Cobalah rehat sejenak
dan lihat ke belakang... hitung berapa banyak langkah yang sudah kita tempuh. Seberapa
jauh jarak yang telah kita lalui di jalan setapak ini? Sepuluh langkah? Dua puluh
langkah? Seribu mil? Entahlah... apapun itu, saya senang melakukan perjalanan
bersama anda. Dan jujur saja (tanpa maksud untuk memuji) anda adalah rekan
seperjalanan yang mengasyikan. Buktinya saya belum bosan sampai detik ini, dan
saya juga bisa melihat anda belum bosan. Jadi sepertinya sih sah-sah saja untuk
mengklaim bahwa saya juga teman seperjalanan yang mengasyikan.
Tapi sejujurnya...
saya tidak bisa melihat kemana jalan setapak ini akan berlanjut. Terlalu banyak
perdu dan kerimbunan belukar yang membentang di depan sana. Belum lagi ditambah
dengan kabut yang senantiasa turun menghalangi pandangan, membuat kita sulit
untuk menapaki langkah. Namun tak apa, saya tidak takut tersesat. Lagipula,
bukankah memang itu tujuan kita? Untuk tersesat bersama-sama? Sebab hanya
dengan tersesatlah kita bisa menemukan tempat yang tidak diketahui orang lain.
Dan kalau ternyata di
depan sana tidak ada jalan, maka saya akan membuat jalan itu. Untuk anda. Untuk
kita. Batu demi batu, kalau perlu—sampai terbentang jalan yang bisa kita lalui.
Mengapa? Sebab saya percaya, di depan sana akan ada suatu tempat yang mempertemukan
kita dengan keluasan alam. Sebuah tempat dimana kita bisa beristirahat sejenak,
mengistirahatkan hati yang lelah, untuk kemudian kembali meneruskan perjalanan
menuju tempat yang tidak kita ketahui; sebuah tempat tak bernama, namun terasa
ada.
Tetapi barangkali saya
tidak butuh alasan. Tidak. Saya sudah berhenti bertanya sejak lama berselang. Sebab
pertanyaan formalis macam ‘mengapa?’ atau ‘untuk apa?’ sudah terlanjur salah
kaprah untuk kita. Sebab ternyata kita sudah demikian keposmo-posmoan lebih
dari yang kita duga sebelumnya. Ibaratnya partikel, kita adalah pasangan quark dan boson: kombinasi atraktor asing yang cuma bisa ketemu di dalam
ruang kuantum komplementer, lalu melesat cepat dalam trajektori yang tidak
mampu diprediksi, untuk kemudian bermultiplikasi menciptakan probabilitas-probabilitas
mikro yang tak terhingga jumlahnya. That’s
right, they’re Big Bang Theorems in molecular scale!
Buat saya pribadi,
yang saya tuju bukanlah lokasi atau tempat tujuan tertentu, melainkan
perjalanan itu sendiri. Dan disinilah saya sekarang, di tempat seharusnya saya
berada: di sisi anda, berjalan berdampingan sembari mengikutsertakan rasa
percaya dalam setiap langkah. Saya pergi, untuk pulang kepada sebuah
perjalanan. Untuk menjalaninya bersama anda, menapaki jalan setapak mungil
milik kita.
Dan dari segala bentuk
kemungkinan yang ada, tak pernah sekalipun anda menjadi pertanyaan.
Anda adalah alasan.
Alasan
saya bertahan...