Anda mencoba untuk
tidur, tetapi suara-suara itu terus membangunkan anda. Suara yang datang dari
pintu depan, seperti ada sesuatu yang
mencakar-cakar pintu diiringi suara derak kering yang tidak menyenangkan. Anda terus
menerus meyakinkan diri itu hanya angin dan pepohonan di luar, tetapi suara
tersebut masih berlanjut terus dan terus... Hingga pada akhirnya, anda tidak
tahan lagi. Anda bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.
*klik*
Masih tetap gelap. Anda
tertegun sejenak.
*klik-klik-klik-klik-klik-klik-klik*
Anda menekan saklar berkali-kali, tapi tidak terjadi apa-apa... tidak
ada aliran listrik. Tanpa sadar anda bernafas dengan berat, sementara itu
suara garukan di pintu depan semakin keras. Anda berjalan ke ruang tamu dengan kaki
yang gemetar. Gelap. Siluet pintu itu mengintai lima meter di depan anda. Kemudian,
tiba-tiba terdengar suara geraman rendah. Langkah anda otomatis berhenti. Lalu suara
cakaran itu terdengar lagi. Semakin jelas. Semakin garang. Anda bisa mendengar suara
kayu yang berkeretak, engsel yang berkeriut hendak menyerah, seperti ada sesuatu yang memaksa masuk... Dengan gemetar,
tangan anda meraih tongkat baseball yang bersandar di dekat kursi... dan
mendadak suara-suara itu berhenti. Sunyi. Total.
Selama jeda waktu
yang terasa seperti berjam-jam, anda berdiri diam dengan tongkat baseball di
tangan, menunggu suara tersebut muncul lagi. Tapi tidak ada apa-apa. Akhirnya, dengan
jantung berdebar keras, anda berlari menuju pintu itu dan membukanya, dan
melihat... udara malam.
Tidak ada apa-apa. Tatapan
anda beralih ke pintu... mulus. Tidak ada cacat sedikitpun, padahal seharusnya
pintu itu nyaris tercabik, anda bersumpah barusan anda mendengar kayunya nyaris
menyerah. Tapi pintu itu sama sekali tak bercela. Anda menggelengkan kepala
sambil menghela nafas, cuma imajinasi,
lalu kembali menutup pintu.
Sekonyong-konyong
tubuh anda membeku.
Bekas cakaran itu ada
di dalam.