Jumat, 02 Agustus 2013

#Imaginarium 08.

Minggu sore. Orang-orang berjalan di sepanjang trotoar, mengenakan pakaian santai khusus hari minggu, memenuhi diri dengan bekal santap malam. Mereka berbicara lembut di tengah gemericik suara sungai. Toko-toko telah tutup. Tiga perempuan berjalan di depan deretan toko, berhenti membaca iklan, berhenti untuk melongok ke arah etalase, berjalan dalam diam. Pemilik losmen mengosok telapak kakinya, duduk dan membaca koran, bersandar pada tembok batu dan menutup matanya. Jalanan telah tidur. Kota telah terlelap, dan di udara mengambang suara biola.

Di tengah suatu ruangan, dengan buku-buku di atas meja, seorang lelaki berdiri memainkan biolanya. Ia mencintai biolanya. Ia memainkan nada-nada yang sendu. Saat bermain, ia menatap ke arah jalanan di bawah, memandang sepasang kekasih yang sedang berpelukan, memperhatikan dengan mata coklatnya, kemudian pandangannya beralih. Musiknya kini adalah satu-satunya gerakan, memenuhui ruangan. Ia berdiri tegak dan pikirannya melayang kepada istri dan bayi lelakinya yang berada di kamar di lantai bawah.

Bersamaan dengan gesekan biola lelaki itu, seorang lelaki lain yang identik dengannya berdiri di tengah ruangan dan memainkan biolanya. Lelaki lain itu menatap ke arah jalanan di bawah, memandang seorang kekasih yang sedang berpelukan, mengalihkan perhatian, dan berpikir tentang istri dan bayi lelakinya. Bersamaan dengan permainan biola lelaki kedua, lelaki ketiga berdiri dan berdiri di tengah kamar dan memainkan biolanya. Sesungguhnya, ada lelaki keempat dan kelima, bahkan jumlah lelaki muda yang berdiri di tengah kamar dan memainkan biolanya tak terhitung. Jumlah melodi dan pikiran tak terbatas. Ketika para lelaki muda itu memainkan biolanya, waktu satu jam ini bukan lagi satu jam, melainkan beberapa jam. Sebab, waktu seperti cahaya di antara dua cermin. Memantul ke depan dan ke belakang, menghasilkan bayangan, melodi, pikiran dalam jumlah yang tak terhingga. Inilah dunia penggandaan yang tak terbatas.

Saat berpikir, lelaki pertama merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain. Ia merasakan musik dan pikiran mereka. ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Merasakan kamar dan buku-bukunya ribuan kali. Ia merasakan pikirannya berulang. Haruskah ia meninggalkan istrinya? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik, ketika perempuan itu menatapnya dari seberang meja? Bagaimana dengan rambutnya yang panjang terurai? Tapi, kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain satu jam ini dengan memainkan biolanya?

Ia merasakan hal lain. Ia merasakan dirinya berulang ribuan kali. Pengulangan mana yang benar-benar miliknya, yang mana dirinya yang sejati, yang mana masa depannya sendiri? Bagaimana dengan saat-saat di perpustakaan politeknik? Kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? Bukankah hanya rasa hampa, selain satu jam ini dengan memainkan biolanya? Pikirannya memantul maju-mundur di antara penggandaan dirinya, dan kian melemah pada tiap pantulan. Haruskah ia meninggalkan istrinya? Kebahagiaan apa yang telah diberikan perempuan itu untuknya? apakah rasa hampa? Pikirannya kian meredup pada tiap pantulan. Kebahagiaan apa yang telah diberikan untuknya? Bukankah hanya rasa hampa? Pikirannya semakin meredup hingga ia nyaris tidak ingat lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan mengapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Bukankah hanya rasa hampa?

Musik lelaki pertama itu mengambang dan memenuhi ruangan, dan ketika waktu berlalu dalam jumlah yang tak terhingga, ia hanya mengenang musik.