Hari ini saya bermain
catur.
Dan kalah telak.
Tetapi sesungguhnya menarik untuk mengamati bagaimana bidak-bidak catur tertentu mempengaruhi dan meniadakan peruntungan bidak-bidak catur lainnya, dan terus bergeser mengikuti jalur-jalur tertentu. Dengan mengabaikan keragaman bentuk objek itu, kita dapat mengontrol sistem pengendalian satu bidak catur ke bidak catur lainnya di atas papan hitam putih tersebut.
Tetapi sesungguhnya menarik untuk mengamati bagaimana bidak-bidak catur tertentu mempengaruhi dan meniadakan peruntungan bidak-bidak catur lainnya, dan terus bergeser mengikuti jalur-jalur tertentu. Dengan mengabaikan keragaman bentuk objek itu, kita dapat mengontrol sistem pengendalian satu bidak catur ke bidak catur lainnya di atas papan hitam putih tersebut.
Pada gilirannya, setiap
bidak catur dapat menciptakan makna yang sesuai: kuda dapat mewakili ksatria
berkuda sungguhan, atau prosesi pelatihan, atau sebuah angkatan perang yang
sedang bergerak, atau sekedar monumen penunggang kuda semata. Ratu bisa
mewakili seorang nyonya yang sedang memandang ke bawah dari atas balkon, sebuah
air mancur, sebuah gereja yang kubahnya membentuk kurva, sebatang pohon
aprikot...
Tersusun di atas
papan adalah bayangan benteng dan ksatria berkuda, sambil memandang kumpulan
pion, berjalan lurus atau serong seperti langkah maju sang ratu. Darinya, anda
bisa melukiskan kembali perspektif dan ruang-ruang yang terdapat pada dunia
hitam putih; bagaimana semuanya tumbuh, mengambil bentuk yang sesuai,
menyesuaikan diri pada musim, dan lantas melemah kemudian jatuh dalam
keruntuhan.
Kadang-kadang kita
merasa sedang menemukan sebuah sistem yang logis dan serasi yang mendasari
perubahan bentuk dan perselisihan tak terbatas, tapi tak ada model dalam
permainan catur yang dapat menjelaskannya. Barangkali, ketimbang menguras otak
untuk mencari analogi dengan bidak-bidak catur yang tak cukup membantu
pandangan-pandangan yang bagaimanapun ditakdirkan untuk dilupakan, lebih baik
memainkan sebuah permainan sesuai dengan aturan-aturannya, dan mempertimbangkan
masing-masing status di atas papan catur tersebut sebagai bentuk-bentuk tak
terhingga yang dirangkai dan dihancurkan oleh sistem itu sendiri.
Tak perlu lagi
ekspedisi-ekspedisi jauh untuk memahami dunia; kita tinggal memainkan sebuah
permainan catur tanpa akhir. Pengetahuan tentang dunia terselubung di dalam
pola yang diciptakan oleh gerakan cepat ksatria berkuda, oleh langkah diagonal
yang membuka serangan menteri, oleh gerakan lamban, hati-hati sang raja, dan
pion yang sederhana, dengan naik turunnya permainan yang tak dapat diubah.
Malam ini, saya
mencoba untuk memusatkan pikiran pada permainan itu, tetapi kini tujuan permainan
itulah yang menghindari saya; setiap permainan akan berakhir dengan kemenangan
atau kekalahan. Tapi atas apa? Apa artinya semua pertunjukkan itu? Saat
skakmat, seluruh lawan tersapu bersih di bawah kaki sang raja; namun bidang
hitam putih itu senantiasa tersisa. Dengan menahan penaklukan-penaklukan dan
menyederhanakannya ke bentuk yang esensial, saya akan sampai pada tujuan yang
paling ekstrim: penaklukan yang pasti, dimana bentuk-bentuk beragam kekayaan
duniawi hanyalah sekedar selubung yang menyesatkan. Ia direduksi menjadi bidang
kayu yang rata: ketiadaan...
(sebuah
obrolan dini hari dengan Nyoman Suastika, penjaga losmen di Ubung, Denpasar)