Selasa, 29 Desember 2015

#Monolog 10

Dulu saya pernah jadi relawan di sebuah LSM pencegahan bunuh diri, semacam suicide hotline gitu lah. Setiap bulan ada seorang laki-laki usia sekitar 50 tahunan yang mendonasikan Rp 1.500.000 ke organisasi kami. Dia datang teratur seperti mesin jam; selalu di tanggal yang sama, orang yang sama, jumlah yang sama... dan tidak pernah melalui transfer, dia selalu datang.

Menurut rekan-rekan saya lelaki itu sudah melakukan hal yang sama selama 4 tahun lebih. Saya menganggap rutinitas ini agak 'beda', tetapi saya memilih untuk tidak bertanya-tanya terlalu jauh. Hingga suatu hari saya menemukan selembar note tersisip di di amplopnya.

"Untuk Nurul -papa-"

Belakangan saya dengar cerita bahwa uang yang ia donasikan secara teratur itu tadinya merupakan uang saku bulanan anak perempuannya yang meninggal karena bunuh diri.

...

Untuk anda yang pernah sedikit saja terlintas di pikirannya untuk mengakhiri hidup, tolong berhenti. Jangan lakukan. Because if you do, those people close to you, they will miss you for the rest of their life.

All, Except One Book











sometimes, when people grew,
they grew apart.


Jumat, 25 Desember 2015

Amongst The Crowd


Funny how a simple glance
could make the time stop.
Our eyes met,
and both of us lost, 
but for a moment
we're lost together.
...
I wonder who you are.

The Art of Dwelling In The Past


Your life is written in indelible ink. There's no going back to erase the past, tweak your mistakes, or fill in missed opportunities. When the moment's over, your fate is sealed. 

But if look closer, you notice the ink never really dries on any of our experiences. They can change their meaning the longer you look at them.

There are ways of thinking about the past that aren't just nostalgia or regret. A kind of questioning that enriches an experience after the fact. To dwell on the past is to allow fresh context to trickle in over the years, and fill out the picture; to keep the memory alive, and not just as a caricature of itself. So you can look fairly at a painful experience, and call it by its name.

Time is the most powerful force in the universe. It can turn a giant into someone utterly human, just trying to make their way through. Or tell you how you really felt about someone, even if you couldn't at the time. It can put your childhood dreams in context with adult burdens or turn a universal consensus into an embarrassing fad. It can expose cracks in a relationship that once seemed perfect. Or keep a friendship going by thoughts alone, even if you'll never see them again. It can flip your greatest shame into the source of your greatest power, or turn a jolt of pride into something petty, done for the wrong reasons, or make what felt like the end of the world look like a natural part of life.

The past is still mostly a blank page, so we may be doomed to repeat it. But it's still worth looking into if it brings you closer to the truth.

Maybe it's not so bad to dwell in the past, and muddle in the memories, to stem the simplification of time, and put some craft back into it. Maybe we should think of memory itself as an art form, in which the real work begins as soon as the paint hits the canvas. And remember that a work of art is never finished.

Only abandoned.

Rabu, 23 Desember 2015

The Places We Left Behind


You can sense it when you move out of a house, noticing just how empty a place can feel. Like when you're walking through a school hallway in the evening, or an unlit office on a weekend… fairgrounds out of season. It's usually bustling with life, but now lies abandoned and quiet.

It's easy to forget that most of your memories happened in places that are still around, the walls mostly unchanged, with even some of the same people, who carry on in your absence. But the world you once knew, and the people you still remember, have long since moved on... replaced by so many others who have passed through these doors.

You try to stay long enough to catch up with the memories, to finally linger in the life you spend so much time building up, hoping the world will stick around to keep you company. But eventually you'll pack up your things and walk through the place one last time.

And not a day after you leave, it'll become someone else's new home: a blank canvas they'll fill up with their own memories. Burying the life you built in a fresh coat of paint, leaving nothing but echoes of what was once here. 

Leaving the room not just empty, but hyper-empty. With a total population in the negative, whose inhabitants are so conspicuously absent they glow like faint twilight. 

Maybe that's why we want to believe in ghosts. Maybe it's just a fantasy. A fantasy that our memories are so powerful they'll leave a mark on the wall that would mean something to someone else, and can't just be painted over.

We just want to mark our time here, to keep the rooms filled and the memories alive. And if our existences are haunted, it'll be because we're haunting them ourselves…

...because, honestly, what kind of heart doesn't look back?


GANGGU!!!


Hujan deras. Suara ban pecah, lalu truk tergelincir keluar badan jalan… atau setidaknya itulah detail terakhir yang kuingat sebelum chassis lebar truk itu menghimpitku dan motor matic-ku sampai gepeng.

Namun, saat ini di sekelilingku hanya ada warna putih. Putih yang lebih putih dari kaos-kaos putih di iklan deterjen pemutih selingan sinetron.

Ada sensasi kedamaian yang tidak bisa dijelaskan… dan di kejauhan, terlihat sebuah gerbang terang bercahaya di tengah-tengah lansekap awan yang dapat kau injak. Lembut. Seperti kapas.

Ada gelembung pemahaman yang meletup di kepalaku.

Ah, indah sekali, inikah gerbang surga?

. . . 

Mendadak handphone di saku kiriku bergetar.

Apa-apaan… ada sinyal di surga? Mataku membelalak. 4G pula!

       "You got 1 Facebook Notification"

Penasaran, aku klik ikon notifikasi tersebut.

       “Barjow Anonim has sent you a Candy Crush request.” accept/decline

. . .

Anjing, masih lho…


Senin, 14 Desember 2015

The Allure of Linguistic Manipulation


Dell <positive encouragement>
    “I wish I had a super tight-knitted group of friends that I fought crime with.”

Bima <passive aggressive>
   “I wish I had a super tight-knitted group of friends that I committed crimes with.”

Adit <stoned>
   “I wish I had a super tight group of criminals that I knitted with.”


*yup, that's us; the three wise men.*

The Art of Talking Nonsense: Gay Edition


Gue:  Ril, gua penasaran deh… kok bisa sih lu bikin orang hetero jadi homo?

Si Homo:  Heheh, ya bisa lah Bim. Sederhana aja, ibaratnya spaghetti: kalo masih mentah lurus. Straight. Pas udah direbus dia 
               gak straight lagi.

Gue:    <garuk-garuk kepala>     Jadi…   kalo cowok straight direbus…   bakal jadi homo?

Si Homo:  au ah

Selasa, 08 Desember 2015

Parade Nokturnal


Terbenam dalam diskusi mengenai kekekalan, kami biarkan malam turun tanpa menyalakan pelita. Kami tak bisa melihat wajah satu sama lain. Dengan sikap tak acuh dan kehalusan yang lebih meyakinkan, suara R mengulangi bahwa jiwa itu kekal. Ia meyakinkanku bahwa kematian ragawi sama sekali tak signifikan, bahwa kematian adalah keniscayaan paling tidak berarti yang bisa menimpa manusia.

Aku sedang memain-mainkan pisau lipatku; membuka dan menutupnya. Sementara para pemain band dekat situ tak henti-hentinya melantunkan Maliq & The Essential, remeh temeh mengecewakan yang disukai begitu banyak orang hanya karena mereka kira itu lagu lawas… aku mengajukan usul kepada R agar kami bunuh diri saja, supaya bisa terus berdiskusi tanpa semua gangguan itu.

R: (mengejek) — Tapi aku rasa di saat-saat terakhir kamu berubah pikiran.

B: (larut dalam mistisisme) — Terus terang saja, aku tidak ingat malam itu kami bunuh diri atau tidak.


Minggu, 06 Desember 2015

#Amrita [Fin]


There’s an old saying: “The past is a foreign country, they do things differently there.”

Looking at old photos, it’s hard not to feel a kind of wanderlust. The pang of nostalgia, for lost times that lingers at the back of your mind.

The past is a foreign country… you may sit on the bench by the side of the road and watch the locals passing by, who achieved and lost meanings before any of us arrived here. They sleep in the same house as we do, look up at the same stars, and breathe the same air, with the same blood in their veins… and yet, they lived in a completely different world.

The past is a world covered in dust from the frontier. A world of people whose life is hammered out by fate. The world of lost souls, where the fire still lights in the evening, of conversations over mundane hopes. You’d watch as they carried on with their lives that seems so important, even if their stories have already been told, even if any of it risks no other way than the way it happened… But they carry on anyway.

The past is a foreign country, and we’re only tourists… We can’t expect to understand the locals, or why they do what they do. We can only ask them politely to hold still, so we can capture a photo to take home with us, so we can sit for a minute in a world of black and white, with clean borders that protects us from the ravages of time. Like a tide pool, just out of the reach of the wave, that lets you linger in a moment of awe. So clear and still, you can see your own reflection…

Selasa, 01 Desember 2015

Film Review: Rediscovering "The Little Prince"


Pasca kesuksesan fenomenal film animasi “Inside Out” produksi Pixar, setiap screening film animasi di Cannes punya potensi menjadi antiklimaks. Terutama jika film yang dibicarakan adalah sebuah adaptasi modern dari salah satu novel anak-anak paling dicintai sepanjang masa. Tetapi untungnya, “The Little Prince” besutan Mark Osborne (“Spongebob Squarepants” & “Kung Fu Panda”) ini membuktikan diri sebagai remake rediscovery memukau dari karya klasik Antoine de Saint-Exupery di tahun 1943 dengan judul yang sama. Meski film ini menuturkan kisah sang pangeran kecil lewat kerangka dunia modern, namun sutradara Mark Osborne tetap setia pada gaya penuturan Saint-Exupery yang ringan dan bersahaja—nyaris lirikal—tanpa melewatkan satupun poin naratifnya.
Novelet “The Little Prince” itu sendiri, meski terlihat tipis dan tidak cukup panjang untuk dijadikan film berdurasi 106 menit, tidak menghentikan screenwriter Irena Brignull (“The Boxtrolls”) dan Bob Persichetti (“Kungfu Panda”) untuk membawakan kisah Saint-Exupery ini dalam kerangka metropolis modern yang modular, penuh teknologi dan efisiensi. Di sanalah kita pertama kali diperkenalkan dengan si Gadis Kecil tanpa nama (disuarakan oleh Mackenzie Foy), yang tinggal berdua dengan ibunya (Rachel McAdams) di suatu suburbia serius tanpa imajinasi. 
Untungnya bagi si Gadis Kecil, tetangga barunya ternyata seorang Aviator Tua eksentrik (Jeff Bridges), yang memasuki kehidupan si Gadis Kecil setelah sebuah propeller nyasar dari Lockheed P-38 antik di halaman belakangnya terlontar dan menjebol ruang tengah rumah baru protagonis kecil kita. Ini tentu jadi masalah. Seberapa sering anda menjebol ruang tengah tetangga anda? Dengan sebuah baling-baling? Milik Lockheed P-38 antik? Yang diparkir di halaman belakang anda? Yang benar saja. 
Tetapi seiring film berlanjut, sang Aviator Tua memperkenalkan si Gadis Kecil dengan kisah The Little Prince lewat tulisan tangan dan ilustrasi cat air yang dilipat menjadi pesawat kertas. Di sini, Mark Osborne melakukan transisi animasi yang memukau dari animasi 3D CGI yang tipikal, menjadi animasi stop-motion 2D, menghidupkan kisah Saint-Exupery melaui animasi memukau buatan tangan yang setia pada gaya ilustrasi cat air sang penulis yang kasar namun elegan.
Scene ini sangat menyenangkan untuk ditonton — semburat kertas warna-warni dan teknik stop-motion boneka lilin buatan tangan yang tidak kalah memukaunya dengan “Fantastic Mr. Fox” karya Wes Anderson atau “Coraline”-nya Henry Selick, dan sampai akhir film, “The Little Prince” tidak berhenti memanjakan visual penonton dengann gaya animasi yang berpindah-pindah, menuturkan kisah paralel si Gadis Kecil dan sang Little Prince yang berusaha kembali kepada bunga mawarnya. 
Yang menarik dari film “The Little Prince” adalah bagaimana orang-orang dewasa digambarkan sebagai karakter-karakter kaku tanpa imajinasi dan minim warna, di tengah dunia kotak-kotak yang berjalan dengan begitu efisien seperti mesin jam. “The Little Prince” menarik kita ke dalam dunia indah nan memukau, melalui mata polos anak-anak yang melihat segala sesuatu dengan ketakjuban, imajinasi, dan keingintahuan, mengingatkan kembali kita pada sebuah memoar sederhana dari kisah klasik Saint-Exupery: “Growing up isn’t the problem, forgetting is.”  



I Learned A Lesson Today


       Airplane mode is a lie. I threw my phone from the 5th floor and it didn't fly...


Minggu, 29 November 2015

#Monolog 09


do I murder ‘us’
when I forget you from afar
too drunk on the poison of endless roads
and the countless smokey bars

do I murder ‘us’
by putting pavements in my veins
shooting in that special heroin
for the seeking and displaced

but tension is to be loved
when it is like a passing note
to a beautiful, beautiful chord


Opium of The Eye


So much can be said in a glance. Such ambiguous intensity, both invasive and vulnerable—glittering black, bottomless and opaque. The eye is a keyhole, through which the world pours in and a world spills out. And for a few seconds, you can peek through into a vault, that contains everything they are. But whether the eyes are the windows of the soul or the doors of perception, it doesn't matter: you're still standing on the outside of the house. Eye contact isn't really contact at all. It's only ever a glance, a near miss, that you can only feel as it slips past you. 

There’s so much we keep in the back room. We offer up a sample of who we are, of what we think people want us to be. But so rarely do we stop to look inside, and let our eyes adjust, and see what's really there. Because you too are peering out from behind your own door. You put yourself out there, trying to decide how much of the world to let in. It's all too easy for others to size you up, and carry on their way. They can see you more clearly than you ever could. And yours is the only vault you can't see into, that you can't size up in an instant. 

So we're all just exchanging glances, trying to tell each other who we are, trying to catch a glimpse of ourselves, feeling around in the darkness, longing for salvation.

Jumat, 27 November 2015

Sonder

Selamat malam...

Pernahkah anda berpikir bahwa bagi orang lain, anda tak lebih dari tokoh figuran dalam kehidupan mereka? Barangkali hanya sebagai wajah buram yang hanya muncul satu kali di stasiun, di ruang tunggu dokter gigi, di warung rokok pinggir jalan, di halte busway pukul 10 malam... Atau untuk melihatnya dengan cara lain, pernahkah anda mencoba mengamati bahwa orang-orang di sekitar anda—maksud saya, bukan cuma orang-orang dekat seperti teman atau keluarga, melainkan tokoh-tokoh random yang hanya muncul di background keseharian anda—juga menyimpan kisah unik dalam diri mereka masing-masing?

Inilah sebuah konsep yang dinamakan Sonder, yakni sebuah pemahaman bahwa orang lain juga memiliki kehidupan yang sama kompleksnya dengan kehidupan anda; dipenuhi dengan mimpi, ambisi, rutinitas, ketakutan personal, juga kesintingan bawah sadar yang barangkali juga anda miliki; sebuah epos kolosal, yang bergerak tanpa terlihat di sekeliling anda seperti lorong labirin yang bercabang tak terhingga di bawah tanah, berkelindan dengan ribuan kehidupan lain yang eksistensinya bahkan anda tidak sadari—dimana barangkali anda juga pernah bersinggungan dengan salah satu diantaranya—mungkin hanya sekali, sebagai figuran yang sedang minum kopi pada latar belakang kafe mungil di sudut jalan, atau sebagai wajah blur yang melintas sekejap di jalanan, tak ubahnya seperti tetes hujan yang turun di malam pekat: mungil, tak terlihat, namun eksis dan menyimpan berjuta alegori.

Anda akan terkejut pada bagaimana sepenggalan kisah pendek dari seorang yang benar-benar asing ternyata mampu mengungkap begitu banyak. Dan tiba-tiba saja, anda terbawa masuk ke dalam persepsi mereka. Orang itu tidak lagi menjadi wajah anonim. Dia tidak lagi merupakan karakter dua dimensi di latar belakang kehidupan anda. Dia mendekat pada anda, menyentuh senar empati anda. Dia mulai mendapatkan dimensi. Dia menjadi manusia.

Sesungguhnya saya tidak punya otoritas apapun dalam menentukan reaksi anda terhadap kisah-kisah yang anda dengar. Terserah apakah anda memilih bersikap skeptis, tergugah, tidak peduli, sedih, terinspirasi, atau menertawakan. Tapi kalau saya boleh menyarankan, cobalah untuk membuka hati anda terhadap masing-masing kisah tersebut, sebab hanya dengan begitulah kita mampu menatap langsung ke wajah kompleksitas kehidupan, atau kalau bukan begitu, minimal kita bisa belajar tentang nilai manusia, untuk setidaknya lebih sensitif dan tidak acuh terhadap segala yang kecil, remeh, dan tidak dihiraukan. Sebab saya percaya, dengan mengalami Sonder, kita menjadi lebih manusia.

Cobalah untuk menatap lebih dalam, cobalah untuk memahami betapa rapuh sekaligus tangguhnya konstruksi batin manusia. Lihat, dengar, rasakan. Dan untuk itu, saya ucapkan: selamat mencoba. Selamat mengalami Sonder.

Lost In A World So Small...

Imagine yourself, standing in front of the departure screen at an airport, flickering over with names of strange places, each representing one more thing you’ll never get to see before you die… as the arrow on your GPS map helpfully points out:  you are here.

You were lost at first, but soon began sketching yourself a map of the world. Parting the contours of your life, and like the first explorers, sooner or later you’ll have to contend with the blank spaces on the map. All the experiences you never had. The part of you still aching to know what’s out there…

Eventually these questions take on a way of their own, and began looming over your everyday life.

All the million doors you have to close in order to take a single step forward. All the things you’ve never done, and may never get around to do. All the risks, that may or may not be real. All the destinations that you didn’t buy a ticket to. All the lights you see in the distance that you can only wonder about. All the fantasies that stays dormant inside your head. Everything you have given up to be where you are right now. The questions that you wrongly assumed, or unanswerable.

It’s strange how little of the universe we actually get to see. Strange how many assumptions we have to make in order to get by—stuck in only one body, in only one place at a time… Strange how many excuses we’ve invented to explain why so much of life belong in the background. Strange that any of us could ever feel at home in such an alien world.

We sketch monsters on the map because we find their presence comforting. They guard the edge of the abyss, and force us to look away, so we can live comfortably in the known world (at least, for a little while). But if someone ever to ask you on your deathbed: “what was like to live here on earth?” perhaps the only honest answer would be: “I don’t know. I passed through once, but I’ve never really been there.”


Rabu, 25 November 2015

The Art of Talking Nonsense: Part 2

Girl: I’m having a vagina surgery
Boyfriend: I know
Girl: I love you
Boyfriend: I love you too

*after the surgery she wakes up and only dad is there*

Girl: where is my boyfriend
Dad: who do you think gave you the vagina
Girl: what


Senin, 23 November 2015

Book Review: Balthasar's Odyssey

Cover

“Tahun 1665... desas-desus menyebutkan tentang pertanda turunnya antikristus di tahun mendatang, dan dunia akan berakhir. Balthasar Embriaco, seorang akademisi dan pedagang barang antik bertolak dari tempat kelahirannya untuk mencari sebuah buku langka, yang barangkali saja, merupakan kunci penyelamatan atas dunia yang tengah dilanda kekalutan; sebuah kitab misterius karya Mazandarani yang dikatakan berisi nama Tuhan ke-100. Pencarian itu membawanya melewati negeri yang hancur, kota-kota yang terbakar, dan orang-orang pasrah yang menunggu kiamat. Perjalanan Balthasar mempertemukannya dengan rasa takut, kepalsuan, dan ketidakberdayaan. Namun ia juga menemukan cinta, kesetiaan, dan persahabatan ketika semua harapan seakan-akan pergi meninggalkannya.”

Dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia, buku ini ditambahkan judulnya menjadi Balthasar's Odyssey: Nama Tuhan Keseratus", meskipun judul aslinya hanya "Balthasar's Odyssey". Entah apakah itu cuma akal-akalan penerbit supaya buku ini lebih memiliki nilai jual karena para pembaca Indonesia memang lebih tertarik dengan buku-buku dengan judul bombastis dengan sedikit aroma konspirasi didalamnya. Tapi yang jelas, perubahan judul tersebut sangat menyesatkan! Karena orang-orang malah jadi lebih fokus pada sub-plot kitab mistis gubahan Mazandarani yang dikatakan mengandung nama Tuhan yang keseratus, ketimbang esensi utama yang hendak disampaikan oleh Maalouf; yakni kultur dan identitas. Untunglah saya sudah membaca versi Bahasa Inggrisnya terlebih dahulu, sehingga tidak perlu tersesat dalam distorsi judul yang diubah itu. Jadi, sekali lagi saya tekankan: Kitab Mazandarani, Nama Tuhan yang keseratus, dan prediksi kiamat yang akan jatuh di tahun 1666 itu hanyalah instrumen plot! Catat!

Nah, kembali pada esensi; ketimbang
novel, Balthasar's Odyssey lebih menyerupai upaya penggalian akar identitas dunia modern yang persuasif dan nyaris subjektif. Dalam buku ini, Amin Maalouf bergerak melampaui kultur, keyakinan, dan sejarah dunia, dengan menggaris bawahi tentang bagaimana penekanan atas identitas personal, religi, atau etnis ternyata dapat membangkitkan sebuah kritik moral yang mendalam. 

Petualangan Balthasar Embriaco merupakan sebuah kombinasi antara kronik sejarah dan perspektif kritis atas kultur yang dituturkan dengan sangat fasih. Dengan menarasikan pergulatan yang terjadi antara kultur barat dan arab, Maalouf berhasil melihat sesuatu di balik
Clash of Civilization-nya Samuel Huntington. Kedua kultur tersebut masing-masing memiliki kontinuitas, sejarah, integritas, dan moralitasnya sendiri-sendiri, dan perjalanan Balthasar Embriaco itu sendiri merupakan pengejawantahan sempurna dari konfrontasi antara kedua kultur tersebut.

Melalui buku ini, Maalouf jelas membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang postkolonialis kemarin sore. Dengan penyampaian yang cerdas, runtun, penuh gairah, namun terkontrol, Amin Maalouf berhasil memberikan sebuah visi akan kohesi yang terperbarui dalam penelaahan identitas.

EMPAT SETENGAH bintang.
Not perfect, but worth the read.


Minggu, 22 November 2015

The Art of Talking Nonsense

Apa sih sebetulnya yang disebut common sense itu? Ini pertanyaan super serius, karena seringkali ketika gua menanyakan pendapat sederhana ke orang-orang di sekitar gua, seringnya malah dikasih jawaban yang nonsense, gak masuk akal. Akhirnya gua harus kembali bertanya sama mbah google.

Jadi inget buku lama karya Bergen Evans berjudul The Natural History of Nonsense. Ini handbook kocak khusus buat menjungkir-balikkan segala bentuk pikiran irasional yang kita sebut sebagai common sense. Gua gak akan cerita ini buku tentang apa, tapi menurut gua pribadi, ini buku mestinya jadi bacaan wajib untuk course pemikiran kritis.

Karena itulah mendadak muncul ide brilian di kepala gua: kita harus punya kamus nonsense! Gunanya apa? Ya untuk nge-counter orang-orang yang gak punya common sense itu, lah…

Nih versi gua:


Kurt Cobain
Definisi: Vokalis grup band Nirvana yang meninggal akibat overdosis shotgun.

Che Guevara
Definisi: Ernesto “Che” Guevara, dikenal juga sebagai El Che, adalah agen kaos dari Argentina.

Sphinx
Definisi: Makhluk mitologi berbadan batu, berkepala batu, dan bersayap batu. Pokoknya semuanya dari batu.

Buang-Buang Waktu
Definisi: Hal yang sekarang sedang anda lakukan (kerja kali, malah online).

DJ
Definisi: (Dikenal juga sebagai Disc Jockey) adalah seseorang yang tahu cara membuat playlist di iTunes

Browsing History
Definisi: Direktori di komputer anda yang paling sering dibersihkan.

Sasha Grey
Definisi: Saya tidak tahu itu siapa... atau kenapa dia bisa ada di browsing history saya...

Star Wars
Definisi: Bro! Star Wars brooooooo…! Serius gak tau?

Welcome
Definisi: Welcome adalah merk keset untuk lobi hotel atau pusat perbelanjaan.

Pacar (wanita)
Definisi: Seseorang yang kalau ditanya mau makan apa/dimana selalu menjawab “Gak tau, terserah kamu aja.”

Pacar (pria)
Definisi: Seseorang yang kalau dikasih jawaban “Gak tau, terserah kamu aja,” selalu merespon dengan “Kok terserah aku terus sih?!”

Becak
Definisi: Mode transportasi yang membuat anda merasa seperti sedang dikejar-kejar burung.

Turtleneck
Definisi: Turtleneck adalah sweater yang belum disunat.

Orang Gila
Definisi: Orang yang gagal nyaleg.

Caleg
Definisi: Orang yang gagal gila.

Matematika
Definisi: Pelajaran yang membuat anda percaya seakan-akan menghapal rumus menghitung luas trapesium akan berguna bagi kehidupan anda di masa depan nanti.

Psikologi
Definisi: Jurusan yang paling banyak dipilih oleh cewek-cewek cakep.

Komunikasi
Definisi: Jurusan yang paling banyak dipilih oleh cewek-cewek cakep dan cowok-cowok homo.

Hubungan Internasional
Definisi: Jurusan yang paling banyak dipilih oleh cowok-cowok yang pengen ngegebet anak komunikasi.

Ilmu Politik
Definisi: Jurusan yang paling banyak dipilih oleh orang-orang yang gagal masuk HI.

Kedokteran
Definisi: Jurusan yang paling banyak dipilih oleh orang-orang yang tulisannya jelek.

Farmasi
Definisi: Jurusan yang mempelajari cara membaca tulisan tangan anak kedokteran.

Alay
Definisi: Agama baru yang populer di kalangan remaja labil; nyembah pipa paralon.

Operasi Plastik
Definisi: Prosedur operasi untuk merubah orang bermuka jelek menjadi orang bermuka aneh.

Mencontek
Definisi: Belajar di saat ujian sedang berlangsung

Habib Rizieq
Definisi: Tokoh FPI (Front Pembela Islam) yang bila anda bertanya maka dia akan menjawab.

Tubeless
Definisi: Marga orang-orang batak yang berprofesi sebagai tukang tambal ban.

Vokalis
Definisi: Personil dari sebuah kelompok band yang merasa suaranya paling bagus.

Gitaris
Definisi: Personil dari sebuah kelompok band yang paling banyak gaya.

Bassist
Definisi: Personil dari sebuah kelompok band yang kurang jago main gitar tapi tetep pengen ngeband.

Drummer
Definisi: Personil dari sebuah kelompok band yang sebetulnya punya suara paling keren tapi bermuka kurang kece untuk jadi vokalis.

Keyboardist
Definisi: Personil dari sebuah kelompok band yang kemungkinan besar penyuka sesama jenis.

Manajer Band
Definisi: Personil yang bukan anggota band tapi merasa dirinya paling penting.

Indonesia
Definisi: Tempat dimana anak yatim dan kaum miskin diurus oleh negara dan negara diurus oleh orang-orang dungu.

Homoseksual
Definisi: Kelainan medis yang membuat jari kelingking tidak bisa menekuk.

Internet Explorer
Definisi: Piranti lunak Windows yang berfungsi untuk mengunduh Google Chrome atau Mozilla Firefox.

Kelimis
Definisi: keliatan miskin.

Popcorn
Definisi: Makanan ringan yang yang membuat hubungan anda dan pacar anda di dalam bioskop menjadi lebih harmonis.

Penjual Popcorn
Definisi: Orang yang peduli dengan keharmonisan hubungan anda (makanya dia jualan popcorn).

SIM
Definisi: Kependekan dari SIMSALABIM *sambil ngeluarin Rp20.000*

Copy/Paste
Definisi: Metode penulisan makalah deadline yang populer di kalangan mahasiswa.

Rhoma Irama
Definisi: Calon Presiden RI yang gagal menjadi calon presiden RI.

Smartphone
Definisi: Perangkat telepon pintar yang lebih pintar dari rata-rata penggunanya.

Tongsis
Definisi: Tongsis (tongkat narsis) adalah stick golf yang kurang efektif.

Kameha-meha
Definisi: Jurus imajiner dari kartun Dragon Ball yang pasti pernah anda coba praktekkan minimal sekali dalam hidup anda (ngaku aja, pernah kaaan).

Gucci
Definisi: Merk baju buatan Cina yang menjadi seragam resmi mbak-mbak ITC.

Skripsi
Definisi: Karya tulis ilmiah yang tujuan utamanya adalah menuh-menuhin perpustakaan fakultas.

Peta
Definisi: Representasi skematis area di mana anda nyasar.

SBY
Definisi: Musisi gagal yang nyambi presiden RI ke-6.


Huff…

*I am so clever that sometimes I don’t understand a single word of what I’m saying*