Lampu merah.
Waktu menetes
satu-satu dalam geliat jalanan yang basah sehabis hujan. Dari sebelah kiri,
sebuah motor datang menjajari mobil saya. Motor bebek ’70-an berwarna hijau
dengan lampu depan yang sudah kalah terang dengan petromaks warung. Pengemudinya
adalah lelaki muda yang mengenakan helm butut, tampangnya sederhana, dengan
kumis tebal dan sinar mata ramah. Ia membonceng seorang perempuan, yang juga
sederhana, dengan rambut panjang dijepit dan baju bermotif bunga kecil-kecil. Perempuan
itu mengenakan jaket kebesaran yang jelas bukan miliknya. Pasti milik lelaki
itu.
Lalu mendadak,
semuanya berhenti. Jalanan terdiam. Seorang penjaja air minum membuka mulutnya
dalam lolongan beku. Bocah pengamen di ujung trotoar membatu dengan posisi jari-jari
setengah membentuk kunci F di gitarnya. Waktu yang tadinya tumpah ruah
mengucurkan detik menjadi kaku laksana jam pasir yang mampet.
Tetapi mata saya
kembali tertuju kepada lelaki dan perempuan pengendara motor bebek yang tadi. Ada
yang membuat saya terpaku di sana. Ah... kehangatan wajah mereka berdua...
seperti tungku asmara yang apinya mulai stabil. Tenang, tidak lagi
meledak-ledak. Dan perhatikan bagaimana si perempuan memeluk si lelaki. Mereka terlihat
begitu... bahagia. Mungkin mereka sedang merencanakan punya anak tahun ini.
Saya kembali terusik.
Di sisi lain jalan,
ada lagi sepasang kekasih, menunggu bus yang tinggal satu-dua. Mereka tidak
berkendaraan apa-apa, tapi lihat wajah perempuan
itu... Saya tercekat. Ah... ia berpegang erat pada lengan kekasihnya, dan
betapa kuat rasa percaya di wajahnya. Dengan dekapan itu ia tabah menghadapi
udara malam dan bus yang tak kunjung datang.
Apa-apaan semua ini? Pasar malam
kasih sayang?
Cinta diobral dan dicuci gudang?
Yang kudamba juga sederhana.
Bukan cinta antik dan berukiran
rumit.
Barangkali saya
memang ditakdirkan untuk menjadi manusia ‘mahal’. Dan di tengah pesta obral
ini, ternyata saya harus rela menggigit jari, menyaksikan semua orang
bergelimang dengan apa yang begitu saya dambakan. Sementara saya berdiri
sendirian di sudut, pada sebuah etalase mewah nan sunyi, ditempeli tulisan “Dilihat
boleh dipegang jangan”.
Saya kembali
tertunduk, menekuri waktu yang perlahan-lahan memunguti kecepatannya.
Jalanan telah kembali
bising. Lampu merah sudah berubah menjadi warna hijau. Si pedagang air minum
sudah merapat kembali ke trotoar, dan bocah pengamen telah menyelesaikan
lagunya.
Tapi sekarang, giliran saya yang tak kuasa bergerak dalam kesendirian...
(untuk Pandji Putranda, seorang sahabat yang tak kunjung lelah menanti di pinggir jalan.)
(untuk Pandji Putranda, seorang sahabat yang tak kunjung lelah menanti di pinggir jalan.)