secangkir mimpi dari langit yang koyak separuh
bingkai-bingkai masa lalu yang terlihat makin
rapuh
menggantung tanpa ada yang peduli
di tiang-tiang listrik kota... di persimpangan
mimpi-mimpi...
kau menjelma perempuan itu...
yang menaruh nasib terlalu dekat dengan
persimpangan
meski di sana, lampu kota memerah begitu cepat
dan kau tak pernah tahu
jika sebentar saja berjalan lambat
doa-doa baik akan dicegat
dirampas oleh mereka yang lebih dulu mampu
mengingat
dentang terdengar dari stasiun kereta
mengabarkan harapan yang baru saja turun
atau sekedar membawa rindu
yang tertukar dari stasiun ke stasiun
kau semakin menjelma perempuan itu...
meratapi kota dan orang-orang tergesa
yang tak lagi menjanjikan akhir bahagia
mereka yang lupa akan dongeng-dongeng hampir
sempurna
lalu, kau tak lagi bertanya
memilih menyerah pada nelangsa...
pada takdir dan kabar buruk...
yang mereka jejalkan ke kantung hidupmu
kini kau telah menjelma perempuan itu
lalu... pada dentang jam keberapa kau akan pulang
ke takdirmu?