Kau tahu hal yang
paling menjengkelkan setiap kali aku mengantarmu pulang? Bau parfummu yang masih menyisa
bahkan setelah kamu turun dari mobil... mengambang di udara, bercampur dengan
aroma lembut udara malam, seperti bagian dari dirimu yang mini, namun keras
kepala, memilih untuk tidak ikut melangkah masuk ke dalam rumah, dan menetap
untuk terus menemani perjalanan pulangku... untuk terus memaksaku berpikir
bahwa kau masih disini... hingga akhirnya waktu semakin larut, dan
tenagaku pun semakin surut, maka aku akan membiarkan sekelumit kamu itu bertahan
semaunya.
Kalau saja hidup
tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen bisa selamanya menjadi kristal tanpa
terganggu, maka... tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamamu untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang
keberadaannya hanya milikku... milik kita... dan bukan ribuan hal lain yang
menunggu di luar sana berteriak-teriak minta dilirik.
Betapa aku rela
membatu untuk itu...
Tetapi semesta terus
bergerak, realitas melaju, dan hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa
kita untuk ikut dalam arus agungnya yang jujur namun penuh rahasia. Tak terkecuali
kita... dan segera saja, sisa parfummu itu raib ditelan malam dan keredap lampu jalan tol
yang melesat di belakangku. Tiba-tiba saja aku merasa begitu kehilangan...
tidak ada kata, langkah kaki, atau sentuhan lembut pada jemari yang menjadi
penanda bahwa detik itu sudah berakhir... tidak ada kata ‘jangan’, yang
barangkali saja, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan cukup untuk
membuat sekelumit dirimu itu tetap tinggal. Setidaknya sampai aku tiba di
rumah...
Dan saat itulah aku
tersadar; setiap perpisahan denganmu, adalah perpisahan paling sepi yang pernah
aku alami...