mesti dengan
apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang
kunyanyikan bagi keturunanmu
telah sempurna terbuka
namun kau
lebih suka merayu waktu
tanpa mau
menjenguk diriku
masa lalu
telah menyerpih
dan jadi abu dalam diriku
tertimbun
dalam periuk tanah liat
bersama kalung
manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang
dan kenangan lapuk
mengapa kau
tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah
guratkan segala tanda di dinding tebing
aku telah tatah di
setiap jiwa manusia
kerajaanku
akan bangkit
sebab kau
telah memaksaku tiba pada kerinduan lama
apa yang tiada luput dari kabut
yang menyisir
perkampungan dan hutan keramat
yang dihuni para danyang dan memedi
beri aku bunga
embun
agar waktu
mencair
dari ruhku yang kelam
sekelam
kutukan batu-batu di hunian ini
kedalaman
tanah moyangku
daerah istirah
yang selalu membayang
pada pepucuk pohon lontar
yang kau sadap jadi nira
dan tuak
dan kau
guratkan aksara purba pada bumbungannya
tapi kau tak
pernah usai
mengurai nujuman itu
senja akan
musnah
dan mata tiada
jenuh bergelut
dengan kemesraan maut
peramal tua
itu telah tiba
dari jalan
hidupmu yang hampa kata-kata
mengapa tidak
kau ikuti kemauan hati
ketika hari
makin genap dalam perjamuan jiwa
pada akhirnya
kita hanya
tumpukan
kerangka tiada guna
namun aku
telah menyibakkan jalan
bagi segala
kenangan
yang melintasi aliran nadimu
langit telah
menyungkupi kebisuanku
beribu-ribu tahun
cuaca telah
membaca nubuat yang kugurat
pada pohon-pohon dan batu-batu
maka begitu
pula aku membacamu
dari tidur abadiku