[excerpt
017]
16/12/2012
(08:37 am)
fajar.
nafas sungai beranjak pelan membawa kabut pekat sampai ke kota. matahari
menunggu di balik jembatan, melemparkan cahayanya yang panjang, memerah dari
garis pantai sampai piazza putih di tengah kota, menyinari tepi bawah
balkon-balkon. suara pagi dan bau roti menelusup di jalan-jalan. seorang bocah
terbangun dan menangis memanggil ibunya. perahu motor menggeram di atas sungai.
dua perempuan berbisik-bisik di bawah satu lorong.
ketika
kabut dan malam meleleh, terlihat pemandangan ganjil di kota itu. satu jembatan
tua baru separuh rampung dikerjakan. satu rumah telah berpindah dari
pondasinya. satu jalan menikung ke timur tanpa alasan yang jelas. bank berdiri
di tengah-tengah pasar. bagian bawah kaca-kaca jendela katedral berhiaskan
gambar-gambar religius, sementara bagian atasnya memperlihatkan pegunungan di
musim semi. seorang lelaki yang berjalan cepat menuju kantor walikota mendadak
berhenti, mengangkat tangannya di atas kepala, menjerit girang, berbalik dan
bersigegas menuju arah yang berlawanan.
inilah
dunia rencana yang berubah-ubah, kesempatan dadakan, visi yang tak terduga. di
dunia ini, waktu tidak mengalir utuh, melainkan datang bagai kepingan. kepingan
masa depan melintas sekilas.
ketika
seorang ibu secara mendadak beroleh penglihatan di mana anak lelakinya kelak
akan tinggal, dia memutuskan untuk pindah rumah di dekatnya. ketika seorang
pengembang menerima penglihatan satu tempat yang strategis untuk kegiatan
komersial, maka dia tak menunggu sedetikpun untuk melangkah ke sana. ketika seorang
bocah melihat dirinya menjadi seorang tukang kembang, dia memutuskan untuk
tidak masuk universitas. ketika seorang pengacara menangkap bayangan dirinya
memakai jubah hakim, dia segera melepas pekerjaannya. lantas apa artinya
meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?
bagi
mereka yang telah melihat masa depan, inilah dunia dengan jaminan keberhasilan.
akibatnya, beberapa proyek dimulai tanpa berharap beroleh kemajuan karir.
beberapa perjalanan dilakukan tanpa kota tujuan. pertemanan tidak harus
dilanggengkan. sejumlah gairah menjadi sia-sia.
bagi
mereka yang belum beroleh penglihatan, inilah dunia yang tertunduk lesu.
bagaimana orang bersedia kuliah bila tak ada jaminan mendapat kerja di kemudian
hari? untuk apa orang membuka apotek di timur kota bila lebih baik di selatan
kota? untuk apa mencinta bila lelaki yang dicintai tak setia? merekalah
orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap bayangan masa
depan muncul dalam impian.
karena
itulah, di dunia dengan pemandangan masa depan yang sekilas ini, sedikit sekali
terdapat resiko. mereka yang melihat masa depan tak perlu mengambil resiko.
sementara yang belum melihat menunggu pemandangan itu datang tanpa mengambil
resiko.
beberapa
orang yang telah menyaksikan masa depan berusaha sekuat tenaga untuk
mengubahnya. seorang lelaki menyibukkan dirinya di kantor kurator museum
setelah melihat dirinya menjadi pengacara di balai kota. seorang gadis
bersigegas berlayar bersama ayahnya setelah tahu sang ayah akan meninggal dalam
waktu dekat karena serangan jantung. seorang pemuda membiarkan dirinya hanyut
dalam api asmara sekalipun tahu dia akan menikah dengan perempuan lain.
merekalah orang-orang yang berdiri di atas balkon pada petang hari dan
berteriak bahwa masa depan bisa diubah, bahwa terdapat seribu kemungkinan dari
masa depan.
waktu
merambat. sang kurator di museum itu merasa kecewa dengan gajinya yang tak
seberapa dan memutuskan untuk menjadi pengacara di balai kota. sang ayah
meninggal karena jantungnya koyak dan si gadis tak berhenti menyalahkan
dirinya. sang pemuda tidak bisa bersama dengan cinta hidupnya lalu menikah
dengan perempuan lain dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesepian dan rasa
nyeri.
siapa
yang lebih mujur dalam dunia dengan waktu yang gelisah ini? mereka yang telah
melihat masa depan dan menjalani kehidupan itu? mereka yang tidak melihat masa
depan dan menunggu untuk menjalani kehidupan? atau mereka yang menolak masa
depan dan menjalani dua kehidupan?
[end
of archive]