...kalian mengajar tabik dengan tangan kanan dan menyebutnya sopan, tetapi manusia cukup dengan sisi kirinya saja sebab jantung ada di dada kiri dan cebok lebih penting ketimbang salaman, sebab yang pertama adalah demi kebersihan sementara yang terakhir hanya demi basa-basi. Jangan pisahkan langit dan bumi tapi bagilah kiri dan kanan, sebab kakimu tak akan bisa berjalan tanpa kepala namun kepalamu juga akan njeblug keracunan kalau tidak ada dubur atau liang kemih untuk membuang kotoran. Atas dan bawah adalah bagian tak terpisahkan, tetapi kanan dan kiri bisa hidup sendiri-sendiri.
Jika kau memilah atas dan bawah, maka kau memisahkan, namun bagilah kiri dan kanan, maka kau menggandakan.
Selasa, 30 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013
#Amrita 19.
Aku terjaga pada bau
tubuhmu
malam usang,
keberjarakan semu
:melatonin yang
lamat-lamat
Rikuh pada sebentuk
ingin untuk memelukmu
Ah...
sungguh ekstase yang
sekaligus menyakitkan
#Amrita 18.
Prafrasekan cerita
kita
habislah kertas dalam
buku
dan aksara dalam
diksi
pijaran kita terlalu
indah
untuk mengenal eufemisme...
...apalagi tautologi
yang sedemikian degradatif
Selasa, 16 Juli 2013
Minggu, 07 Juli 2013
#Amrita 17.
Cobalah rehat sejenak
dan lihat ke belakang... hitung berapa banyak langkah yang sudah kita tempuh. Seberapa
jauh jarak yang telah kita lalui di jalan setapak ini? Sepuluh langkah? Dua puluh
langkah? Seribu mil? Entahlah... apapun itu, saya senang melakukan perjalanan
bersama anda. Dan jujur saja (tanpa maksud untuk memuji) anda adalah rekan
seperjalanan yang mengasyikan. Buktinya saya belum bosan sampai detik ini, dan
saya juga bisa melihat anda belum bosan. Jadi sepertinya sih sah-sah saja untuk
mengklaim bahwa saya juga teman seperjalanan yang mengasyikan.
Tapi sejujurnya...
saya tidak bisa melihat kemana jalan setapak ini akan berlanjut. Terlalu banyak
perdu dan kerimbunan belukar yang membentang di depan sana. Belum lagi ditambah
dengan kabut yang senantiasa turun menghalangi pandangan, membuat kita sulit
untuk menapaki langkah. Namun tak apa, saya tidak takut tersesat. Lagipula,
bukankah memang itu tujuan kita? Untuk tersesat bersama-sama? Sebab hanya
dengan tersesatlah kita bisa menemukan tempat yang tidak diketahui orang lain.
Dan kalau ternyata di
depan sana tidak ada jalan, maka saya akan membuat jalan itu. Untuk anda. Untuk
kita. Batu demi batu, kalau perlu—sampai terbentang jalan yang bisa kita lalui.
Mengapa? Sebab saya percaya, di depan sana akan ada suatu tempat yang mempertemukan
kita dengan keluasan alam. Sebuah tempat dimana kita bisa beristirahat sejenak,
mengistirahatkan hati yang lelah, untuk kemudian kembali meneruskan perjalanan
menuju tempat yang tidak kita ketahui; sebuah tempat tak bernama, namun terasa
ada.
Tetapi barangkali saya
tidak butuh alasan. Tidak. Saya sudah berhenti bertanya sejak lama berselang. Sebab
pertanyaan formalis macam ‘mengapa?’ atau ‘untuk apa?’ sudah terlanjur salah
kaprah untuk kita. Sebab ternyata kita sudah demikian keposmo-posmoan lebih
dari yang kita duga sebelumnya. Ibaratnya partikel, kita adalah pasangan quark dan boson: kombinasi atraktor asing yang cuma bisa ketemu di dalam
ruang kuantum komplementer, lalu melesat cepat dalam trajektori yang tidak
mampu diprediksi, untuk kemudian bermultiplikasi menciptakan probabilitas-probabilitas
mikro yang tak terhingga jumlahnya. That’s
right, they’re Big Bang Theorems in molecular scale!
Buat saya pribadi,
yang saya tuju bukanlah lokasi atau tempat tujuan tertentu, melainkan
perjalanan itu sendiri. Dan disinilah saya sekarang, di tempat seharusnya saya
berada: di sisi anda, berjalan berdampingan sembari mengikutsertakan rasa
percaya dalam setiap langkah. Saya pergi, untuk pulang kepada sebuah
perjalanan. Untuk menjalaninya bersama anda, menapaki jalan setapak mungil
milik kita.
Dan dari segala bentuk
kemungkinan yang ada, tak pernah sekalipun anda menjadi pertanyaan.
Anda adalah alasan.
Alasan
saya bertahan...
Senin, 01 Juli 2013
Story of A Guy With A Slightly Rectangular Pants
I’m fucking sick of my life... I’m almost 20
and haven’t been able to score a better job than a fucking cook at a local fast
food restaurant. I live in a small town, so business is pretty limited, and
where I work is the only place that’ll hire highschool graduate. The work
pressure is almost unbearable, and if I protest about my pay to my stingy,
asshole boss, he would probably just cut my already shitty pay...
I’d get the hell out of this town if I could
drive, but I’ve failed every damn test I’ve ever taken. I’m socially awkward,
even my only other co-worker fucking hates my guts. He never stop making fun of
me, saying that I’m stupid, useless, miserable, and helpless beyond belief...
And my only real friend is an idiot with IQ lower than an arthropod, a mentally retarded imbecile,
who I’m pretty sure is only hanging around because he’s the only one that can
tolerate me...
And you know what makes all this fucking
worse...?
...I live in a pineapple under the sea...
Langganan:
Postingan (Atom)