Seseorang
melakukan perjalanan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia cari
selalu berada didepannya, dan sekalipun sesuatu itu berkenaan dengan masa lalu,
masa lalu itu secara perlahan berubah begitu ia bergerak maju dalam
perjalanannya, karena masa lalu si pejalan itu berubah menurut rute yang
diikutinya: bukan masa lalu yang baru saja berlalu, melainkan masa lalu yang
lebih jauh. Setiap kali ia tiba di kota baru, pejalan itu menemukan jejak-jejak
masa lalu yang tidak ia kenali sebelumnya; keterasingan dalam sosok yang sama
sekali baru seakan menantimu di sebuah tempat asing nan hampa.
Pejalan
itu memasuki sebuah kota; ia melihat seseorang di tengah piazza sedang
menjalani kehidupan yang bisa jadi adalah kehidupannya sendiri; ia dapat
merasakan dirinya berada di tempat orang itu, jika saja ia memutuskan untuk
menghentikan pergerakan waktu, dahulu sekali; atau jika dahulu ketika ia berada
di persimpangan jalan, ia tidak memilih jalan yang kini ia tempuh tetapi
mengambil jalan yang berlawanan, setelah beberapa lama berkeliling ia akan
sampai di tempat orang itu. Kini, dari masa silamnya yang nyata atau hanya
berupa hipotesis itu, ia diasingkan; ia tak dapat berhenti; ia harus pergi ke
kota lainnya, tempat dimana masa silamnya yang lain menantinya, ke suatu tempat
dimana ia dapat menemukan masa depannya yang kini menjadi milik orang lain. Masa
depan yang tidak berhasil diraih hanyalah ranting-ranting dari masa silam:
ranting-ranting yang telah mati.
Pagi ini seseorang bertanya kepada saya: “Untuk
apa kau lakukan semua perjalanan ini? apakah demi menghidupkan kembali masa
lalumu, atau untuk menemukan kembali masa depanmu?”
Dan saya menjawab: “Cermin negatif bisa ditemukan
di tempat-tempat lain, tapi bukan disini. Si pejalan tahu ia tidak memilikinya,
ia mencoba untuk meraih apa yang belum dan barangkali tidak akan pernah menjadi
miliknya.”