Pulau
itu dulu tak bertuan.
Kemudian,
pulau itu pernah perempuan.
Satuperempuan,
yang memberi, yang menghidupi. Satu diri yang sesak oleh cinta (cinta itu,
keramatnya sebuah kiamat). Ia tahu cinta yang terlalu itu akan menghabisi
dirinya, namun keinginan membagi cinta itu demikian tak terelakkan, dan ia
telah terlalu lelah sendirian. Sedang dunia, apa-apa yang diluar, tampak begitu
bundar (kadang seperti selingkar ular), memberinya rasa gentar. Satuperempuan
menginginkan sebuah persetubuhan. Ia butuh tubuh seorang lelaki. Dan sebuah
keinginan gila: membelah diri jadi setengah.
Satuperempuan
bersetubuh dengan lelaki. Lelaki memasuki, lelaki merasuki. Satuperempuan
merasa dirinya bagai terbelah, tapi terasa indah. Dan tiba-tiba ia telah
setengah, merasai betapa saat itu dirinya terbelah. Ditatapnya wujud diri
aneh yang tampak baru itu (tubuh ini: tubuhnya, tubuhku). Keadaan utuh, luruh
tubuh, dua yang satu, satu yang setengah, keutuhan setelah terbelah, luruh yang
mengutuh. Seluruh, setubuh, keutuhan itu. Sempurna. Sebuah metafora yang
sempurna.
Setengahperempuan
begitu mengasihi tubuh baru, lebih dari kasih kepada tubuhnya yang dulu.
Setengahperempuan mencintai setengahlelaki. Ia letakkan sebuah mahkota di
kepala setengahlelaki, memberikan samudera untuknya, membisikkan puisi-puisi
rahasia ke telinganya. Setengahlelaki berjanji sehidup-semati, bahkan rela
mati, karena cintanya yang keterlaluan pada setengahperempuan. Dan setiap hari
adalah penemuan: lengkung senyuman baru, lekuk baru, tawa dalam nada berbeda,
gerak tangan yang belum pernah kelihatan, sehelai uban...
Pulau lalu
terindah, setengahperempuan-setengahlelaki.
(setengah sisa
tubuh perempuan, berjalan di darat. Ia mendaki gunung, tertegun sesaat di bibir
kawah, dan terjun ke kedalaman. Ia terbang melayang bersaput kabut, menuju
perut bumi. Setengah sisa tubuh lelaki berjalan ke laut. Menerjang gelombang,
menyusur turun samudera, tenggelam ke dasar palung terdalam. Mungkin mereka tak
pernah bertemu lagi. Setengah diri yang berdiam diri. Atau mungkin mereka
bertemu sesekali, menjanji sehidup semati, menghidupi lagi sebuah mimpi azali.)
Namun
setengahlelaki, yang berotak kiri, diam-diam menyimpan dan membayangkan dalam
setengah otaknya sebuah metamorfosa. Membesarkan dirinya. Aneh baginya, berdiam
pada sebuah tubuh dalam keadaan setengah seperti itu. Ia mesti besar sebesar-besarnya.
Setengahlelaki kurang mengindahkan yang pernah—dan yang semestinya—indah,
apa-apa yang pada tempatnya. Ia menghendaki kuasa pada apa-apa, dan tegak atas
kekuasaan atas semua. Melanggar simetri sebuah tubuh.
Ia
merencanakan sebuah akhir, sebuah penikmatan. Mereka bercinta, bibir
setengahlelaki memberi ciuman kematian di bibir setengahperempuan, mengulum
bibir itu dalam. Begitu dalam, hingga terasa panas datang menerkam. Mulut
setengah perempuan seperti kaku, mencekat dingin di tenggorokan, turun lebar
dan mendekam di dalam tubuh setengahperempuan, seperti ketidakberdayaan.
Ditatapnya tak percaya setengahlelaki yang mulai membesarkan diri di dalam
tubuhnya, tubuh mereka (mengapa, kau mengingkariku, bukankah kau mencintaiku?).
wajah setengah lelaki berubah-ubah coklat putih merahmuda emas hitam merah
putih—entah warna apa, namun terang menyala. Nyala yang menyebar sambar dari
dalam dari luar. Melahap tak beraturan telapak kaki, betis, tungkai kaki.
Menghisap urat-urat nadi, leher, pusar, lengan dan dada setengahperempuan
(sayangku, kau terlalu mengasihi kita, itulah dosamu). Tubuh itu, dengan bentuk
setengahperempuan yang kian menghabis, tampak tak karuan (kau bahkan telah tahu
kiamatmu). Tubuh itu tampak kian perkasa, otot-ototnya besi baja, mengembang
sebesar gunung-gunung. Setengahlelaki kian jadi satulelaki. Dan mulailah ia
berjalan ke pulau-pulau, memperlihatkan keperkasaan tubuhnya kemana-mana. Tubuh
aneh itu berjalan tegap-tegap, mengendap-endap, menyergap.
Yang bersisa
dari setengahperempuan hanyalah perutnya. Rahim itu, rongga yang terus-menerus
berisi, untuk mengali lipat jumlah lelaki-lelaki, tubuh yang mesti meluruh,
menggulang senggugut itu (sekaratku yang manis, aku masih cinta padamu,
selalu). Setengahlelaki menjelma satulelaki menjelma banyak lelaki, berlebih
lelaki (cintaku juga keterlaluan, bukankah kau sudah kuperingatkan? Aku
menghukum yang paling kucinta, perempuanku, untuk sekedar tahu, begitu ingin
tahu, sampai dimana lemahmu, kekuatanmu).
Satulelaki
berjalan gagah sambil menceritakan kisah sendiri jadi sejarah, dalam seribu
bahasa yang keras bergema, meneriakkan tanah dengan banyak nama-nama. Ia
berlenggang menerjang pulau-pulau seribu kurang satu, dan banyak lagi yang jauh
di luar itu, hendak menjadikan diri raja sepuluh ribu pulau. Jejak-jejak
satulelaki tampak dimana-mana, oleh kakinya yang menginjak keras-keras tanah.
Tanah, yang
tak lagi bertuah, yang sekali waktu pernah tergenggam tangan satuperempuan.
Genggaman atas tanah itu, kasih yang berlalu, berkah sekaligus kutukan, keramat
yang mencipta kiamat. Ia telah mengetahui, namun dikasihinya lelaki, kembar
keramat, sekutu manis bagi sebuah kiamat.
Pulau itu
menjelma lelaki.
Pulau bertuan.
Yang Dipertuan.