Selasa, 01 Desember 2015

Film Review: Rediscovering "The Little Prince"


Pasca kesuksesan fenomenal film animasi “Inside Out” produksi Pixar, setiap screening film animasi di Cannes punya potensi menjadi antiklimaks. Terutama jika film yang dibicarakan adalah sebuah adaptasi modern dari salah satu novel anak-anak paling dicintai sepanjang masa. Tetapi untungnya, “The Little Prince” besutan Mark Osborne (“Spongebob Squarepants” & “Kung Fu Panda”) ini membuktikan diri sebagai remake rediscovery memukau dari karya klasik Antoine de Saint-Exupery di tahun 1943 dengan judul yang sama. Meski film ini menuturkan kisah sang pangeran kecil lewat kerangka dunia modern, namun sutradara Mark Osborne tetap setia pada gaya penuturan Saint-Exupery yang ringan dan bersahaja—nyaris lirikal—tanpa melewatkan satupun poin naratifnya.
Novelet “The Little Prince” itu sendiri, meski terlihat tipis dan tidak cukup panjang untuk dijadikan film berdurasi 106 menit, tidak menghentikan screenwriter Irena Brignull (“The Boxtrolls”) dan Bob Persichetti (“Kungfu Panda”) untuk membawakan kisah Saint-Exupery ini dalam kerangka metropolis modern yang modular, penuh teknologi dan efisiensi. Di sanalah kita pertama kali diperkenalkan dengan si Gadis Kecil tanpa nama (disuarakan oleh Mackenzie Foy), yang tinggal berdua dengan ibunya (Rachel McAdams) di suatu suburbia serius tanpa imajinasi. 
Untungnya bagi si Gadis Kecil, tetangga barunya ternyata seorang Aviator Tua eksentrik (Jeff Bridges), yang memasuki kehidupan si Gadis Kecil setelah sebuah propeller nyasar dari Lockheed P-38 antik di halaman belakangnya terlontar dan menjebol ruang tengah rumah baru protagonis kecil kita. Ini tentu jadi masalah. Seberapa sering anda menjebol ruang tengah tetangga anda? Dengan sebuah baling-baling? Milik Lockheed P-38 antik? Yang diparkir di halaman belakang anda? Yang benar saja. 
Tetapi seiring film berlanjut, sang Aviator Tua memperkenalkan si Gadis Kecil dengan kisah The Little Prince lewat tulisan tangan dan ilustrasi cat air yang dilipat menjadi pesawat kertas. Di sini, Mark Osborne melakukan transisi animasi yang memukau dari animasi 3D CGI yang tipikal, menjadi animasi stop-motion 2D, menghidupkan kisah Saint-Exupery melaui animasi memukau buatan tangan yang setia pada gaya ilustrasi cat air sang penulis yang kasar namun elegan.
Scene ini sangat menyenangkan untuk ditonton — semburat kertas warna-warni dan teknik stop-motion boneka lilin buatan tangan yang tidak kalah memukaunya dengan “Fantastic Mr. Fox” karya Wes Anderson atau “Coraline”-nya Henry Selick, dan sampai akhir film, “The Little Prince” tidak berhenti memanjakan visual penonton dengann gaya animasi yang berpindah-pindah, menuturkan kisah paralel si Gadis Kecil dan sang Little Prince yang berusaha kembali kepada bunga mawarnya. 
Yang menarik dari film “The Little Prince” adalah bagaimana orang-orang dewasa digambarkan sebagai karakter-karakter kaku tanpa imajinasi dan minim warna, di tengah dunia kotak-kotak yang berjalan dengan begitu efisien seperti mesin jam. “The Little Prince” menarik kita ke dalam dunia indah nan memukau, melalui mata polos anak-anak yang melihat segala sesuatu dengan ketakjuban, imajinasi, dan keingintahuan, mengingatkan kembali kita pada sebuah memoar sederhana dari kisah klasik Saint-Exupery: “Growing up isn’t the problem, forgetting is.”