“Tidak seharusnya
kamu makan biskuit di tengah malam begini... Lihat, mimpi-mimpimu hancur
menjadi remah-remah.”
“Kalau begitu, mari,
kita beli tiket kereta malam, kita pergi melakukan perjalanan, melintasi
lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela... Ah, dan coba
lihat disana, kuburan paus-paus sudah dekat!”
Pagi
yang muram. Suratmu datang terlambat. Telat lima hari, tepatnya. Dan rasa-rasanya,
aku bisa menebak apa yang kau akan katakan: “Kamu sudah
tahu jawabannya, kan?” Hmm... Ya, kau
pasti akan bilang begitu.
“Huff, panas sekali
disini.”
“Ah, kau sudah terima
kado dariku?”
Dalam
suratmu kau bilang: “Aku mengirimimu piano, lho.” Piano yang sangat kusukai, dulu sekali,
waktu aku masih kecil... Waktu itu pertama kalinya aku memasuki kamarmu. Ada
mainan piano merah itu yang tak henti membuat suara Ting-Tong-Ting-Tong menjengkelkan setiap kali kau tekan
tutsnya. Yang entah kenapa mengingatkanku akan kuburan paus-paus...
“Syukurlah, kamu
sudah pulang...”
“Ya, dan kamu sudah
bisa tenang.”
Kau
terdiam sejenak. Entah apa yang kau pikirkan,
“Kamu tahu, aku
khawatir sekali,” katamu sambil mulai
mengenakan pakaian, sisa peluh menggelincir turun di lehermu yang putih.
“Tapi, ya sudahlah... lalu bagaimana pekerjaan barumu?”
“...”
Sungguh,
aku malas membicarakannya.
Ketika
musim panas berakhir, seluruh pinggiran tebing tepi laut akan dipenuhi oleh
bunga-bunga merah yang mekar. Dan tahukah kamu, apabila perahu-perahu para
pemburu paus kembali ke dermaga dengan bendera merah berkibar di anjungannya,
artinya mereka mendapat tangkapan!
...dan
kita akan berlari sampai kehabisan nafas, menuju dermaga itu, dan pantai menjadi
sepenuhnya merah oleh darah sang paus. Lalu kau dengar suara belulang mereka
berbunyi: Klotak-Klotak-Klotak... dan kemudian mentari yang tenggelam menjadikannya semakin merah
pula...
“...kamu capek yah?”
“Ya, begitulah.”
“Ah... mudah-mudahan
sekarang bisa berhasil. Syukurlah, musim panas juga sebentar lagi selesai.”
“...”
Ah,
topik itu lagi.
“Kamu suka pianonya?”
“Kenapa kau kirimkan?
Aku ingat ada waktu dimana kau sama sekali tidak mau meminjamkannya padaku
barang sebentar saja.”
Kau
tertawa terbahak-bahak, dan aku suka melihatnya. Aku suka melihat sudut bibirmu
membentuk senyum, juga puting lembut yang membayang di balik kemejamu yang
tipis, yang sengaja tidak kau kancingkan seluruhnya...
“Dulu kamu bilang
suaranya aneh sekali,”
“...kau tahu,
belakangan ini aku banyak memimpikanmu...”
Ah...
lansekap itu terlihat begitu sedih... dan suara Klotak-Klotak-Klotak
belulang paus menggema memenuhi senja...
sedihkah engkau, sayangku? Kalau iya, yuk, mari kita naik ke kereta malam, dan
larut dalam sebuah perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa
saksikan di luar jendela, lansekap yang tak akan mampu kita genggam... mari
kita pergi mengunjungi kuburan ikan-ikan pausmu itu.
“...aku baik-baik
saja, Terima kasih. Kamu pergi saja sendiri.”
“...”
Keesokan
harinya, aku menaiki kereta seorang diri. Kereta itu melaju dalam kekalutan
yang tenang... menuju teluk, melewati entah berapa banyak terowongan... dan di
tengah kegelapan yang pekat, bisa kurasakan suara belulang paus-paus itu, memanggilku dengan nyanyian sunyi dari balik makam-makam mereka...
...
...dan
sungguh, suara piano merah itu tak henti mengalun...
Memenuhi
kehampaan...
Memenuhi
mimpiku...