Rabu, 27 Februari 2013

Sarkofagus Alasangker


mesti dengan apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang kunyanyikan bagi keturunanmu
                        telah sempurna terbuka
namun kau lebih suka merayu waktu
tanpa mau menjenguk diriku

masa lalu telah menyerpih
            dan jadi abu dalam diriku
tertimbun dalam periuk tanah liat
bersama kalung manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang dan kenangan lapuk

mengapa kau tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah guratkan segala tanda di dinding tebing
                        aku telah tatah di setiap jiwa manusia

kerajaanku akan bangkit
sebab kau telah memaksaku tiba pada kerinduan lama
            apa yang tiada luput dari kabut
yang menyisir perkampungan dan hutan keramat
            yang dihuni para danyang dan memedi

beri aku bunga embun
agar waktu mencair
            dari ruhku yang kelam
sekelam kutukan batu-batu di hunian ini

kedalaman tanah moyangku
daerah istirah yang selalu membayang
            pada pepucuk pohon lontar
                        yang kau sadap jadi nira dan tuak
dan kau guratkan aksara purba pada bumbungannya
tapi kau tak pernah usai
            mengurai nujuman itu
senja akan musnah
dan mata tiada jenuh bergelut
            dengan kemesraan maut

peramal tua itu telah tiba
dari jalan hidupmu yang hampa kata-kata
mengapa tidak kau ikuti kemauan hati
ketika hari makin genap dalam perjamuan jiwa

pada akhirnya kita hanya
tumpukan kerangka tiada guna
namun aku telah menyibakkan jalan
bagi segala kenangan
            yang melintasi aliran nadimu

langit telah menyungkupi kebisuanku
            beribu-ribu tahun
cuaca telah membaca nubuat yang kugurat
            pada pohon-pohon dan batu-batu
maka begitu pula aku membacamu
                        dari tidur abadiku