Rabu, 23 Januari 2013

Pohon Bernama "Hari Esok"


Alkisah, di sebuah kota, kaum lelaki dan perempuannya bekerja keras demi menyambung hidup. Tiap hari mereka pergi ke tempat kerjanya masing-masing: yang laki-laki ke ladang dan kebun-kebun buncis, yang perempuan mencari kayu bakar dan menimba air. Ada kerja-kerja tertentu yang menyatukan mereka bersama. Contohnya, mereka akan bekumpul bersama saat musim panen kopi tiba. 

Begitulah yang terjadi. Tapi ada seorang laki-laki yang ogah melakukan itu semua. Memang ia bekerja, namun tidak di ladang atau kebun buncis, tidak juga ia memanen kopi saat biji-bijinya memerah di sela-sela dahan. Tidak, lelaki ini bekerja menanami pohon di sisi gunung. Pohon-pohon yang ditananamnya bukanlah jenis yang cepat tumbuh, semua butuh beberapa dekade untuk membiakan seluruh cabang serta daun-daunnya. Orang-orang menertawainya dan kerap kali mencela. “Kenapa kau menggarap sesuatu yang tak bakal kau lihat hasilnya? Mendingan kerja di ladang, yang bakal berbuah dalam hitungan bulan, ketimbang menanam pepohonan yang baru besar setelah kau mati. kalau bukan tolol ya kau itu sinting. Kerjamu tak membuahkan apa-apa.”

Lelaki itu membela diri dan berkata: “Memang benar aku tak bakal melihat pohon-pohon ini tumbuh besar, penuh dahan, daun, dan burung. Mataku juga tak bakal menyaksikan bocah-bocah bermain di kerindangannya. Tapi jika semua kerja kita hanya untuk hari ini dan hari sesudahnya: siapa yang akan menanam pohon yang nantinya akan dibutuhkan anak-cucu kita untuk nantinya bernaung, melipur lara, dan bersenang-senang?” Tak seorangpun mengerti perkataannya. Lelaki yang tolol nan sinting ini terus menanam pohon-pohon yang tak bakal dilihatnya, dan lelaki-lelaki lain serta perempuan yang waras terus menanam dan bekerja demi keseharian mereka.

Waktu berlalu dan mereka semua pun mati sudah, anak-anak mereka bekerja, lalu disusul cucu-cucu mereka. Suatu pagi, sekelompok bocah lelaki dan perempuan pergi berjalan-jalan, dan menemukan sebuah tempat penuh pohon-pohon besar, ribuan burung hidup di dalamnya dan dahan-dahan mereka yang lebat melindungi dari panas dan menaungi dari hujan. Ya, seluruh sisi gunung itu penuh ditumbuhi pohon! Anak-anak itu pergi ke kota dan memperbincangkan tempat yang menakjubkan ini.

Orang-orang dewasa berkumpul dan pergi ke tempat yang dimaksud dengan penuh keheranan. ”Siapa yang menanam semua ini?” tanya mereka. Tak satupun tahu. Mereka mengunjungi orang-orang tua dan menanyakan perihal tersebut. Tapi tak satupun dari orang-orang tua itu yang mengetahuinya. Kecuali satu. Seorang yang tua sekali, yang paling sepuh dari masyarakat di situ. Dan berceritalah ia tentang riwayat lelaki tolol nan sinting itu.

Orang-orang dewasa mengadakan pertemuan di balai kota dan merapatkan hal tersebut. Mereka melihat dan memahami lelaki yang dicemooh nenek moyang mereka. Mereka mengaguminya sungguh-sungguh dan menyayanginya. Mereka sadar, bahwa ingatan bisa berkelana begitu jauh ke tempat yang tak pernah dipikirkan atau dibayangkan orang, oleh para lelaki-perempuan di hari itu, di satu sisi gunung yang penuh oleh pohon-pohon besar.

Mereka mengitari sebatang pohon paling besar yang tegak di tengah-tengah, dan dengan huruf warna-warni mereka tuliskan segores tanda. Setelahnya mereka berpesta sampai larut malam. Sudah menjelang dini hari saat penari terakhir bersiap pulang dan tidur. Rimba raksasa itu ditinggal sepi sendiri. Hujan turun lalu berhenti. Kemudian bulan muncul dan wajah galaksi di langit meringkukkan badannya yang kusut sekali lagi. Mendadak seberkas  sinar cahaya bulan menelusup lewat serimbunan besar daun dan dahan pohon yang tegak di tengah-tengah itu, dan terbacalah tanda warna-warni yang ditorehkan di sana:

“Kepada dia yang paling mula.
Mereka yang datang kemudian bakal mengerti.
Tabik.”

***

Demikianlah cerita ini dikisahkan pada saya 15 tahun silam, dan masa 15 tahun sebelumnya telah pula berlalu saat mereka menceritakannya pada saya. Dan ya, barangkali sia-sia menuturkannya dengan kata-kata karena kita perlu mengucapkannya lewat tindakan; tapi benar, mereka yang datang kemudian memang mengerti.

Dan jika saya kisahkan ini pada anda, bukan semata untuk menghaturkan hormat pada dia yang paling mula itu, ataupun menghadiahi anda secuil kecil kenangan yang tampaknya makin pudar dan terlupa. Bukan semata untuk itu, tapi juga untuk menguji dan merespon pertanyaan tentang apa yang saya dan anda inginkan.

Menanam pohon hari esok, itulah yang saya mau: di masa kehidupan politik hingar-bingar ini, masa bertumbangannya panji-panji negara, masa tergantikannya demokrasi dengan jajak pendapat, masa penjahat neoliberal menyerukan perang melawan apa yang sesungguhnya mereka gelapkan dan apa yang sesungguhnya memberi makan mereka, masa transformasi berubah-ubah seperti kulit bunglon; di masa-masa seperti ini, mengatakan ingin menanam pohon hari esok bisa jadi terdengar tolol dan sinting, yang untungnya, belum menjadi ungkapan teatrikal dan utopi yang ketinggalan zaman.

Berapa banyak orang di dunia ini sanggup berkata yang sama, dalam arti, bahwa mereka sedang menggarap apa yang mereka ingini? Banyak, saya yakin. Dunia ini dihuni oleh segenggam penuh orang-orang tolol nan sinting yang menanam pohon mereka masing-masing demi hari esok mereka masing-masing, dan akan tibalah suatu hari tatkala sisi gunung semesta ini, yang oleh beberapa orang dijuluki “Planet Bumi”, akan penuh pepohonan aneka rupa dan akan ada banyak burung dan kenyamanan; ya, kecil kemungkinan orang akan ingat pada dia yang paling mula, karena hari kemarin yang membikin kita pusing tujuh keliling bakal jadi sekedar halaman tua dalam kitab sejarah yang usang.

Dalam pohon bernama hari esok itu, ruang dimana semua orang ada, dimana yang satu jadi tahu dan hormat pada yang lainnya, kekuasaan palsu itu akan kalah dalam pertempuran penghabisannya. Jika diminta terperinci, akan saya katakan itulah tempat demokrasi, kemerdekaan, dan keadilan bersemayam: itulah pohon hari esok.

Bagaimanapun juga, akan tiba masanya kata-kata ini akan jadi serasi, dan secara bersamaan, cakupan mereka akan meluas, mereka bakal didengar dan dijaga, mereka bakal tumbuh. Itulah gunanya kata-kata, serta, ya, mereka yang mengerjakannya.