Masihkah engkau
mendedahkan perih di lipatan matahari yang giras kerontang?
Pada cangkir tehmu, ada
kelabu memantul dari sela bunyi detik tik-tik-tik yang disenandungkan oleh jam
dinding yang tak henti menguap bosan. Di ujung ruangan, sebuah mesin kas usang
meruapkan melatonin, juga ambiguitas disonan yang merabai punggung udara. Di
kafe ini waktu berjalan lamat-lamat, seperti pada geriap jalanan, bangku
kayu kesepian, juga keredap parfum kloroform yang meruap dari pergelangan
tanganmu. Tapi di ujung koridor ada lautan pandawa palsu yang berjalan dengan
lidah-lidah mereka. Biarkan... jangan pedulikan mereka, fokus saja pada meja
mungil ini, yang diatasnya ada secangkir teh dingin dan segelas kopi mahal yang
tampangnya seperti habis menelan senapan kecil, namun kedua matamu adalah
sepasang lentera yang tak lagi menyala...
Kau bilang, kita
barangkali memang sudah salah wacana sejak awal—ada dosa-dosa yang mengendap di
sudut pikir, layaknya ampas kopi yang membikin hitam gigi-geligi. Lalu engkau
tertawa (atau menangis, entah) dan bilang: kita
dulu pernah begitu indah, dan bodoh, sedemikian bodohnya sampai-sampai sekarang
kita cuma bisa gigit jari merutuki kesalahan-kesalahan... tapi tetap saja, kita
pernah indah.
Ah... tapi bodoh itu
bukan sesuatu yang salah, bodoh itu sesuatu yang bodoh, tolol. Dan tolong
beritakan kepadaku, adakah satu kehidupan di luar sana, satuuuuu saja, yang
nihil kebodohan tapi tetap bisa kita tertawakan? Bukankah kita menjadi pintar
karena belajar dari kebodohan? Bukankah kita jadi lebih menghargai secuil
kebenaran dari kesalahan? Berterimakasihlah pada kesedihan dan air mata, karena
bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna. Sebuah lingkaran tidak harus
bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu lurus.
Tetapi aku bukan
pandawa, melainkan kurawa yang dikutuk para dewa—menjadi bangsa paria; yang
lupa pada aksara, yang lupa pada rasa, yang lupa pada jiwa... dan tak akan bisa
menyembunyikan wajah buramku saat kuasa batara kala tiba.
Maka izinkanlah aku
menghapus senja yang menggantung di sela-sela jemarimu... supaya engkau bisa kembali menapaki jalan setapak kecilmu itu...