Jumat, 22 Februari 2013

#dreamlog 06.


[excerpt 027]
21/02/2013 (04:07 am)

Sebuah padang pasir...

Matahari menggantung tinggi di angkasa, sinarnya nyalang menggarisi cakrawala, menguapkan segala bentuk logika dan akal sehat yang tersisa. Ketika saya memandang ke arah manapun hanya terlihat pasir kuning keemasan, yang bersama angin meniupkan aroma luka dengan suara derit yang menyakitkan. Entah dimana, saya merasakan ada bayangan yang tumbuh; tinggi dan mengancam. Tetapi di atas sana matahari membakar dengan begitu bengis.

Argh... sungguh, belum pernah sebelumnya saya merindukan hujan sebegini rupa...

Ada sebatang tombak di tangan saya dengan sebuah batu yang diasah sebagai mata tajamnya, batang tombak tersebut dipenuhi oleh ukiran-ukiran aneh, membentuk pola-pola konsentris yang membingungkan mata. Ada insting ketidak-tenangan yang membuat saya mempererat genggaman atas tombak tersebut... Di kejauhan, mata saya menangkap sesosok manusia yang merangkak terseok-seok memegangi pergelangan kakinya. Dia terjatuh beberapa kali sebelum kemudian berusaha merayap lagi. Saya membatin: “barangkali dia butuh bantuan...” saya pun berlari mendekatinya.

Sambil berlari, perlahan mata saya menangkap lebih banyak detail pada sosok tersebut; yang jelas dia seorang laki-laki, barangkali di usia dua puluhan pertengahan, pergelangan kaki kirinya terpuntir ke arah yang tidak natural, nafasnya memburu sembari sesekali mengaduh dengan suara yang sangat familiar... Hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika laki-laki itu tiba-tiba mendongak dan menatap langsung ke mata saya, dan apa yang saya lihat membuat saya tertegun; mata itu, fitur-fitur wajah itu, postur tubuh, bekas luka di tangan...

Laki-laki itu, adalah... saya.

Ada sensasi rasa takut yang merayap di sepanjang tulang punggung saya, barangkali ketakutan yang sama yang saya lihat di mata orang itu. Tangan saya secara otomatis semakin erat menggenggam gagang tombak. Selama jeda sepersekian detik yang terasa seperti berabad-abad, kami terus saling mengawasi; dan saya bisa melihat banyak emosi di wajah itu—panik, takut, terkejut, bingung—sepiring gado-gado kekalutan [saya sendiri kaget melihat ekspresinya, mungkinkah wajah saya sendiri bisa membentuk ekspresi seperti itu?]

Kemudian beberapa hal terjadi secara bersamaan: pertama-tama, saya mendengar dia berteriak “Stop! Jangan!” kemudian berusaha bangkit; yang kedua, tangan saya bergerak di luar kehendak, menghujamkan tombak itu tepat menembus dadanya, dan tiba-tiba saja dia sudah terkapar. Semua terjadi begitu cepat, saya tidak tahu apakah yang pertama terjadi sebelum yang kedua, atau sebaliknya. Entah... tapi yang jelas, dalam kepanikan saya telah membunuhnya. Dalam kepanikan, saya baru saja... membunuh diri saya sendiri...

Sosok itu masih menggeliat pelan diantara percampuran mengerikan suara gelegak darah di tenggorokan dan sengal nafas putus-putus, sampai akhirnya diam tak bernyawa, menyisakan pasir yang dengan rakus meminum darahnya yang mengalir deras seperti sungai merah. Saya jatuh terduduk dengan tangan kaki gemetar. Shock. Ada rasa takut yang perlahan-lahan menggantikan rasa panik barusan. Saya bangkit dan berlari menjauhi mayat tersebut.

Belum sampai beberapa puluh langkah saya terjatuh dalam posisi yang salah sehingga pergelangan kaki kiri saya terpelintir. Perlahan saya bangkit dan mencoba berlari lagi, hanya untuk kembali jatuh tersungkur. Rasanya luar biasa sakit. Tetapi saya harus pergi dari tempat ini. Kemana saja, terserah. Yang penting keluar dari padang pasir terkutuk ini. Saya terus berupaya menyeret tubuh. Sakitnya semakin menjadi. Terdengar suara langkah kaki sayup-sayup di kejauhan, tapi saya tidak peduli. Saya harus pergi. SAYA HARUS PERGI! Suara langkah kaki itu semakin dekat, hingga kemudian berhenti beberapa meter di depan. Saya mendongak...

...dan mendadak seluruh tubuh saya kaku...

Saya tidak tahu kenapa tubuh saya kaku. Yang jelas, rasanya seperti tidak ada energi lagi yang mengalir dalam tubuh saya. Kenapa sih? Ada apa? Apakah karena sosok yang berdiri di depan saya itu terlihat begitu mengancam? Entahlah... Atau barangkali karena tombak aneh berukir yang dia genggam di tangannya? 

Atau, jangan-jangan karena fakta, bahwa laki-laki yang memegang tombak itu adalah...

...diri saya sendiri?

Lalu saya terbangun.

[end of archive]