Begitulah
tanganmu menyamar waktu
Melambai
sepenuh sungguh
Serupa
kepak sunyi seekor burung
yang sendiri
Bukanlah
lagi secangkir kopi
Menemaniku
di tiap denting dini hari
yang
berayun lambat di taman kota
Tetapi justru
bayangmu
Pada
tetes cahaya bulan
dan
sisa bir semalam milik si tua pucat
yang
lelap
di bawah tiang lampu jalan
di bawah tiang lampu jalan
Kaukah
stasiun tujuan
Bagi
seorang laki-laki dan tiket terakhirnya
yang basah
oleh
embun sebatang pohon mati
atau
angan seekor katak yang lupa cara melompat
Begitulah
lonceng seketika berbunyi
dan
siapapun bergegas kembali ke rumah tua
yang abadi
Menuju
tempat kelahiran
ingatan
masa silam yang urung usai
Atau
sebuah taman penuh kenangan
di
mana tak seekor ulat pun
menyelinap
di pucuk kuldi
Atau
mungkinkah segalanya cuma kisah?
Tak
seorang pun akan kembali menjadi dirimu,
menyamar
mawar,
atau kepak
pilu seekor burung
...dan
sisa cahaya telah tumpah
pada tetes
secangkir
bir yang terakhir...
Begitulah
detik selalu berguguran
Di
sebuah taman
di
kota ini
Di
satu dini hari yang sungguh serupa dirimu...