Jumat, 08 Februari 2013

#Imaginarium 04.


Hari ini saya bermain catur.

Dan kalah telak.

Tetapi sesungguhnya menarik untuk mengamati bagaimana bidak-bidak catur tertentu mempengaruhi dan meniadakan peruntungan bidak-bidak catur lainnya, dan terus bergeser mengikuti jalur-jalur tertentu. Dengan mengabaikan keragaman bentuk objek itu, kita dapat mengontrol sistem pengendalian satu bidak catur ke bidak catur lainnya di atas papan hitam putih tersebut.

Pada gilirannya, setiap bidak catur dapat menciptakan makna yang sesuai: kuda dapat mewakili ksatria berkuda sungguhan, atau prosesi pelatihan, atau sebuah angkatan perang yang sedang bergerak, atau sekedar monumen penunggang kuda semata. Ratu bisa mewakili seorang nyonya yang sedang memandang ke bawah dari atas balkon, sebuah air mancur, sebuah gereja yang kubahnya membentuk kurva, sebatang pohon aprikot...

Tersusun di atas papan adalah bayangan benteng dan ksatria berkuda, sambil memandang kumpulan pion, berjalan lurus atau serong seperti langkah maju sang ratu. Darinya, anda bisa melukiskan kembali perspektif dan ruang-ruang yang terdapat pada dunia hitam putih; bagaimana semuanya tumbuh, mengambil bentuk yang sesuai, menyesuaikan diri pada musim, dan lantas melemah kemudian jatuh dalam keruntuhan.

Kadang-kadang kita merasa sedang menemukan sebuah sistem yang logis dan serasi yang mendasari perubahan bentuk dan perselisihan tak terbatas, tapi tak ada model dalam permainan catur yang dapat menjelaskannya. Barangkali, ketimbang menguras otak untuk mencari analogi dengan bidak-bidak catur yang tak cukup membantu pandangan-pandangan yang bagaimanapun ditakdirkan untuk dilupakan, lebih baik memainkan sebuah permainan sesuai dengan aturan-aturannya, dan mempertimbangkan masing-masing status di atas papan catur tersebut sebagai bentuk-bentuk tak terhingga yang dirangkai dan dihancurkan oleh sistem itu sendiri.

Tak perlu lagi ekspedisi-ekspedisi jauh untuk memahami dunia; kita tinggal memainkan sebuah permainan catur tanpa akhir. Pengetahuan tentang dunia terselubung di dalam pola yang diciptakan oleh gerakan cepat ksatria berkuda, oleh langkah diagonal yang membuka serangan menteri, oleh gerakan lamban, hati-hati sang raja, dan pion yang sederhana, dengan naik turunnya permainan yang tak dapat diubah.

Malam ini, saya mencoba untuk memusatkan pikiran pada permainan itu, tetapi kini tujuan permainan itulah yang menghindari saya; setiap permainan akan berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Tapi atas apa? Apa artinya semua pertunjukkan itu? Saat skakmat, seluruh lawan tersapu bersih di bawah kaki sang raja; namun bidang hitam putih itu senantiasa tersisa. Dengan menahan penaklukan-penaklukan dan menyederhanakannya ke bentuk yang esensial, saya akan sampai pada tujuan yang paling ekstrim: penaklukan yang pasti, dimana bentuk-bentuk beragam kekayaan duniawi hanyalah sekedar selubung yang menyesatkan. Ia direduksi menjadi bidang kayu yang rata: ketiadaan...

(sebuah obrolan dini hari dengan Nyoman Suastika, penjaga losmen di Ubung, Denpasar)