![]() |
| Cover |
“Tahun 1665... desas-desus
menyebutkan tentang pertanda turunnya antikristus di tahun mendatang, dan dunia
akan berakhir. Balthasar Embriaco, seorang akademisi dan pedagang barang antik bertolak dari tempat kelahirannya untuk mencari sebuah buku langka, yang
barangkali saja, merupakan kunci penyelamatan atas dunia yang tengah dilanda
kekalutan; sebuah kitab misterius karya Mazandarani yang dikatakan berisi nama
Tuhan ke-100. Pencarian itu membawanya melewati negeri yang hancur,
kota-kota yang terbakar, dan orang-orang pasrah yang menunggu kiamat. Perjalanan
Balthasar mempertemukannya dengan rasa takut, kepalsuan, dan ketidakberdayaan.
Namun ia juga menemukan cinta, kesetiaan, dan persahabatan ketika semua harapan
seakan-akan pergi meninggalkannya.”
Dalam
versi terjemahan Bahasa Indonesia, buku ini ditambahkan judulnya menjadi “Balthasar's
Odyssey: Nama Tuhan Keseratus",
meskipun judul aslinya hanya "Balthasar's
Odyssey". Entah apakah itu cuma akal-akalan penerbit supaya buku ini
lebih memiliki nilai jual karena para pembaca Indonesia memang lebih
tertarik dengan buku-buku dengan judul bombastis dengan sedikit aroma
konspirasi didalamnya. Tapi yang jelas, perubahan judul tersebut sangat menyesatkan! Karena orang-orang malah jadi lebih fokus pada sub-plot kitab mistis gubahan Mazandarani yang dikatakan mengandung
nama Tuhan yang keseratus, ketimbang esensi utama yang hendak disampaikan oleh Maalouf; yakni kultur dan identitas. Untunglah saya sudah membaca versi
Bahasa Inggrisnya terlebih dahulu, sehingga tidak perlu tersesat dalam distorsi
judul yang diubah itu. Jadi, sekali lagi saya tekankan: Kitab Mazandarani, Nama
Tuhan yang keseratus, dan prediksi kiamat yang akan jatuh di tahun 1666 itu hanyalah instrumen plot! Catat!
Nah, kembali pada esensi; ketimbang novel, Balthasar's Odyssey lebih menyerupai upaya penggalian akar identitas dunia modern yang persuasif dan nyaris subjektif. Dalam buku ini, Amin Maalouf bergerak melampaui kultur, keyakinan, dan sejarah dunia, dengan menggaris bawahi tentang bagaimana penekanan atas identitas personal, religi, atau etnis ternyata dapat membangkitkan sebuah kritik moral yang mendalam.
Petualangan Balthasar Embriaco merupakan sebuah kombinasi antara kronik sejarah dan perspektif kritis atas kultur yang dituturkan dengan sangat fasih. Dengan menarasikan pergulatan yang terjadi antara kultur barat dan arab, Maalouf berhasil melihat sesuatu di balik Clash of Civilization-nya Samuel Huntington. Kedua kultur tersebut masing-masing memiliki kontinuitas, sejarah, integritas, dan moralitasnya sendiri-sendiri, dan perjalanan Balthasar Embriaco itu sendiri merupakan pengejawantahan sempurna dari konfrontasi antara kedua kultur tersebut.
Melalui buku ini, Maalouf jelas membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang postkolonialis kemarin sore. Dengan penyampaian yang cerdas, runtun, penuh gairah, namun terkontrol, Amin Maalouf berhasil memberikan sebuah visi akan kohesi yang terperbarui dalam penelaahan identitas.
EMPAT SETENGAH bintang.
Not perfect, but worth the read.
