Minggu, 17 Februari 2013

#Amrita 10.


Begitulah tanganmu menyamar waktu 
Melambai sepenuh sungguh 
Serupa kepak sunyi seekor burung
yang sendiri

Bukanlah lagi secangkir kopi 
Menemaniku di tiap denting dini hari 
yang berayun lambat di taman kota
Tetapi justru bayangmu 
Pada tetes cahaya bulan 
dan sisa bir semalam milik si tua pucat
            yang lelap 
di bawah tiang lampu jalan

Kaukah stasiun tujuan 
Bagi seorang laki-laki dan tiket terakhirnya
yang basah
oleh embun sebatang pohon mati 
atau angan seekor katak yang lupa cara melompat

Begitulah lonceng seketika berbunyi 
dan siapapun bergegas kembali ke rumah tua
yang abadi

Menuju tempat kelahiran
ingatan masa silam yang urung usai
Atau sebuah taman penuh kenangan
di mana tak seekor ulat pun
menyelinap di pucuk kuldi

Atau mungkinkah segalanya cuma kisah? 
Tak seorang pun akan kembali menjadi dirimu,
menyamar mawar,
atau kepak pilu seekor burung

...dan sisa cahaya telah tumpah
pada tetes
secangkir bir yang terakhir...

Begitulah detik selalu berguguran
Di sebuah taman
di kota ini

Di satu dini hari yang sungguh serupa dirimu...