Minggu, 06 Januari 2013

#dreamlog


[excerpt 015]
14/12/2012 (02:15 am)

hujan turun terlalu deras. di atas secarik padang rumput, pada sebuah bukit tak bernama dalam satu dimensi kelabu, seperti tirai buram yang menorehkan warna luka di sudut cakrawala. tidak ada satu detak jantung pun kecuali milik saya, menghadirkan sebuah sensasi kealpaan yang begitu anonim. begitu dingin. sedingin uap-kabut kelabu yang mewujud setiap kali saya menghembuskan napas. ada kesunyian sempurna dalam riuhnya hujan. surreal? ya... urusan hujan memang selalu tentang urusan hati.

dan pada momen-momen seperti inilah biasanya hujan menghadirkan personifikasi. maka saya menunggu, sambil menikmati diskordia simfoni semesta. ada sebuah kehadiran yang mengada. kedirian yang mengutuh. saya bisa merasakannya. dia ada di sini. sang hujan. sang perempuan yang menari bersama hujan.

saya melihatnya di setiap molekul udara. merasakan sentuhannya pada tetes hujan. mencium aroma tubuhnya pada rerumputan basah... dia... ada dimana-mana... kemudian saya mendengar suaranya memanggil.

"bimm..."

tsunami endorfin.

lalu saya terbangun.

[end of archive]