Pasca kesuksesan fenomenal film animasi “Inside Out” produksi
Pixar, setiap screening film animasi di Cannes punya potensi menjadi
antiklimaks. Terutama jika film yang dibicarakan adalah sebuah adaptasi modern dari
salah satu novel anak-anak paling dicintai sepanjang masa. Tetapi untungnya, “The
Little Prince” besutan Mark Osborne (“Spongebob Squarepants” & “Kung Fu
Panda”) ini membuktikan diri sebagai remake
rediscovery memukau dari karya klasik
Antoine de Saint-Exupery di tahun 1943 dengan judul yang sama. Meski film ini
menuturkan kisah sang pangeran kecil lewat kerangka dunia modern, namun sutradara
Mark Osborne tetap setia pada gaya penuturan Saint-Exupery yang ringan dan
bersahaja—nyaris lirikal—tanpa melewatkan satupun poin naratifnya.
Novelet “The Little Prince” itu sendiri, meski
terlihat tipis dan tidak cukup panjang untuk dijadikan film berdurasi 106
menit, tidak menghentikan screenwriter Irena Brignull (“The Boxtrolls”) dan Bob
Persichetti (“Kungfu Panda”) untuk membawakan kisah Saint-Exupery ini dalam
kerangka metropolis modern yang modular, penuh teknologi dan efisiensi. Di sanalah kita pertama kali diperkenalkan dengan si Gadis
Kecil tanpa nama (disuarakan oleh Mackenzie Foy), yang tinggal berdua dengan
ibunya (Rachel McAdams) di suatu suburbia serius tanpa imajinasi.
Untungnya bagi si Gadis Kecil, tetangga barunya
ternyata seorang Aviator Tua eksentrik (Jeff Bridges), yang memasuki kehidupan
si Gadis Kecil setelah sebuah propeller nyasar dari Lockheed P-38 antik di
halaman belakangnya terlontar dan menjebol ruang tengah rumah baru protagonis
kecil kita. Ini tentu jadi masalah. Seberapa sering anda menjebol ruang tengah
tetangga anda? Dengan sebuah baling-baling? Milik Lockheed P-38 antik? Yang diparkir
di halaman belakang anda? Yang benar saja.
Tetapi seiring film berlanjut, sang Aviator Tua memperkenalkan
si Gadis Kecil dengan kisah The Little Prince lewat tulisan tangan dan
ilustrasi cat air yang dilipat menjadi pesawat kertas. Di sini, Mark Osborne
melakukan transisi animasi yang memukau dari animasi 3D CGI yang tipikal,
menjadi animasi stop-motion 2D, menghidupkan kisah Saint-Exupery melaui animasi
memukau buatan tangan yang setia pada gaya ilustrasi cat air sang penulis yang
kasar namun elegan.
Scene ini
sangat menyenangkan untuk ditonton — semburat kertas warna-warni dan teknik
stop-motion boneka lilin buatan tangan yang tidak kalah memukaunya dengan “Fantastic
Mr. Fox” karya Wes Anderson atau “Coraline”-nya Henry Selick, dan sampai akhir
film, “The Little Prince” tidak berhenti memanjakan visual penonton dengann
gaya animasi yang berpindah-pindah, menuturkan kisah paralel si Gadis Kecil dan
sang Little Prince yang berusaha kembali kepada bunga mawarnya.
Yang menarik dari film “The Little Prince” adalah
bagaimana orang-orang dewasa digambarkan sebagai karakter-karakter kaku tanpa
imajinasi dan minim warna, di tengah dunia kotak-kotak yang berjalan dengan
begitu efisien seperti mesin jam. “The Little Prince” menarik kita ke dalam
dunia indah nan memukau, melalui mata polos anak-anak yang melihat
segala sesuatu dengan ketakjuban, imajinasi, dan keingintahuan, mengingatkan kembali
kita pada sebuah memoar sederhana dari kisah klasik Saint-Exupery: “Growing up isn’t the problem, forgetting
is.”










