“...jadi,
keberangkatan lu itu benar-benar perjalanan ingatan semata!” Aku-yang-lain,
dengan lidah tajamnya, sambil duduk di patio setiap kali dia menangkap tanda
keresahan dalam ucapanku. “Lu pergi untuk melepaskan beban kenangan-kenangan
masa silam!” dia terus berseru, tak henti menghardik dan menuding, “Dan lu
kembali dari perjalanan lu dengan muatan penyesalan!” lanjutnya menambahkan
dengan sindiran tajam: “Perniagaan yang nggak ada artinya, sebenarnya, untuk
pebisnis kawakan macam lu!”
Ini
merupakan tujuan dari seluruh pertanyaan Aku-yang-lain tentang masa silam dan
masa depan. Satu jam lamanya dia bermain-main dengan pertanyaan itu, seperti seekor
kucing yang sedang mempermainkan tikus. Sampai akhirnya dia menyerang dengan
mendesak punggungku ke dinding, menghantamkan lututnya ke dadaku, dan
mencengkram erat tenggorokanku dengan tangannya: “Ini yang ingin gua dengar dari
lu; akuilah apa-apa yang lu selundupkan: kebenaran, sifat-sifat kehakikian,
penyesalan!”
Kata-kata
dan tindakan ini barangkali hanya dapat dibayangkan, karena kami berdua ternyata cuma membisu
dan tidak bergeming, sambil mengawasi asap yang membumbung dari kedua ujung bara rokok kami.
Awan kadang-kadang pecah dalam desiran angin, atau tetap menggantung di udara;
dan jawabannya ada disana. Begitu tiupan angin membawa serta asap, aku berpikir
tentang kabut yang melayang di atas permukaan lautan serta jajaran-jajaran
gunung, dan ketika dihela, meninggalkan udara kering dan cerah, memunculkan
kota-kota jauh yang hanya hadir dalam ingatan. Sementara Aku-yang-lain berharap
semua itu bermuara di balik naungan percakapan tak tentu arah ini:
bentuk-bentuk benda nampak lebih jelas dari kejauhan.
Terkadang,
awan mendekat, hampir tidak meninggalkan bibir cakrawala, tebal dan bergerak
pelan, dan memunculkan pengandaian atas penglihatan yang lain: hembusan yang
menggantung di atas atap kota-kota besar, asap buram yang menggumpal, kerudung
udara beracun yang memenuhi jalan-jalan berlapis aspal. Bukanlah kabut ingatan yang
berubah-ubah, atau udara cerah; melainkan kepalsuan yang membakar kehidupan itu
sendiri—gembungan spons dengan materi vital yang tak lagi mengalir: kekacauan
masa silam, masa kini, masa depan yang menghalangi eksistensi kehidupan
melambat dan menjadi patung-patung suram dalam pergerakan ilusi. Dan Aku-yang-lain lalu membisikkan sebuah simpulan yang sebetulnya juga sudah kuketahui: "Cuma hal-hal itu yang akan lu temukan di akhir perjalanan lu..."