Rabu, 27 Maret 2013

Tentang Monotheisme


Sebelum agama-agama samawi muncul, kebudayaan masyarakat lampau seperti Mesir Kuno dan India Kuno telah mengembangkan suatu jenis monotheisme yang disebut dengan Monotheisme Kosmologis. Ciri khas monotheisme itu ditandai oleh adanya penerimaan atas konsep, imaji, gambaran, bayangan, rupa ‘tuhan-yang-lain’. Konsep, imaji, gambaran, rupa, bayangan tentang ‘tuhan’ sebagai MANIFESTASI PARSIAL dari ’Yang Singular dan Tunggal’. 

‘Tuhan’ direpresentasikan oleh manusia dalam bentuk kekuatan alam dan tuhan dalam rupa-rupa karakter tertentu—contohnya 99 asma Allah. Singkatnya, ‘tuhan’ yang menghuni berbagai domain dunia. Pandangan Monotheisme Kosmologis merupakan teologi yang mengumandangkan bahwa ’Yang Singular dan Tunggal’ selalu ada dalam hubungannya dengan ’yang plural dan banyak’, menetapkan kedaulatan sifat transendentalnya dalam kaitan dengan berbagai bentuk ekspresi kekuatan pengada kosmis. Cara pandang teologi tersebut setidaknya memperlihatkan pada kita tiga hal, yakni; pertama, setiap penamaan terhadap Kenyataan Tertinggi dalam agama manapun mengandung ciri antropomorfis (atribusi karakteristik manusia ke hal yang bukan manusia); kedua, dengan begitu, sebagai bagian dari temuan kebudayaan manusia, perkembangan agama monotheistik juga melibatkan akal budi/rasio; dan ketiga, monotheisme jelas bukan khas 'milik' agama-agama samawi. 

Perlu ditegaskan bahwa tentu saja agama berkaitan dengan perwahyuan yang harus diimani. Namun, iman melampaui akal budi, bukannya bertentangan dengannya. Maka, itu bukan berarti bahwa agama tak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal budi, meski dalam prosesnya tak mungkin membatasi diri hanya pada akal budi belaka. Hal itulah yang diolah dalam berfilsafat dan berteologi.

Sering kali kita dengan sombong menganggap bahwa monotheisme seolah khas 'milik' agama-agama samawi dan enggan memaksimalkan pencarian bagaimana pemahaman atas eksistensi Kenyataan Tertinggi dimungkinkan oleh perkembangan akal budi.

Fides quaerens intellectum (faith seeking understanding).

Pintu


Anda mencoba untuk tidur, tetapi suara-suara itu terus membangunkan anda. Suara yang datang dari pintu depan, seperti ada sesuatu yang mencakar-cakar pintu diiringi suara derak kering yang tidak menyenangkan. Anda terus menerus meyakinkan diri itu hanya angin dan pepohonan di luar, tetapi suara tersebut masih berlanjut terus dan terus... Hingga pada akhirnya, anda tidak tahan lagi. Anda bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.

*klik*

Masih tetap gelap. Anda tertegun sejenak.

*klik-klik-klik-klik-klik-klik-klik*

Anda menekan saklar berkali-kali, tapi tidak terjadi apa-apa... tidak ada aliran listrik. Tanpa sadar anda bernafas dengan berat, sementara itu suara garukan di pintu depan semakin keras. Anda berjalan ke ruang tamu dengan kaki yang gemetar. Gelap. Siluet pintu itu mengintai lima meter di depan anda. Kemudian, tiba-tiba terdengar suara geraman rendah. Langkah anda otomatis berhenti. Lalu suara cakaran itu terdengar lagi. Semakin jelas. Semakin garang. Anda bisa mendengar suara kayu yang berkeretak, engsel yang berkeriut hendak menyerah, seperti ada sesuatu yang memaksa masuk... Dengan gemetar, tangan anda meraih tongkat baseball yang bersandar di dekat kursi... dan mendadak suara-suara itu berhenti. Sunyi. Total.

Selama jeda waktu yang terasa seperti berjam-jam, anda berdiri diam dengan tongkat baseball di tangan, menunggu suara tersebut muncul lagi. Tapi tidak ada apa-apa. Akhirnya, dengan jantung berdebar keras, anda berlari menuju pintu itu dan membukanya, dan melihat... udara malam.

Tidak ada apa-apa. Tatapan anda beralih ke pintu... mulus. Tidak ada cacat sedikitpun, padahal seharusnya pintu itu nyaris tercabik, anda bersumpah barusan anda mendengar kayunya nyaris menyerah. Tapi pintu itu sama sekali tak bercela. Anda menggelengkan kepala sambil menghela nafas, cuma imajinasi, lalu kembali menutup pintu.


Sekonyong-konyong tubuh anda membeku.


Bekas cakaran itu ada di dalam.

Aku Ingin Menuliskan Malam Di Jemarimu


Sejauh ini malam masih terus bernyanyi.
Mungkin tidak tentang apapun, kecuali sekeping detik yang
melayang lepas ke bumbungannya.
Suka dan luka selalu saja menemukan kita di kelokan yang sama

Maka terbanglah bersamaku.
Mengarungi langit nan biru, menyentuh pucuk-pucuk gemintang,
terhanyut bersama desau angin. Sebelum malam beranjak dan memungut
remah-remah pagi yang terbaring di bawah daunan.

Marilah terbang menyusuri jejak-jejak subuh.
Berlari bersama anak-anak petani di seputar pematang, yang sibuk
mengumpulkan embun perak yang menetes di sela derai tawa. Melintasi
burung-burung yang menatap penuh iri menyaksikanmu bermain dengan
cahaya di ufuk fajar.

Mari membasahi jemari pada pucuk-pucuk ombak. Menyelam perlahan di
dasar palung dunia, biar sayapmu lekar bersama perahu-perahu yang
tertambat, dan lekas utuhlah segenap harap dan penantian.

Semoga saja hujan menyapu bersih seluruh ratap yang bergaung.
Meski langkahmu tipis berselimut rapuh, namun tetes-tetes embun akan
menggenangi setiap jejak yang kau tinggalkan.

Kau lihat malaikat itu? Ia datang disela desir-desir mimpi.
Tangannya terulur, membelai lembut kelopak malam yang
berserakan di helai rambutmu.

Maka terpejamlah:
      Bersama hening, gelap, dan rintik hujan.

Selasa, 26 Maret 2013

Is this even possible?


A baby girl is myteriously dropped at an orphanage in 1945. “Jane” grows up lonely and dejected, not knowing who her parents are, until one day in 1963 she is strangely attracted to a drifter. She falls in love with him, but when things are looking up for Jane, a series of disasters strikes: First, she becomes pregnant by the drifter, who then dissapears. Second, during the complicated delivery doctors discover that Jane has both sets of sex organs, and to save her life, they must surgically convert “her” to a “him.” Finally, a mysterious stranger kidnaps her baby from the delivery room.

Reeling from these disasters, rejected by society, scorned by fate, he becomes a drunkard and a drifter. Not only Jane lost her parents and her lover, but he has lost his only child as well. Years later, in 1970, he stumbles into a lonely bar, called Pop’s Place, and spills out his pathetic stories to an elderly bartender. The sympathetic bartender offers the drifter the chance to avenge the stranger who left her pregnant and abandoned, on the condition that he join the “Time Travelers Corps.” Both of them enter a time machine and the bartender drops the drifter off in 1963. The drifter is strangely attracted to a young orphan girl, who subsequently becomes pregnant.

The bartender then goes forward 9 months, kidnaps the baby girl from the hospital, and drops the baby off in an orphanage back in 1945. Then the bartender drops off the thoroughly confused drifter in 1985, to enlist in the Time Travelers Corps. The drifter eventually get his life together and becomes a respected and elderly member of the corps, who then disguised himself as a bartender and has his most difficult mission: a date with destiny, meeting a certain drifter in Pop’s Place in 1970.

Selasa, 12 Maret 2013

“If you hold back on the emotions--if you don't allow yourself to go all the way through them--you can never get to being detached, you're too busy being afraid. You're afraid of the pain, you're afraid of the grief. You're afraid of the vulnerability that loving entails. But by throwing yourself into these emotions, by allowing yourself to dive in, all the way, over your heard even, you experience them fully and completely.” ― Mitch Albom

#Imaginarium 05.


Diri saya yang lain datang dan bercerita tentang  sebuah jembatan, menjelaskannya batu demi batu.

“Tetapi, batu yang mana yang menopang jembatan itu?” Saya bertanya.

”Jembatan itu tidak ditopang oleh sebuah batu atau yang lainnnya,” jawab diri saya yang lain, “melainkan oleh sebuah garis melengkung yang mereka bentuk.”

Saya tetap diam. Berpikir. Kemudian menambahkan: “Kenapa kau membicarakan soal batu itu? Justru garis lengkung itulah yang penting bagiku.”

Diri saya yang lain menjawab: “Tanpa batu-batu, garis lengkung itu tidak akan pernah ada.”

Senin, 11 Maret 2013

#Monolog 03.


Lampu merah.

Waktu menetes satu-satu dalam geliat jalanan yang basah sehabis hujan. Dari sebelah kiri, sebuah motor datang menjajari mobil saya. Motor bebek ’70-an berwarna hijau dengan lampu depan yang sudah kalah terang dengan petromaks warung. Pengemudinya adalah lelaki muda yang mengenakan helm butut, tampangnya sederhana, dengan kumis tebal dan sinar mata ramah. Ia membonceng seorang perempuan, yang juga sederhana, dengan rambut panjang dijepit dan baju bermotif bunga kecil-kecil. Perempuan itu mengenakan jaket kebesaran yang jelas bukan miliknya. Pasti milik lelaki itu.

Lalu mendadak, semuanya berhenti. Jalanan terdiam. Seorang penjaja air minum membuka mulutnya dalam lolongan beku. Bocah pengamen di ujung trotoar membatu dengan posisi jari-jari setengah membentuk kunci F di gitarnya. Waktu yang tadinya tumpah ruah mengucurkan detik menjadi kaku laksana jam pasir yang mampet.

Tetapi mata saya kembali tertuju kepada lelaki dan perempuan pengendara motor bebek yang tadi. Ada yang membuat saya terpaku di sana. Ah... kehangatan wajah mereka berdua... seperti tungku asmara yang apinya mulai stabil. Tenang, tidak lagi meledak-ledak. Dan perhatikan bagaimana si perempuan memeluk si lelaki. Mereka terlihat begitu... bahagia. Mungkin mereka sedang merencanakan punya anak tahun ini.

Saya kembali terusik.

Di sisi lain jalan, ada lagi sepasang kekasih, menunggu bus yang tinggal satu-dua. Mereka tidak berkendaraan apa-apa, tapi lihat wajah perempuan itu... Saya tercekat. Ah... ia berpegang erat pada lengan kekasihnya, dan betapa kuat rasa percaya di wajahnya. Dengan dekapan itu ia tabah menghadapi udara malam dan bus yang tak kunjung datang.

Apa-apaan semua ini? Pasar malam kasih sayang?
Cinta diobral dan dicuci gudang?
Yang kudamba juga sederhana.
Bukan cinta antik dan berukiran rumit.

Barangkali saya memang ditakdirkan untuk menjadi manusia ‘mahal’. Dan di tengah pesta obral ini, ternyata saya harus rela menggigit jari, menyaksikan semua orang bergelimang dengan apa yang begitu saya dambakan. Sementara saya berdiri sendirian di sudut, pada sebuah etalase mewah nan sunyi, ditempeli tulisan “Dilihat boleh dipegang jangan”.

Saya kembali tertunduk, menekuri waktu yang perlahan-lahan memunguti kecepatannya.

Jalanan telah kembali bising. Lampu merah sudah berubah menjadi warna hijau. Si pedagang air minum sudah merapat kembali ke trotoar, dan bocah pengamen telah menyelesaikan lagunya.



Tapi sekarang, giliran saya yang tak kuasa bergerak dalam kesendirian...



(untuk Pandji Putranda, seorang sahabat yang tak kunjung lelah menanti di pinggir jalan.)



Kamis, 07 Maret 2013

#Amrita 12.


Kau tahu hal yang paling menjengkelkan setiap kali aku mengantarmu pulang? Bau parfummu yang masih menyisa bahkan setelah kamu turun dari mobil... mengambang di udara, bercampur dengan aroma lembut udara malam, seperti bagian dari dirimu yang mini, namun keras kepala, memilih untuk tidak ikut melangkah masuk ke dalam rumah, dan menetap untuk terus menemani perjalanan pulangku... untuk terus memaksaku berpikir bahwa kau masih disini... hingga akhirnya waktu semakin larut, dan tenagaku pun semakin surut, maka aku akan membiarkan sekelumit kamu itu bertahan semaunya.

Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen bisa selamanya menjadi kristal tanpa terganggu, maka... tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamamu untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang keberadaannya hanya milikku... milik kita... dan bukan ribuan hal lain yang menunggu di luar sana berteriak-teriak minta dilirik.

Betapa aku rela membatu untuk itu...

Tetapi semesta terus bergerak, realitas melaju, dan hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk ikut dalam arus agungnya yang jujur namun penuh rahasia. Tak terkecuali kita... dan segera saja, sisa parfummu itu raib ditelan malam dan keredap lampu jalan tol yang melesat di belakangku. Tiba-tiba saja aku merasa begitu kehilangan... tidak ada kata, langkah kaki, atau sentuhan lembut pada jemari yang menjadi penanda bahwa detik itu sudah berakhir... tidak ada kata ‘jangan’, yang barangkali saja, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan cukup untuk membuat sekelumit dirimu itu tetap tinggal. Setidaknya sampai aku tiba di rumah...

Dan saat itulah aku tersadar; setiap perpisahan denganmu, adalah perpisahan paling sepi yang pernah aku alami...