Sejak kecil saya menghindari keluar rumah pada hari
raya Kurban. Terutama pada jam-jam ketika hewan-hewan disembelih. Ada rasa tidak tega
melihat kambing dan sapi, yang sepekan menjelang perayaan telah berkemah dekat
rumah, dipotong bergiliran. Lagipula, penyembelihan massal di ruang publik
cukup menakutkan bagi saya. Ketika saya masih kecil dan peka, mendengar
pengumuman giliran pemotongan saja sudah cukup menakutkan. Saya membayangkan
diri sebagai domba-domba itu. Nama pemilik saya dipanggil, itu berarti giliran
disembelih. Begitulah, saya selalu bersembunyi di rumah sampai tak terdengar
lagi pemanggilan kambing atau sapi Tuan ini Tuan itu.
Modernitas memisahkan kita dari "kekerasan yang niscaya"
Tak dengan sendirinya anak kota bisa menarik hubungan antara daging yang
telah dikemas di supermarket dengan hewan hidup. Tak dengan sendirinya anak kota mengerti bahwa daging
berasal dari hewan yang disembelih. Orang modern terpisah dari
"kekerasan". Kekerasan yang niscaya bagi kehidupan. Ialah, bahwa kita
harus hidup dengan membunuh yang lain—yaitu, makanan kita. Peradaban modern
memisahkan ternak dari pekarangan sehingga manusia tidak hidup bersama calon
makanannya. Peradaban modern mengatur spesialisasi kerja, sehingga ibu (atau
siapapun yang bertugas masak) tak harus membunuh lalu membului ayam, menyisiki
ikan di rumah. Semua telah dikerjakan pegawai pemotongan dan supermarket. Kita
tinggal terima bersih. Dalam kemasan styrofoam dan plastik.
Pengalaman dengan kekerasan memang bisa sangat
traumatis. Saya ingat, saya tak mau makan ayam sampai usia sepuluh tahun. Kata
Ibu, itu karena waktu kecil saya melihat ayam disembelih, dibersihkan, dan
dikeluarkan jeroannya. Dan memang, salah satu mimpi buruk saya di usia SD
adalah ini: melihat piring berisi ati ampela terbang-terbang mendekati saya.
Sungguh. Itu mimpi buruk yang kerap muncul di sakit panas.
Saya adalah produk lama. Sebelum ada Carefour,
Hero, Foodhall dan lain-lainnya. Saya masih bertumbuh dengan ibu membersihkan
ikan dan saya tertarik sekaligus ngeri pada gelembung udara yang semula
tersimpan rapi di tubuh ikan. Saya mencoba memainkannya sebentar sebelum Ibu
memberikannya kepada kucing. Tentu saja setelah itu saya cepat-cepat cuci
tangan demi menghilangkan amis dari jari-jemari.
Kini telah ada segala supermarket yang dengan
sukses memisahkan manusia dan kekerasaan yang niscaya itu. Anak-anak tak harus
mengalami trauma yang saya alami ketika melihat ayam disembelih. Tapi,
sesungguhnya, ada yang hilang juga dari "kebersihan" modern ini. Ada yang hilang. Yaitu
pengertian bahwa kita hidup di atas kekerasan terhadap yang lain. Kekerasaan
yang niscaya. Kita hidup di atas korban. Ada yang harus mati demi kehidupan kita.
Inilah pengalaman yang hilang oleh modernitas.
Pengalaman dengan kekerasan yang niscaya itu memang
traumatis, seperti yang saya alami. Tapi menghilangkannya juga mencerabut kita
dari pengertian mengenai dunia dan kehidupan (serta kematian). Seharusnya, pengalaman dengan
kekerasan yang niscaya membuat manusia lebih menghargai sakralnya hidup.
Sakral, kata ini, berasal dari bahasa Latin. Artinya, kudus, suci. Sacrifice
berarti kurban.
Bagi saya yang sekular hidup ini sakral karena ada
penderitaan dan kematian yang di atasnya hidup kita berdiri. Jika itu bukan
penderitaan ibunda yang melahirkan kita, maka itu adalah kematian segala hewan
(dan mungkin segala hasil alam) yang kita makan. Dan karena itu hidup itu
berharga. Bukan karena bernilai. Tapi karena ada harga yang dibayar pihak lain
bagi kehidupan kita.
Kembali kepada hari raya Kurban. Tidakkah
sesungguhnya kita semakin membutuhkannya di era modern ini. Era yang memisahkan
manusia dari kekerasan yang niscaya. Yang memisahkan publik dari pengalaman
melahirkan, menyusui, atau memelihara ternak. Kurban mendamaikan kembali
perpisahan itu, mempertemukan kembali kita pada wajah-wajah yang membayar bagi
kehidupan kita.