berapa lagi kata yang
tertinggal
pada jejak usang
di remah keabadian
dan kau,
menjelma kabut
meranggasi jemariku
yang tak henti mengais
kenangan
tinggallah sejenak,
jangan dulu pergi
sebab pada
dinding-dinding kota
telah kutemukan nyanyianmu
mengalun riuh di delap jalanan yang merintih
menerka warna, mencerna
tanya
membias duga
juga prasangka
dan denting itu,
telah tumpah dalam
aksara:
kata-katamu
riuh
mengalir bagai gerimis
kehilangan, ucapmu,
adalah bagian kecil
dari setiap perjalanan
telusur-telusur yang
terus menepi
pada kerak yang
terbakar matahari
menjelma luka
atau neraka
kitakah itu yang
sibuk berlari?
mengejar mimpi yang tak
sama lagi
atau hanya sibuk
menjauhkan hati?
menguap
kan kata,
melukai
doa-doa...
ataukah segalanya cuma
kisah
menapaki lorong kelam
menyembunyikan luka
atau alasan yang tak
kunjung melupa
dan lirih nyanyianmu
telah tumpah pada denting aksara
terakhir
begitulah kau
menjelma
pada bingkai waktu
yang membatu