Minggu sore.
Orang-orang berjalan di sepanjang trotoar, mengenakan pakaian santai khusus
hari minggu, memenuhi diri dengan bekal santap malam. Mereka berbicara lembut
di tengah gemericik suara sungai. Toko-toko telah tutup. Tiga perempuan
berjalan di depan deretan toko, berhenti membaca iklan, berhenti untuk melongok
ke arah etalase, berjalan dalam diam. Pemilik losmen mengosok telapak kakinya,
duduk dan membaca koran, bersandar pada tembok batu dan menutup matanya.
Jalanan telah tidur. Kota telah terlelap, dan di udara mengambang suara biola.
Di tengah suatu
ruangan, dengan buku-buku di atas meja, seorang lelaki berdiri memainkan
biolanya. Ia mencintai biolanya. Ia memainkan nada-nada yang sendu. Saat
bermain, ia menatap ke arah jalanan di bawah, memandang sepasang kekasih yang
sedang berpelukan, memperhatikan dengan mata coklatnya, kemudian pandangannya
beralih. Musiknya kini adalah satu-satunya gerakan, memenuhui ruangan. Ia
berdiri tegak dan pikirannya melayang kepada istri dan bayi lelakinya yang berada
di kamar di lantai bawah.
Bersamaan dengan
gesekan biola lelaki itu, seorang lelaki lain yang identik dengannya berdiri di
tengah ruangan dan memainkan biolanya. Lelaki lain itu menatap ke arah jalanan
di bawah, memandang seorang kekasih yang sedang berpelukan, mengalihkan perhatian,
dan berpikir tentang istri dan bayi lelakinya. Bersamaan dengan permainan biola
lelaki kedua, lelaki ketiga berdiri dan berdiri di tengah kamar dan memainkan
biolanya. Sesungguhnya, ada lelaki keempat dan kelima, bahkan jumlah lelaki
muda yang berdiri di tengah kamar dan memainkan biolanya tak terhitung. Jumlah
melodi dan pikiran tak terbatas. Ketika para lelaki muda itu memainkan
biolanya, waktu satu jam ini bukan lagi satu jam, melainkan beberapa jam.
Sebab, waktu seperti cahaya di antara dua cermin. Memantul ke depan dan ke
belakang, menghasilkan bayangan, melodi, pikiran dalam jumlah yang tak
terhingga. Inilah dunia penggandaan yang tak terbatas.
Saat berpikir, lelaki
pertama merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain. Ia merasakan musik dan
pikiran mereka. ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Merasakan kamar dan
buku-bukunya ribuan kali. Ia merasakan pikirannya berulang. Haruskah ia
meninggalkan istrinya? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik, ketika
perempuan itu menatapnya dari seberang meja? Bagaimana dengan rambutnya yang
panjang terurai? Tapi, kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu
untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain satu jam ini dengan memainkan
biolanya?
Ia merasakan hal
lain. Ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Pengulangan mana yang
benar-benar miliknya, yang mana dirinya yang sejati, yang mana masa depannya
sendiri? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik? Kebahagiaan apa
yang telah diberikan perempuan itu untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain
satu jam ini dengan memainkan biolanya? Pikirannya memantul maju-mundur di
antara penggandaan dirinya, dan kian melemah pada tiap pantulan. Haruskah ia
meninggalkan istrinya? Kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu
untuknya? apakah rasa hampa? Pikirannya kian meredup pada tiap pantulan.
Kebahagiaan apa yang telah diberikan untuknya? Bukankah hanya rasa hampa?
Pikirannya semakin meredup hingga ia nyaris tidak ingat lagi
pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan mengapa pertanyaan-pertanyaan itu
muncul. Bukankah hanya rasa hampa?
Musik lelaki pertama
itu mengambang dan memenuhi ruangan, dan ketika waktu berlalu dalam jumlah yang
tak terhingga, ia hanya mengenang musik.