Senin, 25 November 2013

Anomie

 “Waktu itu saya baru keluar penjara, selesai dihukum 3 bulan gara-gara nyolong sepeda karena nggak punya uang. Pas sampai di rumah, istri malah ngelempar baju-baju saya ke muka saya. Katanya: “Ngapain lu balik lagi kesini, maling?! Gue nggak butuh elu! Anak-anak malu punya bapak kayak elu! Mending ngilang aja lu, sana!” Habis itu saya pergi. Tetangga pada buang muka pas ngeliat saya, Sanak famili juga sungkan nampung. Saya coba cari kerja, tapi nggak ada yang mau nerima mantan narapidana jadi karyawan. Waktu itu saya benar-benar kacau. Sempat mau ngemis tapi saya masih punya harga diri... Frustasi, akhirnya saya milih nyolong lagi. Kali ini motor. Saya ketangkap dan dipukuli, terus dimasukin ke penjara lagi. Jujur, saya nggak kuat, nggak diterima di mana-mana... Penjara akhirnya jadi satu-satunya tempat pulang buat saya...”

-Marjuki Nasir, 38 tahun, Narapidana-

Frustasi. Itulah hal yang berkecamuk di benak Marjuki Nasir dalam sesi wawancara di Lapas Kelas 1 Cipinang. Ia bertutur dengan sorot mata layu sembari tak henti menghisap rokok yang disediakan pewawancara. Bagi Marjuki, ‘Narapidana’ adalah sebuah identitas masa lalu yang tidak mudah untuk dihila/ngkan: “Sekali narapidana, akan selalu menjadi narapidana,” sebuah label yang terus menempel layaknya selembar kain perca yang harus dikenakan oleh Marjuki sepanjang hidupnya: buruk, usang, namun begitu berat untuk ditanggalkan.

Kasus Marjuki sendiri sesungguhnya adalah cerminan wajah buram masyarakat kelas bawah di Indonesia. Dari keseluruhan tindak kejahatan yang tercatat di tahun 2012, 68% diantaranya merupakan kasus pencurian (dengan maupun tanpa kekerasan). Dan dari seluruh kasus pencurian tersebut, 78% diantaranya melibatkan pelaku yang berasal dari golongan ekonomi bawah (berpenghasilan dibawah Rp 1.000.000,-).

Kejahatan di tingkat grassroot—bila ditilik dari kacamata institusionalis—merupakan ekses dari kontradiksi nilai dan norma yang terjadi di masyarakat, yakni kontradiksi antara aspirasi normatif dengan tidak tersedianya cara legal untuk mencapai tujuan yang secara kutural dianggap bernilai. Inilah yang kemudian oleh Robert K. Merton definisikan sebagai Anomi.

Merton berfokus kepada ide bahwa kesuksesan adalah tujuan utama yang berusaha dicapai oleh individu. Hampir semua orang diharapkan untuk berupaya dan berhasil mencapai kesuksesan—baik secara material atau tidak. Meskipun begitu, sistem ekonomi kapitalistik didasari oleh ketidaksetaraan, sehingga tidak semua orang berhasil mencapai kesuksesan tersebut. Menurut Merton, para individu yang tidak memiliki akses terhadap cara legal menuju kesuksesan cenderung terdorong untuk mencapainya menggunakan cara yang tidak legal. Merton menyebut kesenjangan ini sebagai Anomi. Semakin besar tingkat Anomi yang terjadi di masyarakat, semakin tinggi juga tingkat kejahatan.

Dalam perspektif Merton, individu-individu dari kelas bawah lebih sering tidak memiliki akses terhadap cara legal untuk mencapai sukses, sehingga memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menjadi pelaku tindak kejahatan. Gambaran ini konsisten dengan imej yang dibangun oleh statistik dan media. Maka secara esensial, argumen utama dari teori ini adalah bahwa: penyebab terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah (seperti mencuri, merampok, terlibat dalam kejahatan terorganisir, dll.) adalah kondisi sosial yang ditandai oleh inkonsistensi antara penekanan berlebihan masyarakat atas ‘kesuksesan’ dengan kurangnya penekanan atas penggunaan ‘cara legal’ untuk mencapainya.

Meskipun begitu, paradigma yang dikemukakan oleh Merton masih dianggap belum cukup untuk bisa menjelaskan anomi dari perspektif kultural. Maka Messner dan Rosenfeld mengembangkan perspektif Merton dengan mengintegrasikan pola penelitian baru dengan memecah ketimpangan yang dikemukakan Merton ke dalam kualifikasi yang lebih mendetail. Messner dan Rosenfeld menyatakan bahwa “Ketimpangan yang dikemukakan Merton dipicu oleh disparitas kultural yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara norma-norma yang ada di masyarakat.” Messner dan Rosenfeld menyebut pengembangan ini sebagai Institutional Anomie.

Dalam perspektif mereka, Messner dan Rosenfeld membagi struktur sosial di masyarakat ke dalam empat institusi: Institusi Ekonomi, Institusi Keluarga, Institusi Pendidikan, dan Institusi Pemerintahan. Dalam sebuah masyarakat yang ideal, keempat institusi tersebut berjalan dalam kekuatan yang seimbang dan membentuk struktur norma sosial yang berjalan dengan baik. Namun dalam penelitian mereka, Messner dan Rosenfeld menemukan bahwa pada sebuah masyarakat yang terintegrasi dengan pola serta sistem ekonomi pasar bebas, maka institusi ekonomi cenderung mendominasi dan menyebabkan ketidakseimbangan kekuatan antara institusi-institusi nilai yang ada, dan mengurangi kontrol sosial atas perilaku individu-individu di masyarakat.

Krisis multidimensional yang menghantam Indonesia di tahun 1997 telah merubah begitu banyak struktur fundamental yang mengikat masyarakat. Masyarakat secara depresiatif semakin kehilangan kepercayaan atas pemerintah, muncul ketidakpuasan atas kondisi kehidupan, dan semakin pesimis untuk bisa meningkatkan kualitas hidup di masa depan, yang kemudian menimbulkan keresahan di masyarakat karena norma dan nilai yang ada dianggap tidak mampu lagi digunakan sebagai alat interpretasi terhadap beragam gejala dalam banyak proses perubahan sosial yang berlangsung. Hal ini tentunya mempengaruhi banyak arena dimana masyarakat beroperasi: fundamen ekonomi, struktur nilai, cara hidup, pola interpretasi atas realita, dan relasi antar unit sosial.

Argumen mengenai meluasnya anomi di Indonesia pada umumnya berfokus tentang bagaimana proses modernisasi ekonomi, sosial, dan politik mempengaruhi keberlangsungan struktur sosial dan kapasitas integratif masyarakat. Dalam konteks ini, sesungguhnya bukanlah perubahan sosial yang mempengaruhi stabilitas masyarakat, melainkan ketidakmampuan individu dalam mengikuti perubahan sosial. Absennya sikap kognitif tertentu dalam menyikapi perubahan sosial pada gilirannya bisa menjadi faktor utama yang membuat anomi sosial semakin meluas. Gejala disorientasi dan social insecurity di masyarakat tidak semata-mata berangkat dari fakta objektif, melainkan dari interpretasi masyarakat itu sendiri mengenai perubahan dalam pola-pola sosial dan kultural. Sejalan dengan kerangka tersebut, maka ekses buruk dari perubahan sosial bisa diasosiasikan dengan hilangnya konsep yang valid mengenai sikap dan interpretasi atas realita—dan di saat yang sama, absennya norma baru yang diperlukan untuk membimbing masyarakat.

Pasca kejatuhan rezim orde baru, masyarakat tidak hanya dihadapkan pada perubahan politik, tetapi juga terhadap transformasi fundamental dari sistem sosial-ekonomi. Pergeseran dari model ekonomi terkomando ke arah ekonomi yang liberal telah membawa perubahan tidak hanya pada level institusional, tetapi juga pada pola hidup yang dijalani oleh masyarakat. Salah satu fakta spesifik mengenai transformasi di Indonesia adalah ketidaksiapan masyarakat atas cepatnya perubahan yang terjadi. Di level makro, gejala anomi bisa dilihat dari menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini kemudian memunculkan social insecurity yang terlihat jelas pada golongan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, pengangguran, dan individu-individu yang hidup di bawah tekanan ekonomi. Oleh sebab itulah masyarakat kelas bawah lebih rentan untuk mengalami anomi.

Situasi Marjuki Nasir yang dijelaskan di awal tadi merupakan sebuah potret sempurna dari social insecurity yang merajalela di lingkup masyarakat kelas bawah. Bagaimana tidak: Marjuki lulusan SD, berpenghasilan kurang dari Rp 900.000, bekerja serabutan, dan memiliki beban berupa seorang istri dan dua orang anak.

Kisah Marjuki Nasir sesungguhnya konsisten dengan gambaran statistik mengenai pelaku tindak kejahatan pencurian di Indonesia: 54,4% diantaranya berpendidikan kurang dari atau setara SMP; 50% pelaku berpenghasilan di bawah satu juta rupiah, dan separuhnya bahkan tidak mencapai angka Rp 200.000,- perbulan. Bandingkan dengan rerata kebutuhan hidup nasional sebesar Rp 1.000.000 perbulan.

Jika diproyeksikan dengan hasil yang didapatkan oleh pelaku dari tiap pencurian, lebih dari setengahnya mendapatkan kisaran 1-2 juta rupiah dari tiap tindak pencurian. Dari sebaran angka yang tercatat, perbandingan persentase antara pendapatan hasil mencuri dengan pendapatan halal bulanan menunjukkan bahwa memang terdapat peningkatan yang signifikan dari hasil tindak pidana pencurian. Jika angka ini kemudian disandingkan dengan fakta bahwa lebih dari 60% pelaku menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan hidup, maka memang bisa dikatakan bahwa tindak pencurian yang dilakukan oleh pelaku secara umum merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan hidup.

Social insecurity kemudian menjadi anasir utama dalam menjelaskan anomi di masyarakat kelas bawah. Normalnya, seseorang dengan kepastian kerja dan pendapatan bulanan yang mencukupi cenderung memiliki tendensi untuk menjalani hidup sejalan dengan norma hukum dan sosial yang berlaku di masyarakat. Namun ceritanya akan berbeda dengan tidak adanya lapangan kerja.

Dalam kaitannya dengan rasa keamanan sosial, pekerjaan merupakan aspek penentu baik dalam keberlangsungan individu maupun institusi keluarga. Jumlah pengangguran di akhir tahun 2012 tercatat sebesar 18 juta orang. Bandingkan dengan kapasitas pemerintah yang “hanya” mampu menciptakan 2,5 juta lapangan kerja setiap tahunnya, yang artinya setiap tahun terdapat lebih dari 15 juta pengangguran tanpa adanya lapangan kerja untuk mengimbangi jumlah tersebut. Maka, social insecurity menjadi sebuah ancaman yang nyata di kalangan masyarakat bawah.

Satu hal yang menarik dari konteks Indonesia adalah bahwa social insecurity tersebut secara umum didasari oleh minim/tidak adanya pendapatan. Ditambah lagi dengan adanya preposisi bahwa “jika saya memiliki uang, maka saya akan lebih dihormati di masyarakat,” atau “saya merasa tidak signifikan jika saya miskin,” yang dianut oleh masyarakat. Memang, dalam konteks perubahan sosial yang terjadi pasca reformasi, uang kemudian menjadi isu sentral dalam banyak persoalan. Melemahnya nilai rupiah dan anjloknya neraca ekspor memainkan peranan esensial dalam kasus ini, mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat, dan menyempitnya lapangan pekerjaan.

Karena itulah terjadi pergeseran titik kesetimbangan antara institusi-institusi nilai yang ada di masyarakat: institusi ekonomi kemudian menjadi institusi dominan yang menelusup ke dalam institusi-institusi nilai lainnya (politik, sosial, keluarga, agama, dll.), mendorong bangkitnya sebuah bangun norma yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam ekuilibrium sosial masyarakat Indonesia: struktur sosial baru yang dikuasai oleh uang.

Dalam bangun sosial baru tersebut tentu saja terjadi pergeseran nilai-nilai besar. Masyarakat miskin mencuri kendaraan bermotor, Televisi LCD, smartphone: barang-barang yang tidak mereka butuhkan. Mengapa? Karena itulah syarat untuk menjadi manusia Indonesia di zaman sekarang. Itu  juga yang dikejar oleh masyarakat kelas bawah untuk bisa naik ke kelas atas, dan privilege yang sama pulalah yang dipertahankan oleh kelas atas. Tidak peduli kalau harus sampai menghisap darah manusia lain. Inilah struktur baru yang berlaku; inilah bentuk kanibalisme modern.

Maka, meski tanpa kampanye otonomi khusus, hukum dalam bentuknya yang paling primitif, yaitu hukum rimba, sesungguhnya tetap berlaku. Kita membiarkannya berlaku.

Tapi, seperti kalimat klise yang berbunyi “Setiap orang punya batas”, kita juga punya. Lucunya, eksistensi bodoh masyarakat kita selalu saja mendorong batas itu sehingga apa yang kita kira batas kita hari ini ternyata masih punya ujung baru di keesokan harinya. Sama liciknya seperti stiker di angkot; “hari ini bayar besok gratis,” Manusia yang selalu hidup di benang perbatasan antara waras dan gila, antara kata mutiara dan umpatan durjana, adalah manusia-manusia paling kesepian, sementara lautan manusia lainnya hidup di area wajar-wajar saja. Tapi jelas itu bukan Marjuki Nasir, atau napi-napi yang lain.

Tapi kita sama-sama manusia. Atau... bukan?

Rabu, 16 Oktober 2013

#Imaginarium 09.

Ngomong-ngomong soal kurban...
Sejak kecil saya menghindari keluar rumah pada hari raya Kurban. Terutama pada jam-jam ketika hewan-hewan disembelih. Ada rasa tidak tega melihat kambing dan sapi, yang sepekan menjelang perayaan telah berkemah dekat rumah, dipotong bergiliran. Lagipula, penyembelihan massal di ruang publik cukup menakutkan bagi saya. Ketika saya masih kecil dan peka, mendengar pengumuman giliran pemotongan saja sudah cukup menakutkan. Saya membayangkan diri sebagai domba-domba itu. Nama pemilik saya dipanggil, itu berarti giliran disembelih. Begitulah, saya selalu bersembunyi di rumah sampai tak terdengar lagi pemanggilan kambing atau sapi Tuan ini Tuan itu.

Tapi, kemudian ada beberapa hal mengubah persepsi saya. Pertama, tentu saja saya menjadi dewasa dan bisa berpikir. Termasuk berpikir mengenai ketakutan saya. Kedua, seorang teman bercerita bahwa ada anak urban yang tidak tahu bahwa dada goreng KFC nan gurih kriuk yang ia makan itu berasal dari makhluk bernama ayam. Ada anak yang tak pernah melihat ayam hidup sehingga, ketika si bocah pergi ke sebuah restoran pinggir kota dengan saung dan ayam-ayam berlarian di pelataran, takjublah bocah itu seperti melihat dinosaurus.

Modernitas memisahkan kita dari "kekerasan yang niscaya"
Tak dengan sendirinya anak kota bisa menarik hubungan antara daging yang telah dikemas di supermarket dengan hewan hidup. Tak dengan sendirinya anak kota mengerti bahwa daging berasal dari hewan yang disembelih. Orang modern terpisah dari "kekerasan". Kekerasan yang niscaya bagi kehidupan. Ialah, bahwa kita harus hidup dengan membunuh yang lain—yaitu, makanan kita. Peradaban modern memisahkan ternak dari pekarangan sehingga manusia tidak hidup bersama calon makanannya. Peradaban modern mengatur spesialisasi kerja, sehingga ibu (atau siapapun yang bertugas masak) tak harus membunuh lalu membului ayam, menyisiki ikan di rumah. Semua telah dikerjakan pegawai pemotongan dan supermarket. Kita tinggal terima bersih. Dalam kemasan styrofoam dan plastik.

Pengalaman dengan kekerasan memang bisa sangat traumatis. Saya ingat, saya tak mau makan ayam sampai usia sepuluh tahun. Kata Ibu, itu karena waktu kecil saya melihat ayam disembelih, dibersihkan, dan dikeluarkan jeroannya. Dan memang, salah satu mimpi buruk saya di usia SD adalah ini: melihat piring berisi ati ampela terbang-terbang mendekati saya. Sungguh. Itu mimpi buruk yang kerap muncul di sakit panas.

Saya adalah produk lama. Sebelum ada Carefour, Hero, Foodhall dan lain-lainnya. Saya masih bertumbuh dengan ibu membersihkan ikan dan saya tertarik sekaligus ngeri pada gelembung udara yang semula tersimpan rapi di tubuh ikan. Saya mencoba memainkannya sebentar sebelum Ibu memberikannya kepada kucing. Tentu saja setelah itu saya cepat-cepat cuci tangan demi menghilangkan amis dari jari-jemari.

Kini telah ada segala supermarket yang dengan sukses memisahkan manusia dan kekerasaan yang niscaya itu. Anak-anak tak harus mengalami trauma yang saya alami ketika melihat ayam disembelih. Tapi, sesungguhnya, ada yang hilang juga dari "kebersihan" modern ini. Ada yang hilang. Yaitu pengertian bahwa kita hidup di atas kekerasan terhadap yang lain. Kekerasaan yang niscaya. Kita hidup di atas korban.  Ada yang harus mati demi kehidupan kita. Inilah pengalaman yang hilang oleh modernitas.

Pengalaman dengan kekerasan yang niscaya itu memang traumatis, seperti yang saya alami. Tapi menghilangkannya juga mencerabut kita dari pengertian mengenai dunia dan kehidupan (serta kematian). Seharusnya, pengalaman dengan kekerasan yang niscaya membuat manusia lebih menghargai sakralnya hidup. Sakral, kata ini, berasal dari bahasa Latin. Artinya, kudus, suci. Sacrifice berarti kurban. 

Bagi saya yang sekular hidup ini sakral karena ada penderitaan dan kematian yang di atasnya hidup kita berdiri. Jika itu bukan penderitaan ibunda yang melahirkan kita, maka itu adalah kematian segala hewan (dan mungkin segala hasil alam) yang kita makan. Dan karena itu hidup itu berharga. Bukan karena bernilai. Tapi karena ada harga yang dibayar pihak lain bagi kehidupan kita.

Kembali kepada hari raya Kurban. Tidakkah sesungguhnya kita semakin membutuhkannya di era modern ini. Era yang memisahkan manusia dari kekerasan yang niscaya. Yang memisahkan publik dari pengalaman melahirkan, menyusui, atau memelihara ternak. Kurban mendamaikan kembali perpisahan itu, mempertemukan kembali kita pada wajah-wajah yang membayar bagi kehidupan kita.


Senin, 14 Oktober 2013

Percakapan Pagi

A: Seandainya hidup ini adalah kesedihan, maka ia adalah sesuatu yang menunda kesedihan dengan kebahagiaan. Saat itu aku bangga sekali dengan cara Tuhan dalam membahagiakan umat-Nya. Ia tak menjawab semua doaku. Ia cuma mengantarkanmu ke depanku. Saat itu aku sadar, bahwa Ia berbicara padaku melalui kamu.

B: Ah, tetapi bukankah Tuhan berbicara melalui banyak hal? Lewat setiap molekul... setiap gerakan... ia berbisik di antara kata-kata yang kita ucapkan, mendaraskan setitik kebenaran dalam tiap-tiap harap yang kita buat. Bukankah Tuhan ada dalam diri kita masing-masing? Sebab aku melihat-Nya saat menatap ke dalam matamu... dan ketika itulah aku percaya, bahwa kamu adalah jawaban dari setiap doa malamku.

Sungguh, tak pernah sekalipun aku meragukan universalitas Tuhan, meskipun, untuk menyebut namaNya aku bersujud dan engkau berlutut...


Jumat, 11 Oktober 2013

#Amrita 021

Memejamkan mata adalah caraku membiarkanmu bermain di benakku. Sedangkan tidur adalah caraku berhenti merindukanmu, sejenak, untuk kemudian kembali menemukanmu, di benakku. Sederhana. Ya, sesederhana itu.

Minggu, 25 Agustus 2013

#Amrita 020

teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari
hati-hati di jalan pulang, sayang
kabari aku nanti

aku baru menyadari
masing-masing kita tak pernah pulang
bagaimana bisa, bila rumah itu
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?


Kamis, 08 Agustus 2013

...

doa-doa
adalah bait puisi yang melantunkan malam
larik-larik sunyi diarak bagai pawai takbir
malam ini, aku terus menulis
sujudku yang tipis

Jumat, 02 Agustus 2013

#Imaginarium 08.

Minggu sore. Orang-orang berjalan di sepanjang trotoar, mengenakan pakaian santai khusus hari minggu, memenuhi diri dengan bekal santap malam. Mereka berbicara lembut di tengah gemericik suara sungai. Toko-toko telah tutup. Tiga perempuan berjalan di depan deretan toko, berhenti membaca iklan, berhenti untuk melongok ke arah etalase, berjalan dalam diam. Pemilik losmen mengosok telapak kakinya, duduk dan membaca koran, bersandar pada tembok batu dan menutup matanya. Jalanan telah tidur. Kota telah terlelap, dan di udara mengambang suara biola.

Di tengah suatu ruangan, dengan buku-buku di atas meja, seorang lelaki berdiri memainkan biolanya. Ia mencintai biolanya. Ia memainkan nada-nada yang sendu. Saat bermain, ia menatap ke arah jalanan di bawah, memandang sepasang kekasih yang sedang berpelukan, memperhatikan dengan mata coklatnya, kemudian pandangannya beralih. Musiknya kini adalah satu-satunya gerakan, memenuhui ruangan. Ia berdiri tegak dan pikirannya melayang kepada istri dan bayi lelakinya yang berada di kamar di lantai bawah.

Bersamaan dengan gesekan biola lelaki itu, seorang lelaki lain yang identik dengannya berdiri di tengah ruangan dan memainkan biolanya. Lelaki lain itu menatap ke arah jalanan di bawah, memandang seorang kekasih yang sedang berpelukan, mengalihkan perhatian, dan berpikir tentang istri dan bayi lelakinya. Bersamaan dengan permainan biola lelaki kedua, lelaki ketiga berdiri dan berdiri di tengah kamar dan memainkan biolanya. Sesungguhnya, ada lelaki keempat dan kelima, bahkan jumlah lelaki muda yang berdiri di tengah kamar dan memainkan biolanya tak terhitung. Jumlah melodi dan pikiran tak terbatas. Ketika para lelaki muda itu memainkan biolanya, waktu satu jam ini bukan lagi satu jam, melainkan beberapa jam. Sebab, waktu seperti cahaya di antara dua cermin. Memantul ke depan dan ke belakang, menghasilkan bayangan, melodi, pikiran dalam jumlah yang tak terhingga. Inilah dunia penggandaan yang tak terbatas.

Saat berpikir, lelaki pertama merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain. Ia merasakan musik dan pikiran mereka. ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Merasakan kamar dan buku-bukunya ribuan kali. Ia merasakan pikirannya berulang. Haruskah ia meninggalkan istrinya? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik, ketika perempuan itu menatapnya dari seberang meja? Bagaimana dengan rambutnya yang panjang terurai? Tapi, kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain satu jam ini dengan memainkan biolanya?

Ia merasakan hal lain. Ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Pengulangan mana yang benar-benar miliknya, yang mana dirinya yang sejati, yang mana masa depannya sendiri? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik? Kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain satu jam ini dengan memainkan biolanya? Pikirannya memantul maju-mundur di antara penggandaan dirinya, dan kian melemah pada tiap pantulan. Haruskah ia meninggalkan istrinya? Kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? apakah rasa hampa? Pikirannya kian meredup pada tiap pantulan. Kebahagiaan apa yang telah diberikan untuknya? Bukankah hanya rasa hampa? Pikirannya semakin meredup hingga ia nyaris tidak ingat lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Bukankah hanya rasa hampa?

Musik lelaki pertama itu mengambang dan memenuhi ruangan, dan ketika waktu berlalu dalam jumlah yang tak terhingga, ia hanya mengenang musik.


Selasa, 30 Juli 2013

Tahukah kalian kenapa pembagian vertikal jauh lebih masuk akal ketimbang pembagian horizontal?

...kalian mengajar tabik dengan tangan kanan dan menyebutnya sopan, tetapi manusia cukup dengan sisi kirinya saja sebab jantung ada di dada kiri dan cebok lebih penting ketimbang salaman, sebab yang pertama adalah demi kebersihan sementara yang terakhir hanya demi basa-basi. Jangan pisahkan langit dan bumi tapi bagilah kiri dan kanan, sebab kakimu tak akan bisa berjalan tanpa kepala namun kepalamu juga akan njeblug keracunan kalau tidak ada dubur atau liang kemih untuk membuang kotoran. Atas dan bawah adalah bagian tak terpisahkan, tetapi kanan dan kiri bisa hidup sendiri-sendiri.

Jika kau memilah atas dan bawah, maka kau memisahkan, namun bagilah kiri dan kanan, maka kau menggandakan.

Rabu, 17 Juli 2013

#Amrita 19.

Aku terjaga pada bau tubuhmu
malam usang,
keberjarakan semu
:melatonin yang lamat-lamat

Rikuh pada sebentuk ingin untuk memelukmu

Ah...
sungguh ekstase yang sekaligus menyakitkan


#Amrita 18.

Prafrasekan cerita kita
habislah kertas dalam buku
dan aksara dalam diksi

pijaran kita terlalu indah
untuk mengenal eufemisme...

...apalagi tautologi yang sedemikian degradatif


Minggu, 07 Juli 2013

#Amrita 17.

Cobalah rehat sejenak dan lihat ke belakang... hitung berapa banyak langkah yang sudah kita tempuh. Seberapa jauh jarak yang telah kita lalui di jalan setapak ini? Sepuluh langkah? Dua puluh langkah? Seribu mil? Entahlah... apapun itu, saya senang melakukan perjalanan bersama anda. Dan jujur saja (tanpa maksud untuk memuji) anda adalah rekan seperjalanan yang mengasyikan. Buktinya saya belum bosan sampai detik ini, dan saya juga bisa melihat anda belum bosan. Jadi sepertinya sih sah-sah saja untuk mengklaim bahwa saya juga teman seperjalanan yang mengasyikan.

Tapi sejujurnya... saya tidak bisa melihat kemana jalan setapak ini akan berlanjut. Terlalu banyak perdu dan kerimbunan belukar yang membentang di depan sana. Belum lagi ditambah dengan kabut yang senantiasa turun menghalangi pandangan, membuat kita sulit untuk menapaki langkah. Namun tak apa, saya tidak takut tersesat. Lagipula, bukankah memang itu tujuan kita? Untuk tersesat bersama-sama? Sebab hanya dengan tersesatlah kita bisa menemukan tempat yang tidak diketahui orang lain.

Dan kalau ternyata di depan sana tidak ada jalan, maka saya akan membuat jalan itu. Untuk anda. Untuk kita. Batu demi batu, kalau perlu—sampai terbentang jalan yang bisa kita lalui. Mengapa? Sebab saya percaya, di depan sana akan ada suatu tempat yang mempertemukan kita dengan keluasan alam. Sebuah tempat dimana kita bisa beristirahat sejenak, mengistirahatkan hati yang lelah, untuk kemudian kembali meneruskan perjalanan menuju tempat yang tidak kita ketahui; sebuah tempat tak bernama, namun terasa ada.

Tetapi barangkali saya tidak butuh alasan. Tidak. Saya sudah berhenti bertanya sejak lama berselang. Sebab pertanyaan formalis macam ‘mengapa?’ atau ‘untuk apa?’ sudah terlanjur salah kaprah untuk kita. Sebab ternyata kita sudah demikian keposmo-posmoan lebih dari yang kita duga sebelumnya. Ibaratnya partikel, kita adalah pasangan quark dan boson: kombinasi atraktor asing yang cuma bisa ketemu di dalam ruang kuantum komplementer, lalu melesat cepat dalam trajektori yang tidak mampu diprediksi, untuk kemudian bermultiplikasi menciptakan probabilitas-probabilitas mikro yang tak terhingga jumlahnya. That’s right, they’re Big Bang Theorems in molecular scale!

Buat saya pribadi, yang saya tuju bukanlah lokasi atau tempat tujuan tertentu, melainkan perjalanan itu sendiri. Dan disinilah saya sekarang, di tempat seharusnya saya berada: di sisi anda, berjalan berdampingan sembari mengikutsertakan rasa percaya dalam setiap langkah. Saya pergi, untuk pulang kepada sebuah perjalanan. Untuk menjalaninya bersama anda, menapaki jalan setapak mungil milik kita.

Dan dari segala bentuk kemungkinan yang ada, tak pernah sekalipun anda menjadi pertanyaan.
Anda adalah alasan.

Alasan saya bertahan...


Senin, 01 Juli 2013

Story of A Guy With A Slightly Rectangular Pants

I’m fucking sick of my life... I’m almost 20 and haven’t been able to score a better job than a fucking cook at a local fast food restaurant. I live in a small town, so business is pretty limited, and where I work is the only place that’ll hire highschool graduate. The work pressure is almost unbearable, and if I protest about my pay to my stingy, asshole boss, he would probably just cut my already shitty pay...

I’d get the hell out of this town if I could drive, but I’ve failed every damn test I’ve ever taken. I’m socially awkward, even my only other co-worker fucking hates my guts. He never stop making fun of me, saying that I’m stupid, useless, miserable, and helpless beyond belief... And my only real friend is an idiot with IQ lower than an arthropod, a mentally retarded imbecile, who I’m pretty sure is only hanging around because he’s the only one that can tolerate me...

And you know what makes all this fucking worse...?

...I live in a pineapple under the sea...


Jumat, 07 Juni 2013

The Grey

Once more into the Fray
Into the last good fight I'll ever know
Live and die on this day
Live and die on this day

Sesungguhnya, ada perbedaan besar antara ‘abadi’ dan ‘kekal’...

...begini, meja di ruang tamu anda itu ‘abadi’. Dia tidak bisa dibunuh, tetapi suatu saat bisa musnah entah karena dimakan rayap atau bencana alam, anda tentu saja bisa memesan meja baru lainnya. Maka, meja ruang tamu anda bersifat ‘abadi’ dan bukan ‘kekal’. Yang ‘kekal’ adalah ide mengenai meja itu sendiri, dia akan terus hidup dan hadir di tataran entropi, tidak bisa dihancurkan atau dimusnahkan, dia akan terus berevolusi dengan logika perpetuasinya sendiri: meja dengan empat kaki, tiga kaki, dua kaki, satu kaki, atau tanpa kaki sekalipun. Namun kebenaran yang tak terbantahkan adalah bahwa dia tetap sebuah meja, meski hadir dalam begitu banyak paradigma; sebuah kekekalan yang utuh.

Pada akhirnya, keabadian hanya sanggup menawarkan repetisi, sementara kekekalan menciptakan makna.

Selasa, 04 Juni 2013

#Imaginarium 07.


Andaikan manusia hidup selamanya...

Secara unik, warga di tiap kota terbagi menjadi dua: Kelompok Belakangan, dan Kelompok Sekarang.

Kelompok Belakangan bersikukuh untuk tidak perlu buru-buru kuliah di universitas, belajar bahasa asing, membaca karya Voltaire atau Newton, meniti karir, jatuh cinta, berkeluarga. Untuk semua itu, waktu tak terbatas. Sepanjang waktu abadi, segala sesuatu bisa dipenuhi. Semua bisa menunggu. Bukankah tindakan yang terburu-buru bisa berbuah kesalahan? Siapa mampu membantah logika mereka? Kelompok Belakangan bisa dijumpai di setiap toko atau sudut jalan. Mereka berjalan santai dengan busana longgar, menikmati artikel dalam majalah manapun yang sedang terbuka, menata ulang perabotan rumah, nimbrung dari satu percakapan ke percakapan lainnya seperti daun jatuh dari pohon. Kelompok belakangan menikmati kopi di kafe-kafe sembari berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.

Kelompok Sekarang beranggapan bahwa dengan kehidupan yang abadi mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Ada tumpukan karir yang jumlahnya tak terhingga, menikah dalam kali kesekian yang tak terbayangkan, dan pandangan politik terus berganti. Setiap orang dapat menjadi penasehat hukum, tukang ukir, penulis, akuntan, pelukis, ahli fisika, petani. Kelompok Sekarang secara teratur membaca buku-buku terbaru, belajar tata cara perdagangan baru, bahasa-bahasa baru. Demi mengecap sari kehidupan yang tak terbatas itu, mereka bangun lebih pagi dan tak pernah bergerak lamban. Siapa meragukan logika semacam ini? Kelompok Sekarang gampang dikenali: merekalah pemilik kedai-kedai kopi, professor di kampus, dokter dan perawat, politikus, orang-orang yang tak henti-hentinya menggoyangkan kaki saat duduk bersandar. Mereka bergerak dalam rangkaian kehidupan dan berusaha untuk tidak kehilangan setiap hal. Ketika dua orang dari Kelompok Sekarang bertemu di pilar bersegi enam di pancuran piazza kota, mereka saling berkisah tentang kehidupan mereka, saling bertukar informasi dan melirik jam tangan mereka. ketika dua orang dari Kelompok Belakangan bertemu di lokasi yang sama, mereka merenungkan masa depan dengan mata mengikuti gerak air yang membentuk lingkaran.

Kelompok Sekarang dan Kelompok Belakangan memiliki satu kesamaan. Dengan kehidupan yang tak terbatas, mereka memiliki sanak saudara dalam jumlah yang tak terbatas pula. Kakek nenek tidak pernah mati, tidak juga dengan para buyut, bibi buyut, paman buyut, buyut dari bibi buyut... demikian seterusnya, dari semua generasi, semuanya hidup dan menawarkan nasihat-nasihat. Anak lelaki tidak pernah bisa lari dari bayang-bayang sang ayah. Tida juga anak perempuan dari sang ibu. Tak pernah ada yang betul-betul bisa mandiri.

Ketika orang mulai berbisnis, ia merasa harus berbicara lebih dahulu dengan orangtua, kakek nenek, dan leluhur mereka yang jumlahnya tak terhingga, untuk belajar dari kesalahan mereka. Sebab tak ada urusan yang benar-benar baru. Semua hal telah dilakukan oleh mereka yang ada dalam silsilah keluarga. Sesungguhnya segala sesuatu telah tercapai. Tetapi, sungguh mahal imbalannya. Di dunia seperti ini, penggandaan atas pencapaian-pencapaian terbagi oleh ambisi-ambisi yang makin lama makin kendor.

Ketika seorang anak perempuan meminta bimbingan ibunya, ia tidak bisa mendapatkannya secara langsung. Ibu si anak harus bertanya pada ibunya sendiri yang herus bertanya lagi pada ibunya. Demikian seterusnya. Anak-anak tak pernah mampu membuat keputusan sendiri dan terpaksa harus berpaling pada orangtua yang juga tak mampu memberi nasihat yang meyakinkan. Orangtua bukanlah sumber kepastian. Ada jutaan sumber lainnya.

Ketika setiap tindakan harus dikaji ulang berjuta kali, maka hidup menjadi bersifat sementara. Jembatan-jembatan yang dibangun kokoh yang telah membentang separuh lebar sungai, mendadak terhenti pengerjannya. Bangunan-bangunan didirikan hingga sembilan lantai, tetapi tak ada atap yang memayunginya. Pedagang yang menyediakan jamur, telur, rempah-rempah, atau daging asap mengganti dagangannya sesuai dengan perubahan pikiran, berdasarkan tiap nasihat yang didapat. Kalimat-kalimat menggantung tak terselesaikan. Pertunangan putus sehari sebelum perkawinan. Dan di jalanan, orang-orang terus menerus menengok ke belakang, menatap tajam dengan curiga, melihat siapa yang mengawasi.

Inilah harga yang harus dibayar demi keabadian. Tak ada seorangpun menjadi manusia yang utuh. Tiada seorangpun yang merdeka. Seiring waktu, orang berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan agar dapat menempuh kehidupan miliknya sendiri adalah dengan kematian. Dengan maut, lelaki maupun perempuan, akan terbebas dari beban masa silam. Betapa jiwa-jiwa yang resah ini akhirnya memutuskan untuk menenggelamkan diri di palung lautan, atau melempar diri dari puncak topaz, membuat kerabat terkasih mencari-cari. Begitulah, yang fana pun menaklukkan yang abadi. Jutaan musim panas menyerah pada ketiadaan matahari. Jutaan butiran hujan menyerah pada ketiadaan awan mendung. Jutaan nasihat dan teguran menyerah pada keheningan.

Kamis, 02 Mei 2013

#Amrita 15

"Maybe all that we need is to meet
in the middle of impossibilities.
Standing at opposite poles,
equal partners in a mystery."

Kamis, 25 April 2013

Debunking Paradox: Unstoppable Force VS Immovable Object


What happens if an immovable object meets an unstoppable force?

Of course, relativity tells us that there is no such thing as an immovable object. Here’s why: if you pick any supposedly immovable object, or just something like your house, or the earth, I can make it move. All I need to do is start to move relative to it. For example; I might ride a rocket, and suddenly from my perspective, I’m not moving and the earth sails by outside. The laws of physics make no preference for inertial frame of reference (principle of relativity: there is no absolute or “preffered” inertial frame of reference), so from my perspective here, I do not stir, and yet it’s clear: the immovable object moves!

So because of relativity, “immovable object” cannot be. But what I think people normally mean by “immovable object” is something that if it’s not moving, you can’t make it start moving by pushing on it. So, not an immovable object, but an un-acceleratable one.

Using newton’s second law, we know that an object’s acceleration is equal to the total force on it divided by its mass (though you’ve probably seen this as F=Ma). So an un-acceleratable object would be an object with infinite mass; an object so massive that no matter how big the total force is, when you divided F by M you always get zero. Of course, as I have said, not being able to accelerate an object does not necessarily mean that the object isn’t moving—it just means that you can’t directly change its speed—if it’s not moving, then it will stay not moving. If it’s moving at 100 miles per hour, then it will stay moving at 100 miles per hour.

So, what about an unstoppable force? Well, all the fundamental forces in nature are actually caused by particles (like photons, bosons, gluons, or gravitons) that interact with an object and changes its momentum—the only way to NOT be affected by a force is not to interact with it at all (like how electrons don’t interact with gluons so they aren’t subject to the strong nuclear force). Even light itself is an unstoppable force—every photons that hits your body changes you momentum a tiny little bit, and there is nothing you can do about it other than avoid light altogether or become transparent. So, all forces is already unstoppable.

But my impression is that the phrase “unstoppable force” isn’t literally meant to imply anything about forces like electromagnetism or gravity, but rather, something that you cannot stop from barreling down on you. That is, an object whose velocity cannot be changed by pushing on it.

So, if by an “unstoppable force” we mean an object moving at a speed that can never be changed, then that means the object cannot be accelerated. But wait a second, this sounds familiar! Recalling what we learned earlier, an unstoppable force must be an un-acceleratable object! And that means that an “unstoppable force” and an “immovable object” are really just the same, viewed from different reference frames!

Now, since infinite mass require infinite energy, I don’t know of anything in the universe that behaves like this, not the least because it would be automatically be a black hole so big that everything in the universe would already inside of it. But what if we ignored gravity and imagine there WERE an un-acceleratable object? Well, first it would be a source of infinite free power and would allow us to live in 100% happy utopian society and break the second law of thermodynamics and probably create portals and time travel too (you can do a lot with infinite energy).

But more importantly, if two of this infinitely massive un-acceleratable objects were moving towards each other and collided, then since by definition it’s not possible for the velocity of either of them to change, the only possiblity is that they must pass right through each other with no effect on each other at all.



Sabtu, 20 April 2013

Story of the Loneliest Whale in the World...




This is a story about the loneliest whale in the world.

She isn’t like any other baleen whale. Unlike all other whales, she doesn’t have friend. She doesn’t have a family. She doesn’t belong to any tribe, pack or gang. She doesn’t have a lover. She never had one. Her songs come... in groups of two to six calls, lasting for five to six seconds each. But her voice is unlike any other baleen whale. It is unique—while the rest of her kind communicate between 12 and 25hz, she sings at 52hz. You see, that’s precicely the problem. No other whales can hear her. Every one of her desperate calls to communicate remains unanswered. And, with every lonely song, she became sadder and sadder, her notes going deeper into despair as the years go by.

Just imagine, a massive creature, floating alone and singing—too big to connect with any being it passes, feeling paradoxically small in the vast streches of empty, open ocean...

Kamis, 18 April 2013

Just a mindfuck. Move along, move along...

"God is Dead."
-Nietzche, 1883-

"Nietzche is Dead."
-God, 1900-

...

Well, shit... That didn't settle anything, right?


Minggu, 07 April 2013

Kereta Di Akhir Musim Panas


“Tidak seharusnya kamu makan biskuit di tengah malam begini... Lihat, mimpi-mimpimu hancur menjadi remah-remah.”

“Kalau begitu, mari, kita beli tiket kereta malam, kita pergi melakukan perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela... Ah, dan coba lihat disana, kuburan paus-paus sudah dekat!”

Pagi yang muram. Suratmu datang terlambat. Telat lima hari, tepatnya. Dan rasa-rasanya, aku bisa menebak apa yang kau akan katakan: “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?” Hmm... Ya, kau pasti akan bilang begitu.

“Huff, panas sekali disini.”

“Ah, kau sudah terima kado dariku?”

Dalam suratmu kau bilang: “Aku mengirimimu piano, lho.” Piano yang sangat kusukai, dulu sekali, waktu aku masih kecil... Waktu itu pertama kalinya aku memasuki kamarmu. Ada mainan piano merah itu yang tak henti membuat suara ­Ting-Tong-Ting-Tong menjengkelkan setiap kali kau tekan tutsnya. Yang entah kenapa mengingatkanku akan kuburan paus-paus...

“Syukurlah, kamu sudah pulang...”

“Ya, dan kamu sudah bisa tenang.”

Kau terdiam sejenak. Entah apa yang kau pikirkan,

“Kamu tahu, aku khawatir sekali,” katamu sambil mulai mengenakan pakaian, sisa peluh menggelincir turun di lehermu yang putih. “Tapi, ya sudahlah... lalu bagaimana pekerjaan barumu?”

“...”

Sungguh, aku malas membicarakannya.

Ketika musim panas berakhir, seluruh pinggiran tebing tepi laut akan dipenuhi oleh bunga-bunga merah yang mekar. Dan tahukah kamu, apabila perahu-perahu para pemburu paus kembali ke dermaga dengan bendera merah berkibar di anjungannya, artinya mereka mendapat tangkapan!

...dan kita akan berlari sampai kehabisan nafas, menuju dermaga itu, dan pantai menjadi sepenuhnya merah oleh darah sang paus. Lalu kau dengar suara belulang mereka berbunyi: Klotak-Klotak-Klotak... dan kemudian mentari yang tenggelam menjadikannya semakin merah pula...

“...kamu capek yah?”

“Ya, begitulah.”

“Ah... mudah-mudahan sekarang bisa berhasil. Syukurlah, musim panas juga sebentar lagi selesai.”

“...”

Ah, topik itu lagi.

“Kamu suka pianonya?”

“Kenapa kau kirimkan? Aku ingat ada waktu dimana kau sama sekali tidak mau meminjamkannya padaku barang sebentar saja.”

Kau tertawa terbahak-bahak, dan aku suka melihatnya. Aku suka melihat sudut bibirmu membentuk senyum, juga puting lembut yang membayang di balik kemejamu yang tipis, yang sengaja tidak kau kancingkan seluruhnya...

“Dulu kamu bilang suaranya aneh sekali,”

“...kau tahu, belakangan ini aku banyak memimpikanmu...”

Ah... lansekap itu terlihat begitu sedih... dan suara Klotak-Klotak-Klotak belulang paus menggema memenuhi senja... sedihkah engkau, sayangku? Kalau iya, yuk, mari kita naik ke kereta malam, dan larut dalam sebuah perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela, lansekap yang tak akan mampu kita genggam... mari kita pergi mengunjungi kuburan ikan-ikan pausmu itu.

“...aku baik-baik saja, Terima kasih. Kamu pergi saja sendiri.”

“...”

Keesokan harinya, aku menaiki kereta seorang diri. Kereta itu melaju dalam kekalutan yang tenang... menuju teluk, melewati entah berapa banyak terowongan... dan di tengah kegelapan yang pekat, bisa kurasakan suara belulang paus-paus itu, memanggilku dengan nyanyian sunyi dari balik makam-makam mereka...

...

...dan sungguh, suara piano merah itu tak henti mengalun...

Memenuhi kehampaan...

Memenuhi mimpiku...


...di rahim takdir


secangkir mimpi dari langit yang koyak separuh
bingkai-bingkai masa lalu yang terlihat makin rapuh
menggantung tanpa ada yang peduli
di tiang-tiang listrik kota... di persimpangan mimpi-mimpi...

kau menjelma perempuan itu...
yang menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan
meski di sana, lampu kota memerah begitu cepat
dan kau tak pernah tahu
jika sebentar saja berjalan lambat
doa-doa baik akan dicegat
dirampas oleh mereka yang lebih dulu mampu mengingat

dentang terdengar dari stasiun kereta
mengabarkan harapan yang baru saja turun
atau sekedar membawa rindu
yang tertukar dari stasiun ke stasiun

kau semakin menjelma perempuan itu...
meratapi kota dan orang-orang tergesa
yang tak lagi menjanjikan akhir bahagia
mereka yang lupa akan dongeng-dongeng hampir sempurna
lalu, kau tak lagi bertanya
memilih menyerah pada nelangsa...
pada takdir dan kabar buruk...
yang mereka jejalkan ke kantung hidupmu

kini kau telah menjelma perempuan itu
lalu... pada dentang jam keberapa kau akan pulang ke takdirmu?

Rabu, 03 April 2013

Melacurkan Seni...


Kling,“ suara lemparan koin membentur aspal.

Siang itu, di tengah deru asap kendaraan, seorang penari Jathilan bergerak luwes tak kenal canggung. Persis seperti penari yang sudah sering tampil di layar kaca. Tatapan mata para manusia urban hanya melihatnya selintas, dan mungkin, jika ada perhatian, mereka akan memberi uang dan kemudian berlalu, sebab traffic-light sudah berwarna hijau. Di atas tiang penyangga billboard, terpampang gambar kartun manusia yang sedang membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangan untuk memberi uang kepada manusia lain yang diberi tanda silang berwarna merah.

Setiap lampu berubah merah, perempuan itu meninggalkan obrolan dan turun ke jalan, bernyanyi di zebra cross di hadapan pengendara yang sedang berhenti. Dari tepi jalan, saya dengar ia membawakan lagu Jawa yang mirip nyanyian sinden. Pada dirinya, dengan modal pita suara, busana kebaya dan polesan bedak yang menutupi kerutan wajah—juga alat musik marakas, kesenian Jawa itu mencukupi kebutuhan ekonominya.

Sesuai julukan awam, ia menyebut pekerjannya sebagai “pengamen”. Selain mengamen, perempuan tersebut rupanya juga tergabung ke dalam grup kesenian tayub yang punya skala pertunjukan hingga ke luar kota. Beberapa kali, bersama grup tayubnya, ia pernah mendapat orderan manggung, katanya, ia pernah tampil sampai ke Banyumas dan Banjarnegara. Tak heran. Suaranya memang terdengar bagus seperti sinden-sinden yang mengiringi pertunjukan wayang.

Setidaknya, inilah sketsa seni di jalan-jalan—nasib seni yang kurang beruntung untuk mendapat apresiasi—baik dari penonton maupun kritikus seni. Tentu desakan ekonomilah yang membuat perempatan-perempatan besar di tangan mereka berubah jadi panggung seni berskala menit. Panggung yang kita pun tak tahu pasti apakah ia jadi tumpuan hidup utama tanpa kita mendekatinya lebih dekat.

Dari hasil wawancara pada sebuah zine punk berjudul Seni Untuk Semua, seorang penggiat acara musik indie menyebutkan, “Untuk acara tanpa sponsor, pokok persoalan paling klasik yang amat sering menjadi kendala adalah uang. Kita tidak dapat menafikkan kalo peran uang memang menjamin meriah atau suksesnya acara. Usaha yang paling signifikan untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan membuat benefit.“

Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa seni-seni pinggiran mencoba lepas dari agensi sponsor atau pendukung dana, meskipun tanpa kehadiran uang, pertunjukan sulit direalisasikan. Dalam seni-seni pinggiran, dikenal slogan Do It Yourself (DIY) yang menjadi simbol resistensi atas kapitalisasi—dalam konteks ini, tentu saja berarti seni yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri.

Kita hidup di dalam zaman keindahan yang instan, dan kapitalisme tahu benar bagaimana meracik seni cepat saji. Pertunjukan seni digelar di mana-mana. Setiap malam kita disuguhi kemewahan seni dalam konser musik melalui layar kaca—dan begitu pula halnya di perjalanan; di lampu merah, kita bertemu dengan bangsa sesama kita, menyanyikan lagu yang mungkin juga pernah kita dengar di layar kaca.

Tidak ada perbedaan antara kita dan mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita, seperti juga para pembuat kebijakan yang punya mimpi tentang wajah kota yang asri, bersih, dan tanpa sampah yang berserakan di jalan. Alasannya, jalan adalah citra suatu kota, bahkan negara—dan citra diri yang baik adalah jalanan yang tertib, teratur, dan bersih.

Obrolan tentang fenomena jalanan lagi-lagi mesti kembali ke persoalan ekonomi. Manusia mungkin akan terus-menerus berdatangan turun ke jalan selama tempat tersebut menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih daripada harus bekerja di suatu tempat dengan pendapatan yang tak sebesar di jalan. Di lain sisi, pemerintah bilang bahwa mereka sedang mengusahakan dikeluarkannya peraturan daerah yang dapat menekan maraknya jumlah orang jalanan. Solusi yang ditawarkan ketika itu—yang barangkali sudah sedemikian akrab di telinga kita—antara lain melakukan penertiban, memberi penyuluhan, dan keterampilan kepada mereka.

Akan tetapi, manusia tak selesai sebatas angka. Bagaimana mungkin jika jalanan yang selama ini menjadi ruang kerja mereka, yang menjanjikan keuntungan ekonomi lebih besar dan lebih praktis, dapat berubah total hanya dengan dikeluarkannya satu kebijakan sepihak? Maka, di tiap sudut jalanan kita bisa jumpai papan-papan besar bertuliskan “Peduli Tidak Sama Dengan Memberi Uang” yang praktis mencoba memutus sumber hidup mereka.

Jadi, siapa sih sebetulnya sang pemilik jalan? Mengikuti istilah populer masa kini, jalanan adalah frontier, garda depan tempat ia menjadi arena bertemunya segala kepentingan; orang jualan, pengendara motor, pesepeda, papan iklan, tukang tambal ban, petugas parkir, tukang becak, pedagang kaki lima, orang gila, polantas, pejalan kaki, pemulung, demonstran, seniman, petugas ketertiban, pencopet, penjahat, dan orang-orang jalanan yang kena desakan ekonomi hingga mau tak mau menjadikan jalan sebagai tumpuan hidupnya. Jalan adalah milik bersama yang membuatnya tidak hanya diisi oleh kepentingan pemerintah untuk mendesain citra kota yang tertib, tetapi juga diisi oleh manusia yang punya kepentingan untuk mencukupi kebutuhan perut.

Jalanan menjadi toko, sirkuit, medan iklan, lahan parkir, dan panggung yang mementaskan kehidupan yang sebenarnya—yang mungkin tak begitu dilirik oleh media, atau justru sebaliknya, diekspos sedemikian rupa untuk menarik simpati penonton, sebab simpati bernilai ekonomi dalam praktik kapitalisme. Mungkin saja penyanyi dan penari yang saya temui itu telah berlatih sedari kecil. Dan hal tersebut bisa menjadi refleksi yang lebih umum untuk melihat seperti apa wajah pertunjukan seni di desa-desa sebelum terlempar ke panggung jalanan yang jauh dari apresiasi penonton.

***

Selama ini, kritik seni pertunjukan hampir selalu dibayangkan sebagai seni dalam konstruksi masyarakat konsumsi. Maka tak jarang tema yang menjadi subjek pengamatan pun akan selalu berkutat pada seni yang—dalam tanda kutip—formal, eksklusif dan mainstream. Kesenian yang berlangsung di gedung pertunjukan atau di panggung yang telah dipersiapkan oleh event-organizer adalah seni yang memberi kesan bahwa pertunjukan menjadi hasil dari proses kreatif yang mesti diapresiasi dengan mendesain panggung seindah mungkin. Akibatnya, di jalanan, di panggung kehidupan marjinal, seni manusia yang menawarkan suara dan gerak sederhana, yang tidak berbeda dengan seni pertunjukan yang berlangsung dalam gedung, tereleminasi dari mata. Begitulah wacana menormalisasi mata kita ketika menatap sesuatu sebagai seni.

Penelaahan mengenai formasi diskursif seni sendiri acapkali muncul dalam berbagai persepektif, baik eksistensialisme, strukturalisme, maupun post-strukturalisme—yang selanjutnya mungkin dapat mengidentifikasi posisi perspektif kita ketika berwacana tentang seni. Lyotard dalam buku Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan, mengemukakan perspektifnya berikut ini:

“Seniman, pemilik galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun, kenyataan yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’, dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib atau menghibur dirinya sendiri.”

Leon Trotsky, dalam tulisannya mengenai Seni dan Politik (Surat kepada Dewan Redaksi Partisan Review) menyatakan bahwa “Secara umum, seni adalah ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu, untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas.“

Pramoedya Ananta Toer juga pernah membicarakan seni, yang mungkin dapat kita tilik perspektifnya lewat sebuah pasase di buku Anak Semua Bangsa berikut ini:

“’Melayani pesanan-pesanan hanya untuk menyambung hidup begini, dengan seni ini tak ada bedanya aku dengan Maiko. Memalukan,’ kata seorang pelukis Perancis yang coba membandingkan dirinya dengan pelacur bernama Maiko. ‘Coba, mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu di dalam seni namanya pelacuran?’”

Namun, hari ini, barangkali sebagian besar seni hidup melacur, dan pelacuran adalah tanda ketabrak nasib. Seni menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat penghidupan, menghidupi seninya, dan jika beruntung, beroleh ketenaran. Bisa saja motivator atau pengamat akan berkomentar; “...selalu ada jalan selagi ada kemauan.” Ya, benar, optimisme memang mutlak diperlukan, tetapi jangan lupa bahwa suara itu terlontar dari atas podium, di depan lensa yang segalanya dapat diatur oleh kamera—bukan di atas retakan trotoar di sela-sela deru kendaraan yang melintasinya. Saya tidak tahu apakah kita juga mampu membayangkan bagaimana wajah seni jika ia menjadi satu-satunya jalan untuk menyambung napas, mencukupi kebutuhan ekonomi kita, dan bukan untuk tujuan memuaskan hasrat akan keindahan seperti dalam diskursus-diskursus seni pada umumnya—akankah perspektif kita tentang seni juga akan berbeda?

Dalam puisi yang muram, dan barangkali juga karena geram, Rendra pernah mengajukan sebentuk kegundahan yang “...membentur jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak-adilan terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian”. Tentu bait ini adalah metafor yang mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita, bahwa tak semua seni diselubungi keindahan. Kerapkali keindahan hanya tudung yang menyilaukan mata, sebab seni mengeram dalam hangat selimut modal dan puluhan deret nama sponsor. Seni menyangkut penghidupan banyak manusia—dan jika yang menyangkut napas banyak orang, segala jalan mesti ditempuh, meski barangkali satu-satunya jalan adalah dengan melacurkan seni itu sendiri.

Pada awalnya, seni jalanan itu, yang barangkali saja tak sanggup mencuri perhatian kita karena cara kita mengidentifikasi sesuatu sebagai seni telah distandardisasi oleh media, adalah pantulan dari wajah kita, wajah masyarakat tempat kita menjadi bagian darinya, wajah kompleksitas sosial yang membuat kita diam-diam mengamini pelacuran seni.