That didn't settle anything, right?


Minggu, 07 April 2013

Kereta Di Akhir Musim Panas


“Tidak seharusnya kamu makan biskuit di tengah malam begini... Lihat, mimpi-mimpimu hancur menjadi remah-remah.”

“Kalau begitu, mari, kita beli tiket kereta malam, kita pergi melakukan perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela... Ah, dan coba lihat disana, kuburan paus-paus sudah dekat!”

Pagi yang muram. Suratmu datang terlambat. Telat lima hari, tepatnya. Dan rasa-rasanya, aku bisa menebak apa yang kau akan katakan: “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?” Hmm... Ya, kau pasti akan bilang begitu.

“Huff, panas sekali disini.”

“Ah, kau sudah terima kado dariku?”

Dalam suratmu kau bilang: “Aku mengirimimu piano, lho.” Piano yang sangat kusukai, dulu sekali, waktu aku masih kecil... Waktu itu pertama kalinya aku memasuki kamarmu. Ada mainan piano merah itu yang tak henti membuat suara ­Ting-Tong-Ting-Tong menjengkelkan setiap kali kau tekan tutsnya. Yang entah kenapa mengingatkanku akan kuburan paus-paus...

“Syukurlah, kamu sudah pulang...”

“Ya, dan kamu sudah bisa tenang.”

Kau terdiam sejenak. Entah apa yang kau pikirkan,

“Kamu tahu, aku khawatir sekali,” katamu sambil mulai mengenakan pakaian, sisa peluh menggelincir turun di lehermu yang putih. “Tapi, ya sudahlah... lalu bagaimana pekerjaan barumu?”

“...”

Sungguh, aku malas membicarakannya.

Ketika musim panas berakhir, seluruh pinggiran tebing tepi laut akan dipenuhi oleh bunga-bunga merah yang mekar. Dan tahukah kamu, apabila perahu-perahu para pemburu paus kembali ke dermaga dengan bendera merah berkibar di anjungannya, artinya mereka mendapat tangkapan!

...dan kita akan berlari sampai kehabisan nafas, menuju dermaga itu, dan pantai menjadi sepenuhnya merah oleh darah sang paus. Lalu kau dengar suara belulang mereka berbunyi: Klotak-Klotak-Klotak... dan kemudian mentari yang tenggelam menjadikannya semakin merah pula...

“...kamu capek yah?”

“Ya, begitulah.”

“Ah... mudah-mudahan sekarang bisa berhasil. Syukurlah, musim panas juga sebentar lagi selesai.”

“...”

Ah, topik itu lagi.

“Kamu suka pianonya?”

“Kenapa kau kirimkan? Aku ingat ada waktu dimana kau sama sekali tidak mau meminjamkannya padaku barang sebentar saja.”

Kau tertawa terbahak-bahak, dan aku suka melihatnya. Aku suka melihat sudut bibirmu membentuk senyum, juga puting lembut yang membayang di balik kemejamu yang tipis, yang sengaja tidak kau kancingkan seluruhnya...

“Dulu kamu bilang suaranya aneh sekali,”

“...kau tahu, belakangan ini aku banyak memimpikanmu...”

Ah... lansekap itu terlihat begitu sedih... dan suara Klotak-Klotak-Klotak belulang paus menggema memenuhi senja... sedihkah engkau, sayangku? Kalau iya, yuk, mari kita naik ke kereta malam, dan larut dalam sebuah perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela, lansekap yang tak akan mampu kita genggam... mari kita pergi mengunjungi kuburan ikan-ikan pausmu itu.

“...aku baik-baik saja, Terima kasih. Kamu pergi saja sendiri.”

“...”

Keesokan harinya, aku menaiki kereta seorang diri. Kereta itu melaju dalam kekalutan yang tenang... menuju teluk, melewati entah berapa banyak terowongan... dan di tengah kegelapan yang pekat, bisa kurasakan suara belulang paus-paus itu, memanggilku dengan nyanyian sunyi dari balik makam-makam mereka...

...

...dan sungguh, suara piano merah itu tak henti mengalun...

Memenuhi kehampaan...

Memenuhi mimpiku...


...di rahim takdir


secangkir mimpi dari langit yang koyak separuh
bingkai-bingkai masa lalu yang terlihat makin rapuh
menggantung tanpa ada yang peduli
di tiang-tiang listrik kota... di persimpangan mimpi-mimpi...

kau menjelma perempuan itu...
yang menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan
meski di sana, lampu kota memerah begitu cepat
dan kau tak pernah tahu
jika sebentar saja berjalan lambat
doa-doa baik akan dicegat
dirampas oleh mereka yang lebih dulu mampu mengingat

dentang terdengar dari stasiun kereta
mengabarkan harapan yang baru saja turun
atau sekedar membawa rindu
yang tertukar dari stasiun ke stasiun

kau semakin menjelma perempuan itu...
meratapi kota dan orang-orang tergesa
yang tak lagi menjanjikan akhir bahagia
mereka yang lupa akan dongeng-dongeng hampir sempurna
lalu, kau tak lagi bertanya
memilih menyerah pada nelangsa...
pada takdir dan kabar buruk...
yang mereka jejalkan ke kantung hidupmu

kini kau telah menjelma perempuan itu
lalu... pada dentang jam keberapa kau akan pulang ke takdirmu?

Rabu, 03 April 2013

Melacurkan Seni...


Kling,“ suara lemparan koin membentur aspal.

Siang itu, di tengah deru asap kendaraan, seorang penari Jathilan bergerak luwes tak kenal canggung. Persis seperti penari yang sudah sering tampil di layar kaca. Tatapan mata para manusia urban hanya melihatnya selintas, dan mungkin, jika ada perhatian, mereka akan memberi uang dan kemudian berlalu, sebab traffic-light sudah berwarna hijau. Di atas tiang penyangga billboard, terpampang gambar kartun manusia yang sedang membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangan untuk memberi uang kepada manusia lain yang diberi tanda silang berwarna merah.

Setiap lampu berubah merah, perempuan itu meninggalkan obrolan dan turun ke jalan, bernyanyi di zebra cross di hadapan pengendara yang sedang berhenti. Dari tepi jalan, saya dengar ia membawakan lagu Jawa yang mirip nyanyian sinden. Pada dirinya, dengan modal pita suara, busana kebaya dan polesan bedak yang menutupi kerutan wajah—juga alat musik marakas, kesenian Jawa itu mencukupi kebutuhan ekonominya.

Sesuai julukan awam, ia menyebut pekerjannya sebagai “pengamen”. Selain mengamen, perempuan tersebut rupanya juga tergabung ke dalam grup kesenian tayub yang punya skala pertunjukan hingga ke luar kota. Beberapa kali, bersama grup tayubnya, ia pernah mendapat orderan manggung, katanya, ia pernah tampil sampai ke Banyumas dan Banjarnegara. Tak heran. Suaranya memang terdengar bagus seperti sinden-sinden yang mengiringi pertunjukan wayang.

Setidaknya, inilah sketsa seni di jalan-jalan—nasib seni yang kurang beruntung untuk mendapat apresiasi—baik dari penonton maupun kritikus seni. Tentu desakan ekonomilah yang membuat perempatan-perempatan besar di tangan mereka berubah jadi panggung seni berskala menit. Panggung yang kita pun tak tahu pasti apakah ia jadi tumpuan hidup utama tanpa kita mendekatinya lebih dekat.

Dari hasil wawancara pada sebuah zine punk berjudul Seni Untuk Semua, seorang penggiat acara musik indie menyebutkan, “Untuk acara tanpa sponsor, pokok persoalan paling klasik yang amat sering menjadi kendala adalah uang. Kita tidak dapat menafikkan kalo peran uang memang menjamin meriah atau suksesnya acara. Usaha yang paling signifikan untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan membuat benefit.“

Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa seni-seni pinggiran mencoba lepas dari agensi sponsor atau pendukung dana, meskipun tanpa kehadiran uang, pertunjukan sulit direalisasikan. Dalam seni-seni pinggiran, dikenal slogan Do It Yourself (DIY) yang menjadi simbol resistensi atas kapitalisasi—dalam konteks ini, tentu saja berarti seni yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri.

Kita hidup di dalam zaman keindahan yang instan, dan kapitalisme tahu benar bagaimana meracik seni cepat saji. Pertunjukan seni digelar di mana-mana. Setiap malam kita disuguhi kemewahan seni dalam konser musik melalui layar kaca—dan begitu pula halnya di perjalanan; di lampu merah, kita bertemu dengan bangsa sesama kita, menyanyikan lagu yang mungkin juga pernah kita dengar di layar kaca.

Tidak ada perbedaan antara kita dan mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita, seperti juga para pembuat kebijakan yang punya mimpi tentang wajah kota yang asri, bersih, dan tanpa sampah yang berserakan di jalan. Alasannya, jalan adalah citra suatu kota, bahkan negara—dan citra diri yang baik adalah jalanan yang tertib, teratur, dan bersih.

Obrolan tentang fenomena jalanan lagi-lagi mesti kembali ke persoalan ekonomi. Manusia mungkin akan terus-menerus berdatangan turun ke jalan selama tempat tersebut menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih daripada harus bekerja di suatu tempat dengan pendapatan yang tak sebesar di jalan. Di lain sisi, pemerintah bilang bahwa mereka sedang mengusahakan dikeluarkannya peraturan daerah yang dapat menekan maraknya jumlah orang jalanan. Solusi yang ditawarkan ketika itu—yang barangkali sudah sedemikian akrab di telinga kita—antara lain melakukan penertiban, memberi penyuluhan, dan keterampilan kepada mereka.

Akan tetapi, manusia tak selesai sebatas angka. Bagaimana mungkin jika jalanan yang selama ini menjadi ruang kerja mereka, yang menjanjikan keuntungan ekonomi lebih besar dan lebih praktis, dapat berubah total hanya dengan dikeluarkannya satu kebijakan sepihak? Maka, di tiap sudut jalanan kita bisa jumpai papan-papan besar bertuliskan “Peduli Tidak Sama Dengan Memberi Uang” yang praktis mencoba memutus sumber hidup mereka.

Jadi, siapa sih sebetulnya sang pemilik jalan? Mengikuti istilah populer masa kini, jalanan adalah frontier, garda depan tempat ia menjadi arena bertemunya segala kepentingan; orang jualan, pengendara motor, pesepeda, papan iklan, tukang tambal ban, petugas parkir, tukang becak, pedagang kaki lima, orang gila, polantas, pejalan kaki, pemulung, demonstran, seniman, petugas ketertiban, pencopet, penjahat, dan orang-orang jalanan yang kena desakan ekonomi hingga mau tak mau menjadikan jalan sebagai tumpuan hidupnya. Jalan adalah milik bersama yang membuatnya tidak hanya diisi oleh kepentingan pemerintah untuk mendesain citra kota yang tertib, tetapi juga diisi oleh manusia yang punya kepentingan untuk mencukupi kebutuhan perut.

Jalanan menjadi toko, sirkuit, medan iklan, lahan parkir, dan panggung yang mementaskan kehidupan yang sebenarnya—yang mungkin tak begitu dilirik oleh media, atau justru sebaliknya, diekspos sedemikian rupa untuk menarik simpati penonton, sebab simpati bernilai ekonomi dalam praktik kapitalisme. Mungkin saja penyanyi dan penari yang saya temui itu telah berlatih sedari kecil. Dan hal tersebut bisa menjadi refleksi yang lebih umum untuk melihat seperti apa wajah pertunjukan seni di desa-desa sebelum terlempar ke panggung jalanan yang jauh dari apresiasi penonton.

***

Selama ini, kritik seni pertunjukan hampir selalu dibayangkan sebagai seni dalam konstruksi masyarakat konsumsi. Maka tak jarang tema yang menjadi subjek pengamatan pun akan selalu berkutat pada seni yang—dalam tanda kutip—formal, eksklusif dan mainstream. Kesenian yang berlangsung di gedung pertunjukan atau di panggung yang telah dipersiapkan oleh event-organizer adalah seni yang memberi kesan bahwa pertunjukan menjadi hasil dari proses kreatif yang mesti diapresiasi dengan mendesain panggung seindah mungkin. Akibatnya, di jalanan, di panggung kehidupan marjinal, seni manusia yang menawarkan suara dan gerak sederhana, yang tidak berbeda dengan seni pertunjukan yang berlangsung dalam gedung, tereleminasi dari mata. Begitulah wacana menormalisasi mata kita ketika menatap sesuatu sebagai seni.

Penelaahan mengenai formasi diskursif seni sendiri acapkali muncul dalam berbagai persepektif, baik eksistensialisme, strukturalisme, maupun post-strukturalisme—yang selanjutnya mungkin dapat mengidentifikasi posisi perspektif kita ketika berwacana tentang seni. Lyotard dalam buku Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan, mengemukakan perspektifnya berikut ini:

“Seniman, pemilik galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun, kenyataan yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’, dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib atau menghibur dirinya sendiri.”

Leon Trotsky, dalam tulisannya mengenai Seni dan Politik (Surat kepada Dewan Redaksi Partisan Review) menyatakan bahwa “Secara umum, seni adalah ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu, untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas.“

Pramoedya Ananta Toer juga pernah membicarakan seni, yang mungkin dapat kita tilik perspektifnya lewat sebuah pasase di buku Anak Semua Bangsa berikut ini:

“’Melayani pesanan-pesanan hanya untuk menyambung hidup begini, dengan seni ini tak ada bedanya aku dengan Maiko. Memalukan,’ kata seorang pelukis Perancis yang coba membandingkan dirinya dengan pelacur bernama Maiko. ‘Coba, mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu di dalam seni namanya pelacuran?’”

Namun, hari ini, barangkali sebagian besar seni hidup melacur, dan pelacuran adalah tanda ketabrak nasib. Seni menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat penghidupan, menghidupi seninya, dan jika beruntung, beroleh ketenaran. Bisa saja motivator atau pengamat akan berkomentar; “...selalu ada jalan selagi ada kemauan.” Ya, benar, optimisme memang mutlak diperlukan, tetapi jangan lupa bahwa suara itu terlontar dari atas podium, di depan lensa yang segalanya dapat diatur oleh kamera—bukan di atas retakan trotoar di sela-sela deru kendaraan yang melintasinya. Saya tidak tahu apakah kita juga mampu membayangkan bagaimana wajah seni jika ia menjadi satu-satunya jalan untuk menyambung napas, mencukupi kebutuhan ekonomi kita, dan bukan untuk tujuan memuaskan hasrat akan keindahan seperti dalam diskursus-diskursus seni pada umumnya—akankah perspektif kita tentang seni juga akan berbeda?

Dalam puisi yang muram, dan barangkali juga karena geram, Rendra pernah mengajukan sebentuk kegundahan yang “...membentur jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak-adilan terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian”. Tentu bait ini adalah metafor yang mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita, bahwa tak semua seni diselubungi keindahan. Kerapkali keindahan hanya tudung yang menyilaukan mata, sebab seni mengeram dalam hangat selimut modal dan puluhan deret nama sponsor. Seni menyangkut penghidupan banyak manusia—dan jika yang menyangkut napas banyak orang, segala jalan mesti ditempuh, meski barangkali satu-satunya jalan adalah dengan melacurkan seni itu sendiri.

Pada awalnya, seni jalanan itu, yang barangkali saja tak sanggup mencuri perhatian kita karena cara kita mengidentifikasi sesuatu sebagai seni telah distandardisasi oleh media, adalah pantulan dari wajah kita, wajah masyarakat tempat kita menjadi bagian darinya, wajah kompleksitas sosial yang membuat kita diam-diam mengamini pelacuran seni.


Selasa, 02 April 2013

#Amrita 13.


Orang bilang, kebahagiaan hanya bisa diperoleh dari sesuatu yang berwujud.

Tetapi malam ini, saya mendengarkan anda bercerita dengan penuh semangat tentang kesibukan di kantor. Suara anda sedikit serak dihantam kelelahan. Anda bilang hari ini sangat hectic. Tidak sempat makan. Tidak sempat menarik napas barang sejenak... Tapi saya senang mendengar bagaimana menurut anda semua berjalan sesuai rencana (meskipun ada satu gimmick yang miss), saya senang acaranya berjalan sukses.

Lima menit mendengar anda bercerita.
Lima menit mendengar semangat dalam cerita anda.
Lima menit mendengar euforia dalam suara anda.
Lima menit mendengar suara anda...

...sudah cukup untuk membuat saya lupa akan rasa lelah saya sendiri. Sepertinya malam ini saya bisa tidur nyenyak. Dan saya harap anda juga. Terima kasih.

Goodnight, sleep tight, and have a great adventure in your dream.

Senin, 01 April 2013

#Imaginarium 06.


E=MC2

Ah... energi dan massa... E adalah energi, dan M adalah massa. Bukankah keduanya hanya merupakan wajah yang berbeda dari dua hal yang sesungguhnya sama? Suatu objek dimungkinkan untuk memiliki massa karena pergerakan Quark. Pergerakan Quark adalah wujud induksi kalor dalam ruang kuantum komplementer. Dan sesungguhnya, apa itu induksi kalor kalau bukan energi? Maksud saya, tentu saja, sepanjang anda mengalikannya dengan faktor konversi C2—kecepatan cahaya dikalikan dengan dirinya sendiri—dan anda akan menemukan relativitas absolut.

Sungguh, sebuah konsep yang profan tetapi juga bersahaja di saat yang sama. E=MC2... Massa relatif, yang didefinisikan sebagai rasio massa suatu objek terhadap kecepatannya. Massa relatif, yang selalu ekuivalen dengan total energi dibagi dengan C2. Dengan kata lain, seandainya satu objek bergerak dengan cepat, maka massa relatifnya akan menjadi lebih besar ketimbang massa diamnya, dan itu akan  selalu sebanding terhadap massa yang diasosiasikan dengan energi kinetik dari objek tersebut.


Tidakkah anda lihat makna yang tersimpan di dalamnya? Seiring anda bergerak semakin cepat, maka semakin besar energi yang anda kumpulkan, dan karena anda memiliki energi semakin banyak, maka massa anda menjadi semakin bertambah. Nah, jika sekarang anda ingin bergerak lebih cepat lagi, anda akan perlu mengakselerasi massa berlebih itu juga, maka semakin besar pula energi yang anda butuhkan. Lakukan itu berulang-ulang, dan anda akan semakin mendekati kecepatan cahaya, dan mencapai massa infinit dimana anda tidak lagi mampu bergerak.

“The faster you go, the heavier you get.”

Sungguh, jangan bebani hidup dengan bergerak terlalu cepat. Melambatlah sedikit, namun jangan terlalu lambat sehingga anda terlibas arus. Cukuplah sampai anda bisa menatap segala sesuatu dengan ketakjuban. Nikmati setiap momen dengan kebersahajaan yang lamat-lamat. Rayakan hidup. Anda tak akan pernah bisa menebak seberapa banyak keajaiban yang bisa tersimpan dalam sebutir partikel. Take things slow, enjoy your life, make every second count...




...karena anda tidak didesain untuk bergerak dalam kecepatan cahaya.