Rabu, 27 Maret 2013

Aku Ingin Menuliskan Malam Di Jemarimu


Sejauh ini malam masih terus bernyanyi.
Mungkin tidak tentang apapun, kecuali sekeping detik yang
melayang lepas ke bumbungannya.
Suka dan luka selalu saja menemukan kita di kelokan yang sama

Maka terbanglah bersamaku.
Mengarungi langit nan biru, menyentuh pucuk-pucuk gemintang,
terhanyut bersama desau angin. Sebelum malam beranjak dan memungut
remah-remah pagi yang terbaring di bawah daunan.

Marilah terbang menyusuri jejak-jejak subuh.
Berlari bersama anak-anak petani di seputar pematang, yang sibuk
mengumpulkan embun perak yang menetes di sela derai tawa. Melintasi
burung-burung yang menatap penuh iri menyaksikanmu bermain dengan
cahaya di ufuk fajar.

Mari membasahi jemari pada pucuk-pucuk ombak. Menyelam perlahan di
dasar palung dunia, biar sayapmu lekar bersama perahu-perahu yang
tertambat, dan lekas utuhlah segenap harap dan penantian.

Semoga saja hujan menyapu bersih seluruh ratap yang bergaung.
Meski langkahmu tipis berselimut rapuh, namun tetes-tetes embun akan
menggenangi setiap jejak yang kau tinggalkan.

Kau lihat malaikat itu? Ia datang disela desir-desir mimpi.
Tangannya terulur, membelai lembut kelopak malam yang
berserakan di helai rambutmu.

Maka terpejamlah:
      Bersama hening, gelap, dan rintik hujan.