[excerpt
027]
21/02/2013
(04:07 am)
Sebuah
padang pasir...
Matahari
menggantung tinggi di angkasa, sinarnya nyalang menggarisi cakrawala,
menguapkan segala bentuk logika dan akal sehat yang tersisa. Ketika saya
memandang ke arah manapun hanya terlihat pasir kuning keemasan, yang bersama angin
meniupkan aroma luka dengan suara derit yang menyakitkan. Entah dimana, saya
merasakan ada bayangan yang tumbuh; tinggi dan mengancam. Tetapi di atas sana
matahari membakar dengan begitu bengis.
Argh...
sungguh, belum pernah sebelumnya saya merindukan hujan sebegini rupa...
Ada
sebatang tombak di tangan saya dengan sebuah batu yang diasah sebagai mata
tajamnya, batang tombak tersebut dipenuhi oleh ukiran-ukiran aneh, membentuk
pola-pola konsentris yang membingungkan mata. Ada insting ketidak-tenangan yang
membuat saya mempererat genggaman atas tombak tersebut... Di kejauhan, mata
saya menangkap sesosok manusia yang merangkak terseok-seok memegangi
pergelangan kakinya. Dia terjatuh beberapa kali sebelum kemudian berusaha
merayap lagi. Saya membatin: “barangkali dia butuh bantuan...” saya pun berlari
mendekatinya.
Sambil
berlari, perlahan mata saya menangkap lebih banyak detail pada sosok tersebut;
yang jelas dia seorang laki-laki, barangkali di usia dua puluhan pertengahan,
pergelangan kaki kirinya terpuntir ke arah yang tidak natural, nafasnya memburu
sembari sesekali mengaduh dengan suara yang sangat familiar... Hanya tinggal
beberapa langkah lagi ketika laki-laki itu tiba-tiba mendongak dan menatap langsung
ke mata saya, dan apa yang saya lihat membuat saya tertegun; mata itu,
fitur-fitur wajah itu, postur tubuh, bekas luka di tangan...
Laki-laki
itu, adalah... saya.
Ada
sensasi rasa takut yang merayap di sepanjang tulang punggung saya, barangkali
ketakutan yang sama yang saya lihat di mata orang itu. Tangan saya secara
otomatis semakin erat menggenggam gagang tombak. Selama jeda sepersekian detik
yang terasa seperti berabad-abad, kami terus saling mengawasi; dan saya bisa
melihat banyak emosi di wajah itu—panik, takut, terkejut, bingung—sepiring
gado-gado kekalutan [saya sendiri kaget melihat ekspresinya, mungkinkah wajah
saya sendiri bisa membentuk ekspresi seperti itu?]
Kemudian
beberapa hal terjadi secara bersamaan: pertama-tama, saya mendengar dia
berteriak “Stop! Jangan!” kemudian berusaha bangkit; yang kedua, tangan saya
bergerak di luar kehendak, menghujamkan tombak itu tepat menembus dadanya, dan
tiba-tiba saja dia sudah terkapar. Semua terjadi begitu cepat, saya tidak tahu
apakah yang pertama terjadi sebelum yang kedua, atau sebaliknya. Entah... tapi
yang jelas, dalam kepanikan saya telah membunuhnya. Dalam kepanikan, saya baru
saja... membunuh diri saya sendiri...
Sosok
itu masih menggeliat pelan diantara percampuran mengerikan suara gelegak darah
di tenggorokan dan sengal nafas putus-putus, sampai akhirnya diam tak bernyawa,
menyisakan pasir yang dengan rakus meminum darahnya yang mengalir deras seperti
sungai merah. Saya jatuh terduduk dengan tangan kaki gemetar. Shock. Ada rasa
takut yang perlahan-lahan menggantikan rasa panik barusan. Saya bangkit dan
berlari menjauhi mayat tersebut.
Belum
sampai beberapa puluh langkah saya terjatuh dalam posisi yang salah sehingga pergelangan
kaki kiri saya terpelintir. Perlahan saya bangkit dan mencoba berlari lagi, hanya
untuk kembali jatuh tersungkur. Rasanya luar biasa sakit. Tetapi saya harus pergi
dari tempat ini. Kemana saja, terserah. Yang penting keluar dari padang pasir
terkutuk ini. Saya terus berupaya menyeret tubuh. Sakitnya semakin menjadi.
Terdengar suara langkah kaki sayup-sayup di kejauhan, tapi saya tidak peduli. Saya
harus pergi. SAYA HARUS PERGI! Suara langkah kaki itu semakin dekat, hingga
kemudian berhenti beberapa meter di depan. Saya mendongak...
...dan
mendadak seluruh tubuh saya kaku...
Saya
tidak tahu kenapa tubuh saya kaku. Yang jelas, rasanya seperti tidak ada energi lagi yang mengalir dalam tubuh saya. Kenapa sih? Ada apa? Apakah karena sosok yang berdiri di
depan saya itu terlihat begitu mengancam? Entahlah... Atau barangkali karena
tombak aneh berukir yang dia genggam di tangannya?
Atau, jangan-jangan karena
fakta, bahwa laki-laki yang memegang tombak itu adalah...
...diri
saya sendiri?
Lalu saya terbangun.
[end
of archive]