Sejauh
ini malam masih terus bernyanyi.
Mungkin
tidak tentang apapun, kecuali sekeping detik yang
melayang
lepas ke bumbungannya.
Suka
dan luka selalu saja menemukan kita di kelokan yang sama
Maka
terbanglah bersamaku.
Mengarungi
langit nan biru, menyentuh pucuk-pucuk gemintang,
terhanyut
bersama desau angin. Sebelum malam beranjak dan memungut
remah-remah
pagi yang terbaring di bawah daunan.
Marilah
terbang menyusuri jejak-jejak subuh.
Berlari
bersama anak-anak petani di seputar pematang, yang sibuk
mengumpulkan
embun perak yang menetes di sela derai tawa. Melintasi
burung-burung
yang menatap penuh iri menyaksikanmu bermain dengan
cahaya
di ufuk fajar.
Mari
membasahi jemari pada pucuk-pucuk ombak. Menyelam perlahan di
dasar
palung dunia, biar sayapmu lekar bersama perahu-perahu yang
tertambat,
dan lekas utuhlah segenap harap dan penantian.
Semoga
saja hujan menyapu bersih seluruh ratap yang bergaung.
Meski
langkahmu tipis berselimut rapuh, namun tetes-tetes embun akan
menggenangi
setiap jejak yang kau tinggalkan.
Kau lihat malaikat itu? Ia datang
disela desir-desir mimpi.
Tangannya terulur, membelai lembut
kelopak malam yang
berserakan di helai rambutmu.
Maka
terpejamlah:
Bersama hening, gelap, dan rintik hujan.