Sabtu, 02 Februari 2013

Puisi Dan Revolusi Amerika Latin


Di tempat itu terdapat rumah yang menempel pada sebongkah bukit di Valparaiso, sebuah kota kecil tepi pantai di Santiago de Chile, menghadap lansekap indah teluk Bellavista, pelabuhan, dan samudera lepas yang tak henti menghampar sampai batas horizon. Rumah tersebut pernah dihuni oleh salah satu penulis terbaik sepanjang abad ke-20: ‘Don Pablo’ adalah namanya sebagaimana dia dikenal di Chile. Atau Pablo Neruda, sebagaimana dia dikenal di seluruh penjuru dunia. Di rumah itulah Pablo Neruda menulis sebagian dari puisi-puisinya yang paling kuat dan mendalam, di sebuah bangunan kayu sederhana yang menantang derasnya ombak Pasifik.
Banyak dari puisi-puisi Neruda yang dipenuhi oleh kemarahan; layaknya sebuah panggilan untuk mengangkat senjata. Don Pablo adalah seorang Komunis, dan dia percaya pada perjuangan Amerika Latin demi kebebasan yang nyata, dia mempercayai revolusi, dan diatas segalanya—kebersatuan sub-kontinen tertsebut. Puisinya yang paling diingat dan paling monumental berjudul “The Heights of Macchu Picchu”:
And give me silence, give me water, hope.
Give me the struggle, the iron, the volcanoes.
Let bodies cling like magnets to my body.
Come quickly to my veins and to my mouth.
Speak through my speech, and through my blood. 
Namun, meskipun diksinya memiliki kekuatan sebegitu besar, bukan puisi ini yang dipilih untuk diukirkan pada pilar-pilar La Sebastiana, bukan puisi ini pula yang—dalam tahun-tahun panjang kekuasaan junta militer di Chile—menginspirasi para lelaki dan perempuan muda untuk melawan kediktatoran. Bukan puisi ini yang membuat mereka mempertaruhkan nyawa, untuk mati demi Chile dan kebebasannya, melainkan sebuah bait sederhana yang dia tulis untuk perempuan yang dia cintai mati-matian, yang menjadi simbol tersebut; sebuah teriakan perang dari barisan perlawanan:
…The fifth thing is your eyes,
my Matilda, my beloved,
I do not want to sleep without your eyes,
I do not want to live without you looking at me: 
I will give the spring
for that you’ll keep watching me.
Dan disitulah rahasianya. Revolusi Amerika Latin dan kemenangannya belakangan ini bukan hanya dibangun semata-mata melalui ide perjuangan demi keadilan sosial, tetapi juga—dalam porsi yang sama besarnya—tentang ide mengenai perjalanan, kepuitisan, letupan-letupan sentimental; tentang seni yang secara esensial bersifat esoterik, emosional, dan indah.
Seni dan dimensi mimpi memainkan peran esensial dalam perjuangan Amerika Latin, bahkan dalam perjuangan bersenjatanya. Di sini, perlawanan seringkali berangkat dari baris-baris puisi, syair lagu, atau goresan diatas kanvas. Teater di Buenos Aires dan Santiago de Chile bisa jadi sama eksplosifnya dengan bagasi mobil yang dipenuhi TNT.
Seringkali tidak ditemukan garis batas yang jelas antara revolusi dan puisi: keduanya melebur menjadi satu.
Dalam novel Gabriel Garcia Marquez, “Love in the Time of Cholera,” seorang lelaki, Florentino Ariza, mendapati mimpi-mimpinya hancur berantakan ketika cinta hidupnya meninggalkannya. Dalam novel tersebut, pujaannya, Fermina Daza, menikahi lelaki lain, dan Florentino Ariza hanya memiliki dua pilihan: untuk menyerah dan merelakan cintanya kepada Fermina Daza, atau untuk terus mencinta... dan menanti... Tidak peduli seberapa lama waktu yang diperlukan. Dia memutuskan untuk berjuang dan menunggu. Florentino Ariza menunggu selama lima puluh satu tahun, sembilan bulan, dan empat hari... tapi di akhir, dia menang. Cinta Fermina Daza menjadi miliknya, kira-kira di usia tujuh puluhan, tapi tetap saja, miliknya.
Orang kebanyakan barangkali akan berkomentar: “Dia terobsesi...”
Tetapi Juan Accreo, seorang pegiat seni yang doyan nongkrong di sebuah bar di San Cristobal, akan menyanggahnya dengan gemas: “Tidak! Bagaimana mungkin kau sebegitu bebal?” katanya sambil memesan segelas anggur cherimoya-nya yang kedua, “Tidakkah kau lihat? Itu persis dengan revolusi! Kita menunggu; Kita berjuang. Kita mengorbankan begitu banyak... tapi di akhir, tak satupun yang sia-sia. Kemenangan akhirnya milik kita.”
Tentu saja, Gabriel Garcia Marquez adalah seorang novelis kiri yang hebat. Dan jelas, karyanya, “Love in the Time of Cholera” merupakan sebuah pencapaian literatur yang kolosal, kompleks dan luar biasa. Tapi siapa yang pernah memikirkan jalur paralel macam begitu?—Fermina Daza dan revolusi. Maka Juan Accreo akan menyahut lagi: “Kenapa tidak?” katanya sambil menenggak habis anggur cherimoya-nya, bersamaan dengan si pemain akordion di bar itu memulai balada sedihnya yang lain di balik punggung Juan Accreo, “Kenapa tidak? Menanti Fermina Daza sama saja dengan penantian untuk sebuah revolusi...”
          ***
Kisah, buku-buku, puisi, musik, tarian, dan teater—semuanya sangat esensial disini. Tidak ada revolusi di Amerika Latin yang bisa terwujud tanpa itu semua. Sebelum memutuskan untuk maju menuju barikade, orang-orang harus terlebih dahulu merasa tersentuh, tergerak, bukan hanya teryakinkan.
Beberapa tahun yang lalu, di Venezuela, pemerintah mengadakan kampanye baca dengan membagikan jutaan buku secara cuma-cuma ke masyarakat. Klasik-klasik macam Don Quixote benar-benar diberikan secara gratis di seluruh negeri. Kebijakan yang bagus, menurut saya. Dan itu bukan sekedar kebijakan, tetapi juga sebuah tindakan yang sangat logis dan strategis, karena apa yang terjadi di Venezuela, Bolivia, Uruguay, Ekuador dan negara-negara lainnya sesungguhnya merupakan operasionalisasi dari prinsip dasar humanisme. Seseorang tidak perlu jauh-jauh memperlajari Karl Marx, Mao, atau Lenin atau Chavez; semua esensi mereka ada disitu—dalam karya-karya klasik Victor Hugo, Cervantes, Maxim Gorki, Tolstoy dan Tagore.
Dibawah pretensi bahwa masyarakat kelas pekerja dan petani merupakan orang-orang tak berotak yang tidak mungkin memahami pucuk-pucuk intelektualitas seperti novel dan puisi, para elit di banyak belahan dunia terus menahan hak atas pemikiran filosofis dan ‘emosi ningrat’ hanya untuk diri mereka sendiri. Secara kontras, di banyak negara di Amerika Latin, kita perlu lihat bahwa semua orang bisa dan harus punya hak untuk berpikir, dan untuk merasa. Dengan mengesampingkan segala macam tetek bengek teori elitis, bahkan orang-orang paling sederhana sekalipun bisa mulai membaca buku-buku klasik yang penuh inspirasi, mereka bisa menikmati dan bisa pula dengan mudah memahaminya. Mereka datang ke ranah revolusi bukan melalui ideologi, melainkan melalui insting alamiah manusia. Mereka menyambut siapapun yang menghargai mereka, berbagi dengan mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik.
Memperkenalkan masyarakat pada seni juga bisa menjadi awal bagi sebuah pengaruh yang positif dan mendalam bagi banyak tren di masyarakat progresif Amerika Latin. Untuk apa kita—sebagai contoh—menggalakkan kampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga, jika orang-orang sejak usia dini hanya terekspos pada bentuk hiburan yang brutal, vulgar, terstandardisasi, dan dipandu oleh kepentingan-kepentingan komersil semata? Secara kontras, seorang laki-laki yang membaca dan menikmati Marti, Neruda, atau Tagore jelas tidak mungkin memukuli istri dan anaknya.
Kepada Juan Accreo, saya mengirimkan naskah epos teater saya berjudul “Fragmen Pertempuran” yang saya terjemahkan ke bahasa Inggris bulan Januari lalu. Dan inilah komentarnya: “Aku dan pacarku membacanya keras-keras, dua kali, selama dua malam berturut-turut,” katanya di depan webcam dengan raut muka super serius ala aktivis kawakan. “Dan kami menangis selama dua malam penuh,” lanjutnya.
Sungguh. Tidak ada yang perlu ditambahkan lagi, saya bahagia; berdasarkan standard Amerika Latin, Juan Accreo telah memberikan  kepada saya nilai apresiasi yang paling tinggi, murni, dan tulus.
Saya tahu beberapa orang di Peru dan Kolombia dan di tempat-tempat lain di sub-kontinen itu yang bisa menangis kala membaca puisi-puisi Marti atau Cesar Valejo di malam hari, kemudian bangun di pagi harinya, dan tanpa keraguan menerjunkan diri ke pertempuran-pertempuran paling berdarah, tanpa setitikpun rasa takut. Saya tahu lelaki-lelaki yang menulis puisi untuk istri atau kekasih mereka ketika sedang berada dalam parit-parit di medan pertempuran. Di Amerika Latin, untuk merasa, untuk menjadi emosional bukanlah hal yang dianggap memalukan atau konyol, sepanjang orang yang bersangkutan tetap kuat dan keras ketika kekuatan dan kekerasan memang diperlukan.
          ***
Seni mengajarkan orang cara bermimpi, dan pada gilirannya mimpi-mimpi itulah yang mendorong masyarakat untuk maju ke depan. Puisi bukan hanya tentang letupan-letupan emosi sesaat; melainkan lebih kepada kasih sayang, kebaikan, dan kebersahajaan. Membran emosional yang melapisi banyak lirik dan puisi mampu menyerap rasa sakit yang paling menusuk, dan mendorong hadirnya pemaafan.
Tetapi bukan hanya puisi yang membentuk wujud mental Amerika Latin dan membantu menghadirkan identitas nasional dan kontinen yang sebegitu kompleks; melainkan juga keseluruhan skala ekspresi artistik: dari teater dan sinema sampai musik dan literatur.
Dan ini juga merupakan gaya hidup—malam-malam panjang di penghujung Jumat dan Sabtu ketika sekelompok teman berkumpul, mengobrol sampai pagi, bertukar ide, pemahaman, mimpi dan kesedihan, melompat dari satu teater ke teater lain, dari sinema yang satu ke sinema yang lain, pameran dan galeri, kadang bernyanyi kadang berdansa, tapi selalu bercakap-cakap.
Tidak ada jejaring sosial, tidak ada Skype, atau bentuk komunikasi internet apapun yang mampu menggantikan itu: interaksi langsung dan debat yang berapi-api, sebagaimana tidak ada media elektronik yang mampu menggantikan kehangatan tangan manusia, atau ekspresi penuh pengertian di mata seorang sahabat, atau sesungging senyum tulus di sudut bibir seseorang yang anda cintai.
Banyak konsep-konsep sosial dan politik di Amerika Latin terlahir di malam-malam seperti itu, di sekeliling meja, dengan gelas-gelas dipenuhi ampas kopi, seusai pembahasan sejumlah karya seni secara mendalam. Seni tidak hanya mengedukasi, seni mendorong manusia untuk berpikir dan merasa, membantu mereka menarik garis batas antara benar dan salah. Bentuk kehidupan manapun yang terasingkan dari kualitas-kualitas tersebut bukanlah kehidupan yang pantas untuk dirayakan. Dan dengan sangat tidak mengejutkan, revolusi-revolusi yang terjadi di Amerika Latin, nyaris semuanya berangkat dari puisi dan kerinduan atas cinta dan kebaikan.
          ***
Sebelum kediktatoran militer Argentina jatuh di tahun 1982, salah satu penyanyi terbesar sepanjang masa—Mercedes Sosa—kembali dari pengasingan. Sosa dicintai oleh semua orang, dan dipuja karena suara emasnya yang menggetarkan. Dia adalah lawan dari segala yang media massa di seluruh dunia definisikan sebagai ‘perempuan sempurna’. Mercedes Sosa bertubuh gempal, berkulit cokelat, dan seorang indian adat. Tetapi ini bukan Berverly Hills; ini El-Puerto.
Menjelang senja dia melangkah dengan penuh keyakinan memasuki kuil tertinggi ‘kebudayaan Eropa’ di Argentina, sekaligus salah satu rumah opera paling terkemuka di muka bumi: Teatro Colon di Buenos Aires.
Teater itu sesak oleh manusia yang berjejalan. Saat itu, beberapa lagu yang hendak dinyanyikan oleh Sosa masih dilarang oleh pemerintah. Tetapi kemunculannya di atas panggung menjadi sebuah janji akan berakhirnya kediktatoran yang tengah berlangsung. Mereka-mereka yang datang menonton konser itu di kemudian hari akan mendeskripsikan atmosfer dalam teater tersebut sebagai ‘gelombang yang menggetarkan hati dan jiwa kami’. Para penonton itu mengharapkannya untuk menyanyikan lagu-lagu yang menantang Vidella serta para pemerkosa dan pembunuh di jajaran junta militer. Mereka mengharapkannya untuk menyenandungkan syair-syair yang menjaga para lelaki dan perempuan dan anak-anak tetap hidup—secara emosional dan spiritual—sepanjang tahun-tahun gelap tersebut. Dan Mercedes Sosa melakukannya. Dia bernyanyi sebagaimana yang tidak bisa dilakukan lelaki dan perempuan manapun di dunia.
Mercedes Sosa menyanyikan syair tentang matahari yang membakar, dan tentang seorang gadis bernama Maria, Maria Va; ‘Maria Akan Pergi’. Dan kemudian lagu-lagu lainnya, dan semuanya ada disana, segenap perlawanan, gairah, revolusi, cinta... semuanya hadir, transenden dalam sebuah malam penuh dongengan gaib, dalam suara tunggal perempuan luar biasa ini.
Rekaman konser tersebut menjadi salah satu klasik terbaik sepanjang waktu. Para penonton menangis dan berteriak. “Sudah berakhir!” kata mereka, “seluruh penderitaan itu sudah berakhir!” Syair-syair itu, yang selama bertahun-tahun dinyanyikan di ruang bawah tanah dan kolong-kolong persembunyian, bergema dari balik jeruji penjara dan ruang-ruang penyiksaan, disenandungkan oleh malam—syair-syair tersebut, sekarang mengalir derasdengan begitu bebas dan menggetarkandari atas panggung rumah opera Buenos Aires.
Tetapi apa sih, sebenarnya, yang ada dalam lagu-lagu itu, yang menantang seluruh tatanan sistem? Apakah panggilan perang, kritik terhadap sistem; apakah itu tentang politik?
Mercedes Sosa menyanyikan sebuah balada gubahan Violetta Parra, seorang aktivis perempuan Chile yang menggagas gerakan Nueva Cancion, seorang musisi dan penyair yang mati bunuh diri di tahun 1967.
Gracias a la vida que me ha dado tanto
Me dio dos luceros, que cuando los abro,
Perfecto distingo lo negro del blanco
Y en el alto cielo su fondo estrellado
Y en las multitudes el hombre que yo amo
(Thanks to the life that has given me so much
It gave me two bright stars and when I open them
I distinguish perfectly the black from the white
And in the high sky its starred bottom
And in the crowd: the man I love)
Setelahnya dia menyanyikan sebuah lagu melankolis, tentang seorang penyair Argentina, Alfonsina Storni, “Alfonsina and the Sea,” yang dalam keputusasaan melempar dirinya ke laut di Mar de Plata.
You are leaving, Alfonsina
With your loneliness
Which new poems
Did you go find?
An ancient voice
Made of wind and salt
Breaks your soul
And takes it away
And you float away
As in dreams
Asleep, Alfonsina
Dressed by the sea
“Jadi, dimana revolusinya?” seorang reformis muda tidak sabaran dari Kairo atau Jakarta barangkali akan bertanya. “Semua kesedihan itu, kerinduan akan cinta, dan melankoli, dan keindahan... seluruh rasa kehilangan itu... keputusasaan... tetapi dimana panggilan untuk melawan, dimana pemberontakannya?”
Dan seorang Amerika Latin akan menjawab dengan sedikit bingung: “Tapi... semuanya ada di situ... segalanya itu hadir... dalam semua puisi cinta itu, tidakkah kau dengar?”
Dan sekonyong-konyong, semua menjadi jelas.
Seakan-akan mendengar percakapan tersebut dari atas panggung, Mercedes Sosa mendadak mengubah ritme. Dia mulai menyenandungkan sebuah melonga tua nan indah dari Uruguay:
I have so many brothers,
I can’t even count
Para penonton menahan nafas. Mereka bisa merasakan emosi di udara. Malam itu mendekati klimaksnya. Sosa bernyanyi tentang tangan-tangan hangat milik orang-orang yang dirundung kemiskinan, dan mendadak, tentang kematian. Tentang ‘kematian kita, kematian mereka-mereka yang tewas demi kita yang terus membayangi’ tak peduli kemanapun kita pergi.
Ada kesunyian absolut, yang perlahan-lahan berubah menjadi simfoni megah yang memekakkan terlinga. Mercedes Sosa membuat sebuah serangan tunggal, pendek, sempurna, dan mematikan, layaknya sebuah hantaman terbaik dari tinju seorang reformis sejati:
I have so many brothers,
I can’t even count
And I have one sister
The most beautiful one
Whose name is freedom!
...
Beberapa bulan kemudian, junta militer Argentina dipaksa untuk jatuh.
          ***
Tanpa adanya letupan-letupan emosi tersebut, tanpa puisi dan syair-syair yang sedemikian kuat, tanpa pemahaman atas keputusasaan dan emosi yang telanjang, tanpa kemampuan untuk bermimpi... tidak akan pernah ada perjuangan demi kemerdekaan dan keadilan yang bakal dimenangkan di Amerika Latin. Mereka sentimental, ya. Dan juga pemimpi. Tetapi mereka juga keras. Dan dunia mereka sebagian besar abstrak.
Kita mempelajari bahwa mimpi dan edukasi emosional itu penting, bahkan esensial dalam kerja revolusi. Bagaimana bisa seseorang pergi berperang tanpa kata-kata puitis di bibirnya, tanpa seseorang yang dia cintai begitu dalam di lubuk hatinya, atau tanpa dedikasi total terhadap negara yang hendak dia bela? Ini adalah cara Amerika Latin, dan cara itu bekerja dengan baik.
Bisa anda lihat; semua itu tentang nilai. Ada pihak yang mencuri dari negeri yang mereka cintai, karena mobil-mobil mahal dan rumah-rumah mentereng bisa memberikan lebih banyak ‘penghargaan’ ketimbang kejujuran, pengetahuan, kebaikan, atau keindahan. Tidak mungkin seseorang berharap untuk bisa menang melawan korupsi tanpa mengubah sistem nilai.
Dan demi membawa tesis ini ke titik ekstrim: jika sebuah puisi yang ditulis dengan baik mampu membangkitkan semangat dari rakyat di sebuah negara ketimbang sebuah Ferrari merah menyala, maka orang-orang akan berhenti mencuri dan mulai menulis. Di Kuba, orang-orang akan memilih puisi. Di negara-negara macam Venezuela, terdapat satu generasi yang tumbuh dengan memegang teguh prinsip yang sama.
          ***
Segalanya berkelindan erat di sini, puisi dan perjuangan, musik dan revolusi. Pernah suatu kali, Eduardo Galeano, sang master realisme magis Amerika Latin berucap: “Poems are written with ink and blood, while verses and strings of guitars carry on the revolution.
Kalimat itu adalah gambaran tentang bagaimana para lelaki dan perempuan di sana berbicara; dan mayoritas masyarakat sama sekali tidak punya kesulitan untuk memahaminya. Bahasa mimpi dan imajinasi menjadi satu idiom utama di Amerika Latin—bahasa yang dipahami dan digunakan di setiap sudutnya.
Pernah juga Alberto Bruzzone, salah satu pelukis terbaik yang dimiliki Argentina, berkata: “Aku tidak bisa melukis bunga-bunga dan idiom-idiom keibuan, sementara mereka membunuhi mahasiswa-mahasiswaku di jalanan!” Bruzzone jelas melampaui zamannya—terlebih lagi, melampaui kebanyakan seniman-seniman barat. Berapa banyak, sih, seniman di California atau London yang bisa mengklaim: “Saya menolak membuat film murahan yang tak berotak, sementara negeriku sendiri menguasai dan menundukan setengah dunia di bawah tirani penderitaan!”
Nah, kembali ke puisi: beberapa lelaki dan perempuan di sub-kontinen ini menuliskan bait-bait kolosal dengan jiwanya sendiri, entah itu Che Guevara, atau Hugo Chavez, atau Subcomandante Marcos, atau Fidel Castro, atau pemimpin muda gerakan mahasiswa di Chile baru-baru ini—Camilla Valejo.
Dan tentu saja, Pablo Neruda, Jose Marti, dan Presiden Salvador Allende.
Presiden Allende tewas di tengah kobaran api istana kepresidenan Chile—La Moneda—ketika angkatan udara Chile membombardir tempat tersebut dalam upaya kudeta di tanggal 9 November 1973, melayani kepentingan Amerika Serikat dan korporasi-korporasinya. Allende sendiri sebetulnya tahu tentang pengkhianatan itu. Banyak saksi sejarah yang menyatakan bahwa dia sudah mendapatkan banyak kisikan... tetapi sebagai seorang demokrat sejati, dia menolak menahan siapapun hanya atas dasar kecurigaan.
Ketika jet-jet tempur itu mulai mengudara, Allende bangkit dan berjalan menuju balkon ruang kerjanya, menuju pesawat-pesawat tersebut, menuju kematiannya sendiri. Dia masih Presiden Chile yang sah saat itu; seorang presiden yang terpilih secara demokratis, di salah satu negeri paling indah di bawah matahari. Dia berjalan menuju pilot-pilot yang mengkhianatinya; mengkhianati tanah airnya, sebab tidak peduli apapun yang mereka lakukan, mereka tetaplah warga negara yang bumi pertiwi percayakan padanya untuk dia pimpin dan dia jaga. Dia berjalan menuju mereka karena dia tahu, dia tidak akan melarikan diri. Dia tewas dengan penuh kebanggaan, tak terkalahkan, menuju mesin-mesin jet yang meraung, menuju moncong-moncong senapan mesin mereka, menuju roket-roket yang meluncur dari bawah sayap mereka. Seorang laki-laki dengan kacamata berbingkai tebal, seorang laki-laki yang sangat baik, seorang humanis sejati.
Di saat Allende menapaki langkahnya, tidak jauh dari La Moneda, Pablo Neruda tengah sekarat karena kanker. Di saat pemilu sebelumnya, Don Pablo seharusnya menjadi kandidat presiden dari Partai Komunis Chile, tetapi dia malahan mendukung Allende yang mewakili La Unidad Popular.
Dua sosok besar, dua orang individu terbaik yang pernah dimiliki dunia, tengah menghadapi kematian di saat yang sama, tidak jauh dari satu sama lain. Negeri mereka, negeri paling indah di muka bumi, akan mengalami penindasan dan perkosaan sepanjang dua dekade berikutnya, oleh wajah-wajah buruk neo-kolonialis dan geng-geng lokal yang melayani kepentingan modal.
Don Pablo telah usai menorehkan puisi terakhirnya. Dia berpisah dengan Matilda; dengan sahabat-sahabatnya, dengan negeri yang dia cintai begitu dalam. Dan Allende telah mengukirkan, pada segenap tanah, air, udara... pada hati, dan jiwa, dan mimpi mereka-mereka yang merindukan kebebasan, sebuah puisi yang ia tulis dengan tubuh, ruh, dan darahnya.
Dan ini adalah sebuah contoh tentang bagaimana puisi-puisi terbaik dilahirkan. Inilah tempat dimana puisi dan revolusi bersatu; inilah bagaimana keduanya menjadi satu entitas tunggal yang solid dan tak tepisahkan.
          ***
Pasca kudeta tersebut, militer Chile memenuhi Stadium Nasional di Santiago de Chile dengan ratusan tawanan. Di antara tawanan-tawanan tersebut adalah salah satu musisi paling dikenang di Amerika Latin, Victor Jarra. Mereka menggelandang tubuh kurusnya, kedua tangan serta tulang rusuknya patah. Para prajurit kemudian melemparkan gitar kepadanya: “Sekarang bernyanyilah buat kami,” kata mereka sambil tertawa. Dan Victor Jarra melakukannya. Dia menyanyikan Venceremos langsung di depan muka mereka. Para prajurit itu mengambil senapan mesin dan menembakinya. Satu lagi jiwa besar dan penuh kebanggaan telah gugur—tapi Victor Jarra tidak mati. Dia menjadi puisi lain yang menginspirasi kita: Anda tidak menangis memohon belas kasihan di depan bayang-bayang tirani. Anda meludah di wajahnya dan mati, jika tidak bisa menang. Titik.
Dan hampir 30 tahun berikutnya, sebuah 'puisi' dituliskan oleh Jenderal Raul Baduel, yang mengepalai divisi paratrooper Chavez di Maracay ketika dia beserta para nasionalis lainnya menghantam jatuh upaya kudeta yang disponsori Amerika Serikat di tahun 2002. Mereka menang. Melawan segala kemustahilan, segala ketidakmungkinan, melawan ribuan prajurit dengan segala kendaraan perangnya, dengan hanya bersenjatakan 1 unit panser dan 44 pucuk senapan semi-otomatis AR15, serta cinta yang mendalam terhadap negeri yang mereka sayangi, mereka menang. Di tahun 2002, Venezuela menunjukkan, bahwa beberapa puisi memang harus ditulis dengan baja.
          ***
Dan begitulah kita memahami peran yang dimainkan oleh puisi dalam revolusi-revolusi di Amerika Latin. Di tanah itu, mereka terus berjuang, dan kalah, dan berjuang lagi dan lagi. Mereka menyaksikan pemimpin-pemimpin sah mereka dibunuh atau dijatuhkan oleh kepentingan modal barat: di Guatemala, Dominika, Brazil, Chile, Nicaragua, dan di banyak tempat lainnnya.
Namun semuanya sudah jadi sejarah sekarang. Segenap mimpi, solidaritas, dan kuasa besar kreatifitas—kini semuanya hidup dan membara, mendadak semuanya jadi mungkin. Revolusi telah menang. Dan spirit perjuangan, demi kebebasan dan kasih sayang, semua puisi-puisi, semua syair-syair yang ditorehkan oleh para martir dan pejuang itu, sampai sekarang masih bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui batas-batas cakrawala dari mimpi-mimpi terliar.