Di surga, orang tak butuh tentara dan agama.
Surga itu sifatnya metaforis. Yakni nama bagi impian manusia akan sebuah entropi dimana manusia tidak bisa lagi berdialektika lebih lanjut untuk mendefinisikan hasrat yang lebih tinggi. Dengan kata lain: MENTOK.
Yang membedakan militer dengan agama hanya cara
kerjanya; militer menggunakan agresi untuk pemenuhan hasrat. Namun ketika
hasrat itu tercapai, maka muncul hasrat lain yang selanjutnya harus dipenuhi
kembali menggunakan agresi. Ini tidak lebih dari sekedar kegiatan memanufaktur
hasrat.
Di sisi lain agama berupaya membatasi hasrat
menggunakan dogma-dogma, nilai baik-buruk yang mengajarkan pada manusia hasrat mana
yang boleh ia kejar dan mana yang tidak, dengan menggunakan propaganda yang dikemas
dalam jubah kesakralan. Agama lantas mengekang impian manusia akan hasrat yang
lebih tinggi. Hasilnya adalah kesadaran palsu, persis seperti para proletar dalam belenggu sistem kapitalistik.
Lantas apa persamaan militer dan agama?
“Keduanya
tidak dibutuhkan manakala kedamaian telah tercapai dan penderitaan tak ada
lagi.”
Di
surga, orang tidak butuh tentara dan agama.