Di tempat itu terdapat rumah yang menempel pada
sebongkah bukit di Valparaiso, sebuah kota kecil tepi pantai di Santiago de Chile,
menghadap lansekap indah teluk Bellavista, pelabuhan, dan samudera lepas yang
tak henti menghampar sampai batas horizon. Rumah tersebut pernah dihuni oleh
salah satu penulis terbaik sepanjang abad ke-20: ‘Don Pablo’ adalah namanya
sebagaimana dia dikenal di Chile. Atau Pablo Neruda, sebagaimana dia dikenal di
seluruh penjuru dunia. Di rumah itulah Pablo Neruda menulis sebagian dari
puisi-puisinya yang paling kuat dan mendalam, di sebuah bangunan kayu sederhana
yang menantang derasnya ombak Pasifik.
Banyak dari puisi-puisi Neruda yang dipenuhi oleh
kemarahan; layaknya sebuah panggilan untuk mengangkat senjata. Don Pablo adalah
seorang Komunis, dan dia percaya pada perjuangan Amerika Latin demi kebebasan
yang nyata, dia mempercayai revolusi, dan diatas segalanya—kebersatuan sub-kontinen
tertsebut. Puisinya yang paling diingat dan paling monumental berjudul “The Heights of Macchu Picchu”:
And give me silence, give me
water, hope.
Give me the struggle, the iron,
the volcanoes.
Let bodies cling like magnets to my
body.
Come quickly to my veins and to
my mouth.
Speak through my speech, and
through my blood.
Namun, meskipun diksinya memiliki
kekuatan sebegitu besar, bukan puisi ini yang dipilih untuk diukirkan pada
pilar-pilar La Sebastiana, bukan puisi ini pula yang—dalam tahun-tahun panjang
kekuasaan junta militer di Chile—menginspirasi para lelaki dan perempuan muda
untuk melawan kediktatoran. Bukan puisi ini yang membuat mereka mempertaruhkan
nyawa, untuk mati demi Chile dan kebebasannya, melainkan sebuah bait sederhana
yang dia tulis untuk perempuan yang dia cintai mati-matian, yang menjadi simbol
tersebut; sebuah teriakan perang dari barisan perlawanan:
…The fifth thing is your eyes,
my Matilda, my beloved,
I do not want to sleep without
your eyes,
I do not want to live without you
looking at me:
I will give the spring
for that you’ll keep watching me.
Dan disitulah rahasianya. Revolusi
Amerika Latin dan kemenangannya belakangan ini bukan hanya dibangun semata-mata
melalui ide perjuangan demi keadilan sosial, tetapi juga—dalam porsi yang sama
besarnya—tentang ide mengenai perjalanan, kepuitisan, letupan-letupan
sentimental; tentang seni yang secara esensial bersifat esoterik, emosional,
dan indah.
Seni dan dimensi mimpi memainkan peran esensial
dalam perjuangan Amerika Latin, bahkan dalam perjuangan bersenjatanya. Di sini,
perlawanan seringkali berangkat dari baris-baris puisi, syair lagu, atau goresan
diatas kanvas. Teater di Buenos Aires dan Santiago de Chile bisa jadi sama
eksplosifnya dengan bagasi mobil yang dipenuhi TNT.
Seringkali tidak ditemukan garis batas yang jelas
antara revolusi dan puisi: keduanya melebur menjadi satu.
Dalam novel Gabriel Garcia Marquez, “Love in the
Time of Cholera,” seorang lelaki, Florentino Ariza, mendapati mimpi-mimpinya
hancur berantakan ketika cinta hidupnya meninggalkannya. Dalam novel tersebut, pujaannya,
Fermina Daza, menikahi lelaki lain, dan Florentino Ariza hanya memiliki dua
pilihan: untuk menyerah dan merelakan cintanya kepada Fermina Daza, atau untuk
terus mencinta... dan menanti... Tidak peduli seberapa lama waktu yang
diperlukan. Dia memutuskan untuk berjuang dan menunggu. Florentino Ariza
menunggu selama lima puluh satu tahun, sembilan bulan, dan empat hari... tapi
di akhir, dia menang. Cinta Fermina Daza menjadi miliknya, kira-kira di usia
tujuh puluhan, tapi tetap saja, miliknya.
Orang kebanyakan barangkali akan berkomentar: “Dia
terobsesi...”
Tetapi Juan Accreo, seorang pegiat seni yang doyan
nongkrong di sebuah bar di San Cristobal, akan menyanggahnya dengan gemas:
“Tidak! Bagaimana mungkin kau sebegitu bebal?” katanya sambil memesan segelas anggur
cherimoya-nya yang kedua, “Tidakkah kau lihat? Itu persis dengan revolusi! Kita
menunggu; Kita berjuang. Kita mengorbankan begitu banyak... tapi di akhir, tak
satupun yang sia-sia. Kemenangan akhirnya milik kita.”
Tentu saja, Gabriel Garcia Marquez adalah seorang
novelis kiri yang hebat. Dan jelas, karyanya, “Love in the Time of Cholera”
merupakan sebuah pencapaian literatur yang kolosal, kompleks dan luar biasa.
Tapi siapa yang pernah memikirkan jalur paralel macam begitu?—Fermina Daza dan
revolusi. Maka Juan Accreo akan menyahut lagi: “Kenapa tidak?” katanya sambil
menenggak habis anggur cherimoya-nya, bersamaan dengan si pemain akordion di
bar itu memulai balada sedihnya yang lain di balik punggung Juan Accreo,
“Kenapa tidak? Menanti Fermina Daza sama saja dengan penantian untuk sebuah
revolusi...”
***
Kisah, buku-buku, puisi, musik, tarian, dan
teater—semuanya sangat esensial disini. Tidak ada revolusi di Amerika Latin yang
bisa terwujud tanpa itu semua. Sebelum memutuskan untuk maju menuju barikade,
orang-orang harus terlebih dahulu merasa tersentuh, tergerak, bukan hanya
teryakinkan.
Beberapa tahun yang lalu, di Venezuela, pemerintah
mengadakan kampanye baca dengan membagikan jutaan buku secara cuma-cuma ke
masyarakat. Klasik-klasik macam Don Quixote benar-benar diberikan secara gratis
di seluruh negeri. Kebijakan yang bagus, menurut saya. Dan itu bukan sekedar
kebijakan, tetapi juga sebuah tindakan yang sangat logis dan strategis, karena
apa yang terjadi di Venezuela, Bolivia, Uruguay, Ekuador dan negara-negara
lainnya sesungguhnya merupakan operasionalisasi dari prinsip dasar humanisme.
Seseorang tidak perlu jauh-jauh memperlajari Karl Marx, Mao, atau Lenin atau
Chavez; semua esensi mereka ada disitu—dalam karya-karya klasik Victor Hugo,
Cervantes, Maxim Gorki, Tolstoy dan Tagore.
Dibawah pretensi bahwa masyarakat kelas pekerja
dan petani merupakan orang-orang tak berotak yang tidak mungkin memahami
pucuk-pucuk intelektualitas seperti novel dan puisi, para elit di banyak
belahan dunia terus menahan hak atas pemikiran filosofis dan ‘emosi ningrat’
hanya untuk diri mereka sendiri. Secara kontras, di banyak negara di Amerika
Latin, kita perlu lihat bahwa semua orang bisa dan harus punya hak untuk
berpikir, dan untuk merasa. Dengan mengesampingkan segala macam tetek bengek
teori elitis, bahkan orang-orang paling sederhana sekalipun bisa mulai membaca
buku-buku klasik yang penuh inspirasi, mereka bisa menikmati dan bisa pula dengan
mudah memahaminya. Mereka datang ke ranah revolusi bukan melalui ideologi,
melainkan melalui insting alamiah manusia. Mereka menyambut siapapun yang
menghargai mereka, berbagi dengan mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik.
Memperkenalkan masyarakat pada seni juga bisa
menjadi awal bagi sebuah pengaruh yang positif dan mendalam bagi banyak tren di
masyarakat progresif Amerika Latin. Untuk apa kita—sebagai contoh—menggalakkan
kampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga, jika orang-orang sejak usia dini
hanya terekspos pada bentuk hiburan yang brutal, vulgar, terstandardisasi, dan
dipandu oleh kepentingan-kepentingan komersil semata? Secara kontras, seorang
laki-laki yang membaca dan menikmati Marti, Neruda, atau Tagore jelas tidak
mungkin memukuli istri dan anaknya.
Kepada Juan Accreo, saya mengirimkan naskah epos
teater saya berjudul “Fragmen Pertempuran”
yang saya terjemahkan ke bahasa Inggris bulan Januari lalu. Dan inilah
komentarnya: “Aku dan pacarku membacanya keras-keras, dua kali, selama dua
malam berturut-turut,” katanya di depan webcam
dengan raut muka super serius ala aktivis kawakan. “Dan kami menangis
selama dua malam penuh,” lanjutnya.
Sungguh. Tidak ada yang perlu ditambahkan lagi,
saya bahagia; berdasarkan standard Amerika Latin, Juan Accreo telah memberikan kepada saya nilai apresiasi yang paling
tinggi, murni, dan tulus.
Saya tahu beberapa orang di Peru dan Kolombia dan
di tempat-tempat lain di sub-kontinen itu yang bisa menangis kala membaca
puisi-puisi Marti atau Cesar Valejo di malam hari, kemudian bangun di pagi
harinya, dan tanpa keraguan menerjunkan diri ke pertempuran-pertempuran paling
berdarah, tanpa setitikpun rasa takut. Saya tahu lelaki-lelaki yang menulis
puisi untuk istri atau kekasih mereka ketika sedang berada dalam parit-parit di
medan pertempuran. Di Amerika Latin, untuk merasa, untuk menjadi emosional
bukanlah hal yang dianggap memalukan atau konyol, sepanjang orang yang
bersangkutan tetap kuat dan keras ketika kekuatan dan kekerasan memang
diperlukan.
***
Seni mengajarkan orang cara bermimpi, dan pada
gilirannya mimpi-mimpi itulah yang mendorong masyarakat untuk maju ke depan.
Puisi bukan hanya tentang letupan-letupan emosi sesaat; melainkan lebih kepada
kasih sayang, kebaikan, dan kebersahajaan. Membran emosional yang melapisi
banyak lirik dan puisi mampu menyerap rasa sakit yang paling menusuk, dan
mendorong hadirnya pemaafan.
Tetapi bukan hanya puisi yang membentuk wujud mental
Amerika Latin dan membantu menghadirkan identitas nasional dan kontinen yang
sebegitu kompleks; melainkan juga keseluruhan skala ekspresi artistik: dari
teater dan sinema sampai musik dan literatur.
Dan ini juga merupakan gaya hidup—malam-malam
panjang di penghujung Jumat dan Sabtu ketika sekelompok teman berkumpul,
mengobrol sampai pagi, bertukar ide, pemahaman, mimpi dan kesedihan, melompat
dari satu teater ke teater lain, dari sinema yang satu ke sinema yang lain,
pameran dan galeri, kadang bernyanyi kadang berdansa, tapi selalu
bercakap-cakap.
Tidak ada jejaring sosial, tidak ada Skype, atau bentuk komunikasi internet
apapun yang mampu menggantikan itu: interaksi langsung dan debat yang
berapi-api, sebagaimana tidak ada media elektronik yang mampu menggantikan
kehangatan tangan manusia, atau ekspresi penuh pengertian di mata seorang
sahabat, atau sesungging senyum tulus di sudut bibir seseorang yang anda
cintai.
Banyak konsep-konsep sosial dan politik di Amerika
Latin terlahir di malam-malam seperti itu, di sekeliling meja, dengan
gelas-gelas dipenuhi ampas kopi, seusai pembahasan sejumlah karya seni secara
mendalam. Seni tidak hanya mengedukasi, seni mendorong manusia untuk berpikir
dan merasa, membantu mereka menarik garis batas antara benar dan salah. Bentuk
kehidupan manapun yang terasingkan dari kualitas-kualitas tersebut bukanlah
kehidupan yang pantas untuk dirayakan. Dan dengan sangat tidak mengejutkan, revolusi-revolusi
yang terjadi di Amerika Latin, nyaris semuanya berangkat dari puisi dan
kerinduan atas cinta dan kebaikan.
***
Sebelum kediktatoran militer Argentina jatuh di
tahun 1982, salah satu penyanyi terbesar sepanjang masa—Mercedes Sosa—kembali
dari pengasingan. Sosa dicintai oleh semua orang, dan dipuja karena suara
emasnya yang menggetarkan. Dia adalah lawan dari segala yang media massa di
seluruh dunia definisikan sebagai ‘perempuan sempurna’. Mercedes Sosa bertubuh
gempal, berkulit cokelat, dan seorang indian adat. Tetapi ini bukan Berverly
Hills; ini El-Puerto.
Menjelang senja dia melangkah dengan penuh
keyakinan memasuki kuil tertinggi ‘kebudayaan Eropa’ di Argentina, sekaligus salah
satu rumah opera paling terkemuka di muka bumi: Teatro Colon di Buenos Aires.
Teater itu sesak oleh manusia yang berjejalan. Saat
itu, beberapa lagu yang hendak dinyanyikan oleh Sosa masih dilarang oleh pemerintah.
Tetapi kemunculannya di atas panggung menjadi sebuah janji akan berakhirnya
kediktatoran yang tengah berlangsung. Mereka-mereka yang datang menonton konser
itu di kemudian hari akan mendeskripsikan atmosfer dalam teater tersebut
sebagai ‘gelombang yang menggetarkan hati dan jiwa kami’. Para penonton itu
mengharapkannya untuk menyanyikan lagu-lagu yang menantang Vidella serta para pemerkosa
dan pembunuh di jajaran junta militer. Mereka mengharapkannya untuk
menyenandungkan syair-syair yang menjaga para lelaki dan perempuan dan
anak-anak tetap hidup—secara emosional dan spiritual—sepanjang tahun-tahun
gelap tersebut. Dan Mercedes Sosa melakukannya. Dia bernyanyi sebagaimana yang
tidak bisa dilakukan lelaki dan perempuan manapun di dunia.
Mercedes Sosa menyanyikan syair tentang matahari
yang membakar, dan tentang seorang gadis bernama Maria, Maria Va; ‘Maria Akan Pergi’. Dan kemudian lagu-lagu lainnya, dan
semuanya ada disana, segenap perlawanan, gairah, revolusi, cinta... semuanya
hadir, transenden dalam sebuah malam penuh dongengan gaib, dalam suara tunggal
perempuan luar biasa ini.
Rekaman konser tersebut menjadi salah satu klasik
terbaik sepanjang waktu. Para penonton menangis dan berteriak. “Sudah berakhir!”
kata mereka, “seluruh penderitaan itu sudah berakhir!” Syair-syair itu, yang
selama bertahun-tahun dinyanyikan di ruang bawah tanah dan kolong-kolong
persembunyian, bergema dari balik jeruji penjara dan ruang-ruang penyiksaan,
disenandungkan oleh malam—syair-syair tersebut, sekarang mengalir deras—dengan begitu bebas dan menggetarkan—dari atas panggung
rumah opera Buenos Aires.
Tetapi apa sih, sebenarnya, yang ada dalam
lagu-lagu itu, yang menantang seluruh tatanan sistem? Apakah panggilan perang, kritik
terhadap sistem; apakah itu tentang politik?
Mercedes Sosa menyanyikan sebuah balada gubahan
Violetta Parra, seorang aktivis perempuan Chile yang menggagas gerakan Nueva Cancion, seorang musisi dan
penyair yang mati bunuh diri di tahun 1967.
Gracias a
la vida que me ha dado tanto
Me
dio dos luceros, que cuando los abro,
Perfecto
distingo lo negro del blanco
Y
en el alto cielo su fondo estrellado
Y
en las multitudes el hombre que yo amo
(Thanks to the life that has
given me so much
It gave me two bright stars and
when I open them
I distinguish perfectly the black
from the white
And in the high sky its starred
bottom
And
in the crowd: the man I love)
Setelahnya dia menyanyikan sebuah lagu melankolis,
tentang seorang penyair Argentina, Alfonsina Storni, “Alfonsina and the Sea,” yang dalam keputusasaan melempar dirinya ke
laut di Mar de Plata.
You are leaving, Alfonsina
With your loneliness
Which new poems
Did you go find?
An ancient voice
Made of wind and salt
Breaks your soul
And takes it away
And you float away
As in dreams
Asleep, Alfonsina
Dressed
by the sea
“Jadi, dimana revolusinya?” seorang reformis muda tidak sabaran
dari Kairo atau Jakarta barangkali akan bertanya. “Semua kesedihan itu,
kerinduan akan cinta, dan melankoli, dan keindahan... seluruh rasa kehilangan
itu... keputusasaan... tetapi dimana panggilan untuk melawan, dimana pemberontakannya?”
Dan seorang Amerika Latin akan menjawab dengan
sedikit bingung: “Tapi... semuanya ada di situ... segalanya itu hadir... dalam
semua puisi cinta itu, tidakkah kau dengar?”
Dan sekonyong-konyong, semua menjadi jelas.
Seakan-akan mendengar percakapan tersebut dari
atas panggung, Mercedes Sosa mendadak mengubah ritme. Dia mulai menyenandungkan
sebuah melonga tua nan indah dari
Uruguay:
I have so many brothers,
I
can’t even count
Para penonton menahan nafas. Mereka bisa merasakan emosi di udara. Malam itu mendekati klimaksnya. Sosa bernyanyi tentang tangan-tangan
hangat milik orang-orang yang dirundung kemiskinan, dan mendadak, tentang
kematian. Tentang ‘kematian kita, kematian mereka-mereka yang tewas demi kita
yang terus membayangi’ tak peduli kemanapun kita pergi.
Ada kesunyian absolut, yang perlahan-lahan berubah
menjadi simfoni megah yang memekakkan terlinga. Mercedes Sosa membuat sebuah
serangan tunggal, pendek, sempurna, dan mematikan, layaknya sebuah hantaman
terbaik dari tinju seorang reformis sejati:
I have so many brothers,
I can’t even count
And I have one sister
The most beautiful one
Whose
name is freedom!
...
Beberapa bulan kemudian, junta militer Argentina
dipaksa untuk jatuh.
***
Tanpa adanya letupan-letupan emosi tersebut, tanpa
puisi dan syair-syair yang sedemikian kuat, tanpa pemahaman atas keputusasaan
dan emosi yang telanjang, tanpa kemampuan untuk bermimpi... tidak akan pernah
ada perjuangan demi kemerdekaan dan keadilan yang bakal dimenangkan di Amerika
Latin. Mereka sentimental, ya. Dan juga pemimpi. Tetapi mereka juga keras. Dan
dunia mereka sebagian besar abstrak.
Kita mempelajari bahwa mimpi dan edukasi emosional
itu penting, bahkan esensial dalam kerja revolusi. Bagaimana bisa seseorang
pergi berperang tanpa kata-kata puitis di bibirnya, tanpa seseorang yang dia
cintai begitu dalam di lubuk hatinya, atau tanpa dedikasi total terhadap negara
yang hendak dia bela? Ini adalah cara Amerika Latin, dan cara itu bekerja
dengan baik.
Bisa anda lihat; semua itu tentang nilai. Ada
pihak yang mencuri dari negeri yang mereka cintai, karena mobil-mobil mahal dan
rumah-rumah mentereng bisa memberikan lebih banyak ‘penghargaan’ ketimbang
kejujuran, pengetahuan, kebaikan, atau keindahan. Tidak mungkin seseorang
berharap untuk bisa menang melawan korupsi tanpa mengubah sistem nilai.
Dan demi membawa tesis ini ke titik ekstrim: jika
sebuah puisi yang ditulis dengan baik mampu membangkitkan semangat dari rakyat
di sebuah negara ketimbang sebuah Ferrari merah menyala, maka orang-orang akan
berhenti mencuri dan mulai menulis. Di Kuba, orang-orang akan memilih puisi. Di
negara-negara macam Venezuela, terdapat satu generasi yang tumbuh dengan memegang
teguh prinsip yang sama.
***
Segalanya berkelindan erat di sini, puisi dan
perjuangan, musik dan revolusi. Pernah suatu kali, Eduardo Galeano, sang master
realisme magis Amerika Latin berucap: “Poems
are written with ink and blood, while verses and strings of guitars carry on
the revolution.”
Kalimat itu adalah gambaran tentang bagaimana para
lelaki dan perempuan di sana berbicara; dan mayoritas masyarakat sama sekali
tidak punya kesulitan untuk memahaminya. Bahasa mimpi dan imajinasi menjadi satu
idiom utama di Amerika Latin—bahasa yang dipahami dan digunakan di setiap
sudutnya.
Pernah juga Alberto Bruzzone, salah satu pelukis
terbaik yang dimiliki Argentina, berkata: “Aku tidak bisa melukis bunga-bunga
dan idiom-idiom keibuan, sementara mereka membunuhi mahasiswa-mahasiswaku di
jalanan!” Bruzzone jelas melampaui zamannya—terlebih lagi, melampaui kebanyakan
seniman-seniman barat. Berapa banyak, sih, seniman di California atau London
yang bisa mengklaim: “Saya menolak membuat film murahan yang tak berotak,
sementara negeriku sendiri menguasai dan menundukan setengah dunia di bawah
tirani penderitaan!”
Nah, kembali ke puisi: beberapa lelaki dan
perempuan di sub-kontinen ini menuliskan bait-bait kolosal dengan jiwanya
sendiri, entah itu Che Guevara, atau Hugo Chavez, atau Subcomandante Marcos,
atau Fidel Castro, atau pemimpin muda gerakan mahasiswa di Chile baru-baru
ini—Camilla Valejo.
Dan tentu saja, Pablo Neruda, Jose Marti, dan Presiden
Salvador Allende.
Presiden Allende tewas di tengah kobaran api
istana kepresidenan Chile—La Moneda—ketika angkatan udara Chile membombardir
tempat tersebut dalam upaya kudeta di tanggal 9 November 1973, melayani
kepentingan Amerika Serikat dan korporasi-korporasinya. Allende sendiri
sebetulnya tahu tentang pengkhianatan itu. Banyak saksi sejarah yang menyatakan
bahwa dia sudah mendapatkan banyak kisikan... tetapi sebagai seorang demokrat
sejati, dia menolak menahan siapapun hanya atas dasar kecurigaan.
Ketika jet-jet tempur itu mulai mengudara, Allende
bangkit dan berjalan menuju balkon ruang kerjanya, menuju pesawat-pesawat tersebut,
menuju kematiannya sendiri. Dia masih Presiden Chile yang sah saat itu; seorang
presiden yang terpilih secara demokratis, di salah satu negeri paling indah di bawah
matahari. Dia berjalan menuju pilot-pilot yang mengkhianatinya; mengkhianati
tanah airnya, sebab tidak peduli apapun yang mereka lakukan, mereka tetaplah
warga negara yang bumi pertiwi percayakan padanya untuk dia pimpin dan dia jaga.
Dia berjalan menuju mereka karena dia tahu, dia tidak akan melarikan diri. Dia tewas
dengan penuh kebanggaan, tak terkalahkan, menuju mesin-mesin jet yang meraung,
menuju moncong-moncong senapan mesin mereka, menuju roket-roket yang meluncur
dari bawah sayap mereka. Seorang laki-laki dengan kacamata berbingkai tebal,
seorang laki-laki yang sangat baik, seorang humanis sejati.
Di saat Allende menapaki langkahnya, tidak jauh
dari La Moneda, Pablo Neruda tengah sekarat karena kanker. Di saat pemilu
sebelumnya, Don Pablo seharusnya menjadi kandidat presiden dari Partai Komunis
Chile, tetapi dia malahan mendukung Allende yang mewakili La Unidad Popular.
Dua sosok besar, dua orang individu terbaik yang
pernah dimiliki dunia, tengah menghadapi kematian di saat yang sama, tidak jauh
dari satu sama lain. Negeri mereka, negeri paling indah di muka bumi, akan
mengalami penindasan dan perkosaan sepanjang dua dekade berikutnya, oleh
wajah-wajah buruk neo-kolonialis dan geng-geng lokal yang melayani kepentingan modal.
Don Pablo telah usai menorehkan puisi terakhirnya.
Dia berpisah dengan Matilda; dengan sahabat-sahabatnya, dengan negeri yang dia
cintai begitu dalam. Dan Allende telah mengukirkan, pada segenap tanah, air,
udara... pada hati, dan jiwa, dan mimpi mereka-mereka yang merindukan
kebebasan, sebuah puisi yang ia tulis dengan tubuh, ruh, dan darahnya.
Dan ini adalah sebuah contoh tentang bagaimana
puisi-puisi terbaik dilahirkan. Inilah tempat dimana puisi dan revolusi
bersatu; inilah bagaimana keduanya menjadi satu entitas tunggal yang solid dan
tak tepisahkan.
***
Pasca kudeta tersebut, militer Chile memenuhi Stadium
Nasional di Santiago de Chile dengan ratusan tawanan. Di antara tawanan-tawanan
tersebut adalah salah satu musisi paling dikenang di Amerika Latin, Victor
Jarra. Mereka menggelandang tubuh kurusnya, kedua tangan serta tulang rusuknya
patah. Para prajurit kemudian melemparkan gitar kepadanya: “Sekarang
bernyanyilah buat kami,” kata mereka sambil tertawa. Dan Victor Jarra
melakukannya. Dia menyanyikan Venceremos
langsung di depan muka mereka. Para prajurit itu mengambil senapan mesin dan
menembakinya. Satu lagi jiwa besar dan penuh kebanggaan telah
gugur—tapi Victor Jarra tidak mati. Dia menjadi puisi lain yang menginspirasi
kita: Anda tidak menangis memohon belas
kasihan di depan bayang-bayang tirani. Anda meludah di wajahnya dan mati, jika
tidak bisa menang. Titik.
Dan hampir 30 tahun berikutnya, sebuah 'puisi' dituliskan
oleh Jenderal Raul Baduel, yang mengepalai divisi paratrooper Chavez di Maracay
ketika dia beserta para nasionalis lainnya menghantam jatuh upaya kudeta yang
disponsori Amerika Serikat di tahun 2002. Mereka menang. Melawan segala
kemustahilan, segala ketidakmungkinan, melawan ribuan prajurit dengan segala
kendaraan perangnya, dengan hanya bersenjatakan 1 unit panser dan 44 pucuk
senapan semi-otomatis AR15, serta cinta yang mendalam terhadap negeri yang
mereka sayangi, mereka menang. Di tahun 2002, Venezuela menunjukkan, bahwa
beberapa puisi memang harus ditulis dengan baja.
***
Dan begitulah kita memahami peran yang dimainkan
oleh puisi dalam revolusi-revolusi di Amerika Latin. Di tanah itu, mereka terus berjuang, dan kalah, dan berjuang
lagi dan lagi. Mereka menyaksikan pemimpin-pemimpin sah mereka dibunuh atau
dijatuhkan oleh kepentingan modal barat: di Guatemala, Dominika, Brazil, Chile,
Nicaragua, dan di banyak tempat lainnnya.
Namun semuanya sudah jadi sejarah sekarang. Segenap
mimpi, solidaritas, dan kuasa besar kreatifitas—kini semuanya hidup dan
membara, mendadak semuanya jadi mungkin. Revolusi telah menang. Dan spirit
perjuangan, demi kebebasan dan kasih sayang, semua puisi-puisi, semua
syair-syair yang ditorehkan oleh para martir dan pejuang itu, sampai sekarang
masih bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui
batas-batas cakrawala dari mimpi-mimpi terliar.