Rabu, 03 April 2013

Melacurkan Seni...


Kling,“ suara lemparan koin membentur aspal.

Siang itu, di tengah deru asap kendaraan, seorang penari Jathilan bergerak luwes tak kenal canggung. Persis seperti penari yang sudah sering tampil di layar kaca. Tatapan mata para manusia urban hanya melihatnya selintas, dan mungkin, jika ada perhatian, mereka akan memberi uang dan kemudian berlalu, sebab traffic-light sudah berwarna hijau. Di atas tiang penyangga billboard, terpampang gambar kartun manusia yang sedang membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangan untuk memberi uang kepada manusia lain yang diberi tanda silang berwarna merah.

Setiap lampu berubah merah, perempuan itu meninggalkan obrolan dan turun ke jalan, bernyanyi di zebra cross di hadapan pengendara yang sedang berhenti. Dari tepi jalan, saya dengar ia membawakan lagu Jawa yang mirip nyanyian sinden. Pada dirinya, dengan modal pita suara, busana kebaya dan polesan bedak yang menutupi kerutan wajah—juga alat musik marakas, kesenian Jawa itu mencukupi kebutuhan ekonominya.

Sesuai julukan awam, ia menyebut pekerjannya sebagai “pengamen”. Selain mengamen, perempuan tersebut rupanya juga tergabung ke dalam grup kesenian tayub yang punya skala pertunjukan hingga ke luar kota. Beberapa kali, bersama grup tayubnya, ia pernah mendapat orderan manggung, katanya, ia pernah tampil sampai ke Banyumas dan Banjarnegara. Tak heran. Suaranya memang terdengar bagus seperti sinden-sinden yang mengiringi pertunjukan wayang.

Setidaknya, inilah sketsa seni di jalan-jalan—nasib seni yang kurang beruntung untuk mendapat apresiasi—baik dari penonton maupun kritikus seni. Tentu desakan ekonomilah yang membuat perempatan-perempatan besar di tangan mereka berubah jadi panggung seni berskala menit. Panggung yang kita pun tak tahu pasti apakah ia jadi tumpuan hidup utama tanpa kita mendekatinya lebih dekat.

Dari hasil wawancara pada sebuah zine punk berjudul Seni Untuk Semua, seorang penggiat acara musik indie menyebutkan, “Untuk acara tanpa sponsor, pokok persoalan paling klasik yang amat sering menjadi kendala adalah uang. Kita tidak dapat menafikkan kalo peran uang memang menjamin meriah atau suksesnya acara. Usaha yang paling signifikan untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan membuat benefit.“

Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa seni-seni pinggiran mencoba lepas dari agensi sponsor atau pendukung dana, meskipun tanpa kehadiran uang, pertunjukan sulit direalisasikan. Dalam seni-seni pinggiran, dikenal slogan Do It Yourself (DIY) yang menjadi simbol resistensi atas kapitalisasi—dalam konteks ini, tentu saja berarti seni yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri.

Kita hidup di dalam zaman keindahan yang instan, dan kapitalisme tahu benar bagaimana meracik seni cepat saji. Pertunjukan seni digelar di mana-mana. Setiap malam kita disuguhi kemewahan seni dalam konser musik melalui layar kaca—dan begitu pula halnya di perjalanan; di lampu merah, kita bertemu dengan bangsa sesama kita, menyanyikan lagu yang mungkin juga pernah kita dengar di layar kaca.

Tidak ada perbedaan antara kita dan mereka. Mereka punya mimpi, sama seperti kita, seperti juga para pembuat kebijakan yang punya mimpi tentang wajah kota yang asri, bersih, dan tanpa sampah yang berserakan di jalan. Alasannya, jalan adalah citra suatu kota, bahkan negara—dan citra diri yang baik adalah jalanan yang tertib, teratur, dan bersih.

Obrolan tentang fenomena jalanan lagi-lagi mesti kembali ke persoalan ekonomi. Manusia mungkin akan terus-menerus berdatangan turun ke jalan selama tempat tersebut menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih daripada harus bekerja di suatu tempat dengan pendapatan yang tak sebesar di jalan. Di lain sisi, pemerintah bilang bahwa mereka sedang mengusahakan dikeluarkannya peraturan daerah yang dapat menekan maraknya jumlah orang jalanan. Solusi yang ditawarkan ketika itu—yang barangkali sudah sedemikian akrab di telinga kita—antara lain melakukan penertiban, memberi penyuluhan, dan keterampilan kepada mereka.

Akan tetapi, manusia tak selesai sebatas angka. Bagaimana mungkin jika jalanan yang selama ini menjadi ruang kerja mereka, yang menjanjikan keuntungan ekonomi lebih besar dan lebih praktis, dapat berubah total hanya dengan dikeluarkannya satu kebijakan sepihak? Maka, di tiap sudut jalanan kita bisa jumpai papan-papan besar bertuliskan “Peduli Tidak Sama Dengan Memberi Uang” yang praktis mencoba memutus sumber hidup mereka.

Jadi, siapa sih sebetulnya sang pemilik jalan? Mengikuti istilah populer masa kini, jalanan adalah frontier, garda depan tempat ia menjadi arena bertemunya segala kepentingan; orang jualan, pengendara motor, pesepeda, papan iklan, tukang tambal ban, petugas parkir, tukang becak, pedagang kaki lima, orang gila, polantas, pejalan kaki, pemulung, demonstran, seniman, petugas ketertiban, pencopet, penjahat, dan orang-orang jalanan yang kena desakan ekonomi hingga mau tak mau menjadikan jalan sebagai tumpuan hidupnya. Jalan adalah milik bersama yang membuatnya tidak hanya diisi oleh kepentingan pemerintah untuk mendesain citra kota yang tertib, tetapi juga diisi oleh manusia yang punya kepentingan untuk mencukupi kebutuhan perut.

Jalanan menjadi toko, sirkuit, medan iklan, lahan parkir, dan panggung yang mementaskan kehidupan yang sebenarnya—yang mungkin tak begitu dilirik oleh media, atau justru sebaliknya, diekspos sedemikian rupa untuk menarik simpati penonton, sebab simpati bernilai ekonomi dalam praktik kapitalisme. Mungkin saja penyanyi dan penari yang saya temui itu telah berlatih sedari kecil. Dan hal tersebut bisa menjadi refleksi yang lebih umum untuk melihat seperti apa wajah pertunjukan seni di desa-desa sebelum terlempar ke panggung jalanan yang jauh dari apresiasi penonton.

***

Selama ini, kritik seni pertunjukan hampir selalu dibayangkan sebagai seni dalam konstruksi masyarakat konsumsi. Maka tak jarang tema yang menjadi subjek pengamatan pun akan selalu berkutat pada seni yang—dalam tanda kutip—formal, eksklusif dan mainstream. Kesenian yang berlangsung di gedung pertunjukan atau di panggung yang telah dipersiapkan oleh event-organizer adalah seni yang memberi kesan bahwa pertunjukan menjadi hasil dari proses kreatif yang mesti diapresiasi dengan mendesain panggung seindah mungkin. Akibatnya, di jalanan, di panggung kehidupan marjinal, seni manusia yang menawarkan suara dan gerak sederhana, yang tidak berbeda dengan seni pertunjukan yang berlangsung dalam gedung, tereleminasi dari mata. Begitulah wacana menormalisasi mata kita ketika menatap sesuatu sebagai seni.

Penelaahan mengenai formasi diskursif seni sendiri acapkali muncul dalam berbagai persepektif, baik eksistensialisme, strukturalisme, maupun post-strukturalisme—yang selanjutnya mungkin dapat mengidentifikasi posisi perspektif kita ketika berwacana tentang seni. Lyotard dalam buku Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan, mengemukakan perspektifnya berikut ini:

“Seniman, pemilik galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun, kenyataan yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’, dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib atau menghibur dirinya sendiri.”

Leon Trotsky, dalam tulisannya mengenai Seni dan Politik (Surat kepada Dewan Redaksi Partisan Review) menyatakan bahwa “Secara umum, seni adalah ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu, untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas.“

Pramoedya Ananta Toer juga pernah membicarakan seni, yang mungkin dapat kita tilik perspektifnya lewat sebuah pasase di buku Anak Semua Bangsa berikut ini:

“’Melayani pesanan-pesanan hanya untuk menyambung hidup begini, dengan seni ini tak ada bedanya aku dengan Maiko. Memalukan,’ kata seorang pelukis Perancis yang coba membandingkan dirinya dengan pelacur bernama Maiko. ‘Coba, mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu di dalam seni namanya pelacuran?’”

Namun, hari ini, barangkali sebagian besar seni hidup melacur, dan pelacuran adalah tanda ketabrak nasib. Seni menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat penghidupan, menghidupi seninya, dan jika beruntung, beroleh ketenaran. Bisa saja motivator atau pengamat akan berkomentar; “...selalu ada jalan selagi ada kemauan.” Ya, benar, optimisme memang mutlak diperlukan, tetapi jangan lupa bahwa suara itu terlontar dari atas podium, di depan lensa yang segalanya dapat diatur oleh kamera—bukan di atas retakan trotoar di sela-sela deru kendaraan yang melintasinya. Saya tidak tahu apakah kita juga mampu membayangkan bagaimana wajah seni jika ia menjadi satu-satunya jalan untuk menyambung napas, mencukupi kebutuhan ekonomi kita, dan bukan untuk tujuan memuaskan hasrat akan keindahan seperti dalam diskursus-diskursus seni pada umumnya—akankah perspektif kita tentang seni juga akan berbeda?

Dalam puisi yang muram, dan barangkali juga karena geram, Rendra pernah mengajukan sebentuk kegundahan yang “...membentur jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak-adilan terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian”. Tentu bait ini adalah metafor yang mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita, bahwa tak semua seni diselubungi keindahan. Kerapkali keindahan hanya tudung yang menyilaukan mata, sebab seni mengeram dalam hangat selimut modal dan puluhan deret nama sponsor. Seni menyangkut penghidupan banyak manusia—dan jika yang menyangkut napas banyak orang, segala jalan mesti ditempuh, meski barangkali satu-satunya jalan adalah dengan melacurkan seni itu sendiri.

Pada awalnya, seni jalanan itu, yang barangkali saja tak sanggup mencuri perhatian kita karena cara kita mengidentifikasi sesuatu sebagai seni telah distandardisasi oleh media, adalah pantulan dari wajah kita, wajah masyarakat tempat kita menjadi bagian darinya, wajah kompleksitas sosial yang membuat kita diam-diam mengamini pelacuran seni.