Sabtu, 16 Februari 2013

#Monolog 02.


“...jadi, keberangkatan lu itu benar-benar perjalanan ingatan semata!” Aku-yang-lain, dengan lidah tajamnya, sambil duduk di patio setiap kali dia menangkap tanda keresahan dalam ucapanku. “Lu pergi untuk melepaskan beban kenangan-kenangan masa silam!” dia terus berseru, tak henti menghardik dan menuding, “Dan lu kembali dari perjalanan lu dengan muatan penyesalan!” lanjutnya menambahkan dengan sindiran tajam: “Perniagaan yang nggak ada artinya, sebenarnya, untuk pebisnis kawakan macam lu!”

Ini merupakan tujuan dari seluruh pertanyaan Aku-yang-lain tentang masa silam dan masa depan. Satu jam lamanya dia bermain-main dengan pertanyaan itu, seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus. Sampai akhirnya dia menyerang dengan mendesak punggungku ke dinding, menghantamkan lututnya ke dadaku, dan mencengkram erat tenggorokanku dengan tangannya: “Ini yang ingin gua dengar dari lu; akuilah apa-apa yang lu selundupkan: kebenaran, sifat-sifat kehakikian, penyesalan!”

Kata-kata dan tindakan ini barangkali hanya dapat dibayangkan, karena kami berdua ternyata cuma membisu dan tidak bergeming, sambil mengawasi asap yang membumbung dari kedua ujung bara rokok kami. Awan kadang-kadang pecah dalam desiran angin, atau tetap menggantung di udara; dan jawabannya ada disana. Begitu tiupan angin membawa serta asap, aku berpikir tentang kabut yang melayang di atas permukaan lautan serta jajaran-jajaran gunung, dan ketika dihela, meninggalkan udara kering dan cerah, memunculkan kota-kota jauh yang hanya hadir dalam ingatan. Sementara Aku-yang-lain berharap semua itu bermuara di balik naungan percakapan tak tentu arah ini: bentuk-bentuk benda nampak lebih jelas dari kejauhan.

Terkadang, awan mendekat, hampir tidak meninggalkan bibir cakrawala, tebal dan bergerak pelan, dan memunculkan pengandaian atas penglihatan yang lain: hembusan yang menggantung di atas atap kota-kota besar, asap buram yang menggumpal, kerudung udara beracun yang memenuhi jalan-jalan berlapis aspal. Bukanlah kabut ingatan yang berubah-ubah, atau udara cerah; melainkan kepalsuan yang membakar kehidupan itu sendiri—gembungan spons dengan materi vital yang tak lagi mengalir: kekacauan masa silam, masa kini, masa depan yang menghalangi eksistensi kehidupan melambat dan menjadi patung-patung suram dalam pergerakan ilusi. Dan Aku-yang-lain lalu membisikkan sebuah simpulan yang sebetulnya juga sudah kuketahui: "Cuma hal-hal itu yang akan lu temukan di akhir perjalanan lu..."