Senin, 08 Juni 2015

#Monolog 04

berapa lagi kata yang tertinggal
pada jejak usang
di remah keabadian

dan kau,
menjelma kabut
meranggasi jemariku
yang tak henti mengais kenangan

tinggallah sejenak, jangan dulu pergi
sebab pada dinding-dinding kota
telah kutemukan nyanyianmu
mengalun riuh di delap jalanan yang merintih

menerka warna, mencerna tanya
membias duga
juga prasangka
dan denting itu,
telah tumpah dalam aksara:
kata-katamu
riuh mengalir bagai gerimis

kehilangan, ucapmu,
adalah bagian kecil dari setiap perjalanan
telusur-telusur yang terus menepi
pada kerak yang terbakar matahari
menjelma luka
atau neraka

kitakah itu yang sibuk berlari?
mengejar mimpi yang tak sama lagi
atau hanya sibuk menjauhkan hati?
menguap kan kata,
melukai doa-doa...

ataukah segalanya cuma kisah
menapaki lorong kelam
menyembunyikan luka
atau alasan yang tak kunjung melupa
            dan lirih nyanyianmu
            telah tumpah pada denting aksara terakhir

begitulah kau menjelma
pada bingkai waktu
yang membatu