Minggu, 07 April 2013

Kereta Di Akhir Musim Panas


“Tidak seharusnya kamu makan biskuit di tengah malam begini... Lihat, mimpi-mimpimu hancur menjadi remah-remah.”

“Kalau begitu, mari, kita beli tiket kereta malam, kita pergi melakukan perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela... Ah, dan coba lihat disana, kuburan paus-paus sudah dekat!”

Pagi yang muram. Suratmu datang terlambat. Telat lima hari, tepatnya. Dan rasa-rasanya, aku bisa menebak apa yang kau akan katakan: “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?” Hmm... Ya, kau pasti akan bilang begitu.

“Huff, panas sekali disini.”

“Ah, kau sudah terima kado dariku?”

Dalam suratmu kau bilang: “Aku mengirimimu piano, lho.” Piano yang sangat kusukai, dulu sekali, waktu aku masih kecil... Waktu itu pertama kalinya aku memasuki kamarmu. Ada mainan piano merah itu yang tak henti membuat suara ­Ting-Tong-Ting-Tong menjengkelkan setiap kali kau tekan tutsnya. Yang entah kenapa mengingatkanku akan kuburan paus-paus...

“Syukurlah, kamu sudah pulang...”

“Ya, dan kamu sudah bisa tenang.”

Kau terdiam sejenak. Entah apa yang kau pikirkan,

“Kamu tahu, aku khawatir sekali,” katamu sambil mulai mengenakan pakaian, sisa peluh menggelincir turun di lehermu yang putih. “Tapi, ya sudahlah... lalu bagaimana pekerjaan barumu?”

“...”

Sungguh, aku malas membicarakannya.

Ketika musim panas berakhir, seluruh pinggiran tebing tepi laut akan dipenuhi oleh bunga-bunga merah yang mekar. Dan tahukah kamu, apabila perahu-perahu para pemburu paus kembali ke dermaga dengan bendera merah berkibar di anjungannya, artinya mereka mendapat tangkapan!

...dan kita akan berlari sampai kehabisan nafas, menuju dermaga itu, dan pantai menjadi sepenuhnya merah oleh darah sang paus. Lalu kau dengar suara belulang mereka berbunyi: Klotak-Klotak-Klotak... dan kemudian mentari yang tenggelam menjadikannya semakin merah pula...

“...kamu capek yah?”

“Ya, begitulah.”

“Ah... mudah-mudahan sekarang bisa berhasil. Syukurlah, musim panas juga sebentar lagi selesai.”

“...”

Ah, topik itu lagi.

“Kamu suka pianonya?”

“Kenapa kau kirimkan? Aku ingat ada waktu dimana kau sama sekali tidak mau meminjamkannya padaku barang sebentar saja.”

Kau tertawa terbahak-bahak, dan aku suka melihatnya. Aku suka melihat sudut bibirmu membentuk senyum, juga puting lembut yang membayang di balik kemejamu yang tipis, yang sengaja tidak kau kancingkan seluruhnya...

“Dulu kamu bilang suaranya aneh sekali,”

“...kau tahu, belakangan ini aku banyak memimpikanmu...”

Ah... lansekap itu terlihat begitu sedih... dan suara Klotak-Klotak-Klotak belulang paus menggema memenuhi senja... sedihkah engkau, sayangku? Kalau iya, yuk, mari kita naik ke kereta malam, dan larut dalam sebuah perjalanan, melintasi lansekap asing yang kita hanya bisa saksikan di luar jendela, lansekap yang tak akan mampu kita genggam... mari kita pergi mengunjungi kuburan ikan-ikan pausmu itu.

“...aku baik-baik saja, Terima kasih. Kamu pergi saja sendiri.”

“...”

Keesokan harinya, aku menaiki kereta seorang diri. Kereta itu melaju dalam kekalutan yang tenang... menuju teluk, melewati entah berapa banyak terowongan... dan di tengah kegelapan yang pekat, bisa kurasakan suara belulang paus-paus itu, memanggilku dengan nyanyian sunyi dari balik makam-makam mereka...

...

...dan sungguh, suara piano merah itu tak henti mengalun...

Memenuhi kehampaan...

Memenuhi mimpiku...