[excerpt 015]
14/12/2012
(02:15 am)
hujan turun
terlalu deras. di atas secarik padang rumput, pada sebuah bukit tak bernama
dalam satu dimensi kelabu, seperti tirai buram yang menorehkan warna luka di
sudut cakrawala. tidak ada satu detak jantung pun kecuali milik saya,
menghadirkan sebuah sensasi kealpaan yang begitu anonim. begitu dingin.
sedingin uap-kabut kelabu yang mewujud setiap kali saya menghembuskan napas.
ada kesunyian sempurna dalam riuhnya hujan. surreal? ya... urusan hujan memang
selalu tentang urusan hati.
dan pada
momen-momen seperti inilah biasanya hujan menghadirkan personifikasi. maka saya
menunggu, sambil menikmati diskordia simfoni semesta. ada sebuah kehadiran yang
mengada. kedirian yang mengutuh. saya bisa merasakannya. dia ada di sini. sang
hujan. sang perempuan yang menari bersama hujan.
saya
melihatnya di setiap molekul udara. merasakan sentuhannya pada tetes hujan.
mencium aroma tubuhnya pada rerumputan basah... dia... ada dimana-mana...
kemudian saya mendengar suaranya memanggil.
"bimm..."
tsunami
endorfin.
lalu
saya terbangun.
[end of
archive]