Sabtu, 12 Januari 2013

Ngomong-Ngomong Soal PKI...


Misalkan anda sedang berjalan-jalan di mall. Di tempat sepi seseorang menyetop anda dan bilang, “Permisi. Apa anda PKI? Atau ibu anda Gerwani?”

Saya bayangkan pertanyaan itu bisa disampaikan dengan dua nada. Pertama, membentak. Dan anda pasti cemas, mengira si penanya seorang intelejen militer dan anda dalam masalah. Lalu anda menyangkal. Atau, kemungkinan kedua, pertanyaan diutarakan secara sopan. Dan anda pasti merasa si penanya yang punya masalah.

Disampaikan dengan cara apa pun, pertanyaan “apa kamu PKI?” tak pernah beres, tak pernah netral. Meskipun Soeharto telah tumbang dan Megawati yang ayahnya dianggap berpihak pada partai itu, telah menggantikan Gus Dur, yang anggota organisasi NU-nya pada masa lampau iku menumpas para tertuduh komunis.

Saya baru nonton film dokumenter berjudul Shadow Play, arahan Chris Hilton. Film ini mengenai Partai Komunis Indonesia, pengaruh perang dingin terhadap perkembangan politik dalam negeri Indonesia sekitar tahun 1965, dan, tentu saja, peran Amerika dan Inggris mendukung Soeharto menghabisi sekitar 500 ribu jiwa tertuduh komunis dalam sebuah sejarah yang dibenamkan. Dokumenter ini seolah menyatakan; kini saatnya membongkar rahasia gelap itu.

Yang paling mengiris adalah kisah mengenai Ibnoe Santoro, yang mengingatkan kita pada Musim Gugur Di Connecticut karya Umar Kayam. Ibnoe, seorang intelektual yang mengambil program doktoral di AS pada awal 60-an, terpaksa dipulangkan karena hubungan Indonesia-AS memburuk. Hanya karena namanya tercantum dalam Himpunan Sarjana Indonesia, ia diambil dari rumahnya, dari istrinya yang baru setengah tahun menikahinya. Dan tak pernah kembali. Namun salah seorang pasukan yang menembaknya memberi tahu bahwa ia dimakamkan di sebuah hutan karet, dan di sana ada dua pohon kelapa ditanam sebagai tanda. Keluarganya menyimpan informasi itu.

Baru setelah Soeharto tumbang, beberapa organisasi yang bekerja untuk pencarian korban mengusahakan penggalian tempat itu. Belulangnya ditemukan. Keluarganya berniat memakamkan jenazahnya di kubur yang layak. Tapi ini menimbulkan perkara besar di desa tujuan. Jenazahnya, yang hanya menempati sebuah kotak papan kecil, ditolak dengan kekerasan. Salah satu pemuka masyarakat mengatakan. “Kami tak mau ada jenazah PKI di tempat kami!” spanduk-spanduk yang mereka bentangkan kira-kira menyatakan bahwa mereka tak ingin tanah mereka dikotori oleh jenazah PKI.

Cara berpikir macam apakah (atau kesadaran macam apakah—jika mereka tak bisa disebut berpikir) yang membuat mereka bertindak macam itu?

‘PKI’, kata itu sendiri, telah menjelma setan. Inilah salah satu sukses indoktrinasi orde baru. ‘PKI’ tidak lagi merujuk pada sebuah referens, yaitu partai yang pernah ada dalam sejarah negeri ini dan memiliki kompleksitas luar biasa. Kata ‘PKI’ telah menjelma kekuatan itu sendiri, yang menakutkan dan membuat benci.

Saya kira kita kerap tak sadar pada lingkaran setan bahasa: bahasa mempunyai kekuatan transformatif selain kekuatan metamorfosis dan analisis. Justru karena manusia percaya bahwa bahasa menunjukkan kenyataan (meski para filsuf posmo membantah), bahasa punya daya dorong. Sehingga, jenazah ‘PKI’ menjelma zombie.

Kita tak lepas dari lingkaran setan irrasional bahasa ini. Kata ‘anarki’, ‘liberal’, atau ‘sekular’ misalnya, menjadi zat yang bikin gentar dalam peta politik kita. Tak satu pun, saya kira, pemerintah Indonesia dari masa Soekarno hingga SBY yang secara eksplisit mengatakan bahwa Indonesia adalah negara sekular, meskipun perundang-undangan kita, kecuali dalam peradilan agama, tidak didasarkan pada asumsi hukum Tuhan sama sekali.

Beberapa tahun lalu majalah Tempo membikin pol pendapat tentang pemberlakuan syariat Islam dalam hukum Indonesia. Ketika pertanyaan diajukan dalam rumusan “Setujukah anda syariat ditetapkan?”, sebagian besar pembaca menjawab setuju. Namun ketika pertanyaan dirinci menjadi, misalnya, “Setujukah jika orang yang tidak shalat Jumat diberi sanksi?”, “Setujukah jika orang yang berzina dirajam?”, jawabannya kebanyakan tidak.

Maka, ada kesenjangan antara konsep ‘penerapan syariat’ dengan ‘penerapan hukum positif’. Kata ‘syariat’ memberi impact yang berbeda dari kata-kata yang lain.

Ketika kawan-kawan di Utan Kayu membikin Jaringan Islam Liberal (JIL), ada surat yang datang kepada mereka. Isinya kira-kira menyatakan bahwa si penulis sebenarnya simpati dengan ide-ide Jaringan Islam Liberal, yang menawarkan wacana keagamaan yang pro-demokrasi, mendukung kesetaraan jender, dan lain-lain yang politically correct­-lah. Tapi, kenapa namanya ‘liberal’? Mbok, jangan pakai istilah ‘liberal’ karena istilah itu terlalu keras, sehingga ia tak berani untuk ikut serta. Ada kesenjangan antara ‘nama’ dan ‘isi’.

Nama itu memang diambil dari buku Charles Kurzman Liberal Islam. Buat saya, dari segi politik bahasa, ini adalah usaha untuk menetralkan kata ‘liberal’ yang telah ‘dirusak’ oleh orde lama dan orde baru.

Dan saya masih menunggu orang-orang yang akan menetralkan ‘PKI’.