Kamis, 31 Januari 2013

#Imaginarium 02.


Detik ini berarti karena ia adalah detik ini. Kita tidak bisa menyeretnya hanya karena kita begitu terikat dengan keindahannya. Ia hanya akan tetap berarti kala kita membiarkannya lewat. Apa adanya. Manusia yang hidup tahu bahwa ketidaksabaran hanya akan membuatnya merencanakan masa depan secara tidak alami. Menjadikan detik-detik berharga tadi usang, dan menghabiskan sisa hidup mereka untuk menghiasi keusangan itu dengan paksa, menjadikannya kain perca, buruk dan tak berguna, namun begitu berat untuk ditinggalkan.

Manusia tidak didesain untuk terikat pada apapun. Jangan pernah takut mencicipi kebebasan. Jangan pula memanipulasi kebebasan. Buat semua detik baru. Dan berharga. Gapai momentum yang hadir, karena begitu ia lewat ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan. Dan kenangan tidak akan membawa Anda kemana-mana. Kenangan hanyalah batu-batu di antara aliran sungai.

...dan anda seharusnya menjadi arus. Bukan batu.

#dreamlog 05.



aku ingin menangkap senja di matamu. di sana, waktu menari dalam geriap jalanan. 
ada ruang yang terekam dalam kenangan... pada bangku kayu, monolog senja, 
dan keabadian yang kutemukan pada hujan... pada namamu...

Rabu, 30 Januari 2013

The oracle isn’t where the power is. The power is always been with the priest. Even if they have to invent the oracle.

#Monolog


menggubah lirih malam jadi sonata penuh duka 
pun tertera pada ratusan lembar ingatan 
tanpa bisa kucoret dengan kelam

malam ini bersama bulan aku menari, buat guratan isikan enderia 
tentang mereka yang berjalan dalam tidurnya
sambil melukis mimpi yang merah darah.

dalam gamang aku meradang
syair-syair rapuh,

             ...tubuh siapa?

Minggu, 27 Januari 2013

Kisah Kelinci Coklat Ajaib (Neoliberalisme, Libido Kelinci, dan Anak-Anak Kecil)


Alkisah hiduplah tiga orang anak. Yang satu baik, yang satu nakal, dan yang satunya lagi Bima. Datang dari arah yang berlainan, mereka menuju ke sebuah rumah dan masuk ke dalamnya. Di dalam rumah itu Cuma ada meja. Di meja itu ada wadah plastik, seperti yang digunakan untuk wadah es krim atau es cone. Di dalam masing-masing wadah plastik putih itu (catatan: tanpa merk dagang atau logo perusahaan) ada dua kelinci cokelat dan secarik kertas. Kertas itu berbunyi:

“Petunjuk Manual Penggunaan Dua Kelinci Cokelat.”

“Dalam waktu 24 jam, sepasang kelinci coklat ini akan berkembang biak dan menghasilkan sepasang kelinci cokelat baru. Setiap 24 jam, pasangan kelinci cokelat dalam wadah plastik putih ini akan mengganda jadi sepasang baru lagi. Dengan demikian, dalam wadah plastik putih ini (yang biasanya dipakai buat es krim atau es cone), si pemiliknya akan selalu punya kelinci-kelinci cokelat buat dimakan. Satu-satunya syarat hanyalah sepanjang waktu harus ada sepasang kelinci cokelat dalam wadah plastik ini, wadah yang sama yang dipakai buat es krim dan es cone.”

Tiap anak mengambil wadah plastik putihnya masing-masing, wadah yang biasa dipakai buat es krim atau es cone itu.

Si kecil-nakal tak mau menunggu sampai 24 jam. Ia makan sekaligus dua kelinci cokelatnya. Ia menikmatinya sesaat, tapi kelinci-kelinci cokelatnya habis sudah. Kini ia tak punya apa-apa buat dimakan, tapi kenangan dan nostalgia akan kelinci cokelat itu tetap tinggal menyisa.

Si kecil-baik menunggu sampai 24 jam dan ia kini punya 4 kelinci cokelat. 24 jam sesudahnya ia punya 8 kelinci cokelat. Setelah sekian bulan berlalu, si kecil-baik membuka jaringan retail kelinci cokelat. Setelah setahun ia punya cabang di seluruh negeri, melibatkan diri dengan modal asing dan mulai mengekspor. Akhirnya ia digelari “Tokoh Tahun Ini” dan menjadi luar biasa kaya dan berpengaruh. Ia jual industri kelinci cokelatnya pada investor asing, dan menjadi pimpinan di perusahaannya. Ia tak pernah mencicipi kelinci cokelat itu supaya laba tak berkurang. Sedang wadah plastik putih ajaib itu tak lagi ia pegang. Ia tak pernah tahu rasa kelinci cokelat.

Si kecil-bima, persetan dengan kelinci cokelat, ia malah menaruh es krim kacang di wadah plastik putih itu, yang memang biasanya dipakai buat es krim atau es cone. Memang dasar bangsat kecil, ia ubah seluruh dasar cerita ini. Ia pak setengah liter es krim kacang lalu berangkat pulang, dan hancurlah moral cerita soal kelinci cokelat tadi, dengan simpulan bahwa semua opsi terakhir hanyalah jebakan.

Neo-moral cerita: es krim kacang punya implikasi berbahaya bagi neoliberalisme.


PEMAHAMAN BACAAN
1. anak manakah yang jadi presiden republik?
2. anak manakah yang jadi anggota partai oposisi?
3. anak manakah yang yang mesti diganyang karena dianggap melanggar konstitusi?
4. Kalau anda seorang Perempuan, maukah anda melahirkan salah satu dari ketiga anak ini?
Kirimkan jawaban Anda ke PO BOX no. 69 dengan tembusan kepada menteri dalam negeri dan KPU.


Tabik, dan semoga anda sehat selalu


(adaptasi dari: "BAB Notabene Yang Tak Habis-Habis"
komunike Ejercito Zapatista Liberacion Nacional, September 1996)

Each place has its own advantages; heaven for its climate, and hell for its society.

Jumat, 25 Januari 2013

#Amrita 09.


Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah pelita ditengah kegelapan palung samudera terkelam
Engkaulah sayap tak bertepi yang membentang menuju ruang tak bernama namun terasa ada

ajari aku
(untuk dapat meregang tanpa perlu hilang)
(untuk bisa berlari tanpa takut terbagi)
(untuk mampu melebur tanpa harus hancur)
(untuk sanggup merengkuh rasa takut tanpa perlu surut)

karena aku disini:
lelap dalam ketidaktahuanku
rapuh dalam ketidakmengertianku

izinkan aku
bangun dari ilusi tanpa memilih pergi...

tunggu aku
yang hanya tinggal selangkah lagi dari bibir jurangmu...

Kamis, 24 Januari 2013

Zapatista: Sejarah Yang Belum Berakhir

 “Di Chiapas sini, kematian adalah bagian dari keseharian. Selumrah hujan atau fajar. Orang-orang disini hidup bersama kematian, dengan kematian mereka sendiri, khususnya anak-anak. Anehnya, kematian mulai menguak tabir tragisnya: ia menjadi fakta sehari-hari, ia kehilangan kesakralannya, kau melihatnya seperti kau melihat seseorang yang duduk semeja denganmu, seperti teman lama. Kematian, yang begtu dekat, begitu mungkin, begitu intim, menjadi tidak begitu menakutkan lagi bagi kami. Maka bangkit dan melawan—barangkali berpapasan dengan kematian dalam prosesnya—tidaklah seseram yang kami bayangkan.”[1]

Pemberontakan Zapatista dimulai pada tahun baru 1994.[2] Kurang lebih 4000 orang pemberontak bersenjata turun gunung sambil meneriakkan slogan "YA BASTA!" (CUKUP SUDAH!) dan menduduki kota-kota di Chiapas, negara bagian paling selatan di Meksiko. Sambil mencanangkan perang melawan pemerintah nasional, EZLN (Ejercito Zapatista Liberacion Nacional/Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) juga menyerukan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi masyarakat adat dan kaum tani di Chiapas. Retorika sosialis mereka membuat pemerintah Meksiko mengolok-olok Zapatista sebagai gerombolan gerilyawan Marxis Amerika Tengah pada umumnya. Namun tak lama kemudian menjadi jelaslah bahwa pemberontakan Zapatista ini beda.

Mereka adalah pemberontakan yang sangat baru, pemberontakan pertama pasca perang dingin, dan pemberontakan yang tak merasa perlu mengaitkan dirinya dengan Marxisme gaya kuno. Mereka sama sekali tidak mirip dengan gerakan-gerakan sejenis dimanapun seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh, ETA (Euskadi Ta Akatsuna / Tanah Air dan Kebebasan) di Basque, atau MILF (Moro Islamic Liberation Front / Front Pembebasan Islam Moro) di Filipina. Mereka kelompok militan yang menyerukan kedamaian. Mereka pemberontak bersenjata, instrumen kekerasan yang berjuang untuk mengakhiri kekerasan baik fisik maupun struktural. Zapatista menyatakan bahwa mereka tidak berniat merebut kekuasaan, tidak juga berkehendak untuk memisahkan diri dari negara Federal Meksiko. Mereka mengajukan demokrasi partisipatif yang memungkinkan warga negara menyuarakan tuntutan mereka sehingga dapat menentang tatanan ekonomi yang berlaku. Masyarakat adat Chiapas—salah satu wilayah miskin Meksiko yang paling kentara kesenjangan kelasnya menderita akibat kebijakan neoliberal pemerintah pusat.

Provinsi Chiapas telah menjadi rumah bagi kelompok etnis Indian selama lebih dari seribu tahun. Tetapi, kelompok-kelompok adat yang ditemui oleh Zapatista rata-rata merupakan pendatang baru di area hutan Lacandon. Dimulai dari awal dekade 1940-an, ketika sejumlah kecil Indian, umumnya dari wilayah dataran tinggi Chiapas, datang untuk meninggali wilayah tak berpenghuni di bagian selatan provinsi atas dorongan pemerintah federal. Meskipun jumlah penduduk awal relatif sedikit, namun kedatangan mereka menciptakan dasar bagi migrasi-migrasi berikutnya dengan jumlah yang lebih substansial. Sampai dengan awal dekade 1980-an, populasi migran telah berkembang mencapai angka 100,000 jiwa, dari estimasi 10,000 jiwa di tahun 1960.[3]

Angka-angka statistik di Chiapas—seperti yang bisa dibayangkan—cukup mengerikan. Separuh dari 2,5 juta penduduknya tidak punya air layak minum, dua pertiganya tidak punya saluran pembuangan, dan hanya sepertiga rumah di negara bagian itu yang dialiri listrik. 12% rumah beratapkan kardus, 12 ribu komunitas tidak punya sarana transportasi apapun selain jalan setapak, dan 72 persen anak putus sekolah sebelum selesai kelas satu SD.[4]

Di bidang kesehatan, angka-angka tersebut tidak terlihat membaik: rasio perbandingan antara jumlah penduduk Chiapas dengan ketersediaan klinik adalah 1,000 : 0.2, sedangkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan ranjang rumah sakit 1,000 : 0.3. Sekitar 45% penduduk Chiapas kurang gizi, dan di pegunungan dan wilayah hutan angka ini melonjak hingga 80%. Di akhir dekade 1980an, malnutrisi, kolera, TBC, disentri, dan penyakit-penyakit lain yang mestinya gampang disembuhkan telah menewaskan 15.000 indian tiap tahunnya.[5]

Faktor yang memberikan hutan Lacandon sebuah identitas kultural yang unik terletak persis pada tubuh komunitas Indian yang eksis dalam lingkup bahasa, etnisitas, kepercayaan, dan afiliasi politik yang berbeda, yang ketika dikombinasikan, berujung pada apa yang disebut sebagai ‘ruang konstruksi sosial yang unik’.[6]

Pada 17 november 1983, enam individu tiba di Chiapas untuk mendirikan EZLN. Berbekal teori-teori Marxis-Leninis, kelompok tersebut menghadapi kerasnya lingkungan hutan Lacandon. Pergulatan pertama mereka adalah melawan pegunungan, kelaparan dan penyakit. Di tahun 1984, Marcos—yang di kemudian hari akan menjadi juru bicara sekaligus komandan militer zapatista—tiba di rimba Lacandon. Pada saat itu kelompok tersebut terdiri dari tiga orang Indian dan empat orang mestizo termasuk Marcos sendiri. Ketiga Indian tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pergerakan politik. Mereka sudah pernah melihat bagian dalam penjara, mengalami siksaan, dan sudah sangat familiar dengan percekcokan internal dalam gerakan kiri Meksiko.

Sebagai seorang mantan professor filsafat di UNAM, Marcos ditugaskan untuk mengajari komunitas-komunitas indian baca tulis, dan mendidik mereka dengan la palabra politica (kata-kata politik). Pengajaran yang dimaksudkan adalah tentang sejarah secara umum, serta sejarah Meksiko dan perjuangannya. Namun tetap saja, pada akhirnya menjadi jelas bahwa perannya sebagai pengajar hanya terbatas di dalam kelas informal di kamp. Di luar, para Indianlah yang mengajarinya cara untuk bernegosiasi dengan hutan; bagaimana untuk berjalan tanpa membuat dirinya lelah; bagaimana cara berburu dan kemudian memasak apa yang dia dapat; bagaimana menjadikan dirinya bagian dari hutan itu sendiri.

Bagi Marcos sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya tinggal di dunia magis masyarakat adat. Dunia dimana dewa-dewa terlahir kembali, dan roh-roh yang mewujud dalam bentuk binatang dan benda-benda. Ini adalah permulaan dari sebuah proses lambat yang di kemudian hari dia sebut sebagai proses ‘Indianisasi’ EZLN. Dalam sudut pandangnya sendiri, Marcos bercerita tentang bagaimana EZLN pertama kali memasuki komunitas-komunitas untuk mengajarkan “...absurditas yang kita pelajari; tentang imperialisme, krisis sosial, relasi kekuasaan, dan hubungan ketiganya, hal-hal yang kita sendiri sulit untuk mengerti.”[7] Para Indian kemudian menanggapinya dengan sebuah kalimat: tu palabra esmuy dura, no la entendemos (kata-katamu terlalu berat, kami tidak mengerti).

Setiap kesulitan yang dihadapi Zapatista dalam menjelaskan pemahaman tentang revolusi kepada para Indian pada dasarnya dilandasi oleh keterbatasan bahasa. Dengan semangat untuk mengajarkan la palabra politica (kata-kata politik), area perdebatan hampir selalu berpusat pada pertanyaan seputar sejarah. Tetapi bagaimanapun, interaksi ini semakin lama semakin dipenuhi oleh salah pengertian dan salah tangkap. Kemudian menjadi jelaslah bahwa para Indian menganut konsepsi waktu yang unik dan berbeda, setidaknya bagi para non-Indian. Sebagaimana yang diceritakan Marcos,
“Kau tidak akan pernah yakin tentang era mana yang mereka bicarakan. Ketika mereka bicara, mereka bisa saja membicarakan cerita yang baru terjadi minggu ini, atau yang terjadi lima ratus tahun lampau, atau bahkan ketika dunia pertama kali tercipta.”[8]

Sebagai gerilyawan urban terdidik, anggota-anggota Zapatista melihat diri mereka sebagai penuntun, dan para Indian sebagai orang-orang tereksploitasimereka yang harus diorganisir dan ditunjukan jalan. Dalam pikiran mereka, “ini akan sama dengan seperti ketika engkau berbicara dengan proletariat, petani, buruh, atau mahasiswa. Semua akan mengerti bahasa revolusi.” Maka ketika para Indian bilang bahwa mereka tidak mengerti, itu menjadi pukulan keras bagi Zapatista.

Pada titik ini, barulah para anggota mestizo Zapatista menyadari bahwa masalah mereka bukan semata-mata masalah penerjemahan. Mereka menjadi sadar bahwa bahasa Indian memiliki referensi dan bentuk kuturalnya sendiri. Kesulitan inilah yang kemudian Marcos sebut sebagai ‘proses kontaminasi kultural’. Pada periode ini, sebagaimana yang diakui Marcos, anggota-anggota Zapatista non-Indian belajar untuk mendengar. Apa yang sebelumnya hanya objek keingintahuan semata, sekarang menjadi isu sentral. Kisah-kisah para Indian tentang Sombreron, tentang Votan, Tentang Ik’al, tentang kotak yang berbicara dan tentang Ix’paquinte, menjadi saluran utama bagi para anggota Zapatista non-Indian untuk memahami kekayaan kutural  dan keberbedaan para Indian. Dalam sebuah komunike di tahun 1994, Marcos menjelaskan proses pembelajaran timbal balik antara EZLN dan masyarakat adat:
“Itulah dulu asal mula EZLN: sekelompok ‘kaum tercerahkan’ yang datang dari kota untuk ‘membebaskan’ kaum tertindas. Namun tatkala dihadapkan pada realitas kaum adat, mereka terlihat lebih mirip bohlam putus ketimbang ‘kaum tercerahkan’. Butuh berapa lama sampai kami sadar bahwa kami harus belajar mendengar, baru sesudahnya, bicara? Aku tidak tahu pasti, ... tapi aku hitung-hitung sekitar dua tahun setidaknya. Berarti apa yang dulunya perang revolusioner klasik di tahun 1984 (pemberontakan massa bersenjata, merebut kekuasaan, pemberlakuan sosialisme dari atas, banyak patung dan nama para pahlawan serta martir dimana-mana...), pada tahun 1986 sudah menjadi kelompok bersenjata yang sebagian besarnya orang adat, menyimak penuh perhatian dan mencelotehkan kata-kata pertamanya bersama seorang guru baru: penduduk Indian.”[9]

Dengan mendengarkan pengalaman para Indian dan sejarah eksploitasi, penghinaan, dan rasisme, Zapatista menemukan fondasi untuk membangun sebuah politik yang baru. Sejarah lokal yang mereka pelajari akhirnya menunjukan betapa parsialnya pemahaman para non-Indian atas sejarah, dan, dalam konteks yang lebih besar, Zapatista merasakan langsung bagaimana rasanya dihapus dari buku sejarah. Dengan hanya berbekalkan radio gelombang pendek sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kabar dari dunia luar, para gerilyawan seringkali merasa terisolir dan terkucilkan dari perkembangan dan perubahan yang terjadi di arena internasional. Berita tentang pecahnya Uni Sovyet, perjanjian damai dan eleksi yang berlangsung di Amerika Tengah, dan Reaganisme yang menjadi kiblat utama diantara negara-negara maju dan berkembang.

Pergeseran radikal diskursus Zapatista—dari kelas menuju etnisitas—pada gilirannya dimungkinkan oleh faktor jangka panjang dan jangka pendek. Faktor jangka panjangnya adalah bahwa bahasa dan kebanggaan kultural masyarakat adat sudah ada di tingkat komunal, umumnya sebagai dampak yang tidak diprediksi dari kompetisi politis antara gereja katolik dengan negara yang berlangsung di dekade 1970-an dan 1980-an. Faktor jangka pendeknya adalah jaringan organisasi dan pendukung yang membantu Zapatista mentransformasikan kebanggaan etnis menjadi program politis dalam bentuk tuntutan etnoteritorial. Tanpa adanya proses jangka panjang kebangkitan etnis, Zapatista tidak mungkin mengalami pergeseran identitas. Tapi tanpa adanya jaringan pendukung transnasional, kebanggaan etnis komunal akan tetap terkubur di balik identitas kelas petani.

Wujud asli dari proses Indianisasi EZLN baru dikukuhkan ketika komunitas-komunitas memutuskan untuk pergi berperang. Dengan dibentuknya Komite Klandestin Revolusioner Adat (CCRI) di tahun 1993, komando umum Zapatista menjadi secara keseluruhan Indian. Terdiri atas representatif dari empat kelompok etnis utama (Tzeltal, Chol, Tzotzil, dan Tojolabal), CCRI menjadi pusat koordinasi dalam rangka persiapan pemberontakan. Pada kurun waktu inilah Marcos ditunjuk sebagai komandan militer pasukan pemberontak.

Tidak ada yang bisa memperkirakan bagaimana pemberontakan Januari 1994 akan berjalan; keputusan tersebut punya potensi untuk menjadi sebuah pertumpahan darah yang mengerikan. Di pagi buta tanggal 1 Januari 1994, sekitar 4,000 orang masyarakat adat turun dari gunung dan sukses menduduki tujuh kotapraja utama Chiapas dengan sedikit pertumpahan darah.

Sepanjang bulan-bulan berikutnya, Zapatista menerima dukungan taktis, moral, dan material dari beragam sumber di seluruh dunia. Mereka berhasil mendapat dukungan dari banyak LSM internasional yang bergerak di seputar masalah adat, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan perdamaian. Mereka menjadi pahlawan sekaligus simbol bagi para aktivis, akademisi, dan intelektual kiri, mendorong semakin banyak kunjungan ke Chiapas untuk memberikan bantuan kepada para pemberontak Zapatista.

Dengan berbasiskan diskursus politik identitas, gerakan Zapatista sadar akan paradoksnya sendiri: mereka gerakan yang mengatasnamakan ‘minoritas rakyat’ dan bukan ‘mayoritas rakyat’ sebagaimana retorika revolusioner klasik. Tapi justru inilah poin yang mereka tekankan: mereka berjuang demi sebuah dunia yang adil terhadap kaum minoritas apapun, sebuah dunia yang tidak lagi bersandar pada logika “besar menang, kecil kalah”, melainkan sebuah dunia yang mementingkan dialog dan kesepakatan, sesuai dengan motto mereka: Another world is possible (dunia yang lain itu mungkin), yang menginspirasi banyak forum-forum aksi internasional seperti People’s Global Action atau World Social Forum.[10]

Pemberontakan Zapatista barangkali menjadi sebuah titik penentu dalam sejarah Meksiko Modern. Mereka menyeru pada seluruh rakyat Meksiko—tidak hanya penduduk lokal—untuk berpartisipasi dalam pergerakan besar mereka untuk memperjuangkan hak atas ‘pekerjaan, tanah, tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan, dan kedamaian’.[11] Tujuannya adalah untuk mengalahkan kekuasaan partai berkuasa—PRI, untuk menggeser keseimbangan kekuatan-kekuatan sosial demi kepentingan demokrasi populer, untuk memperbaiki akuntabilitas pemerintahan, dan untuk mencapai reperesentasi yang sebenar-benarnya bagi seluruh rakyat Meksiko, khususnya bagi para populasi adat asli.

Zapatista pada gilirannya menjadi katalisator perjuangan masyarakat adat. Dalam batas-batas tertentu, Zapatista memang memperjuangkan hak dan martabat masyarakat ada Chiapas melalui politik identitas. Namun pasca pemberontakan januari 1994 yang membuat mata dunia tertuju pada Meksiko, Zapatista terus mengumandangkan ide-ide revolusionernya ke seluruh dunia dan membangun sebuah gerakan anti-neoliberalisme global. Di sinilah titik dimana Zapatista membuka ruang bagi paradoks: alih-alih hanya berkutat di seputar permasalahan masyarakat adat, Zapatista mendorong agenda programatiknya beberapa langkah lebih jauh—melalui Pertemuan Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme, komunike, agenda programatis, dan banyolan politik khas Marcos—yang mencuri perhatian dunia, dan bertransformasi menjadi sebuah gerakan transnasional tepat ketika gerakan kiri sedang mengalami kebuntuan ide setelah komunisme ternyata hanya menciptakan kediktatoran dan kapitalisme global dicanangkan sebagai akhir sejarah.

Ke dalam realitas baru inilah Zapatista melangkah—sebuah gerakan non-hirarkis beranggotakan mereka-mereka yang paling terpinggirkan dari masyarakat Meksiko—dengan berbekal strategi yang menggunakan narasi dan model pengorganisasian yang secara unik mampu beradaptasi dengan terbukanya ruang global. Sebuah umpan balik yang sinergis, partisipatif, dan canggih telah terbentuk di antara Zapatista dan pendukung internasional mereka, menyebabkan ledakan kreativitas dan kesadaran di tengah-tengah masyarakat sipil. Dan memang, teriakan “Ya Basta!” sampai sekarang masih bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui batas-batas Rimba Raya Lacandon.




[1] Wawancara dengan “El-Sup” Marcos dalam film dokumenter “A Place Called Chiapas” (Canada Wild Production, Ottawa: 1999)
[2] Zapatista mengambil namanya dari pahlawan rakyat kecil Meksiko Emiliano Zapata; lihat Marshall, Demanding the Impossible, hal. 511-513.
[3] Neil Harvey, Op. Cit., hlm. 133
[4] Ronny Agustinus, “Zapatista dan Sejarah Yang Belum Berakhir,” pengantar dalam buku Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan, Komunike-Komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme (Resist Book, Yogyakarta: 2005), hlm. viii.
[5] Lihat “Chiapas: Kutub Tenggara dalam Dua Arus Angin,” dalam Marcos, Bayang Tak Berwajah, Kumpulan Dokumen Perlawanan Zapatista (edisi percobaan, Serpong: 2002) hlm. 1-14.
[6] Neil Harvey, Op. Cit., hlm.133
[7] Wawancara dengan Marcos dalam film dokumenter “A Place Called Chiapas” (Canada Wild Production, Ottawa: 1999)
[8] Ibid.
[9] Marcos, Kata Adalah Senjata, Kumpulan Tulisan Terpilih (Resist Book, Yogyakarta: 2006), hlm. 145.
[10] Lihat: Ronny Agustinus, Op. Cit., hlm. xxxiii-xxxiv.
[11] Sean M. Seehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, terj. Daniel hutagalung, (Marjin Kiri, 2007), hlm. 151. 

Rabu, 23 Januari 2013

#Amrita 08.


Melukislah bila warna gunung
melepas resah hantu-hantu tidurmu
Awan dan langit
jadi ingin yang lamat-lamat

Di pematang angan
Mencuri lonceng biara
Dan lukiskan dentingnya
Hingga para rahib tak merasa
kehilangan waktu
dan kenangan pada masa lalu

Telaga merah membenam diri
geriap resah,
genangan hampa
Basuh saja luka dengan warna senja
yang gemeritik di pesisir

Jejakkan pada sentuh ragu
kuas katamu
Bagai kandil kemilau
Melupakan temaram
silang masa silam

Pensil kuning, hijau, biru
Warnai getir
jadi ikan-ikan di lautan
polos seperti pohon
atau sejuk bebukitan

Melukislah... berlatihlah...
Tumpahkan seluruh warna...

Pohon Bernama "Hari Esok"


Alkisah, di sebuah kota, kaum lelaki dan perempuannya bekerja keras demi menyambung hidup. Tiap hari mereka pergi ke tempat kerjanya masing-masing: yang laki-laki ke ladang dan kebun-kebun buncis, yang perempuan mencari kayu bakar dan menimba air. Ada kerja-kerja tertentu yang menyatukan mereka bersama. Contohnya, mereka akan bekumpul bersama saat musim panen kopi tiba. 

Begitulah yang terjadi. Tapi ada seorang laki-laki yang ogah melakukan itu semua. Memang ia bekerja, namun tidak di ladang atau kebun buncis, tidak juga ia memanen kopi saat biji-bijinya memerah di sela-sela dahan. Tidak, lelaki ini bekerja menanami pohon di sisi gunung. Pohon-pohon yang ditananamnya bukanlah jenis yang cepat tumbuh, semua butuh beberapa dekade untuk membiakan seluruh cabang serta daun-daunnya. Orang-orang menertawainya dan kerap kali mencela. “Kenapa kau menggarap sesuatu yang tak bakal kau lihat hasilnya? Mendingan kerja di ladang, yang bakal berbuah dalam hitungan bulan, ketimbang menanam pepohonan yang baru besar setelah kau mati. kalau bukan tolol ya kau itu sinting. Kerjamu tak membuahkan apa-apa.”

Lelaki itu membela diri dan berkata: “Memang benar aku tak bakal melihat pohon-pohon ini tumbuh besar, penuh dahan, daun, dan burung. Mataku juga tak bakal menyaksikan bocah-bocah bermain di kerindangannya. Tapi jika semua kerja kita hanya untuk hari ini dan hari sesudahnya: siapa yang akan menanam pohon yang nantinya akan dibutuhkan anak-cucu kita untuk nantinya bernaung, melipur lara, dan bersenang-senang?” Tak seorangpun mengerti perkataannya. Lelaki yang tolol nan sinting ini terus menanam pohon-pohon yang tak bakal dilihatnya, dan lelaki-lelaki lain serta perempuan yang waras terus menanam dan bekerja demi keseharian mereka.

Waktu berlalu dan mereka semua pun mati sudah, anak-anak mereka bekerja, lalu disusul cucu-cucu mereka. Suatu pagi, sekelompok bocah lelaki dan perempuan pergi berjalan-jalan, dan menemukan sebuah tempat penuh pohon-pohon besar, ribuan burung hidup di dalamnya dan dahan-dahan mereka yang lebat melindungi dari panas dan menaungi dari hujan. Ya, seluruh sisi gunung itu penuh ditumbuhi pohon! Anak-anak itu pergi ke kota dan memperbincangkan tempat yang menakjubkan ini.

Orang-orang dewasa berkumpul dan pergi ke tempat yang dimaksud dengan penuh keheranan. ”Siapa yang menanam semua ini?” tanya mereka. Tak satupun tahu. Mereka mengunjungi orang-orang tua dan menanyakan perihal tersebut. Tapi tak satupun dari orang-orang tua itu yang mengetahuinya. Kecuali satu. Seorang yang tua sekali, yang paling sepuh dari masyarakat di situ. Dan berceritalah ia tentang riwayat lelaki tolol nan sinting itu.

Orang-orang dewasa mengadakan pertemuan di balai kota dan merapatkan hal tersebut. Mereka melihat dan memahami lelaki yang dicemooh nenek moyang mereka. Mereka mengaguminya sungguh-sungguh dan menyayanginya. Mereka sadar, bahwa ingatan bisa berkelana begitu jauh ke tempat yang tak pernah dipikirkan atau dibayangkan orang, oleh para lelaki-perempuan di hari itu, di satu sisi gunung yang penuh oleh pohon-pohon besar.

Mereka mengitari sebatang pohon paling besar yang tegak di tengah-tengah, dan dengan huruf warna-warni mereka tuliskan segores tanda. Setelahnya mereka berpesta sampai larut malam. Sudah menjelang dini hari saat penari terakhir bersiap pulang dan tidur. Rimba raksasa itu ditinggal sepi sendiri. Hujan turun lalu berhenti. Kemudian bulan muncul dan wajah galaksi di langit meringkukkan badannya yang kusut sekali lagi. Mendadak seberkas  sinar cahaya bulan menelusup lewat serimbunan besar daun dan dahan pohon yang tegak di tengah-tengah itu, dan terbacalah tanda warna-warni yang ditorehkan di sana:

“Kepada dia yang paling mula.
Mereka yang datang kemudian bakal mengerti.
Tabik.”

***

Demikianlah cerita ini dikisahkan pada saya 15 tahun silam, dan masa 15 tahun sebelumnya telah pula berlalu saat mereka menceritakannya pada saya. Dan ya, barangkali sia-sia menuturkannya dengan kata-kata karena kita perlu mengucapkannya lewat tindakan; tapi benar, mereka yang datang kemudian memang mengerti.

Dan jika saya kisahkan ini pada anda, bukan semata untuk menghaturkan hormat pada dia yang paling mula itu, ataupun menghadiahi anda secuil kecil kenangan yang tampaknya makin pudar dan terlupa. Bukan semata untuk itu, tapi juga untuk menguji dan merespon pertanyaan tentang apa yang saya dan anda inginkan.

Menanam pohon hari esok, itulah yang saya mau: di masa kehidupan politik hingar-bingar ini, masa bertumbangannya panji-panji negara, masa tergantikannya demokrasi dengan jajak pendapat, masa penjahat neoliberal menyerukan perang melawan apa yang sesungguhnya mereka gelapkan dan apa yang sesungguhnya memberi makan mereka, masa transformasi berubah-ubah seperti kulit bunglon; di masa-masa seperti ini, mengatakan ingin menanam pohon hari esok bisa jadi terdengar tolol dan sinting, yang untungnya, belum menjadi ungkapan teatrikal dan utopi yang ketinggalan zaman.

Berapa banyak orang di dunia ini sanggup berkata yang sama, dalam arti, bahwa mereka sedang menggarap apa yang mereka ingini? Banyak, saya yakin. Dunia ini dihuni oleh segenggam penuh orang-orang tolol nan sinting yang menanam pohon mereka masing-masing demi hari esok mereka masing-masing, dan akan tibalah suatu hari tatkala sisi gunung semesta ini, yang oleh beberapa orang dijuluki “Planet Bumi”, akan penuh pepohonan aneka rupa dan akan ada banyak burung dan kenyamanan; ya, kecil kemungkinan orang akan ingat pada dia yang paling mula, karena hari kemarin yang membikin kita pusing tujuh keliling bakal jadi sekedar halaman tua dalam kitab sejarah yang usang.

Dalam pohon bernama hari esok itu, ruang dimana semua orang ada, dimana yang satu jadi tahu dan hormat pada yang lainnya, kekuasaan palsu itu akan kalah dalam pertempuran penghabisannya. Jika diminta terperinci, akan saya katakan itulah tempat demokrasi, kemerdekaan, dan keadilan bersemayam: itulah pohon hari esok.

Bagaimanapun juga, akan tiba masanya kata-kata ini akan jadi serasi, dan secara bersamaan, cakupan mereka akan meluas, mereka bakal didengar dan dijaga, mereka bakal tumbuh. Itulah gunanya kata-kata, serta, ya, mereka yang mengerjakannya.


Selasa, 22 Januari 2013

Traditional Hedonism...

...was based on the direct experience of pleasure: wine, money, and song; sex, drugs, and rock 'n' roll; or whatever the local variant. The problem, from a capitalist perspective, is that there are inherent limits to all this. People become sated, bored... Modern self-illusory hedonism solves this dilemma because here, what one is really consuming are fantasies and day-dreams about what having a certain product would be like.

But, then again, that is what we are: consumers.

Senin, 21 Januari 2013

#dreamlog 04.


Through that last dark cloud is Xibalba, a dying star. And soon enough, Xibalba will die. And when it explodes, it will be reborn. 

You will bloom...

...and I will live

Instruksi agar terpilih sebagai "Tokoh Tahun Ini"


1.    Dengan teliti pilihlah seorang teknokrat, seorang oposan yang bertobat, seorang usahawan garda depan, seorang koboi serikat kerja, seorang pemilik bisnis properti, seorang kontraktor, seorang pakar seni komputer, seorang intelektual “cerdas”, seperangkat TV, radio, dan partai resmi. Masukkan campuran ini dalam toples dan beri label: “Modernitas”.

2.    Ambil seorang buruh tani, seorang petani gurem, seorang pengangguran, seorang buruh industri, seorang guru tanpa sekolah, seorang ibu rumah tangga yang tak puas, seorang penuntut kawasan hunian dan jasa pelayanan, sedikit sentuhan pers yang jujur, seorang mahasiwa, seorang homoseksual, seorang anggota oposisi rezim. Pisahkan mereka sebisa mungkin. Masukkan dalam toples dan beri label: “Anti-Indonesia”.

3.    Ambil seorang gadis adat Indonesia, terserah dari mana saja. Pisahkan hasil kerajinannya lalu potret gadis itu. Masukkan hasil kerajinan berikut fotonya ke dalam toples dan beri label: “Tradisi”.

4.    Taruh gadis adat itu ke dalam toples lainnya, pisahkan dan beri label: “Sampah”. Jangan lupa cuci kuman setelah yang satu ini.

5.    Nah, sekarang bukalah sebuah toko dan gantungkan plang besar bertuliskan: “Indonesia 1998-2013. Obral Besar-Besaran Abad Ini”.

6.    Senyum ke arah kamera. Pastikan tata riasmu menutupi kantung mata dan bulatan hitam di bawah mata akibat mimpi buruk yang dihadirkan proses tadi. Catatan: siapkan selalu polisi, tentara, serta tiket pesawat ke luar negeri. Barang–barang ini sewaktu-waktu bisa saja dibutuhkan.


Cukup sekian untuk sekarang.
Demi kesehatan, dan semoga semua warna bersinar.

N.B. Kelabu. Hijau ini melukai, seakan-akan ia ingin berubah merah.

Minggu, 20 Januari 2013

Kalathida

Aku tak akan bertanya.
Sebab, kau punya para jago membual.
Mereka hendak membasmi satu dunia nyata
      dengan beribu kata,
mereka kata cabut subsidi agar
      aku sejahtera?

Argh!
bawa kemari kata-kata itu,
disini, di dapur emakku,
biar beku bersama kering kompornya!

Rabu, 16 Januari 2013

To Whom It May Concern...


I was 21 years old the first time I died. I remember there was mist everywhere. There was rain, and I felt alive. But, really, I was dead. Sometimes I think we live through things... only to be able to say that it happened. That it wasn't to someone else, it was to me. Sometimes we live to beat the odds. I'm not crazy... even though they thought I was. I live in the same world as everyone else. I just saw more of it. I just saw what’s beyond it.

:I've seen life after my death...

...and I'm telling you this because sometimes life can only really begin with the knowledge of death. That it can all end, even when you least want it to. The important thing in life is to believe...  that while you're alive, it's never too late. I promise you, no matter how bad things look...  they look better awake than they do asleep. When you die, there's only one thing you want to happen...

:You wanna come back.

Senin, 14 Januari 2013

“The amazing miracle of death: when one second you're walking and talking, and the next second you're an object.”

Warning!


jika anda membaca postingan ini, berarti peringatan ini memang untuk anda. setiap kata yang anda baca pada postingan tak berguna ini adalah detik-detik yang terbuang percuma dari hidup anda. tidakkah anda punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan? Sedemikian kosongkah hidup anda sehingga anda tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih baik untuk menghabiskan waktu? atau anda sedemikian terkesannya dengan otoritas sehingga anda memberikan penghargaan dan kredensial kepada mereka-mereka yang mengklaimnya? apakah anda membaca segala sesuatu yang mereka bilang anda perlu baca? apakah anda memikirkan segala sesuatu yang mereka bilang anda perlu pikirkan? apakah anda membeli segala sesuatu yang mereka bilang anda perlu beli? matikan komputer anda, bangkit dari kursi dan pergi keluar rumah. berhenti masturbasi. temui lawan jenis. bercintalah. berkelahilah. buktikan bahwa anda hidup. jika anda tidak mengklaim kembali kemanusiaan anda, maka anda hanya akan menjadi sekedar statistik.

...and know this: You and I, we're just byproduct of a lifestyle obsession. We're losing our humane-ness overtime in the gradually shrinking living space, until we're not 'human' anymore. And this is what happens: The obnoxious, interlocking agenda of the elites and the transnational marrauders slowly drives us unto the edge, while at the same time keeping us oblivious of what we are becoming: "Consumer."

vale. and stay classy, my friend.

"The greatest consensus in modern society is our traffic systems. The way a flood of strangers can interact, sharing a path, almost all of them traveling without incident. It only takes one dissenting driver to create anarchy.”

#Amrita 07.


"...if somehow fate were in my hands, would it be enough to understand why we feel lost in world so small?"

Minggu, 13 Januari 2013

Ayub dan Tuhannya


ayub diuji oleh tuhan. hidupnya hancur. istrinya mati. ladangnya habis. harta bendanya raib. Lalu, sambil berlutut di atas tanah ayub berteriak ke langit, “Mengapa, ya tuhan? Mengapa harus aku?”

kemudian dengan suara menggelegar tuhan pun menjawab, “There’s just something about you that pisses me off.

akhir cerita, ayub mati miskin.
anak-anaknya terlantar dan dipelihara oleh negara.
si tuhan tetap pengangguran.

*tabik, dan untuk melihat di kejauhan, bukan kacamata minus yang dibutuhkan. lagian, di atas sana, kekuasaan negara hanyalah burung nasar baja yang terbang percuma.

Tentang Tikus Kecil dan Kucing Kecil...


Alkisah hiduplah seekor tikus kecil yang sangat kelaparan dan ingin memakan keju secuil yang ada dalam dapur mungil di dalam rumah mungil-imut itu. Maka pergilah si tikus kecil ke dapur mungil untuk mengambil keju secuil. Tapi ternyata datang seekor kucing kecil dari arah seberang dan si tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas kabur dan tak bisa mengambil keju secuil dari dapur mungil tersebut.

Kemudian si tikus kecil mengangankan apa yang harus dilakukan untuk mengambil keju secuil dari dapur mungil itu dan dia berpikir lalu berkata: aku tahu, aku akan menaruh piring kecil dengan sedikit susu dan si kucing kecil akan meminum susu itu karena kucing-kucing kecil doyan sekali susu. Kemudian saat kucing kecil itu meminum susu dan tak memperhatikan, aku akan pergi ke dapur mungil itu dan mengambil keju secuil dan memakannya. Ide yang saaangat baik—si tikus kecil membatin.

Maka pergilah dia mencari susu tapi ternyata susu itu ada di dapur mungil dan saat tikus kecil ingin pergi ke dapur datanglah si seekor kucing kecil dari arah seberang dan si tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas kabur dan tak bisa membawa lari susunya.

Kemudian si tikus kecil kecil mengangankan apa yang harus dilakukan untuk mengambil susu dari dapur mungil itu dan dia berpikir lalu berkata: aku tahu, aku akan melempar sepotong ikan jauh-jauh dan si kucing kecil akan berlari memakan ikan sepotong itu karena kucing-kucing kecil doyan sekali ikan. Kemudian saat si kucing kecil memakan ikan sepotong itu dan tak memperhatikan, aku akan pergi ke dapur mungil itu dan mengambil susu. Ide yang saaangat baik—si tikus kecil membatin.

Maka pergilah dia mencari ikan sepotong tapi ternyata ikan itu ada di dapur mungil dan saat tikus kecil ingin pergi ke dapur datanglah si seekor kucing kecil dari arah seberang dan si tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas kabur dan tak bisa membawa lari ikan sepotong itu.

Lantas si tikus kecil melihat bahwa keju secuil, susu, ikan sepotong, serta segala sesuatu yang dia inginkan ada di dalam dapur mungil itu dan dia tak bisa kesana sebab si kucing kecil tak memperbolehkannya. Kemudian, sambil frustrasi si tikus kecil berteriak “Cukup!” lalu dia mengambil senapan mesin dan menembaki si kucing kecil dan pergi ke dapur mungil itu lalu melihat bahwa ikan sepotong, susu, serta keju secuil itu sudah membusuk semuanya dan tak bisa dimakan lagi. Maka dia kembali ke tempat kucing kecil itu tergeletak lalu mengirisnya kecil-kecil dan membakarnya dengan lezat. Lantas dia mengundang semua temannya dan mereka berpesta dan memakan kucing kecil bakar itu sambil menyanyi, menari, dan hidup bahagia selama-lamanya.
...
...
...
Demikianlah akhir kisah ini. Saya ingatkan kepada anda bahwa pembagian teritori antar negara hanya berguna untuk menggolongkan kejahatan “ekonomi pasar global” serta memberi makna bagi peperangan. Jelas paling tidak ada dua soal yang mengatasi masalah perbatasan; pertama adalah kejahatan yang disamarkan sebagai modernitas dan yang menyebarkan derita dalam skala dunia; lainnya adalah harapan agar rasa malu muncul saat seseorang meleset irama langkah dansanya dan bukan saat tiap kali kita bercermin. Untuk mengakhiri yang pertama dan memajukan yang kedua kita hanya perlu berjuang dan menjadi lebih baik. Sisanya akan akan ikut dengan sendirinya dan menjadi apa yang umumnya mengisi perpustakaan serta museum-museum. Tak penting untuk menguasai dunia, cukuplah membuatnya baru saja...


“...dan ketahuilah, bahwa untuk bercinta, ranjang itu hanyalah dalih; untuk berdansa, musik itu cuma hiasan; untuk berjuang, nasionalisme hanyalah kecelakaan situasi belaka.”


Tabik, semoga anda sehat selalu.

Mata Kata


Bertahun-tahun kuraut kata hingga langsing dan runcing. Bertahun-tahun kugurat halaman buku, mabuk dan mengigau sepanjang waktu. Bertahun-tahun mengitari panggung, seperti kurcaci lupa diri. Mewarnai gugusan peristiwa dengan sejumlah cinta dan lara. Bertahun-tahun membangun jembatan, antara satu bukit dengan bukit berikutnya, dengan kata-kata.

Lalu, pada sebuah tarikh muda, engkau lahir dari sunyi perigi bermata air kata, jernih dan bercahaya. Lalu engkau bangkit dari abu unggun yang menyala semalam suntuk membakar kayu kata-kata. Mata beningmu membaca semua kata dari setiap benang sari dan udara yang mempersinggahkannya pada putik, menjadikannya tunas buah. Lalu engkau memeras perih kata dari tangkai zaitun, menyulingnya menjadi tetes-tetes harum dalam bejana. Tak ada jejak pada kata-kata dari tempatmu (mungkin) pernah singgah.

Ingin kuhapus kata dari seluruh mantra yang melekat di mulutku. Ingin kuhapus kata dari jubah dan terompah yang pernah kuajak mengembara. Ingin kuhapus kata dari mimpi dan nyanyian yang bertahun-tahun memenuhi tidurku. Ingin kembali hening, menghilang dari suara, bersembunyi dibalik cadar riuh rendah.

Dengan sepasang mata, kau berkata-kata. Mata sebening kaca, kaca sebening kata. Dalam matamu, kata selalu berkaca. Mencari bayang-bayang simetri, sudut tersembunyi, runcing dan bening. Pendar cahaya matamu menyusun kata-kata yang berkaca-kaca. Kaca yang senantiasa memantulkan kata-kata ke dalam mata.

Aku percaya: hanya dari lesung pipimu, tersenyum setiap kata
Dan matamu, adalah genangan kata-kata sebening kaca

"Merayakan keberagaman lewat arak-arakan dan pawai itu cuma ekspresi norak dari orang-orang yang seragam."


(sebab apa gunanya pawai dan arak-arakan kalau kalian masih tetap nggak bisa mentolerir perbedaan?)


Sabtu, 12 Januari 2013

Ngomong-Ngomong Soal PKI...


Misalkan anda sedang berjalan-jalan di mall. Di tempat sepi seseorang menyetop anda dan bilang, “Permisi. Apa anda PKI? Atau ibu anda Gerwani?”

Saya bayangkan pertanyaan itu bisa disampaikan dengan dua nada. Pertama, membentak. Dan anda pasti cemas, mengira si penanya seorang intelejen militer dan anda dalam masalah. Lalu anda menyangkal. Atau, kemungkinan kedua, pertanyaan diutarakan secara sopan. Dan anda pasti merasa si penanya yang punya masalah.

Disampaikan dengan cara apa pun, pertanyaan “apa kamu PKI?” tak pernah beres, tak pernah netral. Meskipun Soeharto telah tumbang dan Megawati yang ayahnya dianggap berpihak pada partai itu, telah menggantikan Gus Dur, yang anggota organisasi NU-nya pada masa lampau iku menumpas para tertuduh komunis.

Saya baru nonton film dokumenter berjudul Shadow Play, arahan Chris Hilton. Film ini mengenai Partai Komunis Indonesia, pengaruh perang dingin terhadap perkembangan politik dalam negeri Indonesia sekitar tahun 1965, dan, tentu saja, peran Amerika dan Inggris mendukung Soeharto menghabisi sekitar 500 ribu jiwa tertuduh komunis dalam sebuah sejarah yang dibenamkan. Dokumenter ini seolah menyatakan; kini saatnya membongkar rahasia gelap itu.

Yang paling mengiris adalah kisah mengenai Ibnoe Santoro, yang mengingatkan kita pada Musim Gugur Di Connecticut karya Umar Kayam. Ibnoe, seorang intelektual yang mengambil program doktoral di AS pada awal 60-an, terpaksa dipulangkan karena hubungan Indonesia-AS memburuk. Hanya karena namanya tercantum dalam Himpunan Sarjana Indonesia, ia diambil dari rumahnya, dari istrinya yang baru setengah tahun menikahinya. Dan tak pernah kembali. Namun salah seorang pasukan yang menembaknya memberi tahu bahwa ia dimakamkan di sebuah hutan karet, dan di sana ada dua pohon kelapa ditanam sebagai tanda. Keluarganya menyimpan informasi itu.

Baru setelah Soeharto tumbang, beberapa organisasi yang bekerja untuk pencarian korban mengusahakan penggalian tempat itu. Belulangnya ditemukan. Keluarganya berniat memakamkan jenazahnya di kubur yang layak. Tapi ini menimbulkan perkara besar di desa tujuan. Jenazahnya, yang hanya menempati sebuah kotak papan kecil, ditolak dengan kekerasan. Salah satu pemuka masyarakat mengatakan. “Kami tak mau ada jenazah PKI di tempat kami!” spanduk-spanduk yang mereka bentangkan kira-kira menyatakan bahwa mereka tak ingin tanah mereka dikotori oleh jenazah PKI.

Cara berpikir macam apakah (atau kesadaran macam apakah—jika mereka tak bisa disebut berpikir) yang membuat mereka bertindak macam itu?

‘PKI’, kata itu sendiri, telah menjelma setan. Inilah salah satu sukses indoktrinasi orde baru. ‘PKI’ tidak lagi merujuk pada sebuah referens, yaitu partai yang pernah ada dalam sejarah negeri ini dan memiliki kompleksitas luar biasa. Kata ‘PKI’ telah menjelma kekuatan itu sendiri, yang menakutkan dan membuat benci.

Saya kira kita kerap tak sadar pada lingkaran setan bahasa: bahasa mempunyai kekuatan transformatif selain kekuatan metamorfosis dan analisis. Justru karena manusia percaya bahwa bahasa menunjukkan kenyataan (meski para filsuf posmo membantah), bahasa punya daya dorong. Sehingga, jenazah ‘PKI’ menjelma zombie.

Kita tak lepas dari lingkaran setan irrasional bahasa ini. Kata ‘anarki’, ‘liberal’, atau ‘sekular’ misalnya, menjadi zat yang bikin gentar dalam peta politik kita. Tak satu pun, saya kira, pemerintah Indonesia dari masa Soekarno hingga SBY yang secara eksplisit mengatakan bahwa Indonesia adalah negara sekular, meskipun perundang-undangan kita, kecuali dalam peradilan agama, tidak didasarkan pada asumsi hukum Tuhan sama sekali.

Beberapa tahun lalu majalah Tempo membikin pol pendapat tentang pemberlakuan syariat Islam dalam hukum Indonesia. Ketika pertanyaan diajukan dalam rumusan “Setujukah anda syariat ditetapkan?”, sebagian besar pembaca menjawab setuju. Namun ketika pertanyaan dirinci menjadi, misalnya, “Setujukah jika orang yang tidak shalat Jumat diberi sanksi?”, “Setujukah jika orang yang berzina dirajam?”, jawabannya kebanyakan tidak.

Maka, ada kesenjangan antara konsep ‘penerapan syariat’ dengan ‘penerapan hukum positif’. Kata ‘syariat’ memberi impact yang berbeda dari kata-kata yang lain.

Ketika kawan-kawan di Utan Kayu membikin Jaringan Islam Liberal (JIL), ada surat yang datang kepada mereka. Isinya kira-kira menyatakan bahwa si penulis sebenarnya simpati dengan ide-ide Jaringan Islam Liberal, yang menawarkan wacana keagamaan yang pro-demokrasi, mendukung kesetaraan jender, dan lain-lain yang politically correct­-lah. Tapi, kenapa namanya ‘liberal’? Mbok, jangan pakai istilah ‘liberal’ karena istilah itu terlalu keras, sehingga ia tak berani untuk ikut serta. Ada kesenjangan antara ‘nama’ dan ‘isi’.

Nama itu memang diambil dari buku Charles Kurzman Liberal Islam. Buat saya, dari segi politik bahasa, ini adalah usaha untuk menetralkan kata ‘liberal’ yang telah ‘dirusak’ oleh orde lama dan orde baru.

Dan saya masih menunggu orang-orang yang akan menetralkan ‘PKI’.