“Di Chiapas sini, kematian
adalah bagian dari keseharian. Selumrah hujan atau fajar. Orang-orang disini
hidup bersama kematian, dengan kematian mereka sendiri, khususnya anak-anak.
Anehnya, kematian mulai menguak tabir tragisnya: ia menjadi fakta sehari-hari,
ia kehilangan kesakralannya, kau melihatnya seperti kau melihat seseorang yang
duduk semeja denganmu, seperti teman lama. Kematian, yang begtu dekat, begitu
mungkin, begitu intim, menjadi tidak begitu menakutkan lagi bagi kami. Maka bangkit
dan melawan—barangkali berpapasan dengan kematian dalam prosesnya—tidaklah
seseram yang kami bayangkan.”
Pemberontakan
Zapatista dimulai pada tahun baru 1994.
Kurang lebih 4000
orang pemberontak bersenjata turun gunung sambil meneriakkan slogan "YA BASTA!" (CUKUP SUDAH!) dan
menduduki kota-kota di Chiapas, negara bagian paling selatan di Meksiko. Sambil
mencanangkan perang melawan pemerintah nasional, EZLN (Ejercito Zapatista Liberacion Nacional/Tentara Pembebasan Nasional
Zapatista) juga menyerukan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi masyarakat
adat dan kaum tani di Chiapas. Retorika sosialis mereka membuat pemerintah
Meksiko mengolok-olok Zapatista sebagai gerombolan gerilyawan Marxis Amerika
Tengah pada umumnya. Namun tak lama kemudian menjadi jelaslah bahwa pemberontakan
Zapatista ini beda.
Mereka
adalah pemberontakan yang sangat baru, pemberontakan pertama pasca perang
dingin, dan pemberontakan yang tak merasa perlu mengaitkan dirinya dengan
Marxisme gaya kuno. Mereka sama sekali tidak mirip dengan gerakan-gerakan sejenis
dimanapun seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh, ETA (Euskadi Ta Akatsuna / Tanah Air dan Kebebasan) di Basque, atau MILF
(Moro Islamic Liberation Front /
Front Pembebasan Islam Moro) di Filipina. Mereka kelompok militan yang
menyerukan kedamaian. Mereka pemberontak bersenjata, instrumen kekerasan yang
berjuang untuk mengakhiri kekerasan
baik fisik maupun struktural. Zapatista menyatakan
bahwa mereka tidak berniat merebut kekuasaan, tidak juga berkehendak untuk
memisahkan diri dari negara Federal Meksiko. Mereka mengajukan demokrasi
partisipatif yang memungkinkan warga negara menyuarakan tuntutan mereka
sehingga dapat menentang tatanan ekonomi yang berlaku. Masyarakat adat
Chiapas—salah satu wilayah miskin Meksiko yang paling kentara kesenjangan
kelasnya menderita akibat kebijakan neoliberal pemerintah pusat.
Provinsi
Chiapas telah menjadi rumah bagi kelompok etnis Indian selama lebih dari seribu
tahun. Tetapi, kelompok-kelompok adat yang ditemui oleh Zapatista rata-rata merupakan
pendatang baru di area hutan Lacandon. Dimulai dari awal dekade 1940-an, ketika sejumlah kecil
Indian, umumnya dari wilayah dataran tinggi Chiapas, datang untuk meninggali
wilayah tak berpenghuni di bagian selatan provinsi atas dorongan pemerintah
federal. Meskipun jumlah penduduk awal relatif sedikit, namun kedatangan mereka
menciptakan dasar bagi migrasi-migrasi berikutnya dengan jumlah yang lebih
substansial. Sampai dengan awal dekade 1980-an, populasi migran telah
berkembang mencapai angka 100,000 jiwa, dari estimasi 10,000 jiwa di tahun
1960.
Angka-angka
statistik di Chiapas—seperti yang bisa dibayangkan—cukup mengerikan. Separuh
dari 2,5 juta penduduknya tidak punya air layak minum, dua pertiganya tidak
punya saluran pembuangan, dan hanya sepertiga rumah di negara bagian itu yang
dialiri listrik. 12% rumah beratapkan kardus, 12 ribu komunitas tidak punya
sarana transportasi apapun selain jalan setapak, dan 72 persen anak putus
sekolah sebelum selesai kelas satu SD.
Di
bidang kesehatan, angka-angka tersebut tidak terlihat membaik: rasio perbandingan
antara jumlah penduduk Chiapas dengan ketersediaan klinik adalah 1,000 : 0.2,
sedangkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan ranjang rumah
sakit 1,000 : 0.3. Sekitar 45% penduduk Chiapas kurang gizi, dan di pegunungan
dan wilayah hutan angka ini melonjak hingga 80%. Di akhir dekade 1980an, malnutrisi, kolera,
TBC, disentri, dan penyakit-penyakit lain yang mestinya gampang disembuhkan
telah menewaskan 15.000 indian tiap tahunnya.
Faktor
yang memberikan hutan Lacandon sebuah identitas kultural yang unik terletak
persis pada tubuh komunitas Indian yang eksis dalam lingkup bahasa, etnisitas,
kepercayaan, dan afiliasi politik yang berbeda, yang ketika dikombinasikan,
berujung pada apa yang disebut sebagai ‘ruang konstruksi sosial yang unik’.
Pada
17 november 1983, enam individu tiba di Chiapas untuk mendirikan EZLN. Berbekal
teori-teori Marxis-Leninis, kelompok tersebut menghadapi kerasnya lingkungan
hutan Lacandon. Pergulatan pertama mereka adalah melawan pegunungan, kelaparan
dan penyakit. Di tahun 1984, Marcos—yang di kemudian hari akan menjadi juru bicara sekaligus komandan militer
zapatista—tiba di rimba Lacandon. Pada saat itu
kelompok tersebut terdiri dari tiga orang Indian dan empat orang mestizo termasuk Marcos sendiri.
Ketiga Indian tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pergerakan politik.
Mereka sudah pernah melihat bagian dalam penjara, mengalami siksaan, dan sudah sangat familiar
dengan percekcokan internal dalam gerakan kiri Meksiko.
Sebagai
seorang mantan professor filsafat di UNAM,
Marcos ditugaskan untuk mengajari komunitas-komunitas indian baca tulis, dan mendidik mereka dengan
la palabra politica (kata-kata politik).
Pengajaran yang dimaksudkan adalah tentang sejarah secara umum, serta sejarah
Meksiko dan perjuangannya. Namun tetap saja, pada akhirnya menjadi jelas bahwa
perannya sebagai pengajar hanya terbatas di dalam kelas informal di kamp. Di
luar, para Indianlah yang mengajarinya cara untuk bernegosiasi dengan hutan;
bagaimana untuk berjalan tanpa membuat dirinya lelah; bagaimana cara berburu
dan kemudian memasak apa yang dia dapat; bagaimana menjadikan dirinya bagian
dari hutan itu sendiri.
Bagi
Marcos sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya tinggal di dunia magis
masyarakat adat. Dunia dimana dewa-dewa terlahir kembali, dan roh-roh yang
mewujud dalam bentuk binatang dan benda-benda. Ini adalah permulaan dari sebuah
proses lambat yang di kemudian hari dia sebut sebagai proses ‘Indianisasi’
EZLN. Dalam sudut pandangnya sendiri, Marcos bercerita tentang bagaimana EZLN
pertama kali memasuki komunitas-komunitas untuk mengajarkan “...absurditas yang
kita pelajari; tentang imperialisme, krisis sosial, relasi kekuasaan, dan
hubungan ketiganya, hal-hal yang kita sendiri sulit untuk mengerti.”
Para Indian kemudian menanggapinya dengan sebuah kalimat: tu palabra esmuy dura, no la entendemos (kata-katamu terlalu berat,
kami tidak mengerti).
Setiap
kesulitan yang dihadapi Zapatista dalam menjelaskan pemahaman tentang revolusi
kepada para Indian pada dasarnya dilandasi oleh keterbatasan bahasa. Dengan
semangat untuk mengajarkan la palabra
politica (kata-kata politik), area perdebatan hampir selalu berpusat pada
pertanyaan seputar sejarah. Tetapi bagaimanapun, interaksi ini semakin lama
semakin dipenuhi oleh salah pengertian dan salah tangkap. Kemudian menjadi
jelaslah bahwa para Indian menganut konsepsi waktu yang unik dan berbeda,
setidaknya bagi para non-Indian. Sebagaimana yang diceritakan Marcos,
“Kau
tidak akan pernah yakin tentang era mana yang mereka bicarakan. Ketika mereka bicara, mereka bisa saja
membicarakan cerita yang baru terjadi minggu ini, atau yang terjadi lima ratus
tahun lampau, atau bahkan ketika dunia pertama kali tercipta.”
Sebagai
gerilyawan urban terdidik, anggota-anggota Zapatista melihat diri mereka
sebagai penuntun, dan para Indian sebagai orang-orang tereksploitasi—mereka yang harus
diorganisir dan ditunjukan jalan. Dalam pikiran mereka, “ini akan sama dengan
seperti ketika engkau berbicara dengan proletariat, petani, buruh, atau
mahasiswa. Semua akan mengerti bahasa revolusi.” Maka ketika para Indian bilang
bahwa mereka tidak mengerti, itu menjadi pukulan keras bagi Zapatista.
Pada
titik ini, barulah
para anggota mestizo Zapatista menyadari bahwa masalah mereka bukan semata-mata
masalah penerjemahan. Mereka menjadi sadar bahwa bahasa Indian memiliki
referensi dan bentuk kuturalnya sendiri. Kesulitan inilah yang
kemudian Marcos sebut sebagai ‘proses kontaminasi kultural’. Pada periode ini,
sebagaimana yang diakui Marcos, anggota-anggota Zapatista non-Indian belajar
untuk mendengar. Apa yang sebelumnya hanya objek keingintahuan semata, sekarang
menjadi isu sentral. Kisah-kisah para Indian tentang Sombreron, tentang Votan,
Tentang Ik’al, tentang kotak yang berbicara dan tentang Ix’paquinte, menjadi
saluran utama bagi para anggota
Zapatista non-Indian untuk memahami kekayaan kutural dan keberbedaan para Indian. Dalam sebuah komunike di tahun 1994, Marcos menjelaskan
proses pembelajaran timbal balik antara EZLN dan masyarakat adat:
“Itulah
dulu asal mula EZLN: sekelompok ‘kaum tercerahkan’ yang datang dari kota untuk
‘membebaskan’ kaum tertindas. Namun tatkala dihadapkan pada realitas kaum adat,
mereka terlihat lebih mirip bohlam putus ketimbang ‘kaum tercerahkan’. Butuh
berapa lama sampai kami sadar bahwa kami harus belajar mendengar, baru
sesudahnya, bicara? Aku tidak tahu pasti, ... tapi aku hitung-hitung sekitar
dua tahun setidaknya. Berarti apa yang dulunya perang revolusioner klasik di
tahun 1984 (pemberontakan massa bersenjata, merebut kekuasaan, pemberlakuan
sosialisme dari atas, banyak patung dan nama para pahlawan serta martir
dimana-mana...), pada tahun 1986 sudah menjadi kelompok bersenjata yang sebagian
besarnya orang adat, menyimak penuh perhatian dan mencelotehkan kata-kata
pertamanya bersama seorang guru baru: penduduk Indian.”
Dengan
mendengarkan pengalaman para Indian dan sejarah eksploitasi, penghinaan, dan
rasisme, Zapatista menemukan fondasi untuk membangun sebuah politik yang baru.
Sejarah lokal yang mereka pelajari akhirnya menunjukan betapa parsialnya
pemahaman para non-Indian atas sejarah, dan, dalam konteks yang lebih besar,
Zapatista merasakan langsung bagaimana rasanya dihapus dari buku sejarah. Dengan hanya berbekalkan
radio gelombang pendek sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kabar dari
dunia luar, para gerilyawan seringkali merasa terisolir dan terkucilkan dari perkembangan
dan perubahan yang terjadi di arena internasional. Berita tentang pecahnya Uni
Sovyet, perjanjian damai dan eleksi yang berlangsung di Amerika Tengah, dan
Reaganisme yang menjadi kiblat utama diantara negara-negara maju dan
berkembang.
Pergeseran radikal diskursus Zapatista—dari kelas menuju
etnisitas—pada gilirannya dimungkinkan oleh faktor jangka panjang dan jangka
pendek. Faktor jangka panjangnya adalah bahwa bahasa dan kebanggaan kultural
masyarakat adat sudah ada di tingkat komunal, umumnya sebagai dampak yang tidak
diprediksi dari kompetisi politis antara gereja katolik dengan negara yang
berlangsung di dekade 1970-an dan 1980-an. Faktor jangka pendeknya adalah
jaringan organisasi dan pendukung yang membantu Zapatista mentransformasikan
kebanggaan etnis menjadi program politis dalam bentuk tuntutan etnoteritorial.
Tanpa adanya proses jangka panjang kebangkitan etnis, Zapatista tidak mungkin
mengalami pergeseran identitas. Tapi tanpa adanya jaringan pendukung
transnasional, kebanggaan etnis komunal akan tetap terkubur di balik identitas
kelas petani.
Wujud
asli dari proses Indianisasi EZLN baru dikukuhkan ketika komunitas-komunitas
memutuskan untuk pergi berperang. Dengan dibentuknya Komite Klandestin
Revolusioner Adat (CCRI) di tahun 1993, komando umum Zapatista menjadi secara
keseluruhan Indian. Terdiri atas representatif dari empat kelompok etnis utama
(Tzeltal, Chol, Tzotzil, dan Tojolabal), CCRI menjadi pusat koordinasi dalam
rangka persiapan pemberontakan. Pada kurun waktu inilah Marcos ditunjuk sebagai
komandan militer pasukan pemberontak.
Tidak
ada yang bisa memperkirakan bagaimana pemberontakan Januari 1994 akan berjalan;
keputusan tersebut punya potensi untuk menjadi sebuah pertumpahan darah yang
mengerikan. Di pagi buta tanggal 1 Januari 1994, sekitar 4,000 orang masyarakat
adat turun dari gunung dan sukses menduduki tujuh kotapraja utama Chiapas
dengan sedikit pertumpahan darah.
Sepanjang bulan-bulan berikutnya, Zapatista menerima
dukungan taktis, moral, dan material dari beragam sumber di seluruh dunia.
Mereka berhasil mendapat dukungan dari banyak LSM internasional yang bergerak
di seputar masalah adat, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan perdamaian.
Mereka menjadi pahlawan sekaligus simbol bagi para aktivis, akademisi, dan
intelektual kiri, mendorong semakin banyak kunjungan ke Chiapas untuk
memberikan bantuan kepada para pemberontak Zapatista.
Dengan
berbasiskan diskursus politik identitas,
gerakan Zapatista sadar akan paradoksnya sendiri: mereka gerakan yang
mengatasnamakan ‘minoritas rakyat’ dan bukan ‘mayoritas rakyat’ sebagaimana
retorika revolusioner klasik. Tapi justru inilah poin yang mereka tekankan:
mereka berjuang demi sebuah dunia yang adil terhadap kaum minoritas apapun,
sebuah dunia yang tidak lagi bersandar pada logika “besar menang, kecil kalah”,
melainkan sebuah dunia yang mementingkan dialog dan kesepakatan, sesuai dengan
motto mereka: Another world is possible
(dunia yang lain itu mungkin), yang menginspirasi banyak forum-forum aksi
internasional seperti People’s Global Action atau World Social Forum.
Pemberontakan
Zapatista barangkali menjadi sebuah titik penentu dalam sejarah Meksiko Modern.
Mereka menyeru pada seluruh rakyat Meksiko—tidak hanya penduduk lokal—untuk
berpartisipasi dalam pergerakan besar mereka untuk memperjuangkan hak atas
‘pekerjaan, tanah, tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, pendidikan,
kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan, dan kedamaian’.
Tujuannya adalah untuk mengalahkan kekuasaan partai berkuasa—PRI, untuk
menggeser keseimbangan kekuatan-kekuatan sosial demi kepentingan demokrasi
populer, untuk memperbaiki akuntabilitas pemerintahan, dan untuk mencapai
reperesentasi yang sebenar-benarnya bagi seluruh rakyat Meksiko, khususnya bagi
para populasi adat asli.
Zapatista
pada gilirannya menjadi katalisator perjuangan masyarakat adat. Dalam
batas-batas tertentu, Zapatista memang memperjuangkan hak dan martabat
masyarakat ada Chiapas melalui politik identitas. Namun pasca pemberontakan
januari 1994 yang membuat mata dunia tertuju pada Meksiko, Zapatista terus
mengumandangkan ide-ide revolusionernya ke seluruh dunia dan membangun sebuah
gerakan anti-neoliberalisme global. Di sinilah titik dimana Zapatista membuka
ruang bagi paradoks: alih-alih hanya berkutat di seputar permasalahan
masyarakat adat, Zapatista mendorong agenda programatiknya beberapa langkah
lebih jauh—melalui Pertemuan
Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme, komunike, agenda
programatis, dan banyolan politik khas Marcos—yang mencuri perhatian dunia, dan
bertransformasi menjadi sebuah gerakan transnasional tepat ketika gerakan kiri
sedang mengalami kebuntuan ide setelah komunisme ternyata hanya menciptakan
kediktatoran dan kapitalisme global dicanangkan sebagai akhir sejarah.
Ke dalam realitas baru inilah Zapatista melangkah—sebuah gerakan
non-hirarkis beranggotakan mereka-mereka yang paling terpinggirkan dari
masyarakat Meksiko—dengan berbekal strategi yang menggunakan narasi dan model
pengorganisasian yang secara unik mampu beradaptasi dengan terbukanya ruang global.
Sebuah umpan balik yang sinergis, partisipatif, dan canggih telah terbentuk di
antara Zapatista dan pendukung internasional mereka, menyebabkan ledakan
kreativitas dan kesadaran di tengah-tengah masyarakat sipil. Dan memang,
teriakan “Ya Basta!” sampai sekarang masih
bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui batas-batas
Rimba Raya Lacandon.
Sean
M. Seehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan
Perlawanan, terj. Daniel hutagalung, (Marjin Kiri, 2007), hlm. 151.