Sebelum agama-agama
samawi muncul, kebudayaan masyarakat lampau seperti Mesir Kuno dan India Kuno
telah mengembangkan suatu jenis monotheisme yang disebut dengan Monotheisme
Kosmologis. Ciri khas monotheisme itu ditandai oleh adanya penerimaan atas konsep,
imaji, gambaran, bayangan, rupa ‘tuhan-yang-lain’. Konsep, imaji, gambaran,
rupa, bayangan tentang ‘tuhan’ sebagai MANIFESTASI PARSIAL dari ’Yang Singular
dan Tunggal’.
‘Tuhan’ direpresentasikan oleh manusia dalam bentuk kekuatan alam dan tuhan dalam rupa-rupa karakter tertentu—contohnya 99 asma Allah. Singkatnya, ‘tuhan’ yang menghuni berbagai domain dunia. Pandangan Monotheisme Kosmologis merupakan teologi yang mengumandangkan bahwa ’Yang Singular dan Tunggal’ selalu ada dalam hubungannya dengan ’yang plural dan banyak’, menetapkan kedaulatan sifat transendentalnya dalam kaitan dengan berbagai bentuk ekspresi kekuatan pengada kosmis. Cara pandang teologi tersebut setidaknya memperlihatkan pada kita tiga hal, yakni; pertama, setiap penamaan terhadap Kenyataan Tertinggi dalam agama manapun mengandung ciri antropomorfis (atribusi karakteristik manusia ke hal yang bukan manusia); kedua, dengan begitu, sebagai bagian dari temuan kebudayaan manusia, perkembangan agama monotheistik juga melibatkan akal budi/rasio; dan ketiga, monotheisme jelas bukan khas 'milik' agama-agama samawi.
Perlu ditegaskan bahwa tentu saja agama berkaitan dengan perwahyuan yang harus diimani. Namun, iman melampaui akal budi, bukannya bertentangan dengannya. Maka, itu bukan berarti bahwa agama tak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal budi, meski dalam prosesnya tak mungkin membatasi diri hanya pada akal budi belaka. Hal itulah yang diolah dalam berfilsafat dan berteologi.
Sering kali kita
dengan sombong menganggap bahwa monotheisme seolah khas 'milik' agama-agama
samawi dan enggan memaksimalkan pencarian bagaimana pemahaman atas eksistensi
Kenyataan Tertinggi dimungkinkan oleh perkembangan akal budi.
Fides
quaerens intellectum (faith seeking understanding).