Bertahun-tahun
kuraut kata hingga langsing dan runcing. Bertahun-tahun kugurat halaman buku,
mabuk dan mengigau sepanjang waktu. Bertahun-tahun mengitari panggung, seperti
kurcaci lupa diri. Mewarnai gugusan peristiwa dengan sejumlah cinta dan lara.
Bertahun-tahun membangun jembatan, antara satu bukit dengan bukit berikutnya,
dengan kata-kata.
Lalu,
pada sebuah tarikh muda, engkau lahir dari sunyi perigi bermata air kata,
jernih dan bercahaya. Lalu engkau bangkit dari abu unggun yang menyala semalam
suntuk membakar kayu kata-kata. Mata beningmu membaca semua kata dari setiap
benang sari dan udara yang mempersinggahkannya pada putik, menjadikannya tunas
buah. Lalu engkau memeras perih kata dari tangkai zaitun, menyulingnya menjadi
tetes-tetes harum dalam bejana. Tak ada jejak pada kata-kata dari tempatmu
(mungkin) pernah singgah.
Ingin
kuhapus kata dari seluruh mantra yang melekat di mulutku. Ingin kuhapus kata
dari jubah dan terompah yang pernah kuajak mengembara. Ingin kuhapus kata dari
mimpi dan nyanyian yang bertahun-tahun memenuhi tidurku. Ingin kembali hening,
menghilang dari suara, bersembunyi dibalik cadar riuh rendah.
Dengan
sepasang mata, kau berkata-kata. Mata sebening kaca, kaca sebening kata. Dalam
matamu, kata selalu berkaca. Mencari bayang-bayang simetri, sudut tersembunyi,
runcing dan bening. Pendar cahaya matamu menyusun kata-kata yang berkaca-kaca.
Kaca yang senantiasa memantulkan kata-kata ke dalam mata.
Aku
percaya: hanya dari lesung pipimu, tersenyum setiap kata
Dan matamu,
adalah genangan kata-kata sebening kaca