Selasa, 09 Agustus 2016

Jangan Pulang ke Aceh


     "Ibu baik-baik saja disini, merindukanmu.
     Jagalah Ayahmu. Jangan pulang ke aceh.

                                                    Tercinta,
                                                     Ibumu

Singkat. Hanya sehelai kertas yang dibungkus amplop. Ini adalah surat pertama yang kuterima dari Ibu. Surat ini pasti tak ditulis Ibu. Seseorang menuliskannya atas permintaan Ibu. Kalau bukan Iskandar pasti Ratna, teman SD-ku yang kebetulan tinggal di sebelah rumah. Demikianlah bila aku tidak ada di rumah biasanya Ibu memanggil salah satu dari mereka untuk membacakan koran yang dibelinya. Sejak dulu ibuku memang tidak pandai menulis atau membaca.
Hampir dua tahun aku meninggalkan Ibu di Aceh. Semula, aku pergi ke Bandung sekedar menjemput Ayah. Beliau sudah tujuh tahun menitipkan cintanya pada kami berdua melalui penantian yang tak tahu kapan berakhirnya. Kami jaga cinta Ayah dengan kerinduan pada setiap desah nafas yang dihembuskan angin. Pohon jambu yang ditanam Ayah sudah beberapa kali berbuah, seolah tangan Ayah menyodorkan kemesraan tiada tara.
Sembilan tahun sudah Ayah merantau ke tanah Pasundan, menukar keringat dengan harapan yang dibawa tetes embun pagi. Aku tak pernah tahu persis apa yang dilakukan Ayah sebagai bakti pada keluarga. Yang kutahu Ayah selalu mengirim uang dan bingkisan lainnya, walau tidak teratur.
Ketika terdengar kabar bahwa Ayah sakit, Ibu menyuruhku untuk membawanya pulang kembali. Empat malam perjalanan darat kutempuh dari Banda ke Bandung membawa pesan dari Ibu. Di Bandung tiga malam. Perjalanan pulang empat malam. Jadi menurut rencana hanya sebelas malam kutinggalkan Ibu di Aceh.
Matahari baru muncul mengendap-endap di antara pegunungan timur tatar Pasundan. Dingin masih menyelimuti pagi. Belum sempat kuinjakkan kaki di Bandung, seorang penjual koran membawa kabar tentang api yang berkobar dari rusuh di Aceh. Aku menukarnya dengan beberapa rupiah bekal dari Ibu. Bocah penjual koran kembali berteriak tentang rusuh di Aceh, menjajakan derita. Aku tertegun oleh kabar bahwa beberapa orang terkapar di jalanan pusat kota Banda. Tertembak senapan yang selalu menyalak, menghentak derita pada setiap rusuh yang tak pernah usai. Toko pamanku terbakar dahsyat. Penghuninya terpanggang. Tak ada yang selamat.
Sudah tujuh orang kerabat keluargaku menjadi korban ganasnya huru-hara yang makin merajalela. Terakhir, aku harus kehilangan empat orang kerabatku sekaligus. Tak ada yang bertanggung jawab, semua merasa benar. Rasa benci menaiki kepala, melelehkan sisi kemanusiaanku. Kupandangi orang di sekitarku dengan tatapan tajam. Saat itu aku ingin menerjang, menghantam satu demi satu. Tetapi bukan mereka yang menabur kobar, mereka sudah empat hari bersamaku dalam perjalanan.
Masih di koran itu, siaran resmi pemerintah menuding bahwa pelakunya adalah kelompok separatis. Di alinea berikutnya pihak separatis membantah siaran pemerintah. Bahkan menuding balik bahwa pihak aparat pemerintah sengaja membunuh rakyat sipil dan membakar toko pamanku. Alinea berikutnya tak mampu kubaca lagi. Muak.
Ayah menangis mendengar kabar kematian adik satu-satunya. Seolah dengan sengaja aku datang membawa kabar tentang kematiannya. ”Kenapa setiap bertemu orang Aceh, selalu saja ada yang mati?” Ayah bergumam di sela isak tangisnya. Sejak berita itu tiba, dua tahun sudah kami hanya bisa merindukan Ibu. Setiap kali kami akan pergi untuk pulang, bus tujuan Banda selalu membatalkan perjalanannya dengan alasan keamanan. Mudah bagi setiap orang untuk hengkang dari tanah rencong. Tapi untuk kembali, berarti harus siap bermandikan darah. Setiap orang yang meninggalkan Aceh seperti kupu-kupu yang memasuki jilatan api, hangus tak dapat kembali.
Begitulah, kami tidak bisa mengalir seperti air memenuhi sungai. Bagi air, apapun yang menghalangi, ia akan selalu bisa menyelinap, menyeruak, mencari celah-celah hingga sampai ke tepian kebebasan pada bibir pantai yang mempertemukannya pada keluasan alam. Aku, Ayah dan Ibu adalah orang-orang yang saling mencintai, memancarkan kerinduan. Namun di antara kami tegak berbaris orang-orang yang mengumbar egonya masing-masing.
Ayah tak kuasa lagi menonton TV, mendengar radio, ataupun membaca koran. Ayah selalu menitikkan air mata yang seolah tak pernah habis, deras membasahi seluruh kesedihannya. Tubuhnya tergolek lemah, matanya menerawang, melayang menghinggapi langit-langit rumah kami yang berdesakkan dengan rumah sempit lainnya.
Dokter tak mampu mengetahui jenis penyakitnya. Ayah hanya dianjurkan untuk banyak beristirahat. Aku sendiri selalu bingung, tengah malam Ayah bicara sendiri. Seperti mengigau. Menyebutkan nama-nama kerabat yang telah wafat. Kakek disebut paling awal. Kakekku tewas karena menolak rumah warisannya dijadikan markas militer. Kakek dianggap pengkhianat. Kemudian senapan menyalak memuntahkan timah panas menembus jantungnya. Di ujung nyawanya ia masih sempat membaca mantera kematian laa ilaaha illallah. Nenek menyusul diterjang laras sepatu. Tewas. Tak lama kemudian muncul segerombolan pasukan mengguncang kesunyian. Tembakan menyalak. Kampung dicekam ketakutan. Beberapa bangunan terbakar. Kakak perempuanku tergulung seribu api di dalamnya. Tewas. Begitulah cara kematian mendatangi orang-orang di dekatku. Selalu ada senapan, api, darah. Lalu mereka terkapar tak bernyawa.
Suatu malam Ayah tidak mengigau. Sunyi berlalu tanpa desah. Hanya suara gemericik air di selokan belakang rumah. Malam berkabut. Kuperhatikan Ayah. Matanya tertutup rapat. Bibirnya terbuka. Seperti itulah Ayah tidur, biasanya. Kutunggu ia mengigau. Tapi Ayah tetap diam. Aku tak bisa tidur. Menyaksikan langit hitam yang terus memudar.
Pagi menjelang. Ramai orang lalu lalang. Langkah mereka memutar bumi. Riuh menabuh kebisingan kota. Aku menghadap timur, menyaksikan matahari yang mulai merangkak melambai menapaki langit. Keramaian semakin menjadi. Gedek rumah kami tak pernah mampu membendung bisik apapun. Namun Ayah belum mengigau, belum juga bangun. Aku tak berani membangunkannya.
Pak RT datang. Dia heran, karena tak sedikitpun mendengar igauan Ayah semalam. Rumahnya hanya terhalangi dua rumah kumuh dan sempit. Menurut Pak RT, igauan Ayah selalu menyayat. Pilu. Mengingatkanmu akan kematian, katanya. Sebenarnya aku merasakan hal yang sama, tapi aku tak kuasa mengatakannya. Aku tak mau menambah beban kemiskinan tetanggaku dengan kepedihan dari malam-malam yang kami lewati.
Kukatakan bahwa Ayah belum bangun. Segera Pak RT menghampiri Ayah. Memegang lehernya. Menempatkan jari di bawah hidungnya. Tak lama Pak RT mendekatiku. “Tabahkan hatimu, nak. Ayahmu sedang beristirahat panjang. Panjang sekali.” Katanya sambil menepuk pundakku perlahan. Kulihat Ayahku masih diam. Bahkan ketika rumah kami ramai oleh tangisan para tetangga yang berdatangan, Ayah masih diam.
Pak Ustadz datang, langsung memeluk badan Ayah. Tak ada luka tembak. Tak ada bekas parang. Tak ada darah yang mengalir. Ayah belum mati, bisikku. Kematian selalu ditandai rusuh dan darah. Yang kutahu semalam kemarin hanya kesunyian dan senyap yang ada menghampiri kami. Namun, Pak Ustadz memastikan Ayah mati.
Berulangkali aku meyakinkan kematian selalu diawali letusan dan bersimbah darah. Berarti Ayah belum mati. Semua orang diam. Hening. Pak Ustadz mendekatiku lalu menerangkan kematian menurutnya. Aku menyerah. Berarti Ayah mati dengan tidak wajar. Aku kabari Ibu dengan sepucuk surat.
Rasa cemas menghantuiku. Bisa jadi telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan Ayah sehingga harus mati dengan cara seperti itu. Dosa Ayahku hanyalah mencintaiku sekaligus Ibu tanpa henti. Karena itu pula Ayah meninggalkan tanah rencong menuju Bandung. Melalui catatan yang disimpan Ayah, aku tahu ada harapan yang ingin Ayah bawa pulang. Pijar kedamaian yang akan menerangi masyarakat kami, untuk tetap berharap. Apakah itu salah? Berdosa? Sehingga Ayahku layak mati tak wajar.
Sudah seminggu Ayah dikuburkan. Setiap hari aku selalu mendatangi makamnya, berharap tanah diatasnya bergerak dan Ayah bangun lagi. Aku masih tak percaya Ayah mati. Batu nisan tak bergeming. Tak ada tanda-tanda pergerakan di dalamnya. Begitulah, aku terus datang bersama rasa cinta yang pernah dititipkannya pada kami, menjenguknya di bawah pohon flamboyan yang meneduhinya dari kabar tentang rusuh di Aceh. Sesekali aku bicara padanya, meski tanpa sahutan. Yang ada hanyalah gundukan dan batu nisan Ayah. Tanpa tanda lahir. Semua menatap dalam diam. Hanya aku terisak. Pelan.
Di hari ketiga belas, ketika aku sedang bercakap dengan flamboyan yang mungkin saja akarnya bisa menyampaikan resahku pada Ayah, seorang bocah datang mendekati dan menyampaikan surat dari Aceh.

     "Walau begitu Ayah akan tetap mati. Ayahmu memang telah mati
     Agar seperti Ayah juga, kamu harus tetap tinggal di Bandung.
     Jangan pulang ke Aceh."

                                                                              Wassalam,
                                                                                 Ibumu

Mungkin Ibu keliru, karena suatu saat nanti aku akan pulang ke Aceh.
Di sana, aku dan Ibu bisa mati dengan cara biasa.