Selasa, 08 Januari 2013

Monkeysphere


"One death is a tragedy. One million deaths is a statistic."
-lupa...-

“Ha? Monkeysphere? Apaan tuh?”

Oke. Pertama-tama, bayangkan seekor monyet. Seekor monyet dalam kostum bajak laut. Kita panggil dia Boogie.

Bayangkan Boogie sebagai peliharaan anda. Bayangkan kepribadian untuknya. Mungkin anda pernah ikut petualangan bajak laut monyet dengannya, atau kalian bahkan berpartner memberantas kejahatan dalam kostum superhero ketat. Pikirkan betapa sedihnya anda jika Boogie mati.

Sekarang, bayangkan anda punya monyet empat ekor lagi. Kita panggil mereka Toti, Marcel, Ipank, dan Jason Statham. Bayangkan kepribadian untuk masing-masing dari mereka. Mungkin yang satu agresif, yang satu lagi perhatian, yang satunya lagi rocker, dan yang lain bawa Uzi kemana-mana dan selalu diikuti satu tim ahli special effect. Tapi masing-masing mereka adalah teman monyet pribadi anda.

Sekarang bayangkan seratus monyet.

Tidak mudah bukan? Jadi, berapa banyak monyet yang harus anda miliki sebelum anda tidak mampu lagi mengingat nama mereka? Pada titik mana hewan-hewan peliharaan kesayangan anda kemudian hanya menjadi lautan monyet tanpa wajah? Meskipun tiap-tiap satu dari mereka sama monyetnya seperti Boogie, tetapi ada satu titik dimana anda tidak lagi peduli ketika salah satu dari mereka mati.

Jadi berapa banyak monyet yang harus anda punya sebelum anda berhenti peduli? Itu bukan pertanyaan retoris. Saya beneran tau jumlahnya.


“Jadi ini semua cuma tentang perang terhadap populasi monyet? Kalo gitu gue akan bantai seluruh monyet gue, hari ini juga!”

Uh, nggak. Bukan gitu. Tenang. Sebentar lagi semuanya jelas, dengar dulu, oke?

Beberapa waktu yang lalu, para ahli monyet menjalankan penelitian monyet, dan menemukan bahwa ukuran otak monyet menentukan jumlah individu dalam kelompok yang dibentuk oleh para monyet. Semakin besar ukuran otaknya, semakin besar juga masyarakat yang mampu mereka bentuk. Mereka membedah banyak sekali otak monyet, faktanya, mereka menemukan bahwa mereka bisa mengambil otak yang belum pernah mereka teliti sebelumnya, dan darinya memprediksi seberapa besar kelompok darimana spesies pemilik otak itu berasal.

Kebanyakan monyet beroperasi dalam jumlah sekitar 50-an. Tetapi seseorang menyelipkan sebuah otak yang sedikit lebih besar, dan mereka mengestimasi jumlah kelompok ideal bagi spesies ini adalah sekitar 150.

Otak tersebut, tentu saja otak manusia. Barangkali berasal dari seorang pemabuk yang mereka culik dari jalanan.


“Terus kenapa? Bahwa manusia itu sekuel keren dari monyet? Semua orang tau.”

Ini lebih mendalam dari cuma sekedar itu. Mari kita ambil contoh.

Ibu dari salah satu pacar saya seringkali menghabiskan waktu setengah jam untuk memasukan tumpukan beling dari gelas pecah ke dalam kotak karton sebelum membuangnya ke tempat sampah. Kenapa? Karena “Kasihan kalau tangan si tukang sampah luka kena beling.”

Mungkin itu cara yang tidak biasa untuk menunjukkan maksud saya. Tapi sepertinya tidak banyak dari kita yang menghabiskan waktu sampai segitunya untuk mikirin keadaan si tukang sampah meski dia menjalankan peran krusial dengan tidak memaksa kita tinggal di tumpukan sampah yang kita hasilkan. Kita tidak biasa memikirkan keselamatan atau kenyamanan si tukang sampah. Kalaupun iya, tidak sama dengan bagaimana kita mengkhawatirkan sahabat kita, atau pacar, atau bahkan anjing peliharaan kita.

Orang-orang melemparkan botol pembersih toilet yang masih setengah penuh langsung ke tong sampah tanpa mempertimbangkan gimana kalau mata si tukang sampah kecipratan waktu mengambil sampah. Kenapa? Karena si tukang sampah itu eksis di luar Monkeysphere kita.

Monkeysphere  adalah kelompok individu yang otak kita mampu konseptualisasikan sebagai manusia. Jika para ilmuwan monyet itu benar, maka jumlahnya tidak mungkin jauh dari angka 150.

Kebanyakan dari kita tidak punya ruang untuk tukang sampah dalam Monkeysphere kita. Jadi kita tidak melihatnya sebagai seseorang, melainkan sebagai sesuatu yang membikin sampah hilang.

Kalau pun anda anda kenal dan barangkali naksir dengan tukang sampah di sekitar rumah anda, dalam satu dan lain hal kita semua punya limit dalam ruang kepedulian monyet kita. Memang begitulah otak kita didesain, da-ri-so-no-nya. Masing-masing dari kita punya lingkaran orang-orang yang kita anggap sebagai manusia, umumnya teman dan keluarga, mungkin tetangga, juga barangkali teman sekelas atau di tempat kerja, atau di sekte pemuja Chuck Norris yang mana anda menjadi member di dalamnya.

Mereka yang berada di luar grup inti tersebut bukan manusia bagi kita. Mereka cuma semacam karakter satu dimensi.

Ingat pertama kali, waktu masih kecil, anda bertemu salah satu guru sekolah anda di luar kelas? Mungkin anda melihat wali kelas anda di McD sedang makan burger lewat hidung, atau melihat kepala sekolah keluar dari toko dildo. Ingat sensasi surreal yang anda rasakan waktu anda mengetahui bahwa orang-orang ini ternyata punya kehidupan di luar kelas?

Maksud saya, mereka bukan manusia. Mereka guru.


“Jadi? Relevansinya buat gue apa?”

Oh, nggak banyak. Ini cuma salah satu alasan kenapa masyarakat tidak berjalan dengan baik.

Begini: mana yang lebih membuat anda sedih, sahabat dekat anda meninggal, atau sekelompok anak SD di seberang jalan terbunuh karena bus yang mereka tumpangi tabrakan dengan truk yang mengangkut velociraptor? Mana yang lebih keras menghantam anda, ibu anda meninggal, atau melihat berita di TV bahwa 15,000 orang di Iran meninggal karena gempa bumi?

Mereka semua manusia dan mereka sama-sama mati. Tetapi semakin dekat mereka ke Monkeysphere kita, semakin berarti mereka bagi kita. Sama seperti bagaimana kematian anda tidak akan berarti apa-apa bagi orang-orang Kirgistan, atau bahkan siapapun yang berada di luar radius 100 meter dari tempat anda duduk sekarang ini.

Lihat orang di sebelah anda. Dia barangkali tidak akan peduli kalau anda dimakan zombie.


“Oke, jadi menurut lu gue harus peduli sama mereka? Gue bahkan gak kenal mereka!”

Tepat. Itulah kenapa kedengarannya konyol jika saya menyarankan anda untuk merasa sedih terhadap kematian mereka sesedih jikalau sahabat baik anda terbunuh. Kita semua terikat pada suatu standard-ganda yang demikian drastis untuk orang-orang di dalam Monkeysphere kita versus 99.999% populasi dunia yang berada di luar Monkeysphere kita.

Coba ingat waktu anda sedang mengendarai mobil/motor/T-rex kesayangan anda di jalanan macet, ketika tiba-tiba ada bajaj/angkot/T-rex lain tiba-tiba nyelonong, dan anda langsung mengacungkan jari tengah sambil teriak “DASAR BUAJINGAN GUOBLUOK!!”

Sekarang coba bayangkan bersikap seperti itu dalam kelompok yang lebih kecil. Seperti dalam lift, bersama dua teman wanita anda dan satu rekan kerja, dan si teman yang agak lebih cantik jarinya tremor sehingga menekan tombol yang salah. Apakah anda akan langsung menengok, dengan mulut anda dua sentimeter dari kuping teman anda, dan berteriak “DASAR BUAJINGAN GUOBLUOK!!”

Mereka akan menyangka anda gila. Kita semua menjadi sedikit gila sebetulnya, kalau kita berada dalam kelompok yang lebih besar dari Monkeysphere. Itulah kenapa anda merasakan sensasi keberkuasaan anonim yang aneh waktu anda duduk di bangku penonton di stadion, meneriakkan kutukan dan makian terhadap salah satu pemain dengan kosa kata yang tidak akan berani anda ucapkan di depan wajahnya langsung.


“Hmm... gue cukup baik sama orang asing. Coba pikir, jangan-jangan lu yang brengsek?”

Tentu, anda mungkin tidak akan tiba-tiba jahat sama orang asing. Tapi anda juga tidak tiba-tiba jahat sama anjing liar, kok.

Permasalahannya adalah, kadang-kadang ada beberapa kebutuhan anda dan orang-orang dalam Monkeysphere anda yang hanya bisa tersalurkan dengan berperilaku bangsat terhadap orang-orang di luarnya (meski kebutuhan itu hanya untuk melepaskan tekanan atau kemarahan via episode hina-menghina secara berlebihan). Inilah kenapa kita tidak akan berimajinasi untuk mencuri uang dari nenek di sebelah rumah, tapi tidak bermasalah ketika menilap kabel ethernet, atau mendompleng pajak, atau diam-diam bersorak ketika kasir restoran lupa memasukan satu atau dua item makanan yang kita pesan ke dalam tagihan.

Anda barangkali punya daftar rasionalisasi yang cukup panjang untuk mengelilingi Bumi dua kali, tapi faktanya adalah bahwa dalam otak monyet kita, si nenek sebelah rumah adalah manusia, sementara perusahaan penyedia layanan internet (dari mana anda menilap kabel ethernet) merupakan mesin raksasa tanpa wajah. Bahwa perusahaan itu, kenyataannya, tidak lebih dari sekumpulan orang yang sama manusianya dengan si nenek. Atau bahwa barangkali ada seorang nenek yang bekerja di perusahaan itu yang akan kehilangan pekerjaannya jika terlalu banyak kabel dicuri.

Ngomong-ngomong ini juga satu hal mengenai agama-agama besar. Para penulis agama-agama lama mengetahui bahwa lebih mudah untuk memasang sekrup pada orang asing, jadi mereka mengarahkan kita untuk mendapatkan ide personal di kepala kita tentang Tuhan yang kira-kira berucap, “Tak peduli siapapun yang kau sakiti, sesungguhnya kau menyakiti-Ku. Oh, dan Aku juga bisa menginjakmu kayak kecoak.” Anda harus akui bahwa jika mereka tidak menulis kata-kata yang berasal dari Tuhan langsung, setidaknya mereka mengerti Monkeysphere.


“Jadi maksud lu adalah bahwa Monkeysphere ini menjalankan dunia?”

Coba nyalakan radio. Dengarkan obrolan konservatif tentang “Pemerintah” seakan-akan itu semacam naga hitam raksasa yang siap menelan anda dan slip gaji anda bulat-bulat. Tidak peduli bahwa pemerintah terdiri dari sekumpulan manusia dan bahwa seluruh uang yang mereka ambil masuk ke kantong dan rekening milik manusia. Salah seorang teman saya tidak  masalah untuk memberi tip besar di restoran, tapi dia langsung mencak-mencak jika bahkan 10% diambil dari gajinya oleh “Pemerintah.” Tidak peduli bahwa uang itu barangkali digunakan untuk memberi tunjangan sosial bagi pelayan yang sama yang dia beri tip di restoran.

Sekarang coba datangi diskusi-diskusi radikal. Dengarkan bagaimana mereka mendeskripsikan “Perusahaan Multinasional” dalam terminologi yang sama mengerikannya: monster jahat yang memuntahkan api dan memperbudak umat manusia. Tidakkah aneh jika kita melihat, katakanlah, seorang kakek kesepian yang membuat dan menjual mainan anak-anak di rumahnya adalah seorang laki-laki tulus baik hati yang gemar membawakan kebahagiaan di saat natal. Tapi perusahaan raksasa produsen mainan (yang membawakan mainan ke jutaan anak di saat natal) adalah mesin serakah yang tidak berperikemanusiaan? Cukup aneh juga seandainya si kakek baik hati itu membuat cukup banyak mainan dan menyewa cukup banyak pekerja dan melakukan ekspansi ke cukup banyak toko, sepertinya kita akan berhenti melihatnya sebagai laki-laki tulus baik hati, melainkan pabrik Orc di Mordor.

Dan jika anda berpikir, “Yah, para pelaku diskusi itu kan cuma segerombolan aktivis egomaniak.” Selamat, anda baru saja melakukannya lagi, mengubah manusia nyata menjadi karakter kartun dua dimensi. Sebetulnya tidak mengejutkan juga, anda melakukan itu terhadap enam milyar umat manusia di luar Monkeysphere anda.


“Jadi tiba-tiba gue harus mempedulikan enam milyar orang asing? Gak mungkin lah!”

Tepat. Memang tidak mungkin. Itulah intinya.

Yang sulit dimengerti adalah bahwa tidak mungkin juga bagi mereka untuk peduli pada anda.

Itulah kenapa mereka tidak keberatan mencuri telepon genggam anda atau mencorat-coret pagar rumah anda atau menaikkan pajak anda atau merusak spion mobil anda atau membombardir e-mail anda dengan spam yang mengiklankan obat penis yang mereka tahu tidak berguna. Anda eksis di luar Monkeysphere mereka. Dalam pikiran mereka, anda cuma sosok berdimensi satu dengan kantong penuh uang untuk dipalak.

Pikirkan Osama bin Laden. Apakah anda membayangkan laki-laki dengan kamuflase bersembunyi di dalam gua sambil menggambar rencana bom bunuh diri? Atau anda membayangkan seorang laki-laki yang bisa merasa lapar dan punya makanan favorit dan punya cinta masa kecil dan punya tendangan bagus di sepak bola dan punya sakit kepala kronis dan selalu mencukur janggutnya dua sentimeter setiap bulan dan ternyata suka main voli?Beberapa dari anda barangkali merasa terserang oleh paragraf di atas. Anda pikir ini adalah cara untuk membangun simpati terhadap si pembunuh.

Tidakkah aneh bagaimana mengetahui fakta-fakta sederhana tentang seorang manusia bisa dalam sekejap menyentuh senar simpati anda? Dia mendekat ke Monkeysphere anda. Dia mulai mendapat dimensi.


“Jadi lu memakai monyet untuk meng-klaim bahwa kami adalah segerombolan Osama bin Laden?”

Ya semacam itu lah...

Coba dengarkan setiap freshgraduate dengan pekerjaan pertama mereka mengoceh tentang bagaimana bos menyiksa mereka dan pemerintah bahkan menyiksa lebih buruk (“APA-APAAN NIH PPh?” teriaknya ketika melihat slip gajinya yang pertama).

Kemudian perhatikan anak yang sama di tempat kerja, ketika dia tanpa sengaja menjatuhkan daging hamburger ke lantai, memungutnya, lalu menyelipkannya kembali di antara roti, dan menyajikannya ke pelanggan.

Dalam satu daging burger yang jatuh itu dia punya segala yang dia butuhkan untuk memahami para politisi dan bos-bos korporat. Mereka melihat anak itu dengan cara yang sama dengan bagaimana dia melihat para pelanggan berbaris rapih di depan counter burger. Yang mana, cuma selewat saja.

Baik bagi si koki burger atau orang yang menjalankan perusahaan Exxon, menjalani hari kerja dan mengambil upah adalah segalanya. Mereka tidak memikirkan bagaimana manusia-manusia lain ternyata dirugikan jika mereka melakukan pekerjaan dengan buruk. Pelanggan atau pekerja sebanyak itu tidak bakal muat dalam Monkeysphere mereka.

Si bocah akan memprotes bahwa dia tidak seharusnya mengkhawatirkan pelanggan dengan gajinya yang persis di tingkat UMR, tapi faktanya adalah jika seseorang tidak merasakan simpati terhadap teman satu spesiesnya dengan gaji Rp.5,000.- per-jam, dia juga tidak akan merasakan apa-apa pada tingkat pendapatan Rp.500,000,000.- per-tahun.

Atau untuk melihatnya dengan cara lain, jika kita diizinkan untuk marah dan bahkan memaki orang lain untuk Rp.5,000.- per-jam, bayangkan betapa marahnya orang-orang Nigeria dengan jumlah yang ekuivalen dengan Rp.5,000.- per-minggu.


“Sebentar, lu dari tadi nyebutin kata ‘monyet’ lebih dari 50 kali, tapi manusia sama monyet tuh beda. Manusia pernah ke bulan. Coba lu suruh monyet ke bulan.”

Tidak masalah. It’s just an issue of degree.

Ada alasan kenapa ahli monyet legendaris Charles Darwin dan asistennya, Jeje Santiago mendeduksi bahwa manusia dan simpanse adalah sepupu evolusioner. Secanggih-canggihnya kita (bandingkan sistem drainase dan septic tank canggih kita dengan teknik simpanse yang melempar-lempar tokai pakai tangan), kebenaran yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa kita sama-sama terbatas oleh hardware mental kita.

Perbedaan utamanya adalah bahwa para monyet cukup senang dengan berada di kelompok kecil dan cenderung jarang berinteraksi dengan individu lain di luar geng monyet mereka. Itulah kenapa mereka jarang berperang, meski, sepertinya kalaupun kejadian pasti akan sangat lucu. Manusia, bagaimanapun, membutuhkan transportasi, minyak, barang-barang penunjang hidup, video game, internet, dan yang paling penting, pemerintah. Semua hal itu membutuhkan kelompok yang lebih besar  dari 150 orang untuk bisa berjalan dengan efektif. Sehingga, kita secara rutin menemukan diri kita berfungsi dalam gerombolan yang lebih besar dari apa yang mampu dikomprehensikan oleh otak primata kita.

Di sinilah masalah bermula. Seperti piramida manusia yang rapuh, kita secara bersamaan saling mendukung dan saling tolak satu sama lain. Kita mengoceh keras-keras tentang pekerjaan biadab kita sebagai wajah anonim di assembly line, ketika di saat yang bersamaan menumpang pulang dalam mobil yang hanya bisa diproduksi oleh assembly line. Kontradiksi konstan inilah yang seringkali membuat anda kesal dan kemudian membuat anda bergabung dengan klub gulat illegal di garasi salah seorang teman anda.

Oh, dan saya pikir karena itu juga, dengan berat hati Darwin berpaling ke asistennya dan berkata, “Jeje, kitalah monyetnya.”


“OH, TIDAK!!!”

Jika anda pikirkan lebih jauh, keseluruhan masyarakat kita berevolusi dalam batasan Monkeysphere. Ada alasan kenapa semua negara-negara paling gemuk dengan SUV paling keren dan velg 22” paling kinclong punya semacam demokrasi representatif (dimana anda memilih orang lain demi menjalankan pemerintahan untuk anda), dan semuanya, hingga derajat tertentu, kapitalis (dimana orang secara aktual harus membeli properti dan menyimpan sebagian dari yang mereka dapatkan).

Sebuah demokrasi representatif mengizinkan sekelompok kecil individu untuk membuat setiap keputusan, sembari membiarkan kita, orang kebanyakan, merasa seperti melakukan sesuatu dengan pergi ke bilik pemilihan tiap beberapa tahun sekali dan mencoblos (atau mencontreng), yang kenyataannya, punya efek yang sama dengan tombol reset di microwave anda. Kita secara bersamaan merasa seakan-akan kitalah yang berkuasa sembari dengan cukup ketat dikontrol untuk tidak menciptakan kerusuhan a’la monyet kalau-kalau sesuatu hal yang tidak diharapkan terjadi.

Beberapa orang di masa lalu dengan naif berpikir bahwa mereka sanggup mendudukkan jutaan monyet dan bilang, “Oke, semuanya ambil pisang, lalu bawa kesini, dan kami akan distribusikan dengan formula kompleks yang menentukan kebutuhan pisang! Sekarang juga kumpulkan pisang demi kebaikan masyarakat!” Bagi para monyet, itu adalah bencana komikal yang membingungkan.

Tidak seberapa lama, orang lain yang jauh lebih canggih kembali mendudukkan para monyet dan berkata, “Kalian semua mau pisang? Gih, sana semua ambil untuk diri kalian sendiri. Saya mau tidur siang dulu.” Orang itu, tentu saja, adalah tuan Hans Capitalism.

Sepanjang semua orang punya pisang mereka sendiri dan saling berbagi dengan mereka yang ada dalam Monkeysphere, sistem cenderung berjalan meski tak seorangpun berusaha untuk membuat sistem itu berjalan.

Kemudian, pada suatu saat di abad ketiga, kita menemukan rasisme.

Ini adalah cara untuk menyederhanakan dunia yang terlalu kompleks bagi para monyet dengan membayangkan bahwa setiap orang dari ras tertentu adalah orang yang sama, dengan sikap yang sama, sopan santun yang sama, dan selera yang sama dalam segi makanan, pakaian, maupun musik. Cara ini kira-kira berjalan dengan cukup baik, sepanjang kita melihat orang lain itu sebagai orang yang baik (“Orang-orang Asia itu sangat rajin dan teliti dan sopan!”), tapi ketika kita mulai melihat mereka sebagai bajingan, kebahagiaan monyet kita hancur lagi.

Itu bukan salah siapa-siapa. Faktanya, seluruh skema manajemen monyet ini hanya bisa beranjak sejauh itu. Seperti: sekarang ini, satu dari empat orang di Jakarta punya penyakit mental, biasanya depresi. Satu dari empat. Coba tonton pertandingan basket. Kemungkinannya adalah, setidaknya dua dari orang-orang di lapangan itu sakit jiwa. Sekarang lihat di sekeliling rumah anda; kalau yang lain kelihatan baik-baik saja, berarti anda yang gila.

Mengejutkankah? Anda nyalakan TV dan melihat berita tentang Epidemi Obesitas di Amerika. Ada kekhawatiran yang dibebankan di pundak anda tentang jutaan orang di negara lain kebanyakan makan. Apa tepatnya yang harus anda lakukan berkenaan dengan kebiasaan makan 80 juta orang yang bahkan tidak anda kenal. Anda mendapat beban tak berguna dari orang-orang yang jelas berada di luar Monkeysphere.


“Jadi, apa tepatnya yang harus gue lakukan?”

Pertama-tama, latihlah diri anda untuk curiga setiap kali melihat kesederhanaan. Setiap klaim bahwa akar dari sebuah permasalahan itu sederhana harus diperlakukan sama seperti klaim bahwa akar dari sebuah permasalahan adalah Bigfoot. Karena kesederhanaan dan Bigfoot bisa ditemukan di dunia nyata dalam frekuensi yang kurang lebih sama.

Maka tolaklah pemikiran biner “baik -vs- jahat” atau “kita -vs- mereka.” Pahami bahwa persoalan tidak mungkin dipecahkan semata-mata hanya dengan slogan pintar atau program step-by-step yang disimplifikasi habis-habisan.

Anda bisa melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah berikut. Kami menyebutnya langkah T.A.I.:

Pertama, TOTAL MORON! Yakni terimalah fakta bahwa ANDA SATU. Kita semua Satu.

Orang rese yang anda kenal, yang kerjanya sesumbar, orang yang selalu merasa dirinya benar? Kemungkinannya adalah bahwa untuk orang lain, andalah orang itu. Jadi kumpulkan hal-hal yang anda pikir anda tahu, kurangi 99.999%, dan anda akan tahu seberapa banyak yang sebetulnya anda pahami tentang hal-hal di luar Monkeysphere anda.

Kedua, OH YEAH!, pahami bahwa tidak ada yang namanya monyet super. Yang ada cuma monyet aja. Anda lihat orang di TV itu, memberikan seminar inspirasional, mengajarkan anda bagaimana caranya meraih potensi dan menjadi kaya dan sukses seperti mereka? Anda tahu bagaimana mereka menghasilkan uang? Ya dengan ngasih seminar. Kebanyakan, yang dia lakukan hanyalah meyakinkan orang lain bahwa mereka melakukan segalanya dengan baik.

Dan yang terakhir, adalah YIIIHAAAW! Yaitu jangan biarkan siapapun menyederhanakan sesuatu untuk anda. Dunia tidak bisa dibuat simple. Siapapun yang berusaha untuk melukis gambaran dunia dalam warna komik dasar adalah mereka yang paling mungkin untuk memanfaatkan anda sebagai bidak catur.

Jadi, ingat: T.A.I. bangkit, maju, dan praktekkan, sodara-sodara. Silahkan, copy dari jurnal kami bisa dibeli di lobby.