Kamis, 28 Februari 2013

#Amrita 11.


aku selalu rindu menyamar batang-batang pohon, 
menanti langkahmu lewat tinggalkan harum 
dalam kemerisik daunan
:jejakmu yang tipis dihapus lembab embun

di busur langit berupaya menjadi 
matahari yang kau pandang sambil berlari, 
kuhimpun senyum manismu yang ditabur
:seperti biji-biji padi di tanah gembur para petani

habis-habisan kubentuk diriku menyerupai 
gunung tempat kakimu lincah mendaki, 
mengekalkan hangat jemarimu:
:meski sekujur tubuhku gemetar

aku rela menghampar sebagai rerumputan lembut, 
permadani yang menjagamu dari pepucuk duri, 
demi jalan setapak kecilmu
:sebelum langkahmu berhenti dan sirip-sirip awan menepi

malam bagimu tak pernah tua
di tengah lautan gemintang, tubuhmu perlahan luruh
kalau engkau seorang penakut, akan kubisikkan doa dan kata-kata yang menentramkan
selagi gelap, kita tak dapat bertukar pandang,
tapi aku yakin kau selalu cantik
seperti engkau yakin aku tak pernah jauh
telingamu masih mendengar detak kecil
:nada rindu dari jarak ribuan mil

aku ingin selalu menjadi selembar pagi 
yang menyaksikanmu bangkit dari mimpi, 
memandang gaun putih yang menari-nari di tubuhmu
:bulan pun bersandar dengan wajah pucat pasi

di punggung cakrawala kuubah diriku menjadi sekawanan 
burung yang bernyanyi tak henti-henti, 
hendak mengalahkan semua bunyi
:sepilihan kata yang menjadikanmu bidadari

Rabu, 27 Februari 2013

Sarkofagus Alasangker


mesti dengan apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang kunyanyikan bagi keturunanmu
                        telah sempurna terbuka
namun kau lebih suka merayu waktu
tanpa mau menjenguk diriku

masa lalu telah menyerpih
            dan jadi abu dalam diriku
tertimbun dalam periuk tanah liat
bersama kalung manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang dan kenangan lapuk

mengapa kau tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah guratkan segala tanda di dinding tebing
                        aku telah tatah di setiap jiwa manusia

kerajaanku akan bangkit
sebab kau telah memaksaku tiba pada kerinduan lama
            apa yang tiada luput dari kabut
yang menyisir perkampungan dan hutan keramat
            yang dihuni para danyang dan memedi

beri aku bunga embun
agar waktu mencair
            dari ruhku yang kelam
sekelam kutukan batu-batu di hunian ini

kedalaman tanah moyangku
daerah istirah yang selalu membayang
            pada pepucuk pohon lontar
                        yang kau sadap jadi nira dan tuak
dan kau guratkan aksara purba pada bumbungannya
tapi kau tak pernah usai
            mengurai nujuman itu
senja akan musnah
dan mata tiada jenuh bergelut
            dengan kemesraan maut

peramal tua itu telah tiba
dari jalan hidupmu yang hampa kata-kata
mengapa tidak kau ikuti kemauan hati
ketika hari makin genap dalam perjamuan jiwa

pada akhirnya kita hanya
tumpukan kerangka tiada guna
namun aku telah menyibakkan jalan
bagi segala kenangan
            yang melintasi aliran nadimu

langit telah menyungkupi kebisuanku
            beribu-ribu tahun
cuaca telah membaca nubuat yang kugurat
            pada pohon-pohon dan batu-batu
maka begitu pula aku membacamu
                        dari tidur abadiku

Jumat, 22 Februari 2013

#dreamlog 06.


[excerpt 027]
21/02/2013 (04:07 am)

Sebuah padang pasir...

Matahari menggantung tinggi di angkasa, sinarnya nyalang menggarisi cakrawala, menguapkan segala bentuk logika dan akal sehat yang tersisa. Ketika saya memandang ke arah manapun hanya terlihat pasir kuning keemasan, yang bersama angin meniupkan aroma luka dengan suara derit yang menyakitkan. Entah dimana, saya merasakan ada bayangan yang tumbuh; tinggi dan mengancam. Tetapi di atas sana matahari membakar dengan begitu bengis.

Argh... sungguh, belum pernah sebelumnya saya merindukan hujan sebegini rupa...

Ada sebatang tombak di tangan saya dengan sebuah batu yang diasah sebagai mata tajamnya, batang tombak tersebut dipenuhi oleh ukiran-ukiran aneh, membentuk pola-pola konsentris yang membingungkan mata. Ada insting ketidak-tenangan yang membuat saya mempererat genggaman atas tombak tersebut... Di kejauhan, mata saya menangkap sesosok manusia yang merangkak terseok-seok memegangi pergelangan kakinya. Dia terjatuh beberapa kali sebelum kemudian berusaha merayap lagi. Saya membatin: “barangkali dia butuh bantuan...” saya pun berlari mendekatinya.

Sambil berlari, perlahan mata saya menangkap lebih banyak detail pada sosok tersebut; yang jelas dia seorang laki-laki, barangkali di usia dua puluhan pertengahan, pergelangan kaki kirinya terpuntir ke arah yang tidak natural, nafasnya memburu sembari sesekali mengaduh dengan suara yang sangat familiar... Hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika laki-laki itu tiba-tiba mendongak dan menatap langsung ke mata saya, dan apa yang saya lihat membuat saya tertegun; mata itu, fitur-fitur wajah itu, postur tubuh, bekas luka di tangan...

Laki-laki itu, adalah... saya.

Ada sensasi rasa takut yang merayap di sepanjang tulang punggung saya, barangkali ketakutan yang sama yang saya lihat di mata orang itu. Tangan saya secara otomatis semakin erat menggenggam gagang tombak. Selama jeda sepersekian detik yang terasa seperti berabad-abad, kami terus saling mengawasi; dan saya bisa melihat banyak emosi di wajah itu—panik, takut, terkejut, bingung—sepiring gado-gado kekalutan [saya sendiri kaget melihat ekspresinya, mungkinkah wajah saya sendiri bisa membentuk ekspresi seperti itu?]

Kemudian beberapa hal terjadi secara bersamaan: pertama-tama, saya mendengar dia berteriak “Stop! Jangan!” kemudian berusaha bangkit; yang kedua, tangan saya bergerak di luar kehendak, menghujamkan tombak itu tepat menembus dadanya, dan tiba-tiba saja dia sudah terkapar. Semua terjadi begitu cepat, saya tidak tahu apakah yang pertama terjadi sebelum yang kedua, atau sebaliknya. Entah... tapi yang jelas, dalam kepanikan saya telah membunuhnya. Dalam kepanikan, saya baru saja... membunuh diri saya sendiri...

Sosok itu masih menggeliat pelan diantara percampuran mengerikan suara gelegak darah di tenggorokan dan sengal nafas putus-putus, sampai akhirnya diam tak bernyawa, menyisakan pasir yang dengan rakus meminum darahnya yang mengalir deras seperti sungai merah. Saya jatuh terduduk dengan tangan kaki gemetar. Shock. Ada rasa takut yang perlahan-lahan menggantikan rasa panik barusan. Saya bangkit dan berlari menjauhi mayat tersebut.

Belum sampai beberapa puluh langkah saya terjatuh dalam posisi yang salah sehingga pergelangan kaki kiri saya terpelintir. Perlahan saya bangkit dan mencoba berlari lagi, hanya untuk kembali jatuh tersungkur. Rasanya luar biasa sakit. Tetapi saya harus pergi dari tempat ini. Kemana saja, terserah. Yang penting keluar dari padang pasir terkutuk ini. Saya terus berupaya menyeret tubuh. Sakitnya semakin menjadi. Terdengar suara langkah kaki sayup-sayup di kejauhan, tapi saya tidak peduli. Saya harus pergi. SAYA HARUS PERGI! Suara langkah kaki itu semakin dekat, hingga kemudian berhenti beberapa meter di depan. Saya mendongak...

...dan mendadak seluruh tubuh saya kaku...

Saya tidak tahu kenapa tubuh saya kaku. Yang jelas, rasanya seperti tidak ada energi lagi yang mengalir dalam tubuh saya. Kenapa sih? Ada apa? Apakah karena sosok yang berdiri di depan saya itu terlihat begitu mengancam? Entahlah... Atau barangkali karena tombak aneh berukir yang dia genggam di tangannya? 

Atau, jangan-jangan karena fakta, bahwa laki-laki yang memegang tombak itu adalah...

...diri saya sendiri?

Lalu saya terbangun.

[end of archive]

Kamis, 21 Februari 2013

Pada Suatu Senja Yang Usang

Masihkah engkau mendedahkan perih di lipatan matahari yang giras kerontang?

Pada cangkir tehmu, ada kelabu memantul dari sela bunyi detik tik-tik-tik yang disenandungkan oleh jam dinding yang tak henti menguap bosan. Di ujung ruangan, sebuah mesin kas usang meruapkan melatonin, juga ambiguitas disonan yang merabai punggung udara. Di kafe ini waktu berjalan lamat-lamat, seperti pada geriap jalanan, bangku kayu kesepian, juga keredap parfum kloroform yang meruap dari pergelangan tanganmu. Tapi di ujung koridor ada lautan pandawa palsu yang berjalan dengan lidah-lidah mereka. Biarkan... jangan pedulikan mereka, fokus saja pada meja mungil ini, yang diatasnya ada secangkir teh dingin dan segelas kopi mahal yang tampangnya seperti habis menelan senapan kecil, namun kedua matamu adalah sepasang lentera yang tak lagi menyala...

Kau bilang, kita barangkali memang sudah salah wacana sejak awal—ada dosa-dosa yang mengendap di sudut pikir, layaknya ampas kopi yang membikin hitam gigi-geligi. Lalu engkau tertawa (atau menangis, entah) dan bilang: kita dulu pernah begitu indah, dan bodoh, sedemikian bodohnya sampai-sampai sekarang kita cuma bisa gigit jari merutuki kesalahan-kesalahan... tapi tetap saja, kita pernah indah.

Ah... tapi bodoh itu bukan sesuatu yang salah, bodoh itu sesuatu yang bodoh, tolol. Dan tolong beritakan kepadaku, adakah satu kehidupan di luar sana, satuuuuu saja, yang nihil kebodohan tapi tetap bisa kita tertawakan? Bukankah kita menjadi pintar karena belajar dari kebodohan? Bukankah kita jadi lebih menghargai secuil kebenaran dari kesalahan? Berterimakasihlah pada kesedihan dan air mata, karena bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna. Sebuah lingkaran tidak harus bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu lurus.

Tetapi aku bukan pandawa, melainkan kurawa yang dikutuk para dewa—menjadi bangsa paria; yang lupa pada aksara, yang lupa pada rasa, yang lupa pada jiwa... dan tak akan bisa menyembunyikan wajah buramku saat kuasa batara kala tiba.

Maka izinkanlah aku menghapus senja yang menggantung di sela-sela jemarimu... supaya engkau bisa kembali menapaki jalan setapak kecilmu itu...


Minggu, 17 Februari 2013

#Amrita 10.


Begitulah tanganmu menyamar waktu 
Melambai sepenuh sungguh 
Serupa kepak sunyi seekor burung
yang sendiri

Bukanlah lagi secangkir kopi 
Menemaniku di tiap denting dini hari 
yang berayun lambat di taman kota
Tetapi justru bayangmu 
Pada tetes cahaya bulan 
dan sisa bir semalam milik si tua pucat
            yang lelap 
di bawah tiang lampu jalan

Kaukah stasiun tujuan 
Bagi seorang laki-laki dan tiket terakhirnya
yang basah
oleh embun sebatang pohon mati 
atau angan seekor katak yang lupa cara melompat

Begitulah lonceng seketika berbunyi 
dan siapapun bergegas kembali ke rumah tua
yang abadi

Menuju tempat kelahiran
ingatan masa silam yang urung usai
Atau sebuah taman penuh kenangan
di mana tak seekor ulat pun
menyelinap di pucuk kuldi

Atau mungkinkah segalanya cuma kisah? 
Tak seorang pun akan kembali menjadi dirimu,
menyamar mawar,
atau kepak pilu seekor burung

...dan sisa cahaya telah tumpah
pada tetes
secangkir bir yang terakhir...

Begitulah detik selalu berguguran
Di sebuah taman
di kota ini

Di satu dini hari yang sungguh serupa dirimu...

Sabtu, 16 Februari 2013

#Monolog 02.


“...jadi, keberangkatan lu itu benar-benar perjalanan ingatan semata!” Aku-yang-lain, dengan lidah tajamnya, sambil duduk di patio setiap kali dia menangkap tanda keresahan dalam ucapanku. “Lu pergi untuk melepaskan beban kenangan-kenangan masa silam!” dia terus berseru, tak henti menghardik dan menuding, “Dan lu kembali dari perjalanan lu dengan muatan penyesalan!” lanjutnya menambahkan dengan sindiran tajam: “Perniagaan yang nggak ada artinya, sebenarnya, untuk pebisnis kawakan macam lu!”

Ini merupakan tujuan dari seluruh pertanyaan Aku-yang-lain tentang masa silam dan masa depan. Satu jam lamanya dia bermain-main dengan pertanyaan itu, seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus. Sampai akhirnya dia menyerang dengan mendesak punggungku ke dinding, menghantamkan lututnya ke dadaku, dan mencengkram erat tenggorokanku dengan tangannya: “Ini yang ingin gua dengar dari lu; akuilah apa-apa yang lu selundupkan: kebenaran, sifat-sifat kehakikian, penyesalan!”

Kata-kata dan tindakan ini barangkali hanya dapat dibayangkan, karena kami berdua ternyata cuma membisu dan tidak bergeming, sambil mengawasi asap yang membumbung dari kedua ujung bara rokok kami. Awan kadang-kadang pecah dalam desiran angin, atau tetap menggantung di udara; dan jawabannya ada disana. Begitu tiupan angin membawa serta asap, aku berpikir tentang kabut yang melayang di atas permukaan lautan serta jajaran-jajaran gunung, dan ketika dihela, meninggalkan udara kering dan cerah, memunculkan kota-kota jauh yang hanya hadir dalam ingatan. Sementara Aku-yang-lain berharap semua itu bermuara di balik naungan percakapan tak tentu arah ini: bentuk-bentuk benda nampak lebih jelas dari kejauhan.

Terkadang, awan mendekat, hampir tidak meninggalkan bibir cakrawala, tebal dan bergerak pelan, dan memunculkan pengandaian atas penglihatan yang lain: hembusan yang menggantung di atas atap kota-kota besar, asap buram yang menggumpal, kerudung udara beracun yang memenuhi jalan-jalan berlapis aspal. Bukanlah kabut ingatan yang berubah-ubah, atau udara cerah; melainkan kepalsuan yang membakar kehidupan itu sendiri—gembungan spons dengan materi vital yang tak lagi mengalir: kekacauan masa silam, masa kini, masa depan yang menghalangi eksistensi kehidupan melambat dan menjadi patung-patung suram dalam pergerakan ilusi. Dan Aku-yang-lain lalu membisikkan sebuah simpulan yang sebetulnya juga sudah kuketahui: "Cuma hal-hal itu yang akan lu temukan di akhir perjalanan lu..."

Jumat, 15 Februari 2013

Lukisan


Seorang hiker tersesat di tengah-tengah hutan. Hari sudah mulai gelap ketika ia menemukan sebuah kabin reyot pada sebuah bukaan kecil di punggung bukit. Pintunya tak terkunci, dan ketika ia membukanya, tak ada siapa-siapa didalamnya.

Di dalam kabin itu hanya terdapat sebuah tempat tidur kecil. Kelelahan, hiker itu memutuskan untuk beristirahat menunggu matahari terbit dan berbaring di tempat tidur kecil tersebut. Tepat sebelum ia memejamkan mata, barulah ia sadar bahwa dinding kabin itu dipenuhi oleh lukisan-lukisan wajah yang menyeramkan. Lukisan-lukisan tersebut dilukis dengan detail yang sedemikian presisi, menggambarkan wajah-wajah mengerikan yang menatap hiker itu dengan sangat mengancam. Beberapa terpuntir sedemikian rupa, beberapa lainnya menyeringai dalam bukaan mulut yang agaknya terlalu lebar, menunjukkan gigi-gigi runcing yang sangat tidak manusiawi, sisanya bahkan tidak terlihat seperti manusia, melainkan makhluk-makhluk tak dikenal yang hanya bisa ditemukan dalam mimpi buruk paling mengerikan. Merasa semakin tidak nyaman, hiker itu memutuskan untuk membalikkan badan menghadap tembok, dan ditengah kelelahannya, ia pun jatuh tertidur dengan perasaan yang sangat tidak tenang.

Keesokan paginya, ia terbangun dengan kaget di atas sebuah tempat tidur asing, dengan sinar matahari menyorot ke wajahnya. Ia bangkit, dan sekonyong-konyong merasakan sensasi ketakutan yang dingin merayap di sepanjang tulang punggungnya. Ia melihat disekelilingnya, dan menemukan bahwa sesungguhnya tidak ada satupun lukisan di dinding...

...hanya jendela-jendela...

Minggu, 10 Februari 2013

The Ringing Sound


You know that ringing sound that you will perceive when you are in a very quiet area? Some people say this is an auditory illusion brought about the ear’s inability to detect frequencies below the threshold of the human senses. This is completely wrong. That ringing covers up something else altogether. If you are quick, patience, and maybe a little lucky, you will be able to hear past the ringing. What you will hear, are voices whispering to each other. They will silence themselves quickly, but with practice, you will become more adept at catching and interpreting what they are saying. You will hear things of the past, the present, and the future. However, you must be careful. Because there is no such thing as a voice without a body.

And when you start noticing them, they will start noticing you...

Jumat, 08 Februari 2013

#Imaginarium 04.


Hari ini saya bermain catur.

Dan kalah telak.

Tetapi sesungguhnya menarik untuk mengamati bagaimana bidak-bidak catur tertentu mempengaruhi dan meniadakan peruntungan bidak-bidak catur lainnya, dan terus bergeser mengikuti jalur-jalur tertentu. Dengan mengabaikan keragaman bentuk objek itu, kita dapat mengontrol sistem pengendalian satu bidak catur ke bidak catur lainnya di atas papan hitam putih tersebut.

Pada gilirannya, setiap bidak catur dapat menciptakan makna yang sesuai: kuda dapat mewakili ksatria berkuda sungguhan, atau prosesi pelatihan, atau sebuah angkatan perang yang sedang bergerak, atau sekedar monumen penunggang kuda semata. Ratu bisa mewakili seorang nyonya yang sedang memandang ke bawah dari atas balkon, sebuah air mancur, sebuah gereja yang kubahnya membentuk kurva, sebatang pohon aprikot...

Tersusun di atas papan adalah bayangan benteng dan ksatria berkuda, sambil memandang kumpulan pion, berjalan lurus atau serong seperti langkah maju sang ratu. Darinya, anda bisa melukiskan kembali perspektif dan ruang-ruang yang terdapat pada dunia hitam putih; bagaimana semuanya tumbuh, mengambil bentuk yang sesuai, menyesuaikan diri pada musim, dan lantas melemah kemudian jatuh dalam keruntuhan.

Kadang-kadang kita merasa sedang menemukan sebuah sistem yang logis dan serasi yang mendasari perubahan bentuk dan perselisihan tak terbatas, tapi tak ada model dalam permainan catur yang dapat menjelaskannya. Barangkali, ketimbang menguras otak untuk mencari analogi dengan bidak-bidak catur yang tak cukup membantu pandangan-pandangan yang bagaimanapun ditakdirkan untuk dilupakan, lebih baik memainkan sebuah permainan sesuai dengan aturan-aturannya, dan mempertimbangkan masing-masing status di atas papan catur tersebut sebagai bentuk-bentuk tak terhingga yang dirangkai dan dihancurkan oleh sistem itu sendiri.

Tak perlu lagi ekspedisi-ekspedisi jauh untuk memahami dunia; kita tinggal memainkan sebuah permainan catur tanpa akhir. Pengetahuan tentang dunia terselubung di dalam pola yang diciptakan oleh gerakan cepat ksatria berkuda, oleh langkah diagonal yang membuka serangan menteri, oleh gerakan lamban, hati-hati sang raja, dan pion yang sederhana, dengan naik turunnya permainan yang tak dapat diubah.

Malam ini, saya mencoba untuk memusatkan pikiran pada permainan itu, tetapi kini tujuan permainan itulah yang menghindari saya; setiap permainan akan berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Tapi atas apa? Apa artinya semua pertunjukkan itu? Saat skakmat, seluruh lawan tersapu bersih di bawah kaki sang raja; namun bidang hitam putih itu senantiasa tersisa. Dengan menahan penaklukan-penaklukan dan menyederhanakannya ke bentuk yang esensial, saya akan sampai pada tujuan yang paling ekstrim: penaklukan yang pasti, dimana bentuk-bentuk beragam kekayaan duniawi hanyalah sekedar selubung yang menyesatkan. Ia direduksi menjadi bidang kayu yang rata: ketiadaan...

(sebuah obrolan dini hari dengan Nyoman Suastika, penjaga losmen di Ubung, Denpasar)

Kamis, 07 Februari 2013

#Imaginarium 03.


Seseorang melakukan perjalanan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia cari selalu berada didepannya, dan sekalipun sesuatu itu berkenaan dengan masa lalu, masa lalu itu secara perlahan berubah begitu ia bergerak maju dalam perjalanannya, karena masa lalu si pejalan itu berubah menurut rute yang diikutinya: bukan masa lalu yang baru saja berlalu, melainkan masa lalu yang lebih jauh. Setiap kali ia tiba di kota baru, pejalan itu menemukan jejak-jejak masa lalu yang tidak ia kenali sebelumnya; keterasingan dalam sosok yang sama sekali baru seakan menantimu di sebuah tempat asing nan hampa.

Pejalan itu memasuki sebuah kota; ia melihat seseorang di tengah piazza sedang menjalani kehidupan yang bisa jadi adalah kehidupannya sendiri; ia dapat merasakan dirinya berada di tempat orang itu, jika saja ia memutuskan untuk menghentikan pergerakan waktu, dahulu sekali; atau jika dahulu ketika ia berada di persimpangan jalan, ia tidak memilih jalan yang kini ia tempuh tetapi mengambil jalan yang berlawanan, setelah beberapa lama berkeliling ia akan sampai di tempat orang itu. Kini, dari masa silamnya yang nyata atau hanya berupa hipotesis itu, ia diasingkan; ia tak dapat berhenti; ia harus pergi ke kota lainnya, tempat dimana masa silamnya yang lain menantinya, ke suatu tempat dimana ia dapat menemukan masa depannya yang kini menjadi milik orang lain. Masa depan yang tidak berhasil diraih hanyalah ranting-ranting dari masa silam: ranting-ranting yang telah mati.

Pagi ini seseorang bertanya kepada saya: “Untuk apa kau lakukan semua perjalanan ini? apakah demi menghidupkan kembali masa lalumu, atau untuk menemukan kembali masa depanmu?”

Dan saya menjawab: “Cermin negatif bisa ditemukan di tempat-tempat lain, tapi bukan disini. Si pejalan tahu ia tidak memilikinya, ia mencoba untuk meraih apa yang belum dan barangkali tidak akan pernah menjadi miliknya.”

Rabu, 06 Februari 2013

Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused...


...but love is always new. Regardless of whether we love once, twice, or a dozen times in our life, we always face a brand-new situation. Love can consign us to hell or to paradise, but it always takes us somewhere. We simply have to accept it, because it is what nourishes our existence. If we reject it, we die of hunger, because we lack the courage to stretch out a hand and pluck the fruit from the branches of the tree of life. We have to take love where we find it, even if that means hours, days, weeks of disappointment and sadness.

The moment we begin to seek love, love begins to seek us. And to save us.

Some Blabbering About Passion


Passion makes a person stop eating, sleeping, working, feeling at peace. A lot of people are frightened because, when it appears, it demolishes all the old things it finds in its path. 

No one wants their life thrown into chaos. That is why a lot of people keep that threat under control, and are somehow capable of sustaining a house or a structure that is already rotten. They are the engineers of the superseded. 

Other people think exactly the opposite: they surrender themselves without a second thought, hoping to find in passion the solutions to all their problems. They make the other person responsible for their happiness and blame them for their possible unhappiness. They are either euphoric because something marvelous has happened or depressed because something unexpected has just ruined everything. 

Keeping passion at bay or surrendering blindly to it - which of these two attitudes is the least destructive? 

I don't know.

Sabtu, 02 Februari 2013

Puisi Dan Revolusi Amerika Latin


Di tempat itu terdapat rumah yang menempel pada sebongkah bukit di Valparaiso, sebuah kota kecil tepi pantai di Santiago de Chile, menghadap lansekap indah teluk Bellavista, pelabuhan, dan samudera lepas yang tak henti menghampar sampai batas horizon. Rumah tersebut pernah dihuni oleh salah satu penulis terbaik sepanjang abad ke-20: ‘Don Pablo’ adalah namanya sebagaimana dia dikenal di Chile. Atau Pablo Neruda, sebagaimana dia dikenal di seluruh penjuru dunia. Di rumah itulah Pablo Neruda menulis sebagian dari puisi-puisinya yang paling kuat dan mendalam, di sebuah bangunan kayu sederhana yang menantang derasnya ombak Pasifik.
Banyak dari puisi-puisi Neruda yang dipenuhi oleh kemarahan; layaknya sebuah panggilan untuk mengangkat senjata. Don Pablo adalah seorang Komunis, dan dia percaya pada perjuangan Amerika Latin demi kebebasan yang nyata, dia mempercayai revolusi, dan diatas segalanya—kebersatuan sub-kontinen tertsebut. Puisinya yang paling diingat dan paling monumental berjudul “The Heights of Macchu Picchu”:
And give me silence, give me water, hope.
Give me the struggle, the iron, the volcanoes.
Let bodies cling like magnets to my body.
Come quickly to my veins and to my mouth.
Speak through my speech, and through my blood. 
Namun, meskipun diksinya memiliki kekuatan sebegitu besar, bukan puisi ini yang dipilih untuk diukirkan pada pilar-pilar La Sebastiana, bukan puisi ini pula yang—dalam tahun-tahun panjang kekuasaan junta militer di Chile—menginspirasi para lelaki dan perempuan muda untuk melawan kediktatoran. Bukan puisi ini yang membuat mereka mempertaruhkan nyawa, untuk mati demi Chile dan kebebasannya, melainkan sebuah bait sederhana yang dia tulis untuk perempuan yang dia cintai mati-matian, yang menjadi simbol tersebut; sebuah teriakan perang dari barisan perlawanan:
…The fifth thing is your eyes,
my Matilda, my beloved,
I do not want to sleep without your eyes,
I do not want to live without you looking at me: 
I will give the spring
for that you’ll keep watching me.
Dan disitulah rahasianya. Revolusi Amerika Latin dan kemenangannya belakangan ini bukan hanya dibangun semata-mata melalui ide perjuangan demi keadilan sosial, tetapi juga—dalam porsi yang sama besarnya—tentang ide mengenai perjalanan, kepuitisan, letupan-letupan sentimental; tentang seni yang secara esensial bersifat esoterik, emosional, dan indah.
Seni dan dimensi mimpi memainkan peran esensial dalam perjuangan Amerika Latin, bahkan dalam perjuangan bersenjatanya. Di sini, perlawanan seringkali berangkat dari baris-baris puisi, syair lagu, atau goresan diatas kanvas. Teater di Buenos Aires dan Santiago de Chile bisa jadi sama eksplosifnya dengan bagasi mobil yang dipenuhi TNT.
Seringkali tidak ditemukan garis batas yang jelas antara revolusi dan puisi: keduanya melebur menjadi satu.
Dalam novel Gabriel Garcia Marquez, “Love in the Time of Cholera,” seorang lelaki, Florentino Ariza, mendapati mimpi-mimpinya hancur berantakan ketika cinta hidupnya meninggalkannya. Dalam novel tersebut, pujaannya, Fermina Daza, menikahi lelaki lain, dan Florentino Ariza hanya memiliki dua pilihan: untuk menyerah dan merelakan cintanya kepada Fermina Daza, atau untuk terus mencinta... dan menanti... Tidak peduli seberapa lama waktu yang diperlukan. Dia memutuskan untuk berjuang dan menunggu. Florentino Ariza menunggu selama lima puluh satu tahun, sembilan bulan, dan empat hari... tapi di akhir, dia menang. Cinta Fermina Daza menjadi miliknya, kira-kira di usia tujuh puluhan, tapi tetap saja, miliknya.
Orang kebanyakan barangkali akan berkomentar: “Dia terobsesi...”
Tetapi Juan Accreo, seorang pegiat seni yang doyan nongkrong di sebuah bar di San Cristobal, akan menyanggahnya dengan gemas: “Tidak! Bagaimana mungkin kau sebegitu bebal?” katanya sambil memesan segelas anggur cherimoya-nya yang kedua, “Tidakkah kau lihat? Itu persis dengan revolusi! Kita menunggu; Kita berjuang. Kita mengorbankan begitu banyak... tapi di akhir, tak satupun yang sia-sia. Kemenangan akhirnya milik kita.”
Tentu saja, Gabriel Garcia Marquez adalah seorang novelis kiri yang hebat. Dan jelas, karyanya, “Love in the Time of Cholera” merupakan sebuah pencapaian literatur yang kolosal, kompleks dan luar biasa. Tapi siapa yang pernah memikirkan jalur paralel macam begitu?—Fermina Daza dan revolusi. Maka Juan Accreo akan menyahut lagi: “Kenapa tidak?” katanya sambil menenggak habis anggur cherimoya-nya, bersamaan dengan si pemain akordion di bar itu memulai balada sedihnya yang lain di balik punggung Juan Accreo, “Kenapa tidak? Menanti Fermina Daza sama saja dengan penantian untuk sebuah revolusi...”
          ***
Kisah, buku-buku, puisi, musik, tarian, dan teater—semuanya sangat esensial disini. Tidak ada revolusi di Amerika Latin yang bisa terwujud tanpa itu semua. Sebelum memutuskan untuk maju menuju barikade, orang-orang harus terlebih dahulu merasa tersentuh, tergerak, bukan hanya teryakinkan.
Beberapa tahun yang lalu, di Venezuela, pemerintah mengadakan kampanye baca dengan membagikan jutaan buku secara cuma-cuma ke masyarakat. Klasik-klasik macam Don Quixote benar-benar diberikan secara gratis di seluruh negeri. Kebijakan yang bagus, menurut saya. Dan itu bukan sekedar kebijakan, tetapi juga sebuah tindakan yang sangat logis dan strategis, karena apa yang terjadi di Venezuela, Bolivia, Uruguay, Ekuador dan negara-negara lainnya sesungguhnya merupakan operasionalisasi dari prinsip dasar humanisme. Seseorang tidak perlu jauh-jauh memperlajari Karl Marx, Mao, atau Lenin atau Chavez; semua esensi mereka ada disitu—dalam karya-karya klasik Victor Hugo, Cervantes, Maxim Gorki, Tolstoy dan Tagore.
Dibawah pretensi bahwa masyarakat kelas pekerja dan petani merupakan orang-orang tak berotak yang tidak mungkin memahami pucuk-pucuk intelektualitas seperti novel dan puisi, para elit di banyak belahan dunia terus menahan hak atas pemikiran filosofis dan ‘emosi ningrat’ hanya untuk diri mereka sendiri. Secara kontras, di banyak negara di Amerika Latin, kita perlu lihat bahwa semua orang bisa dan harus punya hak untuk berpikir, dan untuk merasa. Dengan mengesampingkan segala macam tetek bengek teori elitis, bahkan orang-orang paling sederhana sekalipun bisa mulai membaca buku-buku klasik yang penuh inspirasi, mereka bisa menikmati dan bisa pula dengan mudah memahaminya. Mereka datang ke ranah revolusi bukan melalui ideologi, melainkan melalui insting alamiah manusia. Mereka menyambut siapapun yang menghargai mereka, berbagi dengan mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik.
Memperkenalkan masyarakat pada seni juga bisa menjadi awal bagi sebuah pengaruh yang positif dan mendalam bagi banyak tren di masyarakat progresif Amerika Latin. Untuk apa kita—sebagai contoh—menggalakkan kampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga, jika orang-orang sejak usia dini hanya terekspos pada bentuk hiburan yang brutal, vulgar, terstandardisasi, dan dipandu oleh kepentingan-kepentingan komersil semata? Secara kontras, seorang laki-laki yang membaca dan menikmati Marti, Neruda, atau Tagore jelas tidak mungkin memukuli istri dan anaknya.
Kepada Juan Accreo, saya mengirimkan naskah epos teater saya berjudul “Fragmen Pertempuran” yang saya terjemahkan ke bahasa Inggris bulan Januari lalu. Dan inilah komentarnya: “Aku dan pacarku membacanya keras-keras, dua kali, selama dua malam berturut-turut,” katanya di depan webcam dengan raut muka super serius ala aktivis kawakan. “Dan kami menangis selama dua malam penuh,” lanjutnya.
Sungguh. Tidak ada yang perlu ditambahkan lagi, saya bahagia; berdasarkan standard Amerika Latin, Juan Accreo telah memberikan  kepada saya nilai apresiasi yang paling tinggi, murni, dan tulus.
Saya tahu beberapa orang di Peru dan Kolombia dan di tempat-tempat lain di sub-kontinen itu yang bisa menangis kala membaca puisi-puisi Marti atau Cesar Valejo di malam hari, kemudian bangun di pagi harinya, dan tanpa keraguan menerjunkan diri ke pertempuran-pertempuran paling berdarah, tanpa setitikpun rasa takut. Saya tahu lelaki-lelaki yang menulis puisi untuk istri atau kekasih mereka ketika sedang berada dalam parit-parit di medan pertempuran. Di Amerika Latin, untuk merasa, untuk menjadi emosional bukanlah hal yang dianggap memalukan atau konyol, sepanjang orang yang bersangkutan tetap kuat dan keras ketika kekuatan dan kekerasan memang diperlukan.
          ***
Seni mengajarkan orang cara bermimpi, dan pada gilirannya mimpi-mimpi itulah yang mendorong masyarakat untuk maju ke depan. Puisi bukan hanya tentang letupan-letupan emosi sesaat; melainkan lebih kepada kasih sayang, kebaikan, dan kebersahajaan. Membran emosional yang melapisi banyak lirik dan puisi mampu menyerap rasa sakit yang paling menusuk, dan mendorong hadirnya pemaafan.
Tetapi bukan hanya puisi yang membentuk wujud mental Amerika Latin dan membantu menghadirkan identitas nasional dan kontinen yang sebegitu kompleks; melainkan juga keseluruhan skala ekspresi artistik: dari teater dan sinema sampai musik dan literatur.
Dan ini juga merupakan gaya hidup—malam-malam panjang di penghujung Jumat dan Sabtu ketika sekelompok teman berkumpul, mengobrol sampai pagi, bertukar ide, pemahaman, mimpi dan kesedihan, melompat dari satu teater ke teater lain, dari sinema yang satu ke sinema yang lain, pameran dan galeri, kadang bernyanyi kadang berdansa, tapi selalu bercakap-cakap.
Tidak ada jejaring sosial, tidak ada Skype, atau bentuk komunikasi internet apapun yang mampu menggantikan itu: interaksi langsung dan debat yang berapi-api, sebagaimana tidak ada media elektronik yang mampu menggantikan kehangatan tangan manusia, atau ekspresi penuh pengertian di mata seorang sahabat, atau sesungging senyum tulus di sudut bibir seseorang yang anda cintai.
Banyak konsep-konsep sosial dan politik di Amerika Latin terlahir di malam-malam seperti itu, di sekeliling meja, dengan gelas-gelas dipenuhi ampas kopi, seusai pembahasan sejumlah karya seni secara mendalam. Seni tidak hanya mengedukasi, seni mendorong manusia untuk berpikir dan merasa, membantu mereka menarik garis batas antara benar dan salah. Bentuk kehidupan manapun yang terasingkan dari kualitas-kualitas tersebut bukanlah kehidupan yang pantas untuk dirayakan. Dan dengan sangat tidak mengejutkan, revolusi-revolusi yang terjadi di Amerika Latin, nyaris semuanya berangkat dari puisi dan kerinduan atas cinta dan kebaikan.
          ***
Sebelum kediktatoran militer Argentina jatuh di tahun 1982, salah satu penyanyi terbesar sepanjang masa—Mercedes Sosa—kembali dari pengasingan. Sosa dicintai oleh semua orang, dan dipuja karena suara emasnya yang menggetarkan. Dia adalah lawan dari segala yang media massa di seluruh dunia definisikan sebagai ‘perempuan sempurna’. Mercedes Sosa bertubuh gempal, berkulit cokelat, dan seorang indian adat. Tetapi ini bukan Berverly Hills; ini El-Puerto.
Menjelang senja dia melangkah dengan penuh keyakinan memasuki kuil tertinggi ‘kebudayaan Eropa’ di Argentina, sekaligus salah satu rumah opera paling terkemuka di muka bumi: Teatro Colon di Buenos Aires.
Teater itu sesak oleh manusia yang berjejalan. Saat itu, beberapa lagu yang hendak dinyanyikan oleh Sosa masih dilarang oleh pemerintah. Tetapi kemunculannya di atas panggung menjadi sebuah janji akan berakhirnya kediktatoran yang tengah berlangsung. Mereka-mereka yang datang menonton konser itu di kemudian hari akan mendeskripsikan atmosfer dalam teater tersebut sebagai ‘gelombang yang menggetarkan hati dan jiwa kami’. Para penonton itu mengharapkannya untuk menyanyikan lagu-lagu yang menantang Vidella serta para pemerkosa dan pembunuh di jajaran junta militer. Mereka mengharapkannya untuk menyenandungkan syair-syair yang menjaga para lelaki dan perempuan dan anak-anak tetap hidup—secara emosional dan spiritual—sepanjang tahun-tahun gelap tersebut. Dan Mercedes Sosa melakukannya. Dia bernyanyi sebagaimana yang tidak bisa dilakukan lelaki dan perempuan manapun di dunia.
Mercedes Sosa menyanyikan syair tentang matahari yang membakar, dan tentang seorang gadis bernama Maria, Maria Va; ‘Maria Akan Pergi’. Dan kemudian lagu-lagu lainnya, dan semuanya ada disana, segenap perlawanan, gairah, revolusi, cinta... semuanya hadir, transenden dalam sebuah malam penuh dongengan gaib, dalam suara tunggal perempuan luar biasa ini.
Rekaman konser tersebut menjadi salah satu klasik terbaik sepanjang waktu. Para penonton menangis dan berteriak. “Sudah berakhir!” kata mereka, “seluruh penderitaan itu sudah berakhir!” Syair-syair itu, yang selama bertahun-tahun dinyanyikan di ruang bawah tanah dan kolong-kolong persembunyian, bergema dari balik jeruji penjara dan ruang-ruang penyiksaan, disenandungkan oleh malam—syair-syair tersebut, sekarang mengalir derasdengan begitu bebas dan menggetarkandari atas panggung rumah opera Buenos Aires.
Tetapi apa sih, sebenarnya, yang ada dalam lagu-lagu itu, yang menantang seluruh tatanan sistem? Apakah panggilan perang, kritik terhadap sistem; apakah itu tentang politik?
Mercedes Sosa menyanyikan sebuah balada gubahan Violetta Parra, seorang aktivis perempuan Chile yang menggagas gerakan Nueva Cancion, seorang musisi dan penyair yang mati bunuh diri di tahun 1967.
Gracias a la vida que me ha dado tanto
Me dio dos luceros, que cuando los abro,
Perfecto distingo lo negro del blanco
Y en el alto cielo su fondo estrellado
Y en las multitudes el hombre que yo amo
(Thanks to the life that has given me so much
It gave me two bright stars and when I open them
I distinguish perfectly the black from the white
And in the high sky its starred bottom
And in the crowd: the man I love)
Setelahnya dia menyanyikan sebuah lagu melankolis, tentang seorang penyair Argentina, Alfonsina Storni, “Alfonsina and the Sea,” yang dalam keputusasaan melempar dirinya ke laut di Mar de Plata.
You are leaving, Alfonsina
With your loneliness
Which new poems
Did you go find?
An ancient voice
Made of wind and salt
Breaks your soul
And takes it away
And you float away
As in dreams
Asleep, Alfonsina
Dressed by the sea
“Jadi, dimana revolusinya?” seorang reformis muda tidak sabaran dari Kairo atau Jakarta barangkali akan bertanya. “Semua kesedihan itu, kerinduan akan cinta, dan melankoli, dan keindahan... seluruh rasa kehilangan itu... keputusasaan... tetapi dimana panggilan untuk melawan, dimana pemberontakannya?”
Dan seorang Amerika Latin akan menjawab dengan sedikit bingung: “Tapi... semuanya ada di situ... segalanya itu hadir... dalam semua puisi cinta itu, tidakkah kau dengar?”
Dan sekonyong-konyong, semua menjadi jelas.
Seakan-akan mendengar percakapan tersebut dari atas panggung, Mercedes Sosa mendadak mengubah ritme. Dia mulai menyenandungkan sebuah melonga tua nan indah dari Uruguay:
I have so many brothers,
I can’t even count
Para penonton menahan nafas. Mereka bisa merasakan emosi di udara. Malam itu mendekati klimaksnya. Sosa bernyanyi tentang tangan-tangan hangat milik orang-orang yang dirundung kemiskinan, dan mendadak, tentang kematian. Tentang ‘kematian kita, kematian mereka-mereka yang tewas demi kita yang terus membayangi’ tak peduli kemanapun kita pergi.
Ada kesunyian absolut, yang perlahan-lahan berubah menjadi simfoni megah yang memekakkan terlinga. Mercedes Sosa membuat sebuah serangan tunggal, pendek, sempurna, dan mematikan, layaknya sebuah hantaman terbaik dari tinju seorang reformis sejati:
I have so many brothers,
I can’t even count
And I have one sister
The most beautiful one
Whose name is freedom!
...
Beberapa bulan kemudian, junta militer Argentina dipaksa untuk jatuh.
          ***
Tanpa adanya letupan-letupan emosi tersebut, tanpa puisi dan syair-syair yang sedemikian kuat, tanpa pemahaman atas keputusasaan dan emosi yang telanjang, tanpa kemampuan untuk bermimpi... tidak akan pernah ada perjuangan demi kemerdekaan dan keadilan yang bakal dimenangkan di Amerika Latin. Mereka sentimental, ya. Dan juga pemimpi. Tetapi mereka juga keras. Dan dunia mereka sebagian besar abstrak.
Kita mempelajari bahwa mimpi dan edukasi emosional itu penting, bahkan esensial dalam kerja revolusi. Bagaimana bisa seseorang pergi berperang tanpa kata-kata puitis di bibirnya, tanpa seseorang yang dia cintai begitu dalam di lubuk hatinya, atau tanpa dedikasi total terhadap negara yang hendak dia bela? Ini adalah cara Amerika Latin, dan cara itu bekerja dengan baik.
Bisa anda lihat; semua itu tentang nilai. Ada pihak yang mencuri dari negeri yang mereka cintai, karena mobil-mobil mahal dan rumah-rumah mentereng bisa memberikan lebih banyak ‘penghargaan’ ketimbang kejujuran, pengetahuan, kebaikan, atau keindahan. Tidak mungkin seseorang berharap untuk bisa menang melawan korupsi tanpa mengubah sistem nilai.
Dan demi membawa tesis ini ke titik ekstrim: jika sebuah puisi yang ditulis dengan baik mampu membangkitkan semangat dari rakyat di sebuah negara ketimbang sebuah Ferrari merah menyala, maka orang-orang akan berhenti mencuri dan mulai menulis. Di Kuba, orang-orang akan memilih puisi. Di negara-negara macam Venezuela, terdapat satu generasi yang tumbuh dengan memegang teguh prinsip yang sama.
          ***
Segalanya berkelindan erat di sini, puisi dan perjuangan, musik dan revolusi. Pernah suatu kali, Eduardo Galeano, sang master realisme magis Amerika Latin berucap: “Poems are written with ink and blood, while verses and strings of guitars carry on the revolution.
Kalimat itu adalah gambaran tentang bagaimana para lelaki dan perempuan di sana berbicara; dan mayoritas masyarakat sama sekali tidak punya kesulitan untuk memahaminya. Bahasa mimpi dan imajinasi menjadi satu idiom utama di Amerika Latin—bahasa yang dipahami dan digunakan di setiap sudutnya.
Pernah juga Alberto Bruzzone, salah satu pelukis terbaik yang dimiliki Argentina, berkata: “Aku tidak bisa melukis bunga-bunga dan idiom-idiom keibuan, sementara mereka membunuhi mahasiswa-mahasiswaku di jalanan!” Bruzzone jelas melampaui zamannya—terlebih lagi, melampaui kebanyakan seniman-seniman barat. Berapa banyak, sih, seniman di California atau London yang bisa mengklaim: “Saya menolak membuat film murahan yang tak berotak, sementara negeriku sendiri menguasai dan menundukan setengah dunia di bawah tirani penderitaan!”
Nah, kembali ke puisi: beberapa lelaki dan perempuan di sub-kontinen ini menuliskan bait-bait kolosal dengan jiwanya sendiri, entah itu Che Guevara, atau Hugo Chavez, atau Subcomandante Marcos, atau Fidel Castro, atau pemimpin muda gerakan mahasiswa di Chile baru-baru ini—Camilla Valejo.
Dan tentu saja, Pablo Neruda, Jose Marti, dan Presiden Salvador Allende.
Presiden Allende tewas di tengah kobaran api istana kepresidenan Chile—La Moneda—ketika angkatan udara Chile membombardir tempat tersebut dalam upaya kudeta di tanggal 9 November 1973, melayani kepentingan Amerika Serikat dan korporasi-korporasinya. Allende sendiri sebetulnya tahu tentang pengkhianatan itu. Banyak saksi sejarah yang menyatakan bahwa dia sudah mendapatkan banyak kisikan... tetapi sebagai seorang demokrat sejati, dia menolak menahan siapapun hanya atas dasar kecurigaan.
Ketika jet-jet tempur itu mulai mengudara, Allende bangkit dan berjalan menuju balkon ruang kerjanya, menuju pesawat-pesawat tersebut, menuju kematiannya sendiri. Dia masih Presiden Chile yang sah saat itu; seorang presiden yang terpilih secara demokratis, di salah satu negeri paling indah di bawah matahari. Dia berjalan menuju pilot-pilot yang mengkhianatinya; mengkhianati tanah airnya, sebab tidak peduli apapun yang mereka lakukan, mereka tetaplah warga negara yang bumi pertiwi percayakan padanya untuk dia pimpin dan dia jaga. Dia berjalan menuju mereka karena dia tahu, dia tidak akan melarikan diri. Dia tewas dengan penuh kebanggaan, tak terkalahkan, menuju mesin-mesin jet yang meraung, menuju moncong-moncong senapan mesin mereka, menuju roket-roket yang meluncur dari bawah sayap mereka. Seorang laki-laki dengan kacamata berbingkai tebal, seorang laki-laki yang sangat baik, seorang humanis sejati.
Di saat Allende menapaki langkahnya, tidak jauh dari La Moneda, Pablo Neruda tengah sekarat karena kanker. Di saat pemilu sebelumnya, Don Pablo seharusnya menjadi kandidat presiden dari Partai Komunis Chile, tetapi dia malahan mendukung Allende yang mewakili La Unidad Popular.
Dua sosok besar, dua orang individu terbaik yang pernah dimiliki dunia, tengah menghadapi kematian di saat yang sama, tidak jauh dari satu sama lain. Negeri mereka, negeri paling indah di muka bumi, akan mengalami penindasan dan perkosaan sepanjang dua dekade berikutnya, oleh wajah-wajah buruk neo-kolonialis dan geng-geng lokal yang melayani kepentingan modal.
Don Pablo telah usai menorehkan puisi terakhirnya. Dia berpisah dengan Matilda; dengan sahabat-sahabatnya, dengan negeri yang dia cintai begitu dalam. Dan Allende telah mengukirkan, pada segenap tanah, air, udara... pada hati, dan jiwa, dan mimpi mereka-mereka yang merindukan kebebasan, sebuah puisi yang ia tulis dengan tubuh, ruh, dan darahnya.
Dan ini adalah sebuah contoh tentang bagaimana puisi-puisi terbaik dilahirkan. Inilah tempat dimana puisi dan revolusi bersatu; inilah bagaimana keduanya menjadi satu entitas tunggal yang solid dan tak tepisahkan.
          ***
Pasca kudeta tersebut, militer Chile memenuhi Stadium Nasional di Santiago de Chile dengan ratusan tawanan. Di antara tawanan-tawanan tersebut adalah salah satu musisi paling dikenang di Amerika Latin, Victor Jarra. Mereka menggelandang tubuh kurusnya, kedua tangan serta tulang rusuknya patah. Para prajurit kemudian melemparkan gitar kepadanya: “Sekarang bernyanyilah buat kami,” kata mereka sambil tertawa. Dan Victor Jarra melakukannya. Dia menyanyikan Venceremos langsung di depan muka mereka. Para prajurit itu mengambil senapan mesin dan menembakinya. Satu lagi jiwa besar dan penuh kebanggaan telah gugur—tapi Victor Jarra tidak mati. Dia menjadi puisi lain yang menginspirasi kita: Anda tidak menangis memohon belas kasihan di depan bayang-bayang tirani. Anda meludah di wajahnya dan mati, jika tidak bisa menang. Titik.
Dan hampir 30 tahun berikutnya, sebuah 'puisi' dituliskan oleh Jenderal Raul Baduel, yang mengepalai divisi paratrooper Chavez di Maracay ketika dia beserta para nasionalis lainnya menghantam jatuh upaya kudeta yang disponsori Amerika Serikat di tahun 2002. Mereka menang. Melawan segala kemustahilan, segala ketidakmungkinan, melawan ribuan prajurit dengan segala kendaraan perangnya, dengan hanya bersenjatakan 1 unit panser dan 44 pucuk senapan semi-otomatis AR15, serta cinta yang mendalam terhadap negeri yang mereka sayangi, mereka menang. Di tahun 2002, Venezuela menunjukkan, bahwa beberapa puisi memang harus ditulis dengan baja.
          ***
Dan begitulah kita memahami peran yang dimainkan oleh puisi dalam revolusi-revolusi di Amerika Latin. Di tanah itu, mereka terus berjuang, dan kalah, dan berjuang lagi dan lagi. Mereka menyaksikan pemimpin-pemimpin sah mereka dibunuh atau dijatuhkan oleh kepentingan modal barat: di Guatemala, Dominika, Brazil, Chile, Nicaragua, dan di banyak tempat lainnnya.
Namun semuanya sudah jadi sejarah sekarang. Segenap mimpi, solidaritas, dan kuasa besar kreatifitas—kini semuanya hidup dan membara, mendadak semuanya jadi mungkin. Revolusi telah menang. Dan spirit perjuangan, demi kebebasan dan kasih sayang, semua puisi-puisi, semua syair-syair yang ditorehkan oleh para martir dan pejuang itu, sampai sekarang masih bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui batas-batas cakrawala dari mimpi-mimpi terliar.