Senin, 23 November 2015

Book Review: Balthasar's Odyssey

Cover

“Tahun 1665... desas-desus menyebutkan tentang pertanda turunnya antikristus di tahun mendatang, dan dunia akan berakhir. Balthasar Embriaco, seorang akademisi dan pedagang barang antik bertolak dari tempat kelahirannya untuk mencari sebuah buku langka, yang barangkali saja, merupakan kunci penyelamatan atas dunia yang tengah dilanda kekalutan; sebuah kitab misterius karya Mazandarani yang dikatakan berisi nama Tuhan ke-100. Pencarian itu membawanya melewati negeri yang hancur, kota-kota yang terbakar, dan orang-orang pasrah yang menunggu kiamat. Perjalanan Balthasar mempertemukannya dengan rasa takut, kepalsuan, dan ketidakberdayaan. Namun ia juga menemukan cinta, kesetiaan, dan persahabatan ketika semua harapan seakan-akan pergi meninggalkannya.”

Dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia, buku ini ditambahkan judulnya menjadi Balthasar's Odyssey: Nama Tuhan Keseratus", meskipun judul aslinya hanya "Balthasar's Odyssey". Entah apakah itu cuma akal-akalan penerbit supaya buku ini lebih memiliki nilai jual karena para pembaca Indonesia memang lebih tertarik dengan buku-buku dengan judul bombastis dengan sedikit aroma konspirasi didalamnya. Tapi yang jelas, perubahan judul tersebut sangat menyesatkan! Karena orang-orang malah jadi lebih fokus pada sub-plot kitab mistis gubahan Mazandarani yang dikatakan mengandung nama Tuhan yang keseratus, ketimbang esensi utama yang hendak disampaikan oleh Maalouf; yakni kultur dan identitas. Untunglah saya sudah membaca versi Bahasa Inggrisnya terlebih dahulu, sehingga tidak perlu tersesat dalam distorsi judul yang diubah itu. Jadi, sekali lagi saya tekankan: Kitab Mazandarani, Nama Tuhan yang keseratus, dan prediksi kiamat yang akan jatuh di tahun 1666 itu hanyalah instrumen plot! Catat!

Nah, kembali pada esensi; ketimbang
novel, Balthasar's Odyssey lebih menyerupai upaya penggalian akar identitas dunia modern yang persuasif dan nyaris subjektif. Dalam buku ini, Amin Maalouf bergerak melampaui kultur, keyakinan, dan sejarah dunia, dengan menggaris bawahi tentang bagaimana penekanan atas identitas personal, religi, atau etnis ternyata dapat membangkitkan sebuah kritik moral yang mendalam. 

Petualangan Balthasar Embriaco merupakan sebuah kombinasi antara kronik sejarah dan perspektif kritis atas kultur yang dituturkan dengan sangat fasih. Dengan menarasikan pergulatan yang terjadi antara kultur barat dan arab, Maalouf berhasil melihat sesuatu di balik
Clash of Civilization-nya Samuel Huntington. Kedua kultur tersebut masing-masing memiliki kontinuitas, sejarah, integritas, dan moralitasnya sendiri-sendiri, dan perjalanan Balthasar Embriaco itu sendiri merupakan pengejawantahan sempurna dari konfrontasi antara kedua kultur tersebut.

Melalui buku ini, Maalouf jelas membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang postkolonialis kemarin sore. Dengan penyampaian yang cerdas, runtun, penuh gairah, namun terkontrol, Amin Maalouf berhasil memberikan sebuah visi akan kohesi yang terperbarui dalam penelaahan identitas.

EMPAT SETENGAH bintang.
Not perfect, but worth the read.