Misalkan anda
sedang berjalan-jalan di mall. Di tempat sepi seseorang menyetop anda dan
bilang, “Permisi. Apa anda PKI? Atau ibu anda Gerwani?”
Saya bayangkan
pertanyaan itu bisa disampaikan dengan dua nada. Pertama, membentak. Dan anda
pasti cemas, mengira si penanya seorang intelejen militer dan anda dalam
masalah. Lalu anda menyangkal. Atau, kemungkinan kedua, pertanyaan diutarakan
secara sopan. Dan anda pasti merasa si penanya yang punya masalah.
Disampaikan
dengan cara apa pun, pertanyaan “apa kamu PKI?” tak pernah beres, tak pernah
netral. Meskipun Soeharto telah tumbang dan Megawati yang ayahnya dianggap
berpihak pada partai itu, telah menggantikan Gus Dur, yang anggota organisasi
NU-nya pada masa lampau iku menumpas para tertuduh komunis.
Saya baru
nonton film dokumenter berjudul Shadow Play, arahan Chris Hilton. Film ini
mengenai Partai Komunis Indonesia ,
pengaruh perang dingin terhadap perkembangan politik dalam negeri Indonesia
sekitar tahun 1965, dan, tentu saja, peran Amerika dan Inggris mendukung
Soeharto menghabisi sekitar 500 ribu jiwa tertuduh komunis dalam sebuah sejarah
yang dibenamkan. Dokumenter ini seolah menyatakan; kini saatnya membongkar
rahasia gelap itu.
Yang paling
mengiris adalah kisah mengenai Ibnoe Santoro, yang mengingatkan kita pada Musim
Gugur Di Connecticut karya Umar Kayam. Ibnoe, seorang intelektual yang
mengambil program doktoral di AS pada awal 60-an, terpaksa dipulangkan karena
hubungan Indonesia -AS
memburuk. Hanya karena namanya tercantum dalam Himpunan Sarjana Indonesia ,
ia diambil dari rumahnya, dari istrinya yang baru setengah tahun menikahinya.
Dan tak pernah kembali. Namun salah seorang pasukan yang menembaknya memberi
tahu bahwa ia dimakamkan di sebuah hutan karet, dan di sana ada dua pohon kelapa ditanam sebagai
tanda. Keluarganya menyimpan informasi itu.
Baru setelah
Soeharto tumbang, beberapa organisasi yang bekerja untuk pencarian korban
mengusahakan penggalian tempat itu. Belulangnya ditemukan. Keluarganya berniat
memakamkan jenazahnya di kubur yang layak. Tapi ini menimbulkan perkara besar
di desa tujuan. Jenazahnya, yang hanya menempati sebuah kotak papan kecil,
ditolak dengan kekerasan. Salah satu pemuka masyarakat mengatakan. “Kami tak
mau ada jenazah PKI di tempat kami!” spanduk-spanduk yang mereka bentangkan
kira-kira menyatakan bahwa mereka tak ingin tanah mereka dikotori oleh jenazah
PKI.
Cara berpikir
macam apakah (atau kesadaran macam apakah—jika mereka tak bisa disebut
berpikir) yang membuat mereka bertindak macam itu?
‘PKI’, kata
itu sendiri, telah menjelma setan. Inilah salah satu sukses indoktrinasi orde
baru. ‘PKI’ tidak lagi merujuk pada sebuah referens, yaitu partai
yang pernah ada dalam sejarah negeri ini dan memiliki kompleksitas luar biasa.
Kata ‘PKI’ telah menjelma kekuatan itu sendiri,
yang menakutkan dan membuat benci.
Saya kira kita
kerap tak sadar pada lingkaran setan bahasa: bahasa mempunyai kekuatan
transformatif selain kekuatan metamorfosis dan analisis. Justru karena manusia
percaya bahwa bahasa menunjukkan kenyataan (meski para filsuf posmo membantah),
bahasa punya daya dorong. Sehingga, jenazah ‘PKI’ menjelma zombie.
Kita tak lepas
dari lingkaran setan irrasional bahasa ini. Kata ‘anarki’, ‘liberal’, atau
‘sekular’ misalnya, menjadi zat yang bikin gentar dalam peta politik kita. Tak
satu pun, saya kira, pemerintah Indonesia dari masa Soekarno hingga SBY yang
secara eksplisit mengatakan bahwa Indonesia adalah negara sekular, meskipun
perundang-undangan kita, kecuali dalam peradilan agama, tidak didasarkan pada
asumsi hukum Tuhan sama sekali.
Beberapa tahun
lalu majalah Tempo membikin pol pendapat tentang pemberlakuan syariat Islam
dalam hukum Indonesia .
Ketika pertanyaan diajukan dalam rumusan “Setujukah anda syariat ditetapkan?”,
sebagian besar pembaca menjawab setuju. Namun ketika pertanyaan dirinci
menjadi, misalnya, “Setujukah jika orang yang tidak shalat Jumat diberi
sanksi?”, “Setujukah jika orang yang berzina dirajam?”, jawabannya kebanyakan
tidak.
Maka, ada
kesenjangan antara konsep ‘penerapan syariat’ dengan ‘penerapan hukum positif’.
Kata ‘syariat’ memberi impact yang berbeda dari kata-kata yang lain.
Ketika
kawan-kawan di Utan Kayu membikin Jaringan Islam Liberal (JIL), ada surat yang datang kepada
mereka. Isinya kira-kira menyatakan bahwa si penulis sebenarnya simpati dengan
ide-ide Jaringan Islam Liberal, yang menawarkan wacana keagamaan yang
pro-demokrasi, mendukung kesetaraan jender, dan lain-lain yang politically
correct-lah. Tapi, kenapa namanya ‘liberal’? Mbok, jangan pakai istilah
‘liberal’ karena istilah itu terlalu keras, sehingga ia tak berani untuk ikut
serta. Ada
kesenjangan antara ‘nama’ dan ‘isi’.
Nama itu
memang diambil dari buku Charles Kurzman Liberal Islam. Buat saya, dari segi
politik bahasa, ini adalah usaha untuk menetralkan kata ‘liberal’ yang telah
‘dirusak’ oleh orde lama dan orde baru.
Dan saya masih
menunggu orang-orang yang akan menetralkan ‘PKI’.