“Kling,“ suara lemparan koin membentur aspal.
Siang itu, di tengah
deru asap kendaraan, seorang penari Jathilan bergerak luwes tak kenal canggung.
Persis seperti penari yang sudah sering tampil di layar kaca. Tatapan mata para
manusia urban hanya melihatnya selintas, dan mungkin, jika ada perhatian,
mereka akan memberi uang dan kemudian berlalu, sebab traffic-light sudah
berwarna hijau. Di atas tiang penyangga billboard, terpampang gambar kartun
manusia yang sedang membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangan untuk memberi
uang kepada manusia lain yang diberi tanda silang berwarna merah.
Setiap lampu berubah
merah, perempuan itu meninggalkan obrolan dan turun ke jalan, bernyanyi di zebra
cross di hadapan pengendara yang sedang berhenti. Dari tepi jalan, saya dengar
ia membawakan lagu Jawa yang mirip nyanyian sinden. Pada dirinya, dengan modal
pita suara, busana kebaya dan polesan bedak yang menutupi kerutan wajah—juga
alat musik marakas, kesenian Jawa itu mencukupi kebutuhan ekonominya.
Sesuai julukan awam,
ia menyebut pekerjannya sebagai “pengamen”. Selain mengamen, perempuan tersebut
rupanya juga tergabung ke dalam grup kesenian tayub yang punya skala
pertunjukan hingga ke luar kota. Beberapa kali, bersama grup tayubnya, ia
pernah mendapat orderan manggung, katanya, ia pernah tampil sampai ke Banyumas
dan Banjarnegara. Tak heran. Suaranya memang terdengar bagus seperti
sinden-sinden yang mengiringi pertunjukan wayang.
Setidaknya, inilah
sketsa seni di jalan-jalan—nasib seni yang kurang beruntung untuk mendapat
apresiasi—baik dari penonton maupun kritikus seni. Tentu desakan ekonomilah
yang membuat perempatan-perempatan besar di tangan mereka berubah jadi panggung
seni berskala menit. Panggung yang kita pun tak tahu pasti apakah ia jadi
tumpuan hidup utama tanpa kita mendekatinya lebih dekat.
Dari hasil wawancara pada sebuah zine punk
berjudul Seni Untuk Semua, seorang
penggiat acara musik indie menyebutkan, “Untuk acara tanpa sponsor, pokok persoalan paling klasik yang amat
sering menjadi kendala adalah uang. Kita tidak dapat menafikkan kalo peran uang
memang menjamin meriah atau suksesnya acara. Usaha yang paling signifikan untuk
mengatasi hal tersebut ialah dengan membuat benefit.“
Dari pernyataan
tersebut, dapat diketahui bahwa seni-seni pinggiran mencoba lepas dari agensi
sponsor atau pendukung dana, meskipun tanpa kehadiran uang, pertunjukan sulit
direalisasikan. Dalam seni-seni pinggiran, dikenal slogan Do It Yourself (DIY) yang menjadi
simbol resistensi atas kapitalisasi—dalam konteks ini, tentu saja berarti seni
yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri.
Kita hidup di dalam
zaman keindahan yang instan, dan kapitalisme tahu benar bagaimana meracik seni
cepat saji. Pertunjukan seni digelar di mana-mana. Setiap malam kita disuguhi
kemewahan seni dalam konser musik melalui layar kaca—dan begitu pula halnya di
perjalanan; di lampu merah, kita bertemu dengan bangsa sesama kita, menyanyikan
lagu yang mungkin juga pernah kita dengar di layar kaca.
Tidak ada perbedaan
antara kita dan mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita, seperti juga
para pembuat kebijakan yang punya mimpi tentang wajah kota yang asri, bersih,
dan tanpa sampah yang berserakan di jalan. Alasannya, jalan adalah citra suatu
kota, bahkan negara—dan citra diri yang baik adalah jalanan yang tertib,
teratur, dan bersih.
Obrolan tentang
fenomena jalanan lagi-lagi mesti kembali ke persoalan ekonomi. Manusia mungkin
akan terus-menerus berdatangan turun ke jalan selama tempat tersebut
menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih daripada harus bekerja di suatu
tempat dengan pendapatan yang tak sebesar di jalan. Di lain sisi, pemerintah bilang
bahwa mereka sedang mengusahakan dikeluarkannya peraturan daerah yang dapat
menekan maraknya jumlah orang jalanan. Solusi yang ditawarkan ketika itu—yang
barangkali sudah sedemikian akrab di telinga kita—antara lain melakukan
penertiban, memberi penyuluhan, dan keterampilan kepada mereka.
Akan tetapi, manusia
tak selesai sebatas angka. Bagaimana mungkin jika jalanan yang selama ini
menjadi ruang kerja mereka, yang menjanjikan keuntungan ekonomi lebih besar dan
lebih praktis, dapat berubah total hanya dengan dikeluarkannya satu kebijakan
sepihak? Maka, di tiap sudut jalanan kita bisa jumpai papan-papan besar
bertuliskan “Peduli Tidak Sama Dengan Memberi Uang” yang praktis mencoba
memutus sumber hidup mereka.
Jadi, siapa sih
sebetulnya sang pemilik jalan? Mengikuti istilah populer masa kini, jalanan
adalah frontier, garda depan tempat ia menjadi arena bertemunya segala
kepentingan; orang jualan, pengendara motor, pesepeda, papan iklan, tukang
tambal ban, petugas parkir, tukang becak, pedagang kaki lima, orang gila,
polantas, pejalan kaki, pemulung, demonstran, seniman, petugas ketertiban,
pencopet, penjahat, dan orang-orang jalanan yang kena desakan ekonomi hingga
mau tak mau menjadikan jalan sebagai tumpuan hidupnya. Jalan adalah milik
bersama yang membuatnya tidak hanya diisi oleh kepentingan pemerintah untuk
mendesain citra kota yang tertib, tetapi juga diisi oleh manusia yang punya
kepentingan untuk mencukupi kebutuhan perut.
Jalanan menjadi toko,
sirkuit, medan iklan, lahan parkir, dan panggung yang mementaskan kehidupan
yang sebenarnya—yang mungkin tak begitu dilirik oleh media, atau justru
sebaliknya, diekspos sedemikian rupa untuk menarik simpati penonton, sebab
simpati bernilai ekonomi dalam praktik kapitalisme. Mungkin saja penyanyi dan
penari yang saya temui itu telah berlatih sedari kecil. Dan hal tersebut bisa
menjadi refleksi yang lebih umum untuk melihat seperti apa wajah pertunjukan
seni di desa-desa sebelum terlempar ke panggung jalanan yang jauh dari
apresiasi penonton.
***
Selama ini, kritik
seni pertunjukan hampir selalu dibayangkan sebagai seni dalam konstruksi
masyarakat konsumsi. Maka tak jarang tema yang menjadi subjek pengamatan pun
akan selalu berkutat pada seni yang—dalam tanda kutip—formal, eksklusif dan mainstream.
Kesenian yang berlangsung di gedung pertunjukan atau di panggung yang telah
dipersiapkan oleh event-organizer adalah seni yang memberi kesan bahwa
pertunjukan menjadi hasil dari proses kreatif yang mesti diapresiasi dengan
mendesain panggung seindah mungkin. Akibatnya, di jalanan, di panggung
kehidupan marjinal, seni manusia yang menawarkan suara dan gerak sederhana,
yang tidak berbeda dengan seni pertunjukan yang berlangsung dalam gedung,
tereleminasi dari mata. Begitulah wacana menormalisasi mata kita ketika menatap
sesuatu sebagai seni.
Penelaahan mengenai formasi diskursif seni sendiri acapkali muncul dalam berbagai persepektif, baik eksistensialisme, strukturalisme, maupun post-strukturalisme—yang selanjutnya mungkin dapat mengidentifikasi
posisi perspektif kita ketika berwacana tentang seni. Lyotard dalam buku Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan,
mengemukakan perspektifnya berikut ini:
“Seniman, pemilik
galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa
saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun, kenyataan
yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan
tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna
untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma
seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’,
dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan
mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib
atau menghibur dirinya sendiri.”
Leon Trotsky, dalam
tulisannya mengenai Seni dan Politik
(Surat kepada Dewan Redaksi Partisan Review) menyatakan bahwa “Secara umum, seni adalah ekspresi dari
kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu,
untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas.“
Pramoedya Ananta Toer
juga pernah membicarakan seni, yang mungkin dapat kita tilik perspektifnya
lewat sebuah pasase di buku Anak Semua
Bangsa berikut ini:
“’Melayani
pesanan-pesanan hanya untuk menyambung hidup begini, dengan seni ini tak ada
bedanya aku dengan Maiko. Memalukan,’ kata seorang pelukis Perancis yang coba
membandingkan dirinya dengan pelacur bernama Maiko. ‘Coba, mendapat upah karena
menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri,
kan itu di dalam seni namanya pelacuran?’”
Namun, hari ini,
barangkali sebagian besar seni hidup melacur, dan pelacuran adalah tanda
ketabrak nasib. Seni menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat penghidupan,
menghidupi seninya, dan jika beruntung, beroleh ketenaran. Bisa saja motivator
atau pengamat akan berkomentar; “...selalu ada jalan selagi ada kemauan.” Ya,
benar, optimisme memang mutlak diperlukan, tetapi jangan lupa bahwa suara itu
terlontar dari atas podium, di depan lensa yang segalanya dapat diatur oleh
kamera—bukan di atas retakan trotoar di sela-sela deru kendaraan yang
melintasinya. Saya tidak tahu apakah kita juga mampu membayangkan bagaimana
wajah seni jika ia menjadi satu-satunya jalan untuk menyambung napas, mencukupi
kebutuhan ekonomi kita, dan bukan untuk tujuan memuaskan hasrat akan keindahan
seperti dalam diskursus-diskursus seni pada umumnya—akankah perspektif kita
tentang seni juga akan berbeda?
Dalam puisi yang
muram, dan barangkali juga karena geram, Rendra pernah mengajukan sebentuk kegundahan
yang “...membentur jidat penyair-penyair
salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak-adilan
terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian”. Tentu bait ini adalah metafor yang
mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita, bahwa tak semua seni diselubungi
keindahan. Kerapkali keindahan hanya tudung yang menyilaukan mata, sebab seni
mengeram dalam hangat selimut modal dan puluhan deret nama sponsor. Seni
menyangkut penghidupan banyak manusia—dan jika yang menyangkut napas banyak
orang, segala jalan mesti ditempuh, meski barangkali satu-satunya jalan adalah
dengan melacurkan seni itu sendiri.
Pada awalnya, seni
jalanan itu, yang barangkali saja tak sanggup mencuri perhatian kita karena
cara kita mengidentifikasi sesuatu sebagai seni telah distandardisasi oleh
media, adalah pantulan dari wajah kita, wajah masyarakat tempat kita menjadi
bagian darinya, wajah kompleksitas sosial yang membuat kita diam-diam mengamini
pelacuran seni.