Kamis, 21 Februari 2013

Pada Suatu Senja Yang Usang

Masihkah engkau mendedahkan perih di lipatan matahari yang giras kerontang?

Pada cangkir tehmu, ada kelabu memantul dari sela bunyi detik tik-tik-tik yang disenandungkan oleh jam dinding yang tak henti menguap bosan. Di ujung ruangan, sebuah mesin kas usang meruapkan melatonin, juga ambiguitas disonan yang merabai punggung udara. Di kafe ini waktu berjalan lamat-lamat, seperti pada geriap jalanan, bangku kayu kesepian, juga keredap parfum kloroform yang meruap dari pergelangan tanganmu. Tapi di ujung koridor ada lautan pandawa palsu yang berjalan dengan lidah-lidah mereka. Biarkan... jangan pedulikan mereka, fokus saja pada meja mungil ini, yang diatasnya ada secangkir teh dingin dan segelas kopi mahal yang tampangnya seperti habis menelan senapan kecil, namun kedua matamu adalah sepasang lentera yang tak lagi menyala...

Kau bilang, kita barangkali memang sudah salah wacana sejak awal—ada dosa-dosa yang mengendap di sudut pikir, layaknya ampas kopi yang membikin hitam gigi-geligi. Lalu engkau tertawa (atau menangis, entah) dan bilang: kita dulu pernah begitu indah, dan bodoh, sedemikian bodohnya sampai-sampai sekarang kita cuma bisa gigit jari merutuki kesalahan-kesalahan... tapi tetap saja, kita pernah indah.

Ah... tapi bodoh itu bukan sesuatu yang salah, bodoh itu sesuatu yang bodoh, tolol. Dan tolong beritakan kepadaku, adakah satu kehidupan di luar sana, satuuuuu saja, yang nihil kebodohan tapi tetap bisa kita tertawakan? Bukankah kita menjadi pintar karena belajar dari kebodohan? Bukankah kita jadi lebih menghargai secuil kebenaran dari kesalahan? Berterimakasihlah pada kesedihan dan air mata, karena bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna. Sebuah lingkaran tidak harus bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu lurus.

Tetapi aku bukan pandawa, melainkan kurawa yang dikutuk para dewa—menjadi bangsa paria; yang lupa pada aksara, yang lupa pada rasa, yang lupa pada jiwa... dan tak akan bisa menyembunyikan wajah buramku saat kuasa batara kala tiba.

Maka izinkanlah aku menghapus senja yang menggantung di sela-sela jemarimu... supaya engkau bisa kembali menapaki jalan setapak kecilmu itu...