Senin, 11 Maret 2013

#Monolog 03.


Lampu merah.

Waktu menetes satu-satu dalam geliat jalanan yang basah sehabis hujan. Dari sebelah kiri, sebuah motor datang menjajari mobil saya. Motor bebek ’70-an berwarna hijau dengan lampu depan yang sudah kalah terang dengan petromaks warung. Pengemudinya adalah lelaki muda yang mengenakan helm butut, tampangnya sederhana, dengan kumis tebal dan sinar mata ramah. Ia membonceng seorang perempuan, yang juga sederhana, dengan rambut panjang dijepit dan baju bermotif bunga kecil-kecil. Perempuan itu mengenakan jaket kebesaran yang jelas bukan miliknya. Pasti milik lelaki itu.

Lalu mendadak, semuanya berhenti. Jalanan terdiam. Seorang penjaja air minum membuka mulutnya dalam lolongan beku. Bocah pengamen di ujung trotoar membatu dengan posisi jari-jari setengah membentuk kunci F di gitarnya. Waktu yang tadinya tumpah ruah mengucurkan detik menjadi kaku laksana jam pasir yang mampet.

Tetapi mata saya kembali tertuju kepada lelaki dan perempuan pengendara motor bebek yang tadi. Ada yang membuat saya terpaku di sana. Ah... kehangatan wajah mereka berdua... seperti tungku asmara yang apinya mulai stabil. Tenang, tidak lagi meledak-ledak. Dan perhatikan bagaimana si perempuan memeluk si lelaki. Mereka terlihat begitu... bahagia. Mungkin mereka sedang merencanakan punya anak tahun ini.

Saya kembali terusik.

Di sisi lain jalan, ada lagi sepasang kekasih, menunggu bus yang tinggal satu-dua. Mereka tidak berkendaraan apa-apa, tapi lihat wajah perempuan itu... Saya tercekat. Ah... ia berpegang erat pada lengan kekasihnya, dan betapa kuat rasa percaya di wajahnya. Dengan dekapan itu ia tabah menghadapi udara malam dan bus yang tak kunjung datang.

Apa-apaan semua ini? Pasar malam kasih sayang?
Cinta diobral dan dicuci gudang?
Yang kudamba juga sederhana.
Bukan cinta antik dan berukiran rumit.

Barangkali saya memang ditakdirkan untuk menjadi manusia ‘mahal’. Dan di tengah pesta obral ini, ternyata saya harus rela menggigit jari, menyaksikan semua orang bergelimang dengan apa yang begitu saya dambakan. Sementara saya berdiri sendirian di sudut, pada sebuah etalase mewah nan sunyi, ditempeli tulisan “Dilihat boleh dipegang jangan”.

Saya kembali tertunduk, menekuri waktu yang perlahan-lahan memunguti kecepatannya.

Jalanan telah kembali bising. Lampu merah sudah berubah menjadi warna hijau. Si pedagang air minum sudah merapat kembali ke trotoar, dan bocah pengamen telah menyelesaikan lagunya.



Tapi sekarang, giliran saya yang tak kuasa bergerak dalam kesendirian...



(untuk Pandji Putranda, seorang sahabat yang tak kunjung lelah menanti di pinggir jalan.)