Selasa, 08 Desember 2015

Parade Nokturnal


Terbenam dalam diskusi mengenai kekekalan, kami biarkan malam turun tanpa menyalakan pelita. Kami tak bisa melihat wajah satu sama lain. Dengan sikap tak acuh dan kehalusan yang lebih meyakinkan, suara R mengulangi bahwa jiwa itu kekal. Ia meyakinkanku bahwa kematian ragawi sama sekali tak signifikan, bahwa kematian adalah keniscayaan paling tidak berarti yang bisa menimpa manusia.

Aku sedang memain-mainkan pisau lipatku; membuka dan menutupnya. Sementara para pemain band dekat situ tak henti-hentinya melantunkan Maliq & The Essential, remeh temeh mengecewakan yang disukai begitu banyak orang hanya karena mereka kira itu lagu lawas… aku mengajukan usul kepada R agar kami bunuh diri saja, supaya bisa terus berdiskusi tanpa semua gangguan itu.

R: (mengejek) — Tapi aku rasa di saat-saat terakhir kamu berubah pikiran.

B: (larut dalam mistisisme) — Terus terang saja, aku tidak ingat malam itu kami bunuh diri atau tidak.