Rabu, 27 Maret 2013

Pintu


Anda mencoba untuk tidur, tetapi suara-suara itu terus membangunkan anda. Suara yang datang dari pintu depan, seperti ada sesuatu yang mencakar-cakar pintu diiringi suara derak kering yang tidak menyenangkan. Anda terus menerus meyakinkan diri itu hanya angin dan pepohonan di luar, tetapi suara tersebut masih berlanjut terus dan terus... Hingga pada akhirnya, anda tidak tahan lagi. Anda bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.

*klik*

Masih tetap gelap. Anda tertegun sejenak.

*klik-klik-klik-klik-klik-klik-klik*

Anda menekan saklar berkali-kali, tapi tidak terjadi apa-apa... tidak ada aliran listrik. Tanpa sadar anda bernafas dengan berat, sementara itu suara garukan di pintu depan semakin keras. Anda berjalan ke ruang tamu dengan kaki yang gemetar. Gelap. Siluet pintu itu mengintai lima meter di depan anda. Kemudian, tiba-tiba terdengar suara geraman rendah. Langkah anda otomatis berhenti. Lalu suara cakaran itu terdengar lagi. Semakin jelas. Semakin garang. Anda bisa mendengar suara kayu yang berkeretak, engsel yang berkeriut hendak menyerah, seperti ada sesuatu yang memaksa masuk... Dengan gemetar, tangan anda meraih tongkat baseball yang bersandar di dekat kursi... dan mendadak suara-suara itu berhenti. Sunyi. Total.

Selama jeda waktu yang terasa seperti berjam-jam, anda berdiri diam dengan tongkat baseball di tangan, menunggu suara tersebut muncul lagi. Tapi tidak ada apa-apa. Akhirnya, dengan jantung berdebar keras, anda berlari menuju pintu itu dan membukanya, dan melihat... udara malam.

Tidak ada apa-apa. Tatapan anda beralih ke pintu... mulus. Tidak ada cacat sedikitpun, padahal seharusnya pintu itu nyaris tercabik, anda bersumpah barusan anda mendengar kayunya nyaris menyerah. Tapi pintu itu sama sekali tak bercela. Anda menggelengkan kepala sambil menghela nafas, cuma imajinasi, lalu kembali menutup pintu.


Sekonyong-konyong tubuh anda membeku.


Bekas cakaran itu ada di dalam.