"One
death is a tragedy. One million deaths is a statistic."
-lupa...-
“Ha?
Monkeysphere? Apaan tuh?”
Oke.
Pertama-tama, bayangkan seekor monyet. Seekor monyet dalam kostum bajak laut.
Kita panggil dia Boogie.
Bayangkan Boogie
sebagai peliharaan anda. Bayangkan kepribadian untuknya. Mungkin anda pernah ikut
petualangan bajak laut monyet dengannya, atau kalian bahkan berpartner
memberantas kejahatan dalam kostum superhero ketat. Pikirkan betapa sedihnya
anda jika Boogie mati.
Sekarang,
bayangkan anda punya monyet empat ekor lagi. Kita panggil mereka Toti, Marcel,
Ipank, dan Jason Statham. Bayangkan kepribadian untuk masing-masing dari
mereka. Mungkin yang satu agresif, yang satu lagi perhatian, yang satunya lagi
rocker, dan yang lain bawa Uzi kemana-mana dan selalu diikuti satu tim ahli
special effect. Tapi masing-masing mereka adalah teman monyet pribadi anda.
Sekarang
bayangkan seratus monyet.
Tidak mudah
bukan? Jadi, berapa banyak monyet yang harus anda miliki sebelum anda tidak
mampu lagi mengingat nama mereka? Pada titik mana hewan-hewan peliharaan
kesayangan anda kemudian hanya menjadi lautan monyet tanpa wajah? Meskipun
tiap-tiap satu dari mereka sama monyetnya seperti Boogie, tetapi ada satu titik
dimana anda tidak lagi peduli ketika salah satu dari mereka mati.
Jadi berapa
banyak monyet yang harus anda punya sebelum anda berhenti peduli? Itu bukan
pertanyaan retoris. Saya beneran tau jumlahnya.
“Jadi
ini semua cuma tentang perang terhadap populasi monyet? Kalo gitu gue akan
bantai seluruh monyet gue, hari ini juga!”
Uh, nggak.
Bukan gitu. Tenang. Sebentar lagi semuanya jelas, dengar dulu, oke?
Beberapa waktu
yang lalu, para ahli monyet menjalankan penelitian monyet, dan menemukan bahwa
ukuran otak monyet menentukan jumlah individu dalam kelompok yang dibentuk oleh
para monyet. Semakin besar ukuran otaknya, semakin besar juga masyarakat yang
mampu mereka bentuk. Mereka membedah banyak sekali otak monyet, faktanya,
mereka menemukan bahwa mereka bisa mengambil otak yang belum pernah mereka teliti
sebelumnya, dan darinya memprediksi seberapa besar kelompok darimana spesies
pemilik otak itu berasal.
Kebanyakan
monyet beroperasi dalam jumlah sekitar 50-an. Tetapi seseorang menyelipkan
sebuah otak yang sedikit lebih besar, dan mereka mengestimasi jumlah kelompok
ideal bagi spesies ini adalah sekitar 150.
Otak tersebut,
tentu saja otak manusia. Barangkali berasal dari seorang pemabuk yang mereka
culik dari jalanan.
“Terus
kenapa? Bahwa manusia itu sekuel keren dari monyet? Semua orang tau.”
Ini lebih
mendalam dari cuma sekedar itu. Mari kita ambil contoh.
Ibu dari salah
satu pacar saya seringkali menghabiskan waktu setengah jam untuk memasukan
tumpukan beling dari gelas pecah ke dalam kotak karton sebelum membuangnya
ke tempat sampah. Kenapa? Karena “Kasihan kalau tangan si tukang sampah luka
kena beling.”
Mungkin itu
cara yang tidak biasa untuk menunjukkan maksud saya. Tapi sepertinya tidak
banyak dari kita yang menghabiskan waktu sampai segitunya untuk mikirin keadaan
si tukang sampah meski dia menjalankan peran krusial dengan tidak memaksa kita
tinggal di tumpukan sampah yang kita hasilkan. Kita tidak biasa memikirkan
keselamatan atau kenyamanan si tukang sampah. Kalaupun iya, tidak sama dengan
bagaimana kita mengkhawatirkan sahabat kita, atau pacar, atau bahkan anjing
peliharaan kita.
Orang-orang
melemparkan botol pembersih toilet yang masih setengah penuh langsung ke tong
sampah tanpa mempertimbangkan gimana kalau mata si tukang sampah kecipratan
waktu mengambil sampah. Kenapa? Karena si tukang sampah itu eksis di luar
Monkeysphere kita.
Monkeysphere adalah kelompok individu yang otak kita mampu
konseptualisasikan sebagai manusia. Jika para ilmuwan monyet itu benar, maka
jumlahnya tidak mungkin jauh dari angka 150.
Kebanyakan
dari kita tidak punya ruang untuk tukang sampah dalam Monkeysphere kita. Jadi
kita tidak melihatnya sebagai seseorang, melainkan sebagai sesuatu yang
membikin sampah hilang.
Kalau pun anda
anda kenal dan barangkali naksir dengan tukang sampah di sekitar rumah anda,
dalam satu dan lain hal kita semua punya limit dalam ruang kepedulian monyet
kita. Memang begitulah otak kita didesain, da-ri-so-no-nya. Masing-masing dari
kita punya lingkaran orang-orang yang kita anggap sebagai manusia, umumnya
teman dan keluarga, mungkin tetangga, juga barangkali teman sekelas atau di
tempat kerja, atau di sekte pemuja Chuck Norris yang mana anda menjadi member
di dalamnya.
Mereka yang
berada di luar grup inti tersebut bukan manusia bagi kita. Mereka cuma semacam
karakter satu dimensi.
Ingat pertama
kali, waktu masih kecil, anda bertemu salah satu guru sekolah anda di luar
kelas? Mungkin anda melihat wali kelas anda di McD sedang makan burger lewat
hidung, atau melihat kepala sekolah keluar dari toko dildo. Ingat sensasi
surreal yang anda rasakan waktu anda mengetahui bahwa orang-orang ini ternyata
punya kehidupan di luar kelas?
Maksud saya,
mereka bukan manusia. Mereka guru.
“Jadi?
Relevansinya buat gue apa?”
Oh, nggak
banyak. Ini cuma salah satu alasan kenapa masyarakat tidak berjalan dengan
baik.
Begini: mana
yang lebih membuat anda sedih, sahabat dekat anda meninggal, atau sekelompok
anak SD di seberang jalan terbunuh karena bus yang mereka tumpangi tabrakan
dengan truk yang mengangkut velociraptor? Mana yang lebih keras menghantam
anda, ibu anda meninggal, atau melihat berita di TV bahwa 15,000 orang di Iran meninggal
karena gempa bumi?
Mereka semua
manusia dan mereka sama-sama mati. Tetapi semakin dekat mereka ke Monkeysphere
kita, semakin berarti mereka bagi kita. Sama seperti bagaimana kematian anda
tidak akan berarti apa-apa bagi orang-orang Kirgistan, atau bahkan siapapun
yang berada di luar radius 100 meter dari tempat anda duduk sekarang ini.
Lihat orang di
sebelah anda. Dia barangkali tidak akan peduli kalau anda dimakan zombie.
“Oke,
jadi menurut lu gue harus peduli sama mereka? Gue bahkan gak kenal mereka!”
Tepat. Itulah
kenapa kedengarannya konyol jika saya menyarankan anda untuk merasa sedih
terhadap kematian mereka sesedih jikalau sahabat baik anda terbunuh. Kita semua
terikat pada suatu standard-ganda yang demikian drastis untuk orang-orang di
dalam Monkeysphere kita versus 99.999% populasi dunia yang berada di luar
Monkeysphere kita.
Coba ingat
waktu anda sedang mengendarai mobil/motor/T-rex kesayangan anda di jalanan
macet, ketika tiba-tiba ada bajaj/angkot/T-rex lain tiba-tiba nyelonong, dan
anda langsung mengacungkan jari tengah sambil teriak “DASAR BUAJINGAN
GUOBLUOK!!”
Sekarang coba
bayangkan bersikap seperti itu dalam kelompok yang lebih kecil. Seperti dalam
lift, bersama dua teman wanita anda dan satu rekan kerja, dan si teman yang
agak lebih cantik jarinya tremor sehingga menekan tombol yang salah. Apakah
anda akan langsung menengok, dengan mulut anda dua sentimeter dari kuping teman
anda, dan berteriak “DASAR BUAJINGAN GUOBLUOK!!”
Mereka akan
menyangka anda gila. Kita semua menjadi sedikit gila sebetulnya, kalau kita
berada dalam kelompok yang lebih besar dari Monkeysphere. Itulah kenapa anda
merasakan sensasi keberkuasaan anonim yang aneh waktu anda duduk di bangku
penonton di stadion, meneriakkan kutukan dan makian terhadap salah satu pemain
dengan kosa kata yang tidak akan berani anda ucapkan di depan wajahnya
langsung.
“Hmm...
gue cukup baik sama orang asing. Coba pikir, jangan-jangan lu yang brengsek?”
Tentu, anda
mungkin tidak akan tiba-tiba jahat sama orang asing. Tapi anda juga tidak
tiba-tiba jahat sama anjing liar, kok.
Permasalahannya
adalah, kadang-kadang ada beberapa kebutuhan anda dan orang-orang dalam
Monkeysphere anda yang hanya bisa tersalurkan dengan berperilaku bangsat
terhadap orang-orang di luarnya (meski kebutuhan itu hanya untuk melepaskan
tekanan atau kemarahan via episode hina-menghina secara berlebihan). Inilah
kenapa kita tidak akan berimajinasi untuk mencuri uang dari nenek di sebelah
rumah, tapi tidak bermasalah ketika menilap kabel ethernet, atau mendompleng
pajak, atau diam-diam bersorak ketika kasir restoran lupa memasukan satu atau
dua item makanan yang kita pesan ke dalam tagihan.
Anda
barangkali punya daftar rasionalisasi yang cukup panjang untuk mengelilingi
Bumi dua kali, tapi faktanya adalah bahwa dalam otak monyet kita, si nenek
sebelah rumah adalah manusia, sementara perusahaan penyedia layanan internet
(dari mana anda menilap kabel ethernet) merupakan mesin raksasa tanpa wajah.
Bahwa perusahaan itu, kenyataannya, tidak lebih dari sekumpulan orang yang sama
manusianya dengan si nenek. Atau bahwa barangkali ada seorang nenek yang
bekerja di perusahaan itu yang akan kehilangan pekerjaannya jika terlalu banyak
kabel dicuri.
Ngomong-ngomong
ini juga satu hal mengenai agama-agama besar. Para
penulis agama-agama lama mengetahui bahwa lebih mudah untuk memasang sekrup
pada orang asing, jadi mereka mengarahkan kita untuk mendapatkan ide personal
di kepala kita tentang Tuhan yang kira-kira berucap, “Tak peduli siapapun yang
kau sakiti, sesungguhnya kau menyakiti-Ku. Oh, dan Aku juga bisa menginjakmu
kayak kecoak.” Anda harus akui bahwa jika mereka tidak menulis kata-kata yang
berasal dari Tuhan langsung, setidaknya mereka mengerti Monkeysphere.
“Jadi
maksud lu adalah bahwa Monkeysphere ini menjalankan dunia?”
Coba nyalakan
radio. Dengarkan obrolan konservatif tentang “Pemerintah” seakan-akan itu
semacam naga hitam raksasa yang siap menelan anda dan slip gaji anda
bulat-bulat. Tidak peduli bahwa pemerintah terdiri dari sekumpulan manusia dan
bahwa seluruh uang yang mereka ambil masuk ke kantong dan rekening milik
manusia. Salah seorang teman saya tidak
masalah untuk memberi tip besar di restoran, tapi dia langsung mencak-mencak
jika bahkan 10% diambil dari gajinya oleh “Pemerintah.” Tidak peduli bahwa uang
itu barangkali digunakan untuk memberi tunjangan sosial bagi pelayan yang sama
yang dia beri tip di restoran.
Sekarang coba
datangi diskusi-diskusi radikal. Dengarkan bagaimana mereka mendeskripsikan “Perusahaan
Multinasional” dalam terminologi yang sama mengerikannya: monster jahat yang
memuntahkan api dan memperbudak umat manusia. Tidakkah aneh jika kita melihat,
katakanlah, seorang kakek kesepian yang membuat dan menjual mainan anak-anak di
rumahnya adalah seorang laki-laki tulus baik hati yang gemar membawakan
kebahagiaan di saat natal. Tapi perusahaan raksasa produsen mainan (yang
membawakan mainan ke jutaan anak di saat natal) adalah mesin serakah yang tidak
berperikemanusiaan? Cukup aneh juga seandainya si kakek baik hati itu membuat
cukup banyak mainan dan menyewa cukup banyak pekerja dan melakukan ekspansi ke
cukup banyak toko, sepertinya kita akan berhenti melihatnya sebagai laki-laki
tulus baik hati, melainkan pabrik Orc di Mordor.
Dan jika anda
berpikir, “Yah, para pelaku diskusi itu kan cuma segerombolan aktivis
egomaniak.” Selamat, anda baru saja melakukannya lagi, mengubah manusia nyata
menjadi karakter kartun dua dimensi. Sebetulnya tidak mengejutkan juga, anda
melakukan itu terhadap enam milyar umat manusia di luar Monkeysphere anda.
“Jadi
tiba-tiba gue harus mempedulikan enam milyar orang asing? Gak mungkin lah!”
Tepat. Memang
tidak mungkin. Itulah intinya.
Yang sulit
dimengerti adalah bahwa tidak mungkin juga bagi mereka untuk peduli pada anda.
Itulah kenapa
mereka tidak keberatan mencuri telepon genggam anda atau mencorat-coret pagar
rumah anda atau menaikkan pajak anda atau merusak spion mobil anda atau
membombardir e-mail anda dengan spam yang mengiklankan obat penis yang mereka tahu
tidak berguna. Anda eksis di luar Monkeysphere mereka. Dalam pikiran mereka,
anda cuma sosok berdimensi satu dengan kantong penuh uang untuk dipalak.
Pikirkan Osama
bin Laden. Apakah anda membayangkan laki-laki dengan kamuflase bersembunyi di
dalam gua sambil menggambar rencana bom bunuh diri? Atau anda membayangkan
seorang laki-laki yang bisa merasa lapar dan punya makanan favorit dan punya
cinta masa kecil dan punya tendangan bagus di sepak bola dan punya sakit kepala
kronis dan selalu mencukur janggutnya dua sentimeter setiap bulan dan ternyata
suka main voli?Beberapa dari anda barangkali merasa terserang oleh paragraf di
atas. Anda pikir ini adalah cara untuk membangun simpati terhadap si pembunuh.
Tidakkah aneh
bagaimana mengetahui fakta-fakta sederhana tentang seorang manusia bisa dalam
sekejap menyentuh senar simpati anda? Dia mendekat ke Monkeysphere anda. Dia
mulai mendapat dimensi.
“Jadi
lu memakai monyet untuk meng-klaim bahwa kami adalah segerombolan Osama bin
Laden?”
Ya semacam itu
lah...
Coba dengarkan
setiap freshgraduate dengan pekerjaan pertama mereka mengoceh tentang bagaimana
bos menyiksa mereka dan pemerintah bahkan menyiksa lebih buruk (“APA-APAAN NIH
PPh?” teriaknya ketika melihat slip gajinya yang pertama).
Kemudian perhatikan
anak yang sama di tempat kerja, ketika dia tanpa sengaja menjatuhkan daging
hamburger ke lantai, memungutnya, lalu menyelipkannya kembali di antara roti,
dan menyajikannya ke pelanggan.
Dalam satu
daging burger yang jatuh itu dia punya segala yang dia butuhkan untuk memahami
para politisi dan bos-bos korporat. Mereka melihat anak itu dengan cara yang
sama dengan bagaimana dia melihat para pelanggan berbaris rapih di depan
counter burger. Yang mana, cuma selewat saja.
Baik bagi si
koki burger atau orang yang menjalankan perusahaan Exxon, menjalani hari kerja
dan mengambil upah adalah segalanya. Mereka tidak memikirkan bagaimana
manusia-manusia lain ternyata dirugikan jika mereka melakukan pekerjaan dengan
buruk. Pelanggan atau pekerja sebanyak itu tidak bakal muat dalam Monkeysphere
mereka.
Si bocah akan
memprotes bahwa dia tidak seharusnya mengkhawatirkan pelanggan dengan gajinya
yang persis di tingkat UMR, tapi faktanya adalah jika seseorang tidak merasakan
simpati terhadap teman satu spesiesnya dengan gaji Rp.5,000.- per-jam, dia juga
tidak akan merasakan apa-apa pada tingkat pendapatan Rp.500,000,000.-
per-tahun.
Atau untuk
melihatnya dengan cara lain, jika kita diizinkan untuk marah dan bahkan memaki
orang lain untuk Rp.5,000.- per-jam, bayangkan betapa marahnya orang-orang Nigeria dengan
jumlah yang ekuivalen dengan Rp.5,000.- per-minggu.
“Sebentar,
lu dari tadi nyebutin kata ‘monyet’ lebih dari 50 kali, tapi manusia sama
monyet tuh beda. Manusia pernah ke bulan. Coba lu suruh monyet ke bulan.”
Tidak masalah.
It’s just an issue of degree.
Ada alasan
kenapa ahli monyet legendaris Charles Darwin dan asistennya, Jeje Santiago
mendeduksi bahwa manusia dan simpanse adalah sepupu evolusioner.
Secanggih-canggihnya kita (bandingkan sistem drainase dan septic tank canggih
kita dengan teknik simpanse yang melempar-lempar tokai pakai tangan), kebenaran
yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa kita sama-sama terbatas oleh hardware
mental kita.
Perbedaan
utamanya adalah bahwa para monyet cukup senang dengan berada di kelompok kecil
dan cenderung jarang berinteraksi dengan individu lain di luar geng monyet
mereka. Itulah kenapa mereka jarang berperang, meski, sepertinya kalaupun
kejadian pasti akan sangat lucu. Manusia, bagaimanapun, membutuhkan
transportasi, minyak, barang-barang penunjang hidup, video game, internet, dan
yang paling penting, pemerintah. Semua hal itu membutuhkan kelompok yang lebih
besar dari 150 orang untuk bisa berjalan
dengan efektif. Sehingga, kita secara rutin menemukan diri kita berfungsi dalam
gerombolan yang lebih besar dari apa yang mampu dikomprehensikan oleh otak
primata kita.
Di sinilah
masalah bermula. Seperti piramida manusia yang rapuh, kita secara bersamaan
saling mendukung dan saling tolak satu sama lain. Kita mengoceh keras-keras
tentang pekerjaan biadab kita sebagai wajah anonim di assembly line, ketika di
saat yang bersamaan menumpang pulang dalam mobil yang hanya bisa diproduksi
oleh assembly line. Kontradiksi konstan inilah yang seringkali membuat anda
kesal dan kemudian membuat anda bergabung dengan klub gulat illegal di garasi
salah seorang teman anda.
Oh, dan saya
pikir karena itu juga, dengan berat hati Darwin berpaling ke asistennya dan
berkata, “Jeje, kitalah monyetnya.”
“OH,
TIDAK!!!”
Jika anda
pikirkan lebih jauh, keseluruhan masyarakat kita berevolusi dalam batasan
Monkeysphere. Ada
alasan kenapa semua negara-negara paling gemuk dengan SUV paling keren dan velg
22” paling kinclong punya semacam demokrasi representatif (dimana anda memilih
orang lain demi menjalankan pemerintahan untuk anda), dan semuanya, hingga
derajat tertentu, kapitalis (dimana orang secara aktual harus membeli properti
dan menyimpan sebagian dari yang mereka dapatkan).
Sebuah
demokrasi representatif mengizinkan sekelompok kecil individu untuk membuat
setiap keputusan, sembari membiarkan kita, orang kebanyakan, merasa seperti
melakukan sesuatu dengan pergi ke bilik pemilihan tiap beberapa tahun sekali
dan mencoblos (atau mencontreng), yang kenyataannya, punya efek yang sama
dengan tombol reset di microwave anda. Kita secara bersamaan merasa seakan-akan
kitalah yang berkuasa sembari dengan cukup ketat dikontrol untuk tidak
menciptakan kerusuhan a’la monyet kalau-kalau sesuatu hal yang tidak diharapkan
terjadi.
Beberapa orang
di masa lalu dengan naif berpikir bahwa mereka sanggup mendudukkan jutaan
monyet dan bilang, “Oke, semuanya ambil pisang, lalu bawa kesini, dan kami akan
distribusikan dengan formula kompleks yang menentukan kebutuhan pisang!
Sekarang juga kumpulkan pisang demi kebaikan masyarakat!” Bagi para monyet, itu
adalah bencana komikal yang membingungkan.
Tidak seberapa
lama, orang lain yang jauh lebih canggih kembali mendudukkan para monyet dan
berkata, “Kalian semua mau pisang? Gih, sana
semua ambil untuk diri kalian sendiri. Saya mau tidur siang dulu.” Orang itu,
tentu saja, adalah tuan Hans Capitalism.
Sepanjang
semua orang punya pisang mereka sendiri dan saling berbagi dengan mereka yang
ada dalam Monkeysphere, sistem cenderung berjalan meski tak seorangpun berusaha
untuk membuat sistem itu berjalan.
Kemudian, pada
suatu saat di abad ketiga, kita menemukan rasisme.
Ini adalah
cara untuk menyederhanakan dunia yang terlalu kompleks bagi para monyet dengan
membayangkan bahwa setiap orang dari ras tertentu adalah orang yang sama,
dengan sikap yang sama, sopan santun yang sama, dan selera yang sama dalam segi
makanan, pakaian, maupun musik. Cara ini kira-kira berjalan dengan cukup baik,
sepanjang kita melihat orang lain itu sebagai orang yang baik (“Orang-orang Asia itu sangat rajin dan teliti dan sopan!”), tapi ketika
kita mulai melihat mereka sebagai bajingan, kebahagiaan monyet kita hancur
lagi.
Itu bukan
salah siapa-siapa. Faktanya, seluruh skema manajemen monyet ini hanya bisa
beranjak sejauh itu. Seperti: sekarang ini, satu dari empat orang di Jakarta punya penyakit
mental, biasanya depresi. Satu dari empat. Coba tonton pertandingan basket.
Kemungkinannya adalah, setidaknya dua dari orang-orang di lapangan itu sakit
jiwa. Sekarang lihat di sekeliling rumah anda; kalau yang lain kelihatan
baik-baik saja, berarti anda yang gila.
Mengejutkankah?
Anda nyalakan TV dan melihat berita tentang Epidemi Obesitas di Amerika. Ada kekhawatiran yang
dibebankan di pundak anda tentang jutaan orang di negara lain kebanyakan makan.
Apa tepatnya yang harus anda lakukan berkenaan dengan kebiasaan makan 80 juta
orang yang bahkan tidak anda kenal. Anda mendapat beban tak berguna dari
orang-orang yang jelas berada di luar Monkeysphere.
“Jadi,
apa tepatnya yang harus gue lakukan?”
Pertama-tama,
latihlah diri anda untuk curiga setiap kali melihat kesederhanaan. Setiap klaim
bahwa akar dari sebuah permasalahan itu sederhana harus diperlakukan sama
seperti klaim bahwa akar dari sebuah permasalahan adalah Bigfoot. Karena
kesederhanaan dan Bigfoot bisa ditemukan di dunia nyata dalam frekuensi yang
kurang lebih sama.
Maka tolaklah
pemikiran biner “baik -vs- jahat” atau “kita -vs- mereka.” Pahami bahwa
persoalan tidak mungkin dipecahkan semata-mata hanya dengan slogan pintar atau
program step-by-step yang disimplifikasi habis-habisan.
Anda bisa melakukannya
dengan mengikuti langkah-langkah berikut. Kami menyebutnya langkah T.A.I.:
Pertama, TOTAL
MORON! Yakni terimalah fakta bahwa ANDA SATU. Kita semua Satu.
Orang rese
yang anda kenal, yang kerjanya sesumbar, orang yang selalu merasa dirinya
benar? Kemungkinannya adalah bahwa untuk orang lain, andalah orang itu. Jadi
kumpulkan hal-hal yang anda pikir anda tahu, kurangi 99.999%, dan anda akan
tahu seberapa banyak yang sebetulnya anda pahami tentang hal-hal di luar
Monkeysphere anda.
Kedua, OH
YEAH!, pahami bahwa tidak ada yang namanya monyet super. Yang ada cuma monyet
aja. Anda lihat orang di TV itu, memberikan seminar inspirasional, mengajarkan
anda bagaimana caranya meraih potensi dan menjadi kaya dan sukses seperti
mereka? Anda tahu bagaimana mereka menghasilkan uang? Ya dengan ngasih seminar.
Kebanyakan, yang dia lakukan hanyalah meyakinkan orang lain bahwa mereka
melakukan segalanya dengan baik.
Dan yang
terakhir, adalah YIIIHAAAW! Yaitu jangan biarkan siapapun menyederhanakan
sesuatu untuk anda. Dunia tidak bisa dibuat simple. Siapapun yang berusaha
untuk melukis gambaran dunia dalam warna komik dasar adalah mereka yang paling
mungkin untuk memanfaatkan anda sebagai bidak catur.
Jadi, ingat:
T.A.I. bangkit, maju, dan praktekkan, sodara-sodara. Silahkan, copy dari jurnal
kami bisa dibeli di lobby.