Kamis, 07 Februari 2013

#Imaginarium 03.


Seseorang melakukan perjalanan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia cari selalu berada didepannya, dan sekalipun sesuatu itu berkenaan dengan masa lalu, masa lalu itu secara perlahan berubah begitu ia bergerak maju dalam perjalanannya, karena masa lalu si pejalan itu berubah menurut rute yang diikutinya: bukan masa lalu yang baru saja berlalu, melainkan masa lalu yang lebih jauh. Setiap kali ia tiba di kota baru, pejalan itu menemukan jejak-jejak masa lalu yang tidak ia kenali sebelumnya; keterasingan dalam sosok yang sama sekali baru seakan menantimu di sebuah tempat asing nan hampa.

Pejalan itu memasuki sebuah kota; ia melihat seseorang di tengah piazza sedang menjalani kehidupan yang bisa jadi adalah kehidupannya sendiri; ia dapat merasakan dirinya berada di tempat orang itu, jika saja ia memutuskan untuk menghentikan pergerakan waktu, dahulu sekali; atau jika dahulu ketika ia berada di persimpangan jalan, ia tidak memilih jalan yang kini ia tempuh tetapi mengambil jalan yang berlawanan, setelah beberapa lama berkeliling ia akan sampai di tempat orang itu. Kini, dari masa silamnya yang nyata atau hanya berupa hipotesis itu, ia diasingkan; ia tak dapat berhenti; ia harus pergi ke kota lainnya, tempat dimana masa silamnya yang lain menantinya, ke suatu tempat dimana ia dapat menemukan masa depannya yang kini menjadi milik orang lain. Masa depan yang tidak berhasil diraih hanyalah ranting-ranting dari masa silam: ranting-ranting yang telah mati.

Pagi ini seseorang bertanya kepada saya: “Untuk apa kau lakukan semua perjalanan ini? apakah demi menghidupkan kembali masa lalumu, atau untuk menemukan kembali masa depanmu?”

Dan saya menjawab: “Cermin negatif bisa ditemukan di tempat-tempat lain, tapi bukan disini. Si pejalan tahu ia tidak memilikinya, ia mencoba untuk meraih apa yang belum dan barangkali tidak akan pernah menjadi miliknya.”