Kamis, 24 Januari 2013

Zapatista: Sejarah Yang Belum Berakhir

 “Di Chiapas sini, kematian adalah bagian dari keseharian. Selumrah hujan atau fajar. Orang-orang disini hidup bersama kematian, dengan kematian mereka sendiri, khususnya anak-anak. Anehnya, kematian mulai menguak tabir tragisnya: ia menjadi fakta sehari-hari, ia kehilangan kesakralannya, kau melihatnya seperti kau melihat seseorang yang duduk semeja denganmu, seperti teman lama. Kematian, yang begtu dekat, begitu mungkin, begitu intim, menjadi tidak begitu menakutkan lagi bagi kami. Maka bangkit dan melawan—barangkali berpapasan dengan kematian dalam prosesnya—tidaklah seseram yang kami bayangkan.”[1]

Pemberontakan Zapatista dimulai pada tahun baru 1994.[2] Kurang lebih 4000 orang pemberontak bersenjata turun gunung sambil meneriakkan slogan "YA BASTA!" (CUKUP SUDAH!) dan menduduki kota-kota di Chiapas, negara bagian paling selatan di Meksiko. Sambil mencanangkan perang melawan pemerintah nasional, EZLN (Ejercito Zapatista Liberacion Nacional/Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) juga menyerukan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi masyarakat adat dan kaum tani di Chiapas. Retorika sosialis mereka membuat pemerintah Meksiko mengolok-olok Zapatista sebagai gerombolan gerilyawan Marxis Amerika Tengah pada umumnya. Namun tak lama kemudian menjadi jelaslah bahwa pemberontakan Zapatista ini beda.

Mereka adalah pemberontakan yang sangat baru, pemberontakan pertama pasca perang dingin, dan pemberontakan yang tak merasa perlu mengaitkan dirinya dengan Marxisme gaya kuno. Mereka sama sekali tidak mirip dengan gerakan-gerakan sejenis dimanapun seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh, ETA (Euskadi Ta Akatsuna / Tanah Air dan Kebebasan) di Basque, atau MILF (Moro Islamic Liberation Front / Front Pembebasan Islam Moro) di Filipina. Mereka kelompok militan yang menyerukan kedamaian. Mereka pemberontak bersenjata, instrumen kekerasan yang berjuang untuk mengakhiri kekerasan baik fisik maupun struktural. Zapatista menyatakan bahwa mereka tidak berniat merebut kekuasaan, tidak juga berkehendak untuk memisahkan diri dari negara Federal Meksiko. Mereka mengajukan demokrasi partisipatif yang memungkinkan warga negara menyuarakan tuntutan mereka sehingga dapat menentang tatanan ekonomi yang berlaku. Masyarakat adat Chiapas—salah satu wilayah miskin Meksiko yang paling kentara kesenjangan kelasnya menderita akibat kebijakan neoliberal pemerintah pusat.

Provinsi Chiapas telah menjadi rumah bagi kelompok etnis Indian selama lebih dari seribu tahun. Tetapi, kelompok-kelompok adat yang ditemui oleh Zapatista rata-rata merupakan pendatang baru di area hutan Lacandon. Dimulai dari awal dekade 1940-an, ketika sejumlah kecil Indian, umumnya dari wilayah dataran tinggi Chiapas, datang untuk meninggali wilayah tak berpenghuni di bagian selatan provinsi atas dorongan pemerintah federal. Meskipun jumlah penduduk awal relatif sedikit, namun kedatangan mereka menciptakan dasar bagi migrasi-migrasi berikutnya dengan jumlah yang lebih substansial. Sampai dengan awal dekade 1980-an, populasi migran telah berkembang mencapai angka 100,000 jiwa, dari estimasi 10,000 jiwa di tahun 1960.[3]

Angka-angka statistik di Chiapas—seperti yang bisa dibayangkan—cukup mengerikan. Separuh dari 2,5 juta penduduknya tidak punya air layak minum, dua pertiganya tidak punya saluran pembuangan, dan hanya sepertiga rumah di negara bagian itu yang dialiri listrik. 12% rumah beratapkan kardus, 12 ribu komunitas tidak punya sarana transportasi apapun selain jalan setapak, dan 72 persen anak putus sekolah sebelum selesai kelas satu SD.[4]

Di bidang kesehatan, angka-angka tersebut tidak terlihat membaik: rasio perbandingan antara jumlah penduduk Chiapas dengan ketersediaan klinik adalah 1,000 : 0.2, sedangkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan ranjang rumah sakit 1,000 : 0.3. Sekitar 45% penduduk Chiapas kurang gizi, dan di pegunungan dan wilayah hutan angka ini melonjak hingga 80%. Di akhir dekade 1980an, malnutrisi, kolera, TBC, disentri, dan penyakit-penyakit lain yang mestinya gampang disembuhkan telah menewaskan 15.000 indian tiap tahunnya.[5]

Faktor yang memberikan hutan Lacandon sebuah identitas kultural yang unik terletak persis pada tubuh komunitas Indian yang eksis dalam lingkup bahasa, etnisitas, kepercayaan, dan afiliasi politik yang berbeda, yang ketika dikombinasikan, berujung pada apa yang disebut sebagai ‘ruang konstruksi sosial yang unik’.[6]

Pada 17 november 1983, enam individu tiba di Chiapas untuk mendirikan EZLN. Berbekal teori-teori Marxis-Leninis, kelompok tersebut menghadapi kerasnya lingkungan hutan Lacandon. Pergulatan pertama mereka adalah melawan pegunungan, kelaparan dan penyakit. Di tahun 1984, Marcos—yang di kemudian hari akan menjadi juru bicara sekaligus komandan militer zapatista—tiba di rimba Lacandon. Pada saat itu kelompok tersebut terdiri dari tiga orang Indian dan empat orang mestizo termasuk Marcos sendiri. Ketiga Indian tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pergerakan politik. Mereka sudah pernah melihat bagian dalam penjara, mengalami siksaan, dan sudah sangat familiar dengan percekcokan internal dalam gerakan kiri Meksiko.

Sebagai seorang mantan professor filsafat di UNAM, Marcos ditugaskan untuk mengajari komunitas-komunitas indian baca tulis, dan mendidik mereka dengan la palabra politica (kata-kata politik). Pengajaran yang dimaksudkan adalah tentang sejarah secara umum, serta sejarah Meksiko dan perjuangannya. Namun tetap saja, pada akhirnya menjadi jelas bahwa perannya sebagai pengajar hanya terbatas di dalam kelas informal di kamp. Di luar, para Indianlah yang mengajarinya cara untuk bernegosiasi dengan hutan; bagaimana untuk berjalan tanpa membuat dirinya lelah; bagaimana cara berburu dan kemudian memasak apa yang dia dapat; bagaimana menjadikan dirinya bagian dari hutan itu sendiri.

Bagi Marcos sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya tinggal di dunia magis masyarakat adat. Dunia dimana dewa-dewa terlahir kembali, dan roh-roh yang mewujud dalam bentuk binatang dan benda-benda. Ini adalah permulaan dari sebuah proses lambat yang di kemudian hari dia sebut sebagai proses ‘Indianisasi’ EZLN. Dalam sudut pandangnya sendiri, Marcos bercerita tentang bagaimana EZLN pertama kali memasuki komunitas-komunitas untuk mengajarkan “...absurditas yang kita pelajari; tentang imperialisme, krisis sosial, relasi kekuasaan, dan hubungan ketiganya, hal-hal yang kita sendiri sulit untuk mengerti.”[7] Para Indian kemudian menanggapinya dengan sebuah kalimat: tu palabra esmuy dura, no la entendemos (kata-katamu terlalu berat, kami tidak mengerti).

Setiap kesulitan yang dihadapi Zapatista dalam menjelaskan pemahaman tentang revolusi kepada para Indian pada dasarnya dilandasi oleh keterbatasan bahasa. Dengan semangat untuk mengajarkan la palabra politica (kata-kata politik), area perdebatan hampir selalu berpusat pada pertanyaan seputar sejarah. Tetapi bagaimanapun, interaksi ini semakin lama semakin dipenuhi oleh salah pengertian dan salah tangkap. Kemudian menjadi jelaslah bahwa para Indian menganut konsepsi waktu yang unik dan berbeda, setidaknya bagi para non-Indian. Sebagaimana yang diceritakan Marcos,
“Kau tidak akan pernah yakin tentang era mana yang mereka bicarakan. Ketika mereka bicara, mereka bisa saja membicarakan cerita yang baru terjadi minggu ini, atau yang terjadi lima ratus tahun lampau, atau bahkan ketika dunia pertama kali tercipta.”[8]

Sebagai gerilyawan urban terdidik, anggota-anggota Zapatista melihat diri mereka sebagai penuntun, dan para Indian sebagai orang-orang tereksploitasimereka yang harus diorganisir dan ditunjukan jalan. Dalam pikiran mereka, “ini akan sama dengan seperti ketika engkau berbicara dengan proletariat, petani, buruh, atau mahasiswa. Semua akan mengerti bahasa revolusi.” Maka ketika para Indian bilang bahwa mereka tidak mengerti, itu menjadi pukulan keras bagi Zapatista.

Pada titik ini, barulah para anggota mestizo Zapatista menyadari bahwa masalah mereka bukan semata-mata masalah penerjemahan. Mereka menjadi sadar bahwa bahasa Indian memiliki referensi dan bentuk kuturalnya sendiri. Kesulitan inilah yang kemudian Marcos sebut sebagai ‘proses kontaminasi kultural’. Pada periode ini, sebagaimana yang diakui Marcos, anggota-anggota Zapatista non-Indian belajar untuk mendengar. Apa yang sebelumnya hanya objek keingintahuan semata, sekarang menjadi isu sentral. Kisah-kisah para Indian tentang Sombreron, tentang Votan, Tentang Ik’al, tentang kotak yang berbicara dan tentang Ix’paquinte, menjadi saluran utama bagi para anggota Zapatista non-Indian untuk memahami kekayaan kutural  dan keberbedaan para Indian. Dalam sebuah komunike di tahun 1994, Marcos menjelaskan proses pembelajaran timbal balik antara EZLN dan masyarakat adat:
“Itulah dulu asal mula EZLN: sekelompok ‘kaum tercerahkan’ yang datang dari kota untuk ‘membebaskan’ kaum tertindas. Namun tatkala dihadapkan pada realitas kaum adat, mereka terlihat lebih mirip bohlam putus ketimbang ‘kaum tercerahkan’. Butuh berapa lama sampai kami sadar bahwa kami harus belajar mendengar, baru sesudahnya, bicara? Aku tidak tahu pasti, ... tapi aku hitung-hitung sekitar dua tahun setidaknya. Berarti apa yang dulunya perang revolusioner klasik di tahun 1984 (pemberontakan massa bersenjata, merebut kekuasaan, pemberlakuan sosialisme dari atas, banyak patung dan nama para pahlawan serta martir dimana-mana...), pada tahun 1986 sudah menjadi kelompok bersenjata yang sebagian besarnya orang adat, menyimak penuh perhatian dan mencelotehkan kata-kata pertamanya bersama seorang guru baru: penduduk Indian.”[9]

Dengan mendengarkan pengalaman para Indian dan sejarah eksploitasi, penghinaan, dan rasisme, Zapatista menemukan fondasi untuk membangun sebuah politik yang baru. Sejarah lokal yang mereka pelajari akhirnya menunjukan betapa parsialnya pemahaman para non-Indian atas sejarah, dan, dalam konteks yang lebih besar, Zapatista merasakan langsung bagaimana rasanya dihapus dari buku sejarah. Dengan hanya berbekalkan radio gelombang pendek sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kabar dari dunia luar, para gerilyawan seringkali merasa terisolir dan terkucilkan dari perkembangan dan perubahan yang terjadi di arena internasional. Berita tentang pecahnya Uni Sovyet, perjanjian damai dan eleksi yang berlangsung di Amerika Tengah, dan Reaganisme yang menjadi kiblat utama diantara negara-negara maju dan berkembang.

Pergeseran radikal diskursus Zapatista—dari kelas menuju etnisitas—pada gilirannya dimungkinkan oleh faktor jangka panjang dan jangka pendek. Faktor jangka panjangnya adalah bahwa bahasa dan kebanggaan kultural masyarakat adat sudah ada di tingkat komunal, umumnya sebagai dampak yang tidak diprediksi dari kompetisi politis antara gereja katolik dengan negara yang berlangsung di dekade 1970-an dan 1980-an. Faktor jangka pendeknya adalah jaringan organisasi dan pendukung yang membantu Zapatista mentransformasikan kebanggaan etnis menjadi program politis dalam bentuk tuntutan etnoteritorial. Tanpa adanya proses jangka panjang kebangkitan etnis, Zapatista tidak mungkin mengalami pergeseran identitas. Tapi tanpa adanya jaringan pendukung transnasional, kebanggaan etnis komunal akan tetap terkubur di balik identitas kelas petani.

Wujud asli dari proses Indianisasi EZLN baru dikukuhkan ketika komunitas-komunitas memutuskan untuk pergi berperang. Dengan dibentuknya Komite Klandestin Revolusioner Adat (CCRI) di tahun 1993, komando umum Zapatista menjadi secara keseluruhan Indian. Terdiri atas representatif dari empat kelompok etnis utama (Tzeltal, Chol, Tzotzil, dan Tojolabal), CCRI menjadi pusat koordinasi dalam rangka persiapan pemberontakan. Pada kurun waktu inilah Marcos ditunjuk sebagai komandan militer pasukan pemberontak.

Tidak ada yang bisa memperkirakan bagaimana pemberontakan Januari 1994 akan berjalan; keputusan tersebut punya potensi untuk menjadi sebuah pertumpahan darah yang mengerikan. Di pagi buta tanggal 1 Januari 1994, sekitar 4,000 orang masyarakat adat turun dari gunung dan sukses menduduki tujuh kotapraja utama Chiapas dengan sedikit pertumpahan darah.

Sepanjang bulan-bulan berikutnya, Zapatista menerima dukungan taktis, moral, dan material dari beragam sumber di seluruh dunia. Mereka berhasil mendapat dukungan dari banyak LSM internasional yang bergerak di seputar masalah adat, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan perdamaian. Mereka menjadi pahlawan sekaligus simbol bagi para aktivis, akademisi, dan intelektual kiri, mendorong semakin banyak kunjungan ke Chiapas untuk memberikan bantuan kepada para pemberontak Zapatista.

Dengan berbasiskan diskursus politik identitas, gerakan Zapatista sadar akan paradoksnya sendiri: mereka gerakan yang mengatasnamakan ‘minoritas rakyat’ dan bukan ‘mayoritas rakyat’ sebagaimana retorika revolusioner klasik. Tapi justru inilah poin yang mereka tekankan: mereka berjuang demi sebuah dunia yang adil terhadap kaum minoritas apapun, sebuah dunia yang tidak lagi bersandar pada logika “besar menang, kecil kalah”, melainkan sebuah dunia yang mementingkan dialog dan kesepakatan, sesuai dengan motto mereka: Another world is possible (dunia yang lain itu mungkin), yang menginspirasi banyak forum-forum aksi internasional seperti People’s Global Action atau World Social Forum.[10]

Pemberontakan Zapatista barangkali menjadi sebuah titik penentu dalam sejarah Meksiko Modern. Mereka menyeru pada seluruh rakyat Meksiko—tidak hanya penduduk lokal—untuk berpartisipasi dalam pergerakan besar mereka untuk memperjuangkan hak atas ‘pekerjaan, tanah, tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan, dan kedamaian’.[11] Tujuannya adalah untuk mengalahkan kekuasaan partai berkuasa—PRI, untuk menggeser keseimbangan kekuatan-kekuatan sosial demi kepentingan demokrasi populer, untuk memperbaiki akuntabilitas pemerintahan, dan untuk mencapai reperesentasi yang sebenar-benarnya bagi seluruh rakyat Meksiko, khususnya bagi para populasi adat asli.

Zapatista pada gilirannya menjadi katalisator perjuangan masyarakat adat. Dalam batas-batas tertentu, Zapatista memang memperjuangkan hak dan martabat masyarakat ada Chiapas melalui politik identitas. Namun pasca pemberontakan januari 1994 yang membuat mata dunia tertuju pada Meksiko, Zapatista terus mengumandangkan ide-ide revolusionernya ke seluruh dunia dan membangun sebuah gerakan anti-neoliberalisme global. Di sinilah titik dimana Zapatista membuka ruang bagi paradoks: alih-alih hanya berkutat di seputar permasalahan masyarakat adat, Zapatista mendorong agenda programatiknya beberapa langkah lebih jauh—melalui Pertemuan Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme, komunike, agenda programatis, dan banyolan politik khas Marcos—yang mencuri perhatian dunia, dan bertransformasi menjadi sebuah gerakan transnasional tepat ketika gerakan kiri sedang mengalami kebuntuan ide setelah komunisme ternyata hanya menciptakan kediktatoran dan kapitalisme global dicanangkan sebagai akhir sejarah.

Ke dalam realitas baru inilah Zapatista melangkah—sebuah gerakan non-hirarkis beranggotakan mereka-mereka yang paling terpinggirkan dari masyarakat Meksiko—dengan berbekal strategi yang menggunakan narasi dan model pengorganisasian yang secara unik mampu beradaptasi dengan terbukanya ruang global. Sebuah umpan balik yang sinergis, partisipatif, dan canggih telah terbentuk di antara Zapatista dan pendukung internasional mereka, menyebabkan ledakan kreativitas dan kesadaran di tengah-tengah masyarakat sipil. Dan memang, teriakan “Ya Basta!” sampai sekarang masih bergema di telinga-telinga mereka yang percaya, jauh melampaui batas-batas Rimba Raya Lacandon.




[1] Wawancara dengan “El-Sup” Marcos dalam film dokumenter “A Place Called Chiapas” (Canada Wild Production, Ottawa: 1999)
[2] Zapatista mengambil namanya dari pahlawan rakyat kecil Meksiko Emiliano Zapata; lihat Marshall, Demanding the Impossible, hal. 511-513.
[3] Neil Harvey, Op. Cit., hlm. 133
[4] Ronny Agustinus, “Zapatista dan Sejarah Yang Belum Berakhir,” pengantar dalam buku Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan, Komunike-Komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme (Resist Book, Yogyakarta: 2005), hlm. viii.
[5] Lihat “Chiapas: Kutub Tenggara dalam Dua Arus Angin,” dalam Marcos, Bayang Tak Berwajah, Kumpulan Dokumen Perlawanan Zapatista (edisi percobaan, Serpong: 2002) hlm. 1-14.
[6] Neil Harvey, Op. Cit., hlm.133
[7] Wawancara dengan Marcos dalam film dokumenter “A Place Called Chiapas” (Canada Wild Production, Ottawa: 1999)
[8] Ibid.
[9] Marcos, Kata Adalah Senjata, Kumpulan Tulisan Terpilih (Resist Book, Yogyakarta: 2006), hlm. 145.
[10] Lihat: Ronny Agustinus, Op. Cit., hlm. xxxiii-xxxiv.
[11] Sean M. Seehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, terj. Daniel hutagalung, (Marjin Kiri, 2007), hlm. 151.