Kamis, 07 Maret 2013

#Amrita 12.


Kau tahu hal yang paling menjengkelkan setiap kali aku mengantarmu pulang? Bau parfummu yang masih menyisa bahkan setelah kamu turun dari mobil... mengambang di udara, bercampur dengan aroma lembut udara malam, seperti bagian dari dirimu yang mini, namun keras kepala, memilih untuk tidak ikut melangkah masuk ke dalam rumah, dan menetap untuk terus menemani perjalanan pulangku... untuk terus memaksaku berpikir bahwa kau masih disini... hingga akhirnya waktu semakin larut, dan tenagaku pun semakin surut, maka aku akan membiarkan sekelumit kamu itu bertahan semaunya.

Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen bisa selamanya menjadi kristal tanpa terganggu, maka... tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamamu untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang keberadaannya hanya milikku... milik kita... dan bukan ribuan hal lain yang menunggu di luar sana berteriak-teriak minta dilirik.

Betapa aku rela membatu untuk itu...

Tetapi semesta terus bergerak, realitas melaju, dan hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk ikut dalam arus agungnya yang jujur namun penuh rahasia. Tak terkecuali kita... dan segera saja, sisa parfummu itu raib ditelan malam dan keredap lampu jalan tol yang melesat di belakangku. Tiba-tiba saja aku merasa begitu kehilangan... tidak ada kata, langkah kaki, atau sentuhan lembut pada jemari yang menjadi penanda bahwa detik itu sudah berakhir... tidak ada kata ‘jangan’, yang barangkali saja, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan cukup untuk membuat sekelumit dirimu itu tetap tinggal. Setidaknya sampai aku tiba di rumah...

Dan saat itulah aku tersadar; setiap perpisahan denganmu, adalah perpisahan paling sepi yang pernah aku alami...