Sabtu, 12 Januari 2013

#dreamlog 03.


[excerpt 017]
16/12/2012 (08:37 am)

fajar. nafas sungai beranjak pelan membawa kabut pekat sampai ke kota. matahari menunggu di balik jembatan, melemparkan cahayanya yang panjang, memerah dari garis pantai sampai piazza putih di tengah kota, menyinari tepi bawah balkon-balkon. suara pagi dan bau roti menelusup di jalan-jalan. seorang bocah terbangun dan menangis memanggil ibunya. perahu motor menggeram di atas sungai. dua perempuan berbisik-bisik di bawah satu lorong.

ketika kabut dan malam meleleh, terlihat pemandangan ganjil di kota itu. satu jembatan tua baru separuh rampung dikerjakan. satu rumah telah berpindah dari pondasinya. satu jalan menikung ke timur tanpa alasan yang jelas. bank berdiri di tengah-tengah pasar. bagian bawah kaca-kaca jendela katedral berhiaskan gambar-gambar religius, sementara bagian atasnya memperlihatkan pegunungan di musim semi. seorang lelaki yang berjalan cepat menuju kantor walikota mendadak berhenti, mengangkat tangannya di atas kepala, menjerit girang, berbalik dan bersigegas menuju arah yang berlawanan.

inilah dunia rencana yang berubah-ubah, kesempatan dadakan, visi yang tak terduga. di dunia ini, waktu tidak mengalir utuh, melainkan datang bagai kepingan. kepingan masa depan melintas sekilas.

ketika seorang ibu secara mendadak beroleh penglihatan di mana anak lelakinya kelak akan tinggal, dia memutuskan untuk pindah rumah di dekatnya. ketika seorang pengembang menerima penglihatan satu tempat yang strategis untuk kegiatan komersial, maka dia tak menunggu sedetikpun untuk melangkah ke sana. ketika seorang bocah melihat dirinya menjadi seorang tukang kembang, dia memutuskan untuk tidak masuk universitas. ketika seorang pengacara menangkap bayangan dirinya memakai jubah hakim, dia segera melepas pekerjaannya. lantas apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?

bagi mereka yang telah melihat masa depan, inilah dunia dengan jaminan keberhasilan. akibatnya, beberapa proyek dimulai tanpa berharap beroleh kemajuan karir. beberapa perjalanan dilakukan tanpa kota tujuan. pertemanan tidak harus dilanggengkan. sejumlah gairah menjadi sia-sia.

bagi mereka yang belum beroleh penglihatan, inilah dunia yang tertunduk lesu. bagaimana orang bersedia kuliah bila tak ada jaminan mendapat kerja di kemudian hari? untuk apa orang membuka apotek di timur kota bila lebih baik di selatan kota? untuk apa mencinta bila lelaki yang dicintai tak setia? merekalah orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap bayangan masa depan muncul dalam impian.

karena itulah, di dunia dengan pemandangan masa depan yang sekilas ini, sedikit sekali terdapat resiko. mereka yang melihat masa depan tak perlu mengambil resiko. sementara yang belum melihat menunggu pemandangan itu datang tanpa mengambil resiko.

beberapa orang yang telah menyaksikan masa depan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya. seorang lelaki menyibukkan dirinya di kantor kurator museum setelah melihat dirinya menjadi pengacara di balai kota. seorang gadis bersigegas berlayar bersama ayahnya setelah tahu sang ayah akan meninggal dalam waktu dekat karena serangan jantung. seorang pemuda membiarkan dirinya hanyut dalam api asmara sekalipun tahu dia akan menikah dengan perempuan lain. merekalah orang-orang yang berdiri di atas balkon pada petang hari dan berteriak bahwa masa depan bisa diubah, bahwa terdapat seribu kemungkinan dari masa depan.

waktu merambat. sang kurator di museum itu merasa kecewa dengan gajinya yang tak seberapa dan memutuskan untuk menjadi pengacara di balai kota. sang ayah meninggal karena jantungnya koyak dan si gadis tak berhenti menyalahkan dirinya. sang pemuda tidak bisa bersama dengan cinta hidupnya lalu menikah dengan perempuan lain dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesepian dan rasa nyeri.

siapa yang lebih mujur dalam dunia dengan waktu yang gelisah ini? mereka yang telah melihat masa depan dan menjalani kehidupan itu? mereka yang tidak melihat masa depan dan menunggu untuk menjalani kehidupan? atau mereka yang menolak masa depan dan menjalani dua kehidupan?

[end of archive]