Selasa, 08 Januari 2013

Unmasked Writing


Permisi, kalau saya boleh bertanya, apakah anda suka menulis? Atau terlebih lagi, apakah anda mendefinisikan diri anda sebagai 'penulis'? Kalau ya, bagaimana anda menulis? Apakah melalui teknik bertutur yang lugas-padat-jelas-bersahaja, ataukah penuh kata-kata indah yang membuat pembaca terhanyut dalam pasase-pasase gaib a'la anda? Apakah tulisan anda lebih merupakan manifestasi dari imaji-imaji yang dikultivasi secara presisi, atau malahan sekedar residu? Apakah anda memperlakukan tulisan anda sebagai cermin, atau malahan sebagai benteng pertahanan terakhir tempat anda bersembunyi dari realita?

Bagaimana cara anda menulis?

Begini, secara pribadi saya memperlakukan tulisan-tulisan saya sebagai sanctuary, sebagai tempat dimana tidak ada satupun hal yang bisa menyakiti saya. Sebutlah: suaka, asylum, benteng alamo, penjara merah, terserah... tulisan saya adalah ruang, satu-satunya tempat paling aman dimana saya bisa dengan bebas bermimpi, melalui satu-satunya cara bermimpi yang saya ketahui. Sebuah ruang dimana tidak ditemukan kontradiksi, bebas dikotomisasi, nihil segregasi. Di ruang itu cuma ada saya, dan pena saya. Selalu begitu selama delapan tahun perjalanan saya menulis, terus berkembang melalui pola yang sama, terus mengasah dan memperhalus metode serta teknik bertutur di sepanjang koridor yang saya yakini paling sesuai, dan sejauh ini, para pembaca sepertinya puas dengan tulisan-tulisan saya. Sampai pada suatu hari yang cerah di awal januari 2013, ketika sepucuk surat dari Juan Accreo sampai di tangan saya.

Juan Accreo adalah seorang kawan yang bermukim di meksiko--seorang aktivis hak adat--yang menemukan gairah hidupnya dengan menulis dan melawan. Dia adalah pihak penting yang membantu menyelesaikan riset saya mengenai identitas adat di pertengahan tahun 2012 lampau. Pasca rampungnya penelitian tersebut, kami mulai memperluas topik korespondensi tidak hanya tentang gerakan kiri, melainkan juga sastra. kami banyak bertukar karya, dan harus saya akui, karya-karyanya benar-benar memiliki ruh. Satu gambaran favorit saya mengenai Juan Accreo adalah: seorang laki-laki yang bisa menangis di malam hari ketika membaca karya-karya Mario Vargas Llosa, Pablo Neruda, atau Gabriel Garcia Marquez, dan bangun di keesokan paginya untuk menerjunkan diri di garis depan pertempuran paling berdarah, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan. 

Bulan November 2012 lalu saya mengirimkan cerpen saya berjudul "Alice" kepada Juan Accreo. Balasannya baru tiba pada awal Januari 2013. Berikut adalah potongan dari surat tanggapannya atas
tulisan saya:

“Writers fail because they come to the page fully clothed. They adorn themselves with fanciful plots and layer themselves with complicated character development. They use flowery prose and words you have to look up in the dictionary. They do this not to impress their readers, but to keep their readers at arm’s length. They’re afraid. Afraid to bare their souls and inject themselves into their work. For that they are cowards."

“Don’t simply tell me that faith saves you, tell me how it almost failed you, too. Don’t tell me about love, speak of your passion. Don’t tell me you’re hurt, let me see your heart breakingI don’t want to see your talent on the page, I want to see your blood. Dare to be naked before your readers. Because that is writing, and everything else is not.

Orang-orang bilang, untuk menulis kita membutuhkan 'inspirasi', 'waktu', 'ketenangan', 'pengendalian diri', 'bakat', 'latihan', ini-itu, lain sebagainya, bla-bla-bla... ya, benar. Tapi kita seringkali melupakan satu hal yang paling penting: 'keberanian'.

Tidak ada ketakutan yang lebih besar ketimbang menghadapi selembar kertas kosong. Sungguh. Sangat mengancam. Selembar kertas itu menantang anda. Beri dia sedikit kekuatan, dan dia akan memakan anda hidup-hidup. Hadapi dia dengan segala ornamen dan atribut anda, maka anda akan gagal. Satu-satunya cara untuk mengalahkan lembar kosong itu adalah dengan menyerangnya tanpa mengenakan apapun.

kita menulis karena kita merasa harus. karena ada sejumput kisah yang perlu anda bagi dengan dunia. tapi memiliki kisah dalam diri anda tidak menjadikan anda seorang penulis. bagaimana anda mengisahkan kisah itulah yang menjadikan anda penulis... dan anda perlu mengisahkannya dengan kejujuran.

saya percaya, apa yang barangkali Juan Accreo berusaha sampaikan dalam suratnya adalah bahwa seni, mengajarkan seseorang cara bermimpi, dan sebagai gantinya, mimpi-mimpi itulah yang mendorong manusia untuk maju ke depan. sebuah seni yang jujur bukan hanya bicara tentang letupan-letupan emosi sesaat; melainkan lebih kepada rasa kasih sayang, kebaikan, dan kebersahajaan. seni yang jujur mengajak orang untuk berpikir dan merasa, membantu mereka untuk menarik garis batas antara yang baik dan yang buruk. tanpa letupan-letupan itu, tanpa kejujuran, tanpa pemaknaan atas emosi yang telanjang, tanpa kemampuan untuk bermimpi... segala bentuk kehidupan yang terasingkan dari kualitas-kualitas tersebut, bukanlah kehidupan yang pantas untuk dirayakan.

saya tidak akan bohong. menulis jujur tidak mudah. rasanya persis seperti telanjang di depan orang-orang. dan saya seringkali ingin merangkak kembali ke persembunyian. menghilang dari suara, bersembunyi di balik cadar riuh rendah.

tapi tidak bisa. ada sesuatu yang memaksa saya untuk bisa beranjak melampaui ketakutan saya. melepaskan satu-satu atribut, untuk mengucurkan nyawa dan tinta di lembar-lembar kertas.

kenapa saya melakukannya? apa yang memaksa saya untuk maju?

anda. saya menulis tidak hanya untuk diri saya, saya menulis untuk anda.

Juan Accreo benar. menulis dengan kejujuran menghubungkan kita dengan orang-orang. dan itulah yang saya inginkan--untuk terhubung dengan anda. saya ingin anda dan saya tahu bahwa kita tidak sendiri. bahwa dalam dimensi saya, saya adalah diri saya sendiri, anda, dia... saya adalah semua orang. beberapa barangkali berpikir menulis jujur dengan emosi yang telanjang tidak pantas dilakukan, bahkan berbahaya. dan saya setuju bahwa tulisan-tulisan macam itu kadang-kadang sulit untuk dibaca. tapi persis disinilah titik temunya. tidak ada bentuk komunikasi yang sempurna. beberapa lebih sesuai bagi sejumlah orang dibandingkan yang lainnya, baik bagi si penulis maupun si pembaca.

tetapi saya menolak untuk mengenakan topeng di hadapan anda. salah satu nilai inti saya sebagai seorang individu adalah integritas. saya menolak untuk melakukan hal selain menulis dengan jujur. tak apa jika anda tidak suka, anda bebas untuk membaca atau menulis apa yang anda sukai.

jadi, sekali lagi izinkan saya bertanya:

"bagaimana cara anda menulis?"