Selamat malam...
Pernahkah
anda berpikir bahwa bagi orang lain, anda tak lebih dari tokoh figuran dalam
kehidupan mereka? Barangkali hanya sebagai wajah buram yang hanya muncul satu
kali di stasiun, di ruang tunggu dokter gigi, di warung rokok pinggir jalan, di
halte busway pukul 10 malam... Atau untuk melihatnya dengan cara lain,
pernahkah anda mencoba mengamati
bahwa orang-orang di sekitar anda—maksud saya, bukan cuma orang-orang dekat
seperti teman atau keluarga, melainkan tokoh-tokoh random yang hanya muncul di background keseharian anda—juga menyimpan kisah
unik dalam diri mereka masing-masing?
Inilah
sebuah konsep yang dinamakan Sonder,
yakni sebuah pemahaman bahwa orang lain juga memiliki kehidupan yang sama kompleksnya
dengan kehidupan anda; dipenuhi dengan mimpi, ambisi, rutinitas, ketakutan
personal, juga kesintingan bawah sadar yang barangkali juga anda miliki; sebuah epos kolosal, yang bergerak
tanpa terlihat di sekeliling anda seperti lorong labirin yang bercabang tak
terhingga di bawah tanah, berkelindan dengan ribuan kehidupan lain yang
eksistensinya bahkan anda tidak sadari—dimana barangkali anda juga pernah
bersinggungan dengan salah satu diantaranya—mungkin hanya sekali, sebagai
figuran yang sedang minum kopi pada latar belakang kafe mungil di sudut jalan,
atau sebagai wajah blur yang melintas sekejap di jalanan, tak ubahnya seperti
tetes hujan yang turun di malam pekat: mungil, tak terlihat, namun eksis dan
menyimpan berjuta alegori.
Anda
akan terkejut pada bagaimana sepenggalan kisah pendek dari seorang yang
benar-benar asing ternyata mampu mengungkap begitu banyak. Dan tiba-tiba saja,
anda terbawa masuk ke dalam persepsi mereka. Orang itu tidak lagi menjadi wajah
anonim. Dia tidak lagi merupakan karakter dua dimensi di latar belakang
kehidupan anda. Dia mendekat pada anda, menyentuh senar empati anda. Dia mulai
mendapatkan dimensi. Dia menjadi manusia.
Sesungguhnya saya tidak punya otoritas apapun dalam menentukan
reaksi anda terhadap kisah-kisah yang anda dengar.
Terserah apakah anda memilih bersikap skeptis, tergugah, tidak peduli, sedih,
terinspirasi, atau menertawakan. Tapi kalau saya boleh menyarankan, cobalah
untuk membuka hati anda terhadap masing-masing kisah tersebut, sebab hanya dengan begitulah kita mampu menatap
langsung ke wajah kompleksitas kehidupan, atau kalau bukan begitu, minimal kita
bisa belajar tentang nilai manusia, untuk setidaknya lebih sensitif dan tidak
acuh terhadap segala yang kecil, remeh, dan tidak dihiraukan. Sebab saya
percaya, dengan mengalami Sonder,
kita menjadi lebih manusia.
Cobalah
untuk menatap lebih dalam, cobalah untuk memahami betapa rapuh sekaligus
tangguhnya konstruksi batin manusia. Lihat, dengar, rasakan.
Dan untuk itu, saya ucapkan: selamat mencoba. Selamat mengalami Sonder.