Alkisah hiduplah
seekor tikus kecil yang sangat kelaparan dan ingin memakan keju secuil yang ada
dalam dapur mungil di dalam rumah mungil-imut itu. Maka pergilah si tikus kecil
ke dapur mungil untuk mengambil keju secuil. Tapi ternyata datang seekor kucing
kecil dari arah seberang dan si tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas
kabur dan tak bisa mengambil keju secuil dari dapur mungil tersebut.
Kemudian si tikus
kecil mengangankan apa yang harus dilakukan untuk mengambil keju secuil dari
dapur mungil itu dan dia berpikir lalu berkata: aku tahu, aku akan menaruh piring kecil dengan sedikit susu dan si
kucing kecil akan meminum susu itu karena kucing-kucing kecil doyan sekali
susu. Kemudian saat kucing kecil itu meminum susu dan tak memperhatikan, aku
akan pergi ke dapur mungil itu dan mengambil keju secuil dan memakannya. Ide yang
saaangat baik—si tikus kecil membatin.
Maka pergilah dia
mencari susu tapi ternyata susu itu ada di dapur mungil dan saat tikus kecil
ingin pergi ke dapur datanglah si seekor kucing kecil dari arah seberang dan si
tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas kabur dan tak bisa membawa lari
susunya.
Kemudian si tikus
kecil kecil mengangankan apa yang harus dilakukan untuk mengambil susu dari
dapur mungil itu dan dia berpikir lalu berkata: aku tahu, aku akan melempar sepotong ikan jauh-jauh dan si kucing kecil
akan berlari memakan ikan sepotong itu karena kucing-kucing kecil doyan sekali ikan.
Kemudian saat si kucing kecil memakan ikan sepotong itu dan tak memperhatikan,
aku akan pergi ke dapur mungil itu dan mengambil susu. Ide yang saaangat baik—si
tikus kecil membatin.
Maka pergilah dia
mencari ikan sepotong tapi ternyata ikan itu ada di dapur mungil dan saat tikus
kecil ingin pergi ke dapur datanglah si seekor kucing kecil dari arah seberang
dan si tikus kecil itu jadi sangat ketakutan lantas kabur dan tak bisa membawa
lari ikan sepotong itu.
Lantas si tikus kecil
melihat bahwa keju secuil, susu, ikan sepotong, serta segala sesuatu yang dia
inginkan ada di dalam dapur mungil itu dan dia tak bisa kesana sebab si kucing
kecil tak memperbolehkannya. Kemudian, sambil frustrasi si tikus kecil
berteriak “Cukup!” lalu dia mengambil senapan mesin dan menembaki si kucing
kecil dan pergi ke dapur mungil itu lalu melihat bahwa ikan sepotong, susu,
serta keju secuil itu sudah membusuk semuanya dan tak bisa dimakan lagi. Maka dia
kembali ke tempat kucing kecil itu tergeletak lalu mengirisnya kecil-kecil dan
membakarnya dengan lezat. Lantas dia mengundang semua temannya dan mereka
berpesta dan memakan kucing kecil bakar itu sambil menyanyi, menari, dan hidup
bahagia selama-lamanya.
...
...
...
...
...
Demikianlah
akhir kisah ini. Saya ingatkan kepada anda bahwa pembagian teritori antar
negara hanya berguna untuk menggolongkan kejahatan “ekonomi pasar global” serta
memberi makna bagi peperangan. Jelas paling tidak ada dua soal yang mengatasi
masalah perbatasan; pertama adalah kejahatan yang disamarkan sebagai modernitas
dan yang menyebarkan derita dalam skala dunia; lainnya adalah harapan agar rasa
malu muncul saat seseorang meleset irama langkah dansanya dan bukan saat tiap
kali kita bercermin. Untuk mengakhiri yang pertama dan memajukan yang kedua
kita hanya perlu berjuang dan menjadi lebih baik. Sisanya akan akan ikut dengan
sendirinya dan menjadi apa yang umumnya mengisi perpustakaan serta museum-museum.
Tak penting untuk menguasai dunia, cukuplah membuatnya baru saja...
“...dan
ketahuilah, bahwa untuk bercinta, ranjang itu hanyalah dalih; untuk berdansa,
musik itu cuma hiasan; untuk berjuang, nasionalisme hanyalah kecelakaan situasi
belaka.”
Tabik,
semoga anda sehat selalu.