Jumat, 27 November 2015

Sonder

Selamat malam...

Pernahkah anda berpikir bahwa bagi orang lain, anda tak lebih dari tokoh figuran dalam kehidupan mereka? Barangkali hanya sebagai wajah buram yang hanya muncul satu kali di stasiun, di ruang tunggu dokter gigi, di warung rokok pinggir jalan, di halte busway pukul 10 malam... Atau untuk melihatnya dengan cara lain, pernahkah anda mencoba mengamati bahwa orang-orang di sekitar anda—maksud saya, bukan cuma orang-orang dekat seperti teman atau keluarga, melainkan tokoh-tokoh random yang hanya muncul di background keseharian anda—juga menyimpan kisah unik dalam diri mereka masing-masing?

Inilah sebuah konsep yang dinamakan Sonder, yakni sebuah pemahaman bahwa orang lain juga memiliki kehidupan yang sama kompleksnya dengan kehidupan anda; dipenuhi dengan mimpi, ambisi, rutinitas, ketakutan personal, juga kesintingan bawah sadar yang barangkali juga anda miliki; sebuah epos kolosal, yang bergerak tanpa terlihat di sekeliling anda seperti lorong labirin yang bercabang tak terhingga di bawah tanah, berkelindan dengan ribuan kehidupan lain yang eksistensinya bahkan anda tidak sadari—dimana barangkali anda juga pernah bersinggungan dengan salah satu diantaranya—mungkin hanya sekali, sebagai figuran yang sedang minum kopi pada latar belakang kafe mungil di sudut jalan, atau sebagai wajah blur yang melintas sekejap di jalanan, tak ubahnya seperti tetes hujan yang turun di malam pekat: mungil, tak terlihat, namun eksis dan menyimpan berjuta alegori.

Anda akan terkejut pada bagaimana sepenggalan kisah pendek dari seorang yang benar-benar asing ternyata mampu mengungkap begitu banyak. Dan tiba-tiba saja, anda terbawa masuk ke dalam persepsi mereka. Orang itu tidak lagi menjadi wajah anonim. Dia tidak lagi merupakan karakter dua dimensi di latar belakang kehidupan anda. Dia mendekat pada anda, menyentuh senar empati anda. Dia mulai mendapatkan dimensi. Dia menjadi manusia.

Sesungguhnya saya tidak punya otoritas apapun dalam menentukan reaksi anda terhadap kisah-kisah yang anda dengar. Terserah apakah anda memilih bersikap skeptis, tergugah, tidak peduli, sedih, terinspirasi, atau menertawakan. Tapi kalau saya boleh menyarankan, cobalah untuk membuka hati anda terhadap masing-masing kisah tersebut, sebab hanya dengan begitulah kita mampu menatap langsung ke wajah kompleksitas kehidupan, atau kalau bukan begitu, minimal kita bisa belajar tentang nilai manusia, untuk setidaknya lebih sensitif dan tidak acuh terhadap segala yang kecil, remeh, dan tidak dihiraukan. Sebab saya percaya, dengan mengalami Sonder, kita menjadi lebih manusia.

Cobalah untuk menatap lebih dalam, cobalah untuk memahami betapa rapuh sekaligus tangguhnya konstruksi batin manusia. Lihat, dengar, rasakan. Dan untuk itu, saya ucapkan: selamat mencoba. Selamat mengalami Sonder.